AJAK ANAK MENCINTAI LINGKUNGAN

Sumber Gambar: Pixabay

Oleh: Ratnani Latifah*

Menjaga lingkungan agar tetap bersih merupakan kewajiban bagi semua lapisan masyarakat. Baik itu para pamong desa, orang tua, hingga anak-anak. Semua wajib bahu membahu untuk membersihkan lingkungan sekitar. Misalnya dengan menjaga kebersihan air di sungai, kita tidak boleh membuang sampah plastik atau sampah lainnya ke sungai, menjadikan sungai sebagai pembuangan limbah pabrik dan lain sebagainya. Karena kebiasaan buruk suka membuang sampah sembarang bisa mengakibatkan pencemaran udara juga lingkungan. Selain itu kebiasaan membuang sampah sembarangan, juga bisa menyebabkan kerusakan bumi.

Oleh sebab itu ada baiknya kita mulai mengajarkan rasa cinta lingkungan kepada anak sedini mungkin. Ketika kita sudah mengajarkan sejak kecil, maka anak akan tumbuh sebagai sosok yang cinta lingkungan serta bertanggung jawab. Salah satu cara untuk mengajarkannya, selain dengan memberikan keteladanan langsung di depan anak, kita juga bisa menumbuhkan rasa cinta lingkungan lewat teladan dari kisah-kisah dalam buku. Salah satunya saya merekomendasikan buku Jejak Penunggu Sungai.

Mengangkat tema cinta lingkungan dan persahabatan, buku ini cukup menarik untuk dibaca. Apalagi buku ini dikemas dengan bahasa sederhana khas anak-anak. Menceritakan tentang Aza, anak berusia 12 tahun dengan segala kenakalan dan kepolosannya. Aza tinggal di Desa Mulyoagung, lereng Gunung Arjuno, Jawa Timur. Ia memiliki empat sahabat baik Lucky, Ergi, Indah, dan Jihan. Sebagaimana kebiasaan anak-anak pada umumnya, mereka sering melakukan sesuatu yang menantang atau sesuatu yang dilarang orang tua.

Misalnya tentang larangan agar tidak mendekati Bik Yah. Sosok perempuan yang mengalami gangguan jiwa dan banyak ditakuti anak-anak di Desa Mulyoagung. Namun Aza pernah mencoba mendekati Bik Yah dan membuat taruhan dengan teman-temannya.

Tidak hanya itu, ketika mereka tahu bahwa ada larangan untuk bermain di Sungai Watucuil. Karena sungai itu sangat kotor akibat limbah pabrik dan sampah. Selain itu, anak-anak dilarang bermain di sungai karena beredar mitos perihal penunggu sungai yang menakutkan. Namun Aza dan teman-temannya tidak peduli. Diam-diam mereka bermain di sana dan asyik memanjat pohon dan mengambil buah kersen di sana.

Sampai kemudian sebuah kejadian tidak terduga terjadi. Aza hampir tenggelam karena terpeleset. Bagaimana kisah selanjutnya? Kita bisa menemukannya langsung dalam buku ini. Karena selain potongan kisah di atas, masih banyak keseruan lain yang disampaikan penulis melalui buku ini. Kita akan dibuat bertanya-tanya siapa sebenarnya sosok penunggu sungai?

Secara keseluruhan buku ini cukup bagus dan menarik. Membaca buku ini kita akan diajarkan banyak hal. Dari ajakan untuk mencintai lingkungan—kita diingatkan untuk tidak membuang sampah sembarang, menjaga kelestarian sungai dan banyak lagi. Tidak hanya itu dari kisah ini kita belajar tentang arti penting persahabatan juga pentingnya kejujuran.

“Orang yang tidak jujur, selamanya tidak akan dipercayai orang lain.” (hal 87).

Kemudian kita juga diingatkan untuk menjadi pribadi yang tidak suka membeda-bedakan orang lain dan tidak boleh mencela. Setiap manusia diciptakan Allah dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tidak kalah menarik ada pula sindiran halus tentang kebiasaan perusahaan besar yang menjadikan sungai sebagai pembuangan limbah. Sindiran itu disampaikan dengan apik melalui puisi dari salah satu tokoh cerita.

“Warna hijau itu berubah kelabu// Segar air tawar itu berubah menjadi getir// Sejuk udara menjadi kering// Kecau burung menjadi deru mesin// Kami semakin ringkih// Kami rindu aie segar yang mengalir// Kami sesak dengan udara yang keruh// Kamu tunggu burung kembali hinggap di daun hijau// Lantas kalian wariskan semua penderitaan ini pada kamu// Pada tubuh-tubuh kecil kami yang menyerap limbah polusi.” (hal 128).

Hanya saja, ada beberapa bagian yang kurang diekplore penulis dengan apik. Selain itu kisahnya terlalu banyak konflik yang tidak dijabarkan secara maksimal. Namun lepas dari kekurangannya, buku ini memiliki banyak nilai-nilai positif yang bagus untuk dikenalkan pada anak.

Srobyong, 10 Agustus 2019

*Alumnus Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara


JEJAK PENUNGGU SUNGAI 


Judul               : Jejak Penunggu Sungai

Penulis             : Redhite Kurniawan

Ilustrator         : Sanisaniesem

Cetakan           : Pertama, April 2019

Tebal               : 136 halaman

ISBN               : 978-602-495-101-6

 

Dunia anak-anak bukan hanya disematkan pada bermain-main semata, tetapi juga cara pandang mereka kepada lingkungan sekitarnya. Cara pandang yang jujur dan apa adanya, disertai pemikiran kritis meski terkadang naif. Dunia anak memang dunia yang sangat menarik!

Jejak Penunggu Sungai adalah novel yang disuguhkan dengan bahasa ringan dan mudah dipahami anak. Novel ini mampu menjadi teman bermain sekaligus belajar. Aza dan teman-temannya siap mengajak kalian menjelajah Gunung Arjuno di Jawa Timur, dan mengajari kalian tentang nilai persahabatan, cinta lingkungan, dan kejujuran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *