AJAK ANAK SAYANGI BINATANG

 

Sumber Gambar: Pixabay

 

Oleh: Ratnani Latifah*

Setiap makhluk hidup diciptakan Allah dengan masing-masing keunikan dan membawa manfaat bagi makhluk lainnya. Misalnya beberapa tumbuhan, seperti kol, selasa, wortel bisa dimanfaatkan untuk sayur-mayur. Pohon jati bisa diambil kayunya untuk membuat furniture. Begitu pula dengan hewan. Di antaranya ayam, di mana daging dan telurnya nya bisa dimakan, dan kotorannya bisa dimanfaatkan sebagai pupuk. Oleh sebab itu, kita harus menyayangi tumbuhan dan binatang. Kita tidak boleh bersikap kasar terhadap binatang atau suka merusak tumbuh-tumbuhan. Seyogyanya kita harus bersikap kasih sayang terhadap mereka.

Mengambil tema tentang cinta lingkungan  dan persoalan keluarga, novel ini menceritakan tengan Syifa yang tengah dilandang kebingungan. Hari Cipta Puspa dan Satwa Nasional, akan segera tiba. Semua murid di SDIT Bina Islam, diharuskan untuk membawa bunga atau binatang kesayangan. Kelas 1,2, 3 akan membawa aneka bunga, dan kelas 4,5,6 membawa binatang (hal 12). Semua murid sangat antusias ketika mendapat info tersebut, kecuali Syifa. Dia telihat murung.

Syifa sibuk memikirkan binatang apa yang akan dia bawa pada acara tersebut. Mengingat di rumahnya ada peraturan tidak boleh memelihara binatang. Padahal sejak dulu Syifa ingin memelihara binatang di rumah. Hingga suatu hari tanpa sengaja Syifa menemukan seekor kucing yang dekil, kotor dan cacat—matanya buta sebelah, telinga kirinya putus setengah dan agak pinjang.

Merasa kasihan, Syifa pun memelihara kucing yang dia beri nama Tibu secara diam-diam, karena takut ketahuan ayah dan ibunya.  Setiap hari, dia memberi makan Tibu dengan rajin. Biasanya Syifa sengaja menyisakan makannanya dan memberikannya pada Tibu. Sejak ada Tibu, Syifa yang kalau bangun harus dibangunkan, kini menjadi sangat rajin bangun sendiri.

 

Namun,  suatu hari Syifa akhirnya ketahuan. Ayahnya sangat marah. Meski sudah dibujuk ibu dan kakaknya, sang ayah tetap tidak mengizinkan Syifa untuk memelihara kucing. Yang lebih membuat Syifa sedih adalah ayahnya tega membuang Tibu tanpa sepengetahuannya.  Sayangnya ketika Syifa berusaha mencari Tibu, kucing itu tidak ditemukan juga. Keadaan itu membuat Syifa menjadi murung.

Melihat keadaan Syifa, akhirnya orangtuanya mengambil keputusan bahwa Syifa boleh memelihara binatang. Namun dengan catatan tidak memelihata Tibu lagi. Ayahnya bahkan mengajak Syifa untuk memilih sendiri binatang yang akan dipeliharanya. Namun hal itu tidak mengurangi rasa sedih Syifa. Karena gadis kecil itu hanya ingin memelihata Tibu. Bagaimana kisah selengkapnya? Kenapa ayahnya tidak mengizinkan Syifa memelihara Tibu?  Dan kenapa Syifa lebih memilih memelihara Tibu daripada binatang lain yang lain?

Diceritakan dengan bahasa yang mudah dicerna anak, secara keseluruhan, kisah ini sangat menarik. Kisahnya juga seperti keseharian anak dan sangat mendidik. Membaca novel ini akan mengajak anak untuk menyayangi binatang tanpa memandang bagaimana keadaan binatang tersebut. Selain itu dalam cerita ini anak diajak untuk mencintai lingkungan, serta   belajar untuk bertanggung jawab.

“Kita perlu menyayangi hewan dan tumbuhan. Kita tidak boleh menyakitinya. Semua makhluk yang diciptakan Allah pasti memiliki manfaat. Jika tidak ada tumbuhan, kita tidak bisa mengonsuminya untuk tubuh kita. Jika tidak ada hewan. Seperti lebah, yang bermanfaat untuk membantu proses penyerbukan bunga.” (hal 132).

Srobyong, 28 Maret 2019

*Alumnus Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara


TIBU, KUCING KESAYANGAN SYIFA


Judul                     : Tibu, Kucing Kesayangan Syifa

Penulis                 : Amalia Dewi Fatimah, Haya Nayla Zhafirah

Lini                         : LINTANG

Halaman              : 144

Ukuran                 : 14 x 20 cm

ISBN                      : 978-602-495-088-0

Punya kucing sebagai binatang kesayangan itu sangat menyenangkan! Apalagi kalau kamu punya kucing yang lucu, sehat, bersih, dan tidak bau. Pasti banyak orang yang suka dan ikut menyayanginya. Tapi kenapa ya dengan Syifa? Ia  malah menjadikan kucing dekil, kotor, dan cacat bernama Tibu sebagai binatang kesayangannya. Padahal, Ayah paling tidak suka bila ada binatang di rumah.

Tibu kucing yang berbulu kusam, kaki belakangnya ada yang pincang, telinganya putus sebelah, serta salah satu matanya kotor dan tidak bisa melek. Pokoknya sama sekali bukan kucing yang lucu. Ayah sama sekali tidak menyukainya! Tapi, Syifa bersikeras untuk memeliharanya.

Bukankah semua binatang adalah ciptaan Allah SWT, meskipun dia cacat? Jadi kalau kita sayang Allah, kita juga harus sayang sama ciptaan Allah. Nah, Teman-teman, ikuti kisah persahabatan Tibu dan Syifa dalam novel karya kolaborasi ibu-anak ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *