Azzura Dayana, Penulis Sarat Prestasi yang Hobi Traveling

Yana_IBF AWARD

Mendung menyapa di pagi buta

Segerombolan hujan bergelayut di ria di ujung awan hitam

Serasa mengejek mentari yang sinarnya tak sanggup menembus dinding kokoh sang awan

#hasyeh…

Selamat pagi menuju siang, kawan. Apa kabar semua? Insya Allah selalu dalam lindungan Allah swt., yak? Kali ini penulis akan sedikit mengulas dan memaparkan salah satu profil penulis ‘unggulan’ Indiva. Azzzura Dayana. Pernah dengar? Akrab di telinga kan? Itu lho yang berhasil menyabet penghargaan buku fiksi dewasa terbaik 2014 oleh IKAPI dlm Islamic Book Fair Award. Hebat bukan? Sangat.

Kemarin penulis sempat mengadakan ‘wawancara’ dengan Mbak Yana–begitu dia terbiasa disapa. Nah, tidak usah basa-basi biar tidak jadi basi dan bikin penasaran di hati, yuk mari kita cek satu-satu hasil wawancara penulis dengan mbak Yana.

Mbak Yana asli Palembang, ya?

Asli Palembang tulen sebenarnya tidak. Bapak asli Tanjung Batu, Sumsel. Ibu asli Kayuagung, Sumsel. Keduanya lahir dan besar di Palembang, ibukota Sumsel. Saya pun lahir dan besar di Palembang.

Palembang terkenal dengan empek-empek kan ya? Mbak Yana sendiri termasuk empek-empek holic atau justru punya makanan favorit dari daerah lain? Misal Rawon yang dari Solo? *hehe…

Saya suka pempek, walaupun bukan termasuk pempek holic. Jarang orang Palembang yang tidak suka pempek. Oh iya, yang baku itu pempek, ya, bukan empek-empek. (penulis ‘ngeplak’ kepala sendiri… malu) Hehe… Selain pempek, saya menyukai makanan-makanan khas Palembang yang lain, misalnya, martabak HAR (sejenis martabak telur), mie celor, dan lain-lain.

Oke. Kita masuk ke proses kreatif, ya, mbak? Mbak Yana mulai mencintai dunia tulis menulis sejak kapan?

Suka menulis dongeng sejak SD. Saya meniru-niru dongeng yang ada di Majalah Bobo. Namun, mulai menekuni aktivitas menulis dengan lebih serius sejak mendirikan Forum Lingkar Pena (FLP) Sumsel bersama teman-teman pada tahun 2000.

Kalau boleh tahu, karya pertama Mbak Yana apa? Puisi? Cerpen? Atau justru langsung menggarap novel?

Pertama-tama, saya menulis beberapa cerpen. Beberapa berhasil dibukukan bersama cerpen teman-teman FLP Sumsel. Setelah itu mulai tertarik menulis novel, karena saya kok kalau nulis cerpen suka kepanjangan. Ternyata saya lebih suka menulis dalam bentuk novel. Sepertinya dengan menulis novel saya bisa leluasa menuangkan ide-ide dan mengembangkannya. Sedangkan kalau menulis cerpen kan terbatas halamannya. Ibaratnya, saya itu lebih senang menulis di ruangan yang luas (novel) daripada di ruangan yang sempit (cerpen). Begitu istilahnya. 🙂

Karya pertama yang dibukukan oleh penerbit berjudul apa mbak?

Kumcer bersama teman-teman FLP Sumsel. Judulnya “Kucing Tiga Warna”, diterbitkan oleh Asy-Syaamil, Bandung, pada tahun 2002. Ada tiga cerpen saya di buku itu.

Oh iya, mbak Yana kemarin menyabet gelar di IBF Award untuk kategori novel fiksi dewasa terbaik kan yak? Selamat Mbak..^^ Altitude –3676 Mahameru… saya suka sekali novel itu. Bisa diceritakan proses kreatif pembuatan novel tersebut bagaimana?

Alhamdulillaah… Proses menulisnya berlangsung selama total dua bulan. Inspirasinya tentulah dari perjalanan saya ke Gunung Semeru bersama teman-teman pendaki. Sebelumnya, saya melakukan perjalanan dari Sumatera ke Jawa, lalu ke Sulawesi Selatan, setelah itu kembali ke Jawa Timur dan melakukan pendakian Mahameru. Konsep novel telah saya buat sejak seminggu sebelum perjalanan itu, dan sekembalinya ke rumah lagi, saya mulai menulis novel tersebut.

