Resensi Novel BITD: Buku, Harta Karun Berharga

Buku-Ini-Tidak-DijualKeberadaan buku bagi setiap orang memiliki makna berbeda. Soekarno, presiden pertama Indonesia, sangat suka membaca buku. Dengan buku-buku, beliau menyebut dirinya memasuki alamnya ilmu, alamnya akal, alamnya batin, alam yang oleh orang Inggris dinamakan the world of mind. Begitu pula dengan Mohammad Hatta.

Wakil presiden pertama Indonesia itu tak bisa dilepaskan dari buku. Bahkan, saat diasingkan ke Banda Neira dan Boven Digul, beliau lebih memilih mengisi koper-kopernya dengan buku. Yang unik, ketika menikahi Rahmi Rachim, beliau memberikan tanda cinta berupa buku sebagai mas kawin. Itulah sekilas gambaran betapa melekatnya kedua bapak bangsa itu dengan buku.

Terkait penghargaan terhadap buku, Henny Alifah dengan sangat memukai menganggit novel ini. Memang bukan mengisahkan keintiman Soekarno dan Mohammad Hatta dengan buku, namun secara substansi memiliki napas tidak berbeda bahwa buku merupakan harta karun berharga. Dibandingkan dengan kepemilikan dunia apapun, buku adalah warisan tak lekang zaman.

HARTA KARUN BERHARGAPadi, tokoh utama novel, sangat menggandrungi buku sejak masih sekolah. Buku-buku pelajaran dan nonpelajaran tetap dirawat rapi di kamarnya. Ketika telah bekerja di ibu kota, dia memasrahkan kepada anaknya, Gading, untuk menjaga dan membersihkan dari debu-debu. Cerita dalam novel ini diawali dengan kepulangan Padi ke desanya menaiki kereta api. Dalam perjalanan, dia mengisi aktivitas dengan membaca.

Saat melihat seorang ibu hamil berdiri di kereta, Padi mempersilakan tempat duduknya. “Tidak ribet, Pak, baca buku di kereta,” ujar ibu hamil. Dengan kelakar, Padi menjawab, “Tidak lebih ribet dari ibu hamil.” Ibu hamil kembali bertanya, “Mengapa Bapak rela bersusah payah membaca di dalam kereta yang penuh sesak?” Padi dengan diplomatis menanggapi, “Menjadi seorang ibu adalah tugas yang mulia. Itulah mengapa seorang wanita yang sedang hamil rela bepergian ke mana pun dengan selalu membawa perut besarnya. Bahkan, ketika menempuh perjalanan panjang. Begitu pula dengan membaca, Bu.”

Jawaban Padi tentu saja memunculkan rasa penasaran. “Wahyu yang pertama kali turun adalah perintah untuk membaca. Iqra’. Jibril bahkan harus mengulangi perintah itu hingga tiga kali. Baru kemudian Muhammad dengan jujur mengatakan bahwa dirinya tidak bisa membaca. Maka, Jibril menuntun Muhammad untuk mengikuti ucapannya. Lalu, bagaimana mungkin saya tidak memuliakan aktivitas membaca? Tuhan yang memerintahkannya,” jelas Padi (hlm. 5-7).

Tanpa sepengetahuan Padi, bersamaan dengan waktu kepulangannya ke desa, buku-buku koleksinya telah dijual ayahnya. Gading yang dipasrahi menjaga buku mengamini ide kakeknya, sebab tumpukan buku itu sudah dikategorikan barang bekas. Buku-buku Padi pun dijual dan beralih tangan ke tukang loak. Ada sekitar lima karung berisi buku koleksi Padi. Sesampai di rumah, Padi tentu bergembira bisa bersua ayah dan anak semata wayangnya.

Tak beberapa lama, penjualan buku-buku itu diketahui Padi. Sungguh kenyataan memilukan sampai membuat Padi menangis. Gading kaget melihat ayahnya meneteskan air mata. Selama hidup Gading, ayahnya terlihat menangis hanya dua kali; saat ibunya meninggal dunia dan saat ayahnya kehilangan buku. Perdebatan Padi dan ayahnya pun terjadi. Ayahnya bersikukuh bahwa tumpukan buku itu barang bekas dan tak ada salahnya dijual.

Padi seperti disambar petir ketika tahu uang dari penjualan buku-buku itu hanya cukup untuk hidup satu bulan. Hati Padi berkecamuk. Ratusan buku yang dia kumpulkan bertahun-tahun raib hanya terganti uang tidak seberapa (hlm. 20). Adu argumen Padi dan ayahnya tak kunjung reda. Bagi Padi, buku-buku lama tetap mengandung ilmu, wawasan, dan pengetahuan berharga. Bahkan, boleh jadi buku lawas itu akan dicari di masa kemudian, karena terhitung legendaris. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Salah Asuhan, Layar Terkembang, misalnya.

Untuk meredakan ketegangan sekaligus melipur lara ayahnya, Gading pun bersama Kingkin sepupunya mencari buku-buku itu. Untungnya, Kingkin mengenal akrab tukang loak yang bernama Pak Mersudi. Namun, celakanya, buku-buku dalam lima karung itu disedekahkan oleh anak Pak Mersudi ke sekolah yang membutuhkan. Petualangan pencarian buku-buku tersebut menjadi kisah menarik dalam novel ini. Memburu buku itu bagi Gading dan Kingkin sangat melelahkan, bahkan hampir merenggut nyawa mereka.

Setelah lima karung buku itu ditemukan, ayah Padi, Gading, dan semua orang tersentuh hatinya. Ternyata Padi menempel foto istrinya di setiap halaman terakhir buku. Selalu ada wajah ibu Gading di sana dan deskripsi situasi terkait foto. “Buku-buku adalah harta karun bagiku. Nilainya melebihi semua barang berharga yang ada di dunia ini,” Padi mengatakan perasaan terdalamnya.

Novel ini menyentuh kesadaran kita terhadap makna buku sekaligus menghadirkan keharuan akan perlakuan orang terhadap buku. Selamat membaca.

*Resensi dimuat di Koran Pantura, Kamis, 18 Februari 2016, dengan judul “Buku, Harta Karun Berharga”.

oleh HENDRA SUGIANTORO

Pembaca dan pemerhati buku, tinggal di Yogyakarta

Judul Buku : Buku Ini Tidak Dijual

Penulis         : Henny Alifah

Penerbit       : Penerbit Indiva

Cetakan       : I, 2015

Tebal           : 192 halaman

ISBN            : 978-602-1614-48-8

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *