ASYIKNYA LIBURAN KE MALANG

23432657_580013762339059_340050149_o (1)

 

Oleh: Teguh Wibowo

Malang menjadi tempat tujuan para wisatawan baik dalam negeri maupun luar negeri. Keindahan alamnya berpadu kesegaran udara dingin membuat para wisatawan betah berlama-lama di sana. Selain itu, Malang juga dikenal baik dengan kualitas Perguruan Tinggi, seni, budaya, kuliner, serta prestasi sepakbolanya.

Buku ini menceritakan sosok Salsabilla Qadri atau biasa disapa Billa. Seorang gadis kelas lima sekolah dasar di Jakarta yang diajak mamanya berkunjung ke rumah saudaranya di Malang. Tante Nurul membutuhkan bantuan mamanya dalam rangka membuka cabang baru toko baju muslim setelah Lebaran. Billa dan mamanya akan menginap selama sepuluh hari, karena Billa juga sedang musim liburan sekolah.

Billa semangat sekali saat mama mengajaknya berlibur ke rumah Tante Nurul di Malang. Ia rindu dengan adik-adik sepupunya—Azzam, Jasmin, Samed—yang sudah bertahun-tahun tidak ia temui. Namun saat tiba di rumah, Billa bertubi-tubi dikejutkan. Bukan hanya fisik adik-adik sepupunya yang telah berubah, tapi juga tingkah mereka. Mama menyebutnya “aktif”, namun Billa menganggap mereka bandel, usil, dan menyebalkan.

Billa pusing. Meskipun papa sering bilang: bersabar itu seperti berenang, butuh banyak latihan supaya terbiasa, tapi tetap saja susah. Billa yang aslinya anak bungsu mendadak jadi yang tertua dan harus menghadapi kepungan para “monster” cilik. Apalagi saat Bi Jumah berhenti kerja, membuat Billa ikut sibuk mengurusi rumah dan menemani sepupunya bermain. Billa sadar bahwa banyak permaian dunia nyata yang belum pernah dimainkannya karena ia lebih sering bermain game di ponsel pintar.

Billa terkejut lagi saat melihat keluarga Tante Nurul makan dengan tangan. Tidak menggunakan sendok dan garpu seperti dirinya dan mama. Om Danu lantas menjelaskan, “Rasul selalu makan dengan jari-jari tangan kanannya. Kalau bisa dengan tiga jari saja: jempol, jari telunjuk, dan jari tengah. Katanya itu menunjukkan kalau kita tidak rakus sekaligus mencegah penyakit.” Azzam menambahkan, “Kata ustadz di sekolahku, menurut penelitian makan pakai tangan bisa bikin mudah pencernaan di lambung kita. Soalnya di tangan kita ada enzim yang bisa membunuh bakteri (halaman 22).”

Billa juga baru paham tentang kebiasaan qailulah. Qailulah yaitu istirahat siang setelah Dzuhur dan sebelum Ashar, serta tidak mesti tidur. Manfaatnya antara lain biar lebih segar saat bangun Tahajud. Dan memang menurut penelitian banyak manfaatnya. Tidur siang selain sunnah dan membuat badan kita lebih segar, juga bisa meningkatkan daya ingat dan mencegah penyakit (halaman 68).

Bagi Billa, liburan itu ya jalan-jalan. Mereka berlibur ke Selecta. Om Danu menjelaskan bahwa yang membangun taman ini adalah orang Belanda. Nama ‘Selecta’ pun katanya diambil dari bahasa Belanda yang berarti ‘pilihan’. Mungkin maksudnya agar menjadi objek wisata pilihan bagi banyak orang. Billa sendiri pernah melihat foto-foto artis di taman bunga ini. Namun, Billa baru tau kalau taman bunga tersebut ada di Malang atau tetangga Malang. Padahal Billa pikir taman bunga secantik itu hanya ada di Eropa (halaman 95).

Membaca buku ini akan kita temui banyak pengetahuan dan metode pendidikan karakter untuk anak. Bagaimana memerankan akhlak yang baik, bergaul yang benar, serta manfaat bermain permainan tradisional.

Buku ini meskipun tampilan dalamnya hitam-putih, tetapi tetap menarik untuk dibaca lebih lanjut. Ceritanya cukup apik dan mendidik. Bagi siapa pun yang punya perhatian terhadap pendidikan karakter dan tumbuh kembang anak, buku ini pantas diapresiasi dan dikoleksi. Selamat membaca. (*)

 


Billa Bungsulung

Judul Buku        : Billa BungSulung, Liburan Penuh Tantangan

Penulis                : Resti Dahlan

Penerbit              : Lintang (lini Indiva Media Kreasi)

Cetakan              : I, November 2016

Tebal                   : 136 halaman

ISBN                   : 978-602-6334-10-7

Harga                 : Rp 30.000,-

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *