Belajar Menjadi Unggul Lewat Kitab Sakti

Kitab Sakti

Disambut dengan pengantar yang sarat makna dari Afifah Afra, membuat saya bersemangat membaca buku ini. Afifah memotivasi remaja, mengapa perlu membaca Kitab Sakti Remadja Oenggoel. Ia memberi contoh tentang orang-orang yang sukses di usia muda seperti Mark Zuckenberg (sukses pada usia 24 tahun), Usamah bin Zaid (terpilih menjadi panglima perang pada usia 18 tahun), dan Imam Syafi’i (menjadi mufti di usia 15 tahun). Ada satu persamaan yang patut dicermati dari mereka, yaitu: mereka memanfaatkan dengan baik usia remaja mereka.

Buku ini terdiri atas 3 bab yang terpecah lagi menjadi 7 sub bab, dalam nama-nama yang diawali kata “jurus” seperti 3 Jurus Taichi Master, 1 Jurus Kamehameha, dan 3 Jurus Tifan Pokhan. Isinya adalah langkah-langkah terstruktur dan detil untuk remaja agardapat mengembangkan potensi dirinya. Dengan gaya bahasa yang amat gaul, buku ini mestinya dapat menarik remaja untuk melahap isinya.

Dimulai ajakan kepada remaja untuk merenungkan jati dirinya, ini merupakan strategi yang amat tepat mengingat masa remaja adalah merupakan masa pencarian jati diri seorang anak manusia.

Simak saja kutipan dari halaman 40 berikut ini: dengan menyadari benar siapa diri kamu yang sekarang, tanamkan dalam hati dan pikiranmu bahwa masa ini kamu harus manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Persiapkan pondasi menuju kehidupan yang akan datang dengan sebaik-baiknya pula agar tidak timbul penyesalan di kemudian hari. Karena nggak ada jam, menit, apalagi detik yang bisa diputar ulang, bukan?

Sebagai contoh kongkrit, penulis menceritakan tentang perjalanan hidup Mark Zuckenberg, pencetus Facebook yang meraih Young Global Leaders pada tahun 2009 dengan kekayaan sebesar 1,5 milyar dolar AS itu. Walau pernah dianggap mencuri data kemahasiswaan di universitas Harvard demi mewujudkan ide briliannya membuat buku direktori mahasiswa online, berkat kegigihannya dalam bereksplorasi Mark akhirnya berhasilnangkring dalam jajaran 400 orang terkaya di Amerika versi Forbes. Perlu dicatat, saat ini Facebook memiliki 150 juta pendaftar, 52 ribu aplikasi, dan telah diterjemahkan ke dalam 15 bahasa.

Setelah menuturkan langkah-langkah self management, penulis mengajak pembaca untuk merenungkan kematian (halaman 117). Bahwa ajal tak mengenal usia. Bukan hanya yang tua atau yang sakit, ajal pun menghampiri mereka yang masih muda atau sehat. Dan bahwa seseorang yang menebar amal kebaikan, mengajak orang berbuat kebaikan, dan bertaubat dengan sungguh-sungguh seperti sosok ustadz Jeffri, kepergiannya meninggalkan kesan yang luar biasa.

Dalam sebuah jurus, penulis menjelaskan maksud dari sebuah nasihat: “Waktu laksana pedang. Jika engkau tidak menggunakannya maka dia yang malah menebasmu. Dan dirimu jika tidak tersibukkan dalam kebaikan, pasti akan tersibukkan dalam hal yang sia-sia.”  Masih berhubungan dengan itu, Rasulullah saw pun pernah bersabda bahwa nikmat yang paling sering disia-siakan oleh manusia adalah nikmat sehat dan waktu luang.

Penulis mengajak pembaca untuk memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Buku ini sangat sarat memuat motivasi dan hikmah yang sesuai untuk remaja. Terakhir, Jurus Buat Hidup Lebih Hidup dengan “proposal hidup”-nya dan Jurus GALAU (God Always Listening, Always Understanding) menjadi pamungkas yang amat praktis sekaligus filosofis untuk diterapkan.

Ada 8 nilai plus yang bisa ditemukan dalam buku ini, yakni:

1.   Setiap sub bab dibuka dengan kuis di dalam buku ini. Kuis-kuis ini bisa menjadi penuntun bagi remaja untuk lebih mengenali dirinya.

2.   Buku ini kaya akan kutipan ayat al-Qur’an dan hadits.

3.   Gaya bahasa mengalir ala remaja yang tersusun tanpa kesalahan ketik disertai emotikon menarik, membuat buku ini mudah dicerna oleh para remaja.

4.   Pada halaman 47, ada data ilmiah mengenai betapa mencengangkannya karunia Allah kepada makhluk bernama manusia. Misalnya: di dalam tubuh kita ada energi atomik yang cukup untuk membangun kota-kota terbesar di dunia berkali-kali.

5.   Mencantumkan aneka quote dari orang-orang di berbagai belahan dunia, mulai dari Bruce Lee hingga Asma Nadia. Contohnya: yang penting bukan berapa lama Anda hidup, tetapi BAGAIMANA Anda hidup, itulah yang terpenting.

6.   Mengetengahkan dan mengolah pandangan dari para pakar seperti Satria Hadi Lubis (pakar motivasi) dan Abraham Maslow (teoritikus yang banyak memberi inspirasi dalam teori kepribadian).

7.   Memuat contoh-contoh kisah yang memotivasi dari berbagai belahan dunia, salah satunya tentang Sylvester Stallone yang tercatat sebagai aktor pencetak box office terbesar di dunia.

8.   Membaca buku ini serasa membaca buku yang ditulis oleh satu orang, bukannya dua orang. Riawani dan Oci yang sama-sama merupakan penulis produktif ini teramat lihai dan manis dalam memainkan dan menggabungkan logika mereka ke dalam buku ini.

Sementara hanya ada 2 hal yang perlu dipertimbangkan perbaikannya dari buku ini:

1.     Pembaca dari daerah Indonesia bagian timur bakal tersendat-sendat mencerna isi buku ini karena bertaburannya istilah gaul ala orang Jakarta seperti gue, ngacungin, lakuin, nggak, males, entar, happening banget, pantengin, bener, dan inget. Merupakan sebuah kendala dalam mengolah dan memahami gaya bahasa yang bukan gaya bahasa kita karena butuh waktu lebih lama dalam memprosesnya di otak kita.

2.    Judul kurang eye catching dan sulit diingat karena berkesan oldies.  Bila dicetak ulang, perlu dipertimbangkan untuk membuatnya lebih manis.

 

Selain itu, ada 5 poin yang mudah-mudahan bisa menjadi masukan untuk penulis dan penerbit:

1.     Pemakaian kata “jurus” di dalam buku ini berkesan maskulin, lebih mudah menarik laki-laki untuk membacanya ketimbang perempuan.

2.    Buku yang teramat sarat nilai filosofis ini sebaiknya dibaca juga oleh orangtua, bukan hanya remaja. Orangtua sebaiknya memahami dan mendampingi remajanya dalam mengurai materi dan menerapkan langkah-langkah praktis dalam buku ini supaya hasilnya bisa maksimal. Misalnya dalam menerapkan metode SMART (halaman 78), sebagian remaja bakal kesulitan karena tak bisa menemukan potensi dan minatnya. Ini karena pola pendidikan di negara kita yang masih terlalu berpatokan pada pengembangan sedikit saja dari majemuknya jenis-jenis kecerdasan. Model pendidikan di negara ini kurang mengeksplorasi potensi (minat dan bakat) anak-anak kita. Contohnya saya. Saya tak menyadari potensi saya dalam bidang menulis karena saya lebih mengeksplorasi kesukaan saya kepada bidang studi matematika (yang selalu terkesan “lebih keren”) yang akhirnya membawa saya masuk ke jurusan Elektro di fakultas Teknik UNHAS. Namun sekarang, takdir membawa saya menekuni bidang menulis setelah saya mengasah dengan lebih giat potensi menulis saya lebih dari 2 tahun yang lalu, di saat usia saya menginjak angka 37 tahun.

3.    Buku ini kelihatannya masih bisa dipecah lagi ke dalam beberapa buku dengan tema berbeda yang dikemas dengan jauh lebih ringan, yang lebih mudah dicerna para remaja tanpa bantuan orangtua mereka.

4.    Pada bagian yang membahas tentang “visualisasi” baiknya ditambahkan kisah nyata orang yang termotivasi dari penerapan visualisasi tersebut. Ini membuat remaja makin yakin bahwa memang ada orang yang bisa mewujudkannya. Misalnya Andrea Hirata yang walaupun berasal dari keluarga sederhana di pelosok Belitung, ia akhirnya mampu meraih mimpinya dengan bersekolah ke luar negeri.

5.     Pada bagian yang membahas tentang “momentum”, baiknya disinggung juga mengenai remaja-remaja yang mengalami musibah seperti MBA (married by accident), narkoba, nongkrong sambil menyanyi di pinggir jalan sampai lewat tengah malam, dan yang mengalami kecelakaan karena balapan liar. Bahwa betapa mereka melewatkan momentum penting dalam hidup mereka tetapi kalau mereka mau, mereka bisa bangkit secepat mungkin tanpa perlu menunggu lagi.

Dua hal yang perlu diperbaiki dari buku ini, sama sekali tak menutupi kecemerlangan konten yang dimuatnya. Buku ini amat layak dibaca oleh orangtua yang ingin mengarahkan remajanya agar menjadi manusia yang bermanfaat kelak. Sudah tentu, kepada para remaja yang ingin maju, inilah buku pengembangan diri yang amat tepat untuk Kalian.

Ingin tahu lebih dalam seperti apa kuis, self management, aneka motivasi dan hikmah, proposal hidup, Jurus GALAU, dan jurus-jurus lain yang ditawarkan Riawani Elyta dan Oci Yonita Marhari? Temukan dalam buku KITAB SAKTI REMADJA OENGGOEL di toko-toko buku besar di kota Anda.

Kalau mau praktis, bisa juga browsing dihttp://indivamediakreasi.com atau berkirim e-mail ke: info[at]indivamediakreasi[dot]com atau ke indiva_mediakreasi[at]yahoo[dot]co[dot]id.

DATA BUKU

Judul buku   : Kitab Sakti Remadja Oenggoel

Penulis          : Riawani Elyta dan Oci Yonita Marhari

ISBN               : 978-602-8277-95-2

Penerbit        : Indiva Media Kreasi

Ketebalan      : 200 halaman

Dimensi         : 14 cm x 20 cm x 1 cm

Harga             : Rp. 28.000

(Ditulis oleh Mugniar Marakarma, Juara 2 Lomba Resensi Buku Indiva 2013)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *