CINTA SUCI SANG PERAWAT

Pixabay

Loyalitas merupakan sebuah kesetiaan yang tumbuh karena rasa cinta yang mengalir terus. Sehingga hal itu akan membentuk suatu kesungguhan dalam melakukan sesuatu. Seperti sosok Adinda, seorang perawat sederhana yang bekerja di sebuah Rumah Sakit Jiwa.

Ibu Adinda meninggal setelah melahirkannnya. Adinda tumbuh dalam asuhan bibinya. Minim biaya, setelah lulus SD Adinda harus bekerja di keluarga pengusaha besar—Tuan Besar Brata Kusuma. Dari sinilah kehidupan Adinda berubah 180 derajat. Nasibnya pun benar-benar berubah total, dan semua itu karena Pak Brata.

Brata Kusuma adalah lelaki tua yang terdiagnosis menderita skizofrenia. Rasa belas kasih Adinda kepada mantan majikannya itu membuat ia ingin merawatnya. Adinda terus berusaha mengobatinya meski pilihannya itu membawa permasalahan yang pelik dalam kehidupannya. Baginya, lelaki itu bagai mutiara yang selalu ingin dirawat dan dijaga.

Suatu hari, Pak Brata diasingkan oleh ketiga anaknya di sebuah villa.  Hilangnya Pak Brata menjadi sebuah tuduhan terhadap Adinda. Adinda seketika tersandung kasus kriminalitas. Dugaan penculikan diperkuat ketika polisi menemukan Pak Brata berada di indekos Adinda. Bagaimana mungkin seorang perawat lugu dan berhati mulia selembut sutra melakukan penculikan?

Irham Prasetya—dokter jiwa ternama, satu instansi dengan Adinda, seakan tak percaya Adinda pelakunya. Irham menjadi saksi pengorbanan besar Adinda untuk Pak Brata. Tetapi, seiring berjalannya waktu, ada hal yang membuatnya merasa aneh. Irham mulai merasakan hubungan yang ganjal antara Adinda dan Brata Kusuma. Sebuah interaksi aneh yang tak seperti hubungan pasien dan perawatnya. Rasa penasaran dan ketidakmengertian Irham terhadap Adinda menimbulkan tanda tanya, membuatnya sering memperhatikan keluguan gadis itu.

Novel Cinta Suci Adinda menyajikan alur cerita penuh rahasia dan sarat makna. Terlebih, novel yang ditulis oleh Afifah Afra ini membawa kita pada sebuah pemaknaan kehidupan yang sederhana. Membangun kesederhanaan di dalam loyalitas dan totalitas.

Novel ini kaya pesan perenungan dalam memaknai kehidupan. Bagaimana menyeimbangkan kesehatan dengan menjaga tiga unsur dalam diri setiap manusia. “… Tiga unsur itu adalah qalbu, aqliyah, dan jasadiyah. Qalbu adalah hati, jiwa alias ruhani. Kita harus senantiasa memberi asupan qalbu dengan banyak dzikir, doa, membaca Al Quran, shalat dan sebagainya. Aqliyah adalah akal, otak alias segala bentuk pemikiran …” (hal 158-159).

Novel ini juga mengajarkan bagaimana menjaga fisik dengan konsep halal dan berkah. “… Thayyib itu bergizi, sehat, segar, tidak basi, dan sebagainya. Sedangkan halal, di sini konsep kedokteran modern seringkali tidak bisa menghubungkan, bagaimana mungkin makanan yang tidak halal bisa memengaruhi perkembangan mental seseorang” (hal 161).

Keikhlasan sebagai pola hidup juga dipaparkan di dalamnya. Pertama, memaknai  sesuatu yang kita kerjakan sebagai bentuk ibadah. Jangan mengharapkan apa pun kecuali pahala dari Allah. Kedua, pandanglah dunia ini dengan kerendahan hati, tawadhu’. Ketiga, lantunkan senantiasa doa.

Begitu pun kesabaran dalam menghadapi ujian. Ketika Adinda berada di dalam sel tahanan, ia tetap berdoa dalam shalatnya tanpa harus merutuki masalah yang menimpanya. Menjadikan problematika sebagai introspeksi diri. Adakah kesalahan yang dia lakukan selama ini, yang memberi andil terhadap semua peristiwa?

Afifrah Afrah mampu menghipnotis pembaca dengan bacaan yang penuh perenungan. Penulisan novel ini merupakan hasil survei secara langsung di Rumah Sakit Jiwa Surakarta, di mana sang suami masih menjadi ko-as di rumas sakit tersebut. Sehingga apa yang disuguhkan tergambar secara nyata. Bahkan, alur yang penuh rahasia dan tidak mudah ditebak, semakin membuat penasaran.

Kabar baiknya, ada bonus novelet berjudul “Oikos” setebal 50 halaman yang disuguhkan di bagian akhir. Novelet yang tak kalah menariknya. Menceritakan titik keseimbangan dalam kehidupan pada sebuah perbedaan. (Tri Jazilatul Khasanah, pecinta buku dari Jawa Timur)


PROFIL BUKU


Judul              : Cinta Suci Adinda

Penulis            : Afifah Afra

Penerbit         : Indiva Media Kreasi

Cetakan         : I, Februari 2018

Tebal              : 368 halaman

ISBN              : 978-602-633-456-5

 

Adinda ditangkop polisi? Siapa yang bisa percaya kabar itu? Adinda perawat lugu dan berhati selembut sutra. Tak mungkin dia terlibat dalam kriminalitas. Apalagi, tuduhan yang dilayangkan padanya sungguh tak masuk akal: menculik Brata Kusuma, sang penderita skizofrenia yang tak lain adalah mantan majikannya. Pria itu bagai mutiara bagi Adinda, selalu dirawat dan dijaga.

Irham, dokter jiwa ternama itu menyaksikan dengan mata kepala sendiri, betapa besar pengorbanan Adinda untuk Brata Kusuma. Rasanya mustahil dia menjadi aktor di balik penculikan Brata Kusuma. Irham memang tak percaya gadis selugu Adinda terlibat kasus pelanggaran hukum, namun di saat bersamaan, Irham mendapati hubungan yang janggal antara Adinda dan Brata Kