BALADA CINTA YANG PENUH LUKA

 

Oleh: Untung Wahyudi*

Sebagaimana jenis kelamin, laki-laki dan perempuan, Tuhan menghadirkan dua rasa yang saling berseberangan; suka-duka, susah-senang, atau kebahagiaan-penderitaan. Semua berkelit-kelindan menyertai kehidupan manusia yang sangat kompleks. Mustahil seseorang akan selalu hidup senang penuh tawa. Suatu saat kesedihan dan penderitaan juga akan dirasakannya.

Namun, Tungke’ dilahirkan ke dunia seolah memang akrab dengan penderitaan. Sejak lahir dia sudah dekat dengan suasana penderitaan hidup yang menyertai keluarganya. Ayahnya meninggal saat dia belum lahir karena sakit kolera. Saat umurnya masuk sepuluh tahun, ibunya menyusul karena penyakit muntaber. Kematian ibunya saat itu dirasakannya sebagai pukulan berat yang memang tak membuat tubuhnya terpelanting jauh, tapi remuk. Dia meraung tak ingin melepas jasad ibunya yang terbujur kaku.

Setelah itu, Tungke’ diambil tantenya. Diasuh layaknya anak sendiri karena tantenya belum menikah sampai usianya menginjak kepala lima. Namun, lagi-lagi kesedihan datang. Tantenya meninggal dan membuatnya benar-benar seorang tungke’ (tunggal dan sebatang kara). Pamannya, La Sahide, yang akhirnya mengambil Tungke’, setelah sebelumnya diasuh oleh Rahmat yang masih gurunya.

Bersama pamannya, Tungke’ memulai hidup di kampung Bugis Bolalimappulo di lereng Gunung Lamangisi. Kampung transmigrasi tersebut hanya dihuni oleh lima puluh Kepala Keluarga. Jauh dari keramaian, kampung tersebut tak ubahnya hutan rimba yang gelap gulita di saat malam hari. Pada setiap rumah hanya diterangi pelita. Berbeda dengan desa kecamatan Bilokka, yang sebagian penduduknya sudah memakai lampu.

Kisah hidup Tungke’ dengan segala balada kehidupannya dikisahkan S. Gegge Mappangewa dalam novel Sayat-Sayat Sunyi. Novel ini begitu kental dengan nuansa budaya Bugis. Dari model rumah adat, hingga tradisi yang menyertai kehidupan penduduk digambarkan dengan begitu memikat. Pun kisah cinta anak desa antara Tungke’ dan Malik.

Malik adalah laki-laki dari keluarga cukup kaya di Bilokka yang berprofesi sebagai penjual obat keliling. Laki-laki yang memikat hati Tungke’ itu dididik orangtuanya untuk hidup mandiri. Karena itu, hidup Malik sangat akrab dengan rantau. Berkali-kali ia pulang-pergi merantau untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. hingga pada suatu waktu, Malik berjanji pada Tungke’ bahwa kepergiannya merantau itu menjadi perantauannya yang terakhir. Lewat rekaman kaset yang diputar lewat walkman yang dihadiahkan kepada Tungke’ sebelum keberangkatannya, Malik berjanji akan segera meminangnya setelah pulang dari rantau.

Tungke’ tentu sangat senang mendapatkan bingkisan berupa walkman dan radio transistor yang digunakannya untuk mendengarkan acara radio kesukaan Malik. Malik telah menyiapkan pesan lewat kupon atensi (berbayar) ke beberapa stasiun radio. Dia juga memesan lagu khusus buat Tungke’. Selain itu, Malik juga menerbangkan lambaru (layang-layang dengung) yang dititipkan pada Ahmadi, teman dekatnya, agar lambaru itu setiap malam bisa mendengung tepat di atas atap rumah Tungke’.

Penantian Tungke’ berakhir. Malik dan keluarganya datang melamarnya dan melangsungkan pernikahan dengan cukup meriah, terutama di Bilokka, rumah orangtua Malik. Di Bolalimappulo sendiri hanya dilaksanakan dengan sangat sederhana, karena Tungke’ hanya hidup sebatang kara. Namun begitu, para tetangga sangat antusias membantu acara pernikahannya dengan Malik (hlm. 196).

Namun, kebahagiaan yang baru sehari dirasakan Tungke’ harus berganti kesedihan karena Malik pergi di pagi buta dari rumah Tungke’. Tungke’ mengira Malik hanya pergi ke sungai, namun setelah ditunggu, suaminya itu tak juga datang. Dia berinisiatif untuk datang ke rumah Suriani, sahabatnya, karena kemarin Malik sempat ke rumahnya untuk sebuah keperluan yang nampaknya rahasia dan sempat mengobarkan api cemburu di hatinya. Rasa curiga kembali mencuat setelah melihat pintu rumah Suriani digembok. Satu-satunya tempat yang harus didatanginya adalah rumah orangtua Malik di Bilokka. Namun, Malik juga tak ada di sana. Orangtua Malik malah balik bertanya, kenapa Malik bisa menghilang dari rumah istrinya. Orangtuanya curiga kalau anak dan menantunya itu menyimpan masalah.

Kampung Bolalimappulo geger karena kabar menghilangnya Malik bersamaan dengan kepergian Suriani dari kampung. Tungke’ hanya mampu menahan sedih. Dia tahu dan percaya, Suriani sahabatnya dan tak mungkin melarikan diri bersama Malik. Namun, siapa tahu, Malik memang pandai bersandiwara. Apalagi dia memang piawai merayu dan berkata-kata sehingga banyak orang termakan rayuan dan tertarik untuk membeli dagangannya.

Kesedihan dan penderitaan Tungke’ menjadi intisari novel 344 halaman yang penuh kesahduan ini. Pembaca tak akan menyangka bahwa kesedihan akan menimpa perempuan malang nan sebatang kara itu. Sejak kecil Tungke’ sudah akrab dengan penderitaan dan luka, kini setelah kebahagiaan datang karena Malik menyuntingnya sebagai istri, kesedihan kembali datang menghampirinya. (*)

 

*) Untung Wahyudi, penggiat literasi, tinggal di Sumenep


 

Judul               : Sayat-Sayat Sunyi

Penulis             : S. Gegge Mappangewa

Penerbit           : Indiva Media Kreasi, Solo

Cetakan           : Pertama, Februari 2019

Tebal               : 344 Halaman

ISBN               : 9786025701054

 

Tungke’ telah akrab dengan perpisahan, terbiasa kehilangan, dan telah sering menatap kepergian. Lalu ketrika Malik harus pergi, setianya tetap bergeming meski luka tak kunjung mengering.

Kepergian demi kepergian mengajarkannya bahwa setia dan sunyi adalah dua sejoli dan luka dan luka adalah oarang ketiga. Tungke’ yang berharapo malik adlaah nahkoda ternyata tak lain adlaah dermaga, tak mungkin hanya dia yang berlabuh di sana.

Benarkah pertemuan selalu ada bagi orang yang selalu merawat penantiannya dengan kesetiaan, meski luka? Ataukah penantian itu luka, kesetiaan juga luka, sunyi adalah cuka, sedangkan pertemuan hanyalah ilusi?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *