DIAN DHIE, DULU PETAKILAN, LALU KUTU BUKU, KINI…..

 

Jadi, … beberapa waktu kemaren kita udah ngobrol soal proses kreatif novel A Moment to Decide. Nah, kali ini kami pengen mengajak pembaca buat mengenal lebih dekat dengan sang kreator—Dian Dhie.


 

  • Apa golongan darahmu?

   O

  • Pilih mana:

  -Drama atau film?

 Film, kalau ada drama dengan episode kurang dari 20, boleh lah 😁

  -Sayur berkuah/sup atau tumis?

 Sayur berkuah/sup

  -Teh atau kopi?

Dominan Teh, sih. Walau kadang suka kopi juga.

 

  • Apa dongeng favoritmu? Why?

 Si Kancil. Karena waktu kecil saya petakilan, bahkan saat mau tidur. Mendadak diam dan berimajinasi waktu diceritakan kisah Si Kancil sama Mama. Jadi ketagihan cerita. Waktu di sekolah ada cerita tentang Si Kancil, jadi penasaran. Ternyata Mama bukan mengarang, tapi Si Kancil memang terkenal. Sejak itu jadi hobi baca. Saya bukan Si Petakilan lagi, tapi Si Kutu Buku. Dulu …

 

  • Apa saja aktivitas real life Dian Dhie? Tell your readers soal pekerjaan dan hal rutin yang selalu kamu lakukan sehari-hari …

Seperti ibu rumah tangga lainnya, mengurus rumah, mengasuh anak, dan lain-lain kecuali masak. Hiks 😫 Masak, sih. Tapi jarang karena gak jago, jadi minder.

Menjadi pengarang untuk dua putri kecil setiap jam tidur malam, bahkan tidur siang menceritakan kisah apa saja.

Menjadi guru yang cengeng setiap pagi dan sore karena harus mengajar mengenal angka, huruf, warna, bentuk, atau bermain edukasi. Cengeng karena yang diajarin petakilan 😑.

Lebih mudah jadi guru ngaji mereka setiap habis maghrib dari pada jadi guru belajar umum.

Tidur kurang dari delapan jam sehari, karena urusan mendesak setiap malam, menulis. Menulis apa saja, atau membaca, kadang menonton film atau drama.

Sangat betah di rumah, keluar sesekali gabung rumpi dengan tetangga ibu-ibu kece. Paling sering jadi tempat curhat atau konsultasi masalah kesehatan, karena mereka tahunya saya orang medis.

Paling suka, sebulan sekali ikut kajian Perisai Dakwah Jakarta. Selain bagian dari tim, memupuk iman dan berkawan dengan Para Pejuang Dakwah Islam itu ‘sesuatu’. Meski tidak semua syuro dan kajian hadir, tapi semoga disanggupkan selalu hadir.

 

  • Siapa penulis favoritmu?

Oleh Solihin, Felix Siauw (Udah Putusin Aja!), Habiburahman El Shirazy, Asma Nadia, Isa Alamsyah dan Tere Liye.

  • Ceritakan tentang bagian ‘A Moment to Decide’ favoritmu?

Semua suka, kecuAli endingnya. Lha, hehehe. Soalnya harus habis, sih.

Favorit waktu awal pertemuan Riana dengan Lee Joo Hwon sejak tidak sengaja, taaruf yang kocak parah. Itu keanehan yang lucu, hanya karena salah informasi, Riana menyiksa dirinya. Terlalu cepat berasumsi tanpa melakukan cek lebih dulu.

Tapi itu sisi uniknya, hehehe. Juga sesi marahnya Lee Joo Hwon waktu Riana akan dipulangkan ke Bogor, beberapa dialognya ‘nampar’ banget. Karena memang itu yang mualaf pikirkan tentang orang yang Islam sejak lahir.

Harusnya Orang Islam sejak lahir lebih paham dari seorang mualaf. Tapi tidak semua, termasuk saya 😖. Oh, iya! Sesi pengakuan Lee Joo Hwon dan Riana, itu so sweet … ciye, ternyata Riana jatuh cinta sama Oppa. Ups.

 

  • Pilihkan satu quote ‘A Moment to Decide’ untuk pembacamu…

“Jika kau tidak ingin sakit hati di dalam hidupmu, kau tidak boleh menolak dua hal. Pertama, sesuatu yang datangnya dari Allah. Apa yang diajarkan agama tidak boleh kau tolak. Kedua, sesuatu yang datangnya dari orang tua. Orang tua yang baik seperti yang dikatakan agama akan menuntunmu pada kebaikan, jadi kau tidak boleh menolak petunjuk dari orang tuamu.”


IKUTI PRE ORDER NOVEL “A MOMENT TO DECIDE”


 


BOOK TRAILER


       

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *