CALABAI DAN DAMPAK PERCERAIAN ORANG TUA TERHADAP ANAK

 

 

Oleh: Ratnani Latifah*

Mengambil tema keluarga dan calabai—laki-laki yang bersikap laiknya perempuan, novel ini menceritakan tentang kisah anak kembar yang menjadi korban penceraian orang tua. Di mana mereka harus hidup terpisah, karena keputusan sepihak dari kedua orang tua mereka. Ada yang harus hidup dengan ayahnya, ada pula yang harus tinggal dengan sang ibu. Dan mereka tidak bisa protes dengan keputusan sepihak tersebut. Akibatnya, kasih sayang yang awalnya mereka dapat secara lengkap, kini kasih sayang itu telah dipecah, hingga dampaknya masing-masing anak harus siap berkalung rindu.

Vito harus hidup dengan ibunya, Halimah dan tinggal di Pakka Salo. Meski dia bahagia bisa tinggal dengan ibunya, Vito masih merasa ada lubang kerinduan untuk kembarannya Vino dan ayahnya. Hanya saja ibunya tidak pernah mau menyinggung masalah ayahnya. Ibunya akan marah ketika Vito mengungkit masalah sang ayah.

Begitupula dengan Vino. Kebahagiaannya tinggal dengan sang ayah yang tinggal di Samarinda, tetap tidak menghapus rasa rindunya kepada sang ibu. Bahkan ketika ayahnya menikah lagi, memberikan sosok ibu baru baginya, nyatanya Vino masih menyimpan kerinduan yang teramat sangat pada sang ibu. Hingga suatu hari sebuah kesempatan membuat Vino dan Vito bertukar tempat.

Bermula dari pertukaran inilah kita akan diantarkan pada cerita yang tidak terduga. Dari cara Vino beradaptasi, persahabatan dengan penduduk setempat, kenyataan bahwa sang ibu tidak pernah buta dengan kebohongan yang selama ini disembunyikan Vino hingga sebuah takdir mengejutkan yang tidak pernah kita duga.

Selain kisah si kembar yang menjadi korban penceraian, novel ini juga mengusung kisah masalah gender—tepatnya masalah calabai yang cukup pelik dan mencengangkan. Kamaruddin meski lahir sebagai laki-laki, dia memiliki cara bertutur dan berjalan layaknya wanita. Hal itulah yang membuat sang ayah, memutuskan menikahkannya dengan Rosdiana, dengan harapan Kamarudin mau berubah. Hanya saja hal itu tetap tidak mengubah perilaku Kamaruddin, meski dia berhasil menitipkan benih di rahim Rosdiana. Kamaruddin malah memilih menceraikan Rosdiana dan menekuni mimpinya menjadi calabai perias pengantin (hal 22). Hingga suatu hari Kamaruddin kembali dengan perubahan yang mencegangkan. Namun perubahan itu malah menjadi awal mula sebuah prahara yang tidak terduga di Danau Sidenreg.

Secara keseluruhan, novel ini cukup menarik untuk dibaca. Sejak awal kita akan dibuat penasaran dengan kisah Vito dan Vino, serta kisah hidup Kamaruddin yang berliku dan penuh kejutan, yang ternyata saling berakitan. Yang tidak kalah menarik novel ini juga dibalut dengan nuansa religi dan lokalitas yang kental, serta hubungan persahabatan yang menarik. Sehingga melalui kisah ini kita bisa mengenal berbagi budaya dan kehidupan khas Bugis, Sulawesi Selatan.

Keunggulan novel ini adalah desan sampul yang menarik—Maka tidak salah ketika novel ini menjadi salah satu nominasi Islamic Book Awar 2019 dalam ketegori desain sampul terbaik. Selain itu yang menarik dari novel ini adalah alur cerita yang dipaparkan dengan apik. Hanya saja untuk gaya bahasanya ada beberapa bagian yang kurang lugas dan terkesan kaku. Namun lepas dari kekurangan yang ada, novel ini mengajarkan banyak sekali nilai-nilai kehidupan.

Di antaranya adalah pentingnya orang tua dalam mengambil sebuah keputusan. Apalagi perihal masalah perceraian. Karena pada akhirnya anak-lah yang akan menjadi korban. Kemudian, kita diajarkan tentang arti syukur. “Bahagia tak harus diukur dengan materi.” (hal 64).

Kemudian ada sindiran halus tentang cara memperoleh kekayaan yang baik. “Kekayaan yang tidak diiringi dengan usaha itu mustahil. Kalaupun ada yang kaya dengan menggunakan batu akik, tanduk rusa, babi ngepet, atau semacamnya, semua itu sudah dengan campur tangan jin. Dan itu dosa besar. Tak ada tempat meminta kecuali kepada Allah.” (hal 139).

Sedangkan untuk garis besarnya kisah ini menunjukkan bahwa kasih sayang seorang ibu tidak lekang oleh zaman. bagaimana pun sikap seorang anak, seorang ibu akan selalu menyayangi anak dengan tulus dan ikhlas.

Srobyong, 1 Maret 2019

 

*Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara


 

Judul               : Sabda Luka

Penulis             : S. Gegge Mappangewa

Penerbit           : Indiva Media Kreasi

Cetakan           : Pertama, Februari 2018

Tebal               : 288 halaman

ISBN               : 978-602-6334-47-3

 

 

Vito pergi meninggalkan ayahnya. Melangkah bersama air mata. Beranjak bersama bahagia bercampur luka. Pertemuan itu nyata, tetapi bahagia tetaplah fiksi.

Vino lelah melawan rindu. Dia bisa mengerti bahwa Vito untuk ibu, Vino untuk ayah. Namun sulit untuk dia pahami bahwa rindu yang dibagi tak boleh bersisa luka.

Si kembar Vito dan Vino harus terpisah karena perceraian orang tua. Dari jauh mereka didera rindu, jauh lebih deru dari angin dendam yang menari di Danau Sidenreng.

“Selalu ada luka di atas rindu yang terlalu.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *