New Release

http://indivamediakreasi.com/bulan-nararya/

New Release

New Release

New Release

New Release

http://indivamediakreasi.com/hebohnya-emak-emak/

New Release

Bapangku Bapunkku

Ini kisah antik keluargaku bersama ayah yang tidak mau dipanggil Ayah, maunya dipanggil Bapang. Itu panggilan untuk ayah dalam bahasa Semende. Tak cukup sampai di situ, diam-diam Bapang menganut aliran PUNK. Itu aliran yang mengagung-agungkan kebebasan. Mulai dari kebebasan berpikir, kebebasan berekspresi, hingga kebebasan berkarya dan mengeluarkan pendapat. Syukurlah, Bapang tidak menata rambutnya gaya buah duren masak di pohon atau gaya sapu ijuk dari Yunani. Sebab, Bapang mengaku kalau dia itu PUNK muslim! Meski demikian, pemikiran dan tindakan Bapang sehari-hari nyentriknya minta ampun! Apa-apa diprotes; sistem pendidikan diprotes, pembangunan masjid diprotes, kepala sekolah diajak ribut, dokter ditantang, maling jemuran dijadikan sahabat, dan petugas KB di Puskesmas diajak berdebat!

Klimaksnya, pada hari Senin sehabis liburan kenaikan kelas, Bapang melarang anak-anaknya pergi ke sekolah! Seragam sekolah kami dimasukkan ke dalam karung untuk dibakar. Bunda meradang melihat kenyataan itu, Berpikir bebas boleh saja, tapi membakar seragam sekolah anak-anak adalah tindakan yang tidak bisa lagi ditoleransi. Bunda melawan Bapang dengan garang. Dan kebahagiaan keluarga kami berada di ujung tanduk; akte cerai nyaris diteken!

Bagaimana usaha Bapang untuk menyelamatkan keluarga dengan empat anaknya? Bagaimana cara Bapang mendidik keempat anaknya hingga jadi orang-orang yang sukses? Silakan baca kisah ini dan jangan menyalahkan jika nanti tertular virus PUNK ala Bapang. Kisah ini akan membuat siapa pun berpikir keras, tertawa ngakak, hingga menangis sedih, lalu bangkit dan berdiri tegak untuk berkarya dan bekerja keras! Sebab, dunia sudah lama menanti karya-karya besar kita semua!

Buku Ini Tidak Dijual

“Gadis itu benar, Bos! Isinya cuma buku!”
“Karung yang ini juga cuma buku!”

Pria utama kecewa dengan kata-kata anak buahnya. Dia berharap lebih dari karung-karung tersebut. Sudah beberapa hari ini dia tidak mendapat mangsa empuk untuk menyambung hidupnya. Apakah ini saatnya dia berganti profesi?

“Ya, sudah. Tak apa. Kita jual buku-buku itu!”
“Buku ini tidak dijual!” teriak Kingkin.

Tepat saat Kingkin meneriakkan kata-kata itu, sebuah cahaya muncul dari arah belakangnya. Pandangan mereka semua jadi silau.

Lima karung buku itu menjadi buruan melelahkan bagi Kingkin dan Gading. Buku-buku yang sejatinya bukan milik mereka berdua, tapi kenapa mereka mau mati-matian mengejarnya? Ya, mati-matian. Karena demi lima karung buku itu, mereka nyaris mati! Ada apa sesungguhnya pada buku-buku itu sampai Padi—ayah Gading—berkeras hati tak mau kehilangan? Lalu, apa yang didapat oleh Kakek dari buku-buku yang tampak kabur dalam pandangannya itu?

Dalam Persimpangan

Aku selalu tercenung Diam, lama dan hampir mati kepusingan Setiap aku melihat jalan bersimpang Tak sekali, tak dua kali, rasanya tiap waktu aku selalu beradu dengan jalan semacam itu Seolah hidupku terseret dalam banyak pilihan. Lalu aku berputar-putar tak tentu, hingga tak jarang justru lunglai sebelum menapak salah satunya. Makin tua tak makin dewasa Makin tua makin tak bisa meraba Aku perlu Tuhan untuk meraba sebuah jalan pilihan Aku perlu Tuhan untuk Menggandengku menapak jalanan itu. (Asri Istiqomah)

Kantor

Jl. Sawo Raya No. 10 Jajar Laweyan, Surakarta.

Telp. (0271)7055584 / Faks. (0271)731584
info@indivamediakreasi.com
indiva_mediakreasi@yahoo.co.id
indiva_marketing@yahoo.co.id
www.indivamediakreasi.com