Ngomong-ngomong, penghargaan yang mbak Yana raih apa saja ya?

Penghargaan lomba menulis tingkat nasional yang diraih:

Pertama, Juara Ketiga Lomba Menulis Novel Remaja Islami yang diadakan oleh Gema Insani Press (GIP) pada 2003. Judul novel: ALABASTER, diterbitkan GIP pada 2004.

Kedua, Juara Kedua Sayembara Cerpen Festival Kreativitas Pemuda yang diadakan oleh Creative Writing Institute, dengan judul cerpen LAMPION.

Ketiga, Juara Kedua Lomba Novel Islami yang diadakan Harian Republika pada 2011, dengan judul TAHTA MAHAMERU, diterbitkan pada 2012. Novel inilah yang kemudian direvisi cetak sebagai ALTITUDE 3676 setelah berpindah penerbit ke Indiva Media Kreasi.

Keempat, penghargaan Buku Fiksi Dewasa Terbaik 2014 dari IKAPI – IBF 2014 untuk novel Altitude 3676.

Kalau dilihat-lihat, novel-novel tulisan mbak Yana selalu berhubungan dengan traveling, gunung –back to nature.  Sebenarnya, apa alasan di balik ini semua? (eh.. kaya apa ya? :v…) apa karena mbak Yana hobi traveling atau…???

Benar. Ini semua karena hobi traveling dan menjelajah negeri. Selain itu karena saya memang suka menggambarkan secara detail tempat yang pernah saya kunjungi. Menurut saya, latar yang visual dan pekat akan sangat menunjang kualitas sebuah novel yang baik. Juga karena perjalanan adalah tema yang terus-menerus menarik, tidak akan pernah membosankan.

Sampai saat ini, Mbak sudah menerbitkan berapa novel?

Ada delapan novel termasuk Altitude 3676. Salah satu di antara novel tersebut adalah karya duet bersama Mbak Ifa Avianty, judulnya RANU.

Lanjut, ya, mbak? Apa hikmah terbesar dan terdahsyat yang Mbak dapat setelah menerbitkan beberapa novel dan akhirnya menjadi penulis yang mulai diperhitungkan di belantika kepenulisan di Indonesia?

Berkat menjadi penulis seperti ini, saya memiliki banyak rekan penulis dan pembaca yang secara langsung dan tidak langsung telah menjadi sahabat-sahabat saya. Sahabat tentu saja adalah anugerah yang sungguh istimewa bagi makhluk sosial seperti kita. Keistiqomahan menuliskan kebaikan berimbas kebaikan demi kebaikan yang kita terima tanpa kita sangka-sangka dari sesama manusia. Juga yang terutama, kebaikan berubah barokah dan pahala dari Allah swt. Hal inilah yang menyebabkan saya semakin ingin terus bertahan di dunia kepenulisan.

Adakah pesan dan kiat yang ingin mbak sampaikan kepada masyarakat awam yang ingin sekali menulis, tetapi masih malu-malu untuk menggerakkan tangannya meraih bolpen atau keyboard laptop?

Awali dengan niat yang baik dan untuk berbagi kebaikan. Motivasi pertama adalah bahwa kita menulis untuk ‘mengabadikan’ diri kita. Menulis adalah untuk menyampaikan bahwa kita pernah ada. Motivasi kedua adalah dengan menulis, kita bisa berbagi kebaikan, keindahan, dan kebahagiaan. Tak ada yang merugikan dari aktivitas menulis, kecuali kita menuliskan keburukan. Oleh karena itu, lekaslah menulis dan jangan ragu lagi! 🙂

Terakhir nih Mbak. Harapan untuk Penerbit Indiva ke depan apa yaah kira-kira? *kepo habis.

Semoga Indiva tetap menjadi PARTNER saya yang OKE. Pemasarannya semakin luas dengan strategi-strategi promosi yang semakin keren. Insya Allah, kesuksesan demi kesuksesan akan kita raih bersama-sama. Dan setelah Altitude 3676 ini, mudah-mudahan segera hadir persembahan terbaik kita lagi untuk para pembaca. Insya Allah, aamiin.

Aamiin.

Benar-benar super, kan?

 

(Wawancara: Ayu Wulandari)

 

2 thoughts on “Azzura Dayana, Penulis Sarat Prestasi yang Hobi Traveling

  1. Azzura Dayana, Penulis Sarat Prestasi yang Hobi Traveling | Penerbit Indiva
    ray ban frames http://www.invincibellespirit.net/uk/raybansale.php?p=ray-ban-frames

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *