CERITA MENGGELITIK DAN PENUH TAWA

 

 

Sumber Gambar: Pixabay

 

Oleh: M Ivan Aulia Rokhman*

Setiap cerita dalam Pahlawan Tanpa Tanda Tangan pasti dibumbui dengan komedi. Kadang di berbagai acara yang berbalut tawa akan menambah hiburan bagi penonton. Buku kumpulan cerpen berbalut komedi ini menyenangkan dan menghibur. Buku bernuansa komedi ini juga memiliki konten pembelajaran bagi pembaca. Para guru di sekolah-sekolah juga termasuk sosok pahlawan tanpa tanda jasa yang mestinya harus selalu kita hargai jasa-jasanya. Mereka telah membantu mencerdaskan bangsa Indonesia melalui pendidikan. Di samping itu, cerpen-cerpen karya Anggota FLP Se-Indonesia ini ditulis dengan bahasa yang seru dan menggelitik.

Jika Emak ingin Naik Roller Coaster menceritakan tentang Emak yang ingin menaiki roller coaster. Asep—sang anak—bingung kala Emaknya yang sudah lanjut usia minta naik roller coaser, sebab hal itu dianggapnya sangat berbahaya. Namun Emak kekeuh. Asep minta pertimbangan pada kedua kakaknya. Jojo dan Dadang berusaha membujuk Emak, agar mengurungkan keinginannya. Tetapi Emak bergeming. Di suatu hari, Emak menghilang. Maka ketiga anaknya mencari di tempat yang mereka diyakini Emak ke sana. Emak ada di wahana bermain roller coaster Trans Studio Bandung. Namun dengan pemandangan yang membuat mereka tersenyuh. Betapa mereka harusnya mengerti dan memahami perasaan Emak. Lalu mereka mendekati Emak. Tidak dinyana, Emak masih menanyakan tawaran dari anak-anaknya. Emak yang selalu saja berbuat onar dan berkata ingin menaiki roller coaster tapi ia di sana malah asyik menikmati cemilan. Jadi jangan ditiru.

Selanjutnya cerpen paling menarik yaitu Pahlawan Tanpa Tanda Tangan yang menceritakan tentang pemilihan pahlawan di kampung Doyan Singkong. Ada dua warga yang diusulkan karena memenuhi kriteria. Engkong Mansur dan Pak Jayus. Engkong Mansur merupakan sosok pemakmur masjid, tapi beliau tak bisa baca tulis, juga tidak mengerti tanda tangan. Awalnya, Engkong Mansur menolak mengikutsertakan diri dalam acara pemilihan pahlawan di kampungnya. Namun, setelah dirayu oleh Iskandar dan Norman, beliau akhirnya mengiakan saja. Meski Engkong memiliki saingan berat, yakni Pak Jayus, seorang pengusaha di kampung tersebut, tapi akhirnya Engkong Mansur berhasil terpilih sebagai pahlawan di kampungnya. Dari cerita ini menjadi pembelajaran bahwa seorang guru ngaji menjadi pahlawan tanpa tanda jasa yang telah berjuang tanpa pamrih mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat.

Karena Cinta, Dunia Menjadi Milik Mereka Saja menceritakan tentang fenomena pacaran yang begitu mewabah di kalangan remaja sekaligus dampak buruknya. Pacaran yang ngetren di kalangan remaja. Mereka semakin terang-terangan dengan berpacaran di tempat umum. Mereka bahkan tidak malu saling memanggil mamah dan papah. Zaman sekarang, kata Emak, kalo lagi bermesraan pengen diketahui banyak orang, lagi berantem juga pingin diketahui orang banyak (hal 18). Lewat kecemasan sosok gue dan Emak terhadap si bungsu Bambang, kita dingatkan tentang kepedulian dan perhatian terhadap pergaulan remaja. Akun media sosial Bambang berubah menjadi Bambang Ludgwina. Tentu ini menjadi sumber kecurigaan, jangan-jangan Bambang telah terjerumus pergaulan bebas. Terhadap ancaman pacaran, tokoh Gue dengan bijak bicara baik-baik untuk mengorek dan mengedukasi tentang pacaran. Inti dari cerita ini menjadi edukasi pembaca untuk menghindari pergaulan bebas yang dapat merusak moral dan akhlak pada diri sendiri.

Cucur Zaman Now menceritakan tentang tokoh Cucur yang menjual kue cucur melalui media sosial. Pelanggan dapat memesan dan meniccipi kue asal kota Betawi tersebut. Lucunya seorang pelanggan asal Sulawesi membeli kue dengan membayar dengan pulsa. Ada-ada saja. Untuk menambah pelanggan, diadakanlah audisi membuat kue cucur. Cerita ini menggambarkan langkah-langkah untuk menjadi seorang pengusaha, yakni harus selalu cerdik agar memperoleh hasil maksimal. Terakhir cerita Cilok Bumbu Kacang menceritakan tentang anak muda yang ingin melestarikan makanan asli Sunda supaya lebih dikenal oleh masyarakat luas, khususnya kalangan anak muda yang terkadang lebih bangga mengonsumsi makanan dari negara lain. Selain dinilai enak dan lezat. Cilok ini mengangkat derajat dan martabat makanan di Kota Bandung.

Masih banyak lagi cerita ini yang mengandung nilai edukatif dan hiburan bagi pembaca. Buku ini membawa semangat untuk melestarikan budaya di Indonesia. Dan semakin menarik dengan komedi dan candaan dalam cerita.

 

*Anggota Divisi Karya FLP Surabaya. Hobi menulis puisi, esai, dan resensi.


PAHLAWAN TANPA TANDA TANGAN


Judul               : Pahlawan Tanpa Tanda Tangan

Penulis             : Boim Lebon, cs

Cetakan           : I, April 2019

Tebal               : 160 Halaman

ISBN               : 978-602-5701-47-4

 

Ini kumpulan cerpen saya bersama anggota FLP. Ada cerita yang kental dengan nuansa kota Sumedang dan Bandungnya, ada yang berbau Madura, ada yang mengangkat harumnya Jakarta, serta semerbaknya Medan dan Lombok.

Membaca buku ini semakin kaya wawasan. Nggak cuma sekadar tersenyum, tapi juga bisa meresapi betapa kayanya bumi Indonesia ini dan betapa banyak ide menarik yang bisa diangkat dari sekitar tempat yang ada di sekitar kita.
Karena membaca cerita lucu bisa jadi sarana untuk menghilangkan stres setelah capek sekolah atau kerja atau menjalani rutinitas harian; pada akhirnya membaca cerita lucu itu menghadirkan hiburan sekaligus perenungan!
Barangkali itu saja sinopsisnya, nggak usah terlalu lucu, karena yang lucu adalah adalah cerita-cerita di dalam buku ini. Selamat menikmati.

BOIM LEBON

(produserSitcom OB OK di RCTI, pengajar, penulis cerita komedi anak dan remaja, penasihat FLP Pusat)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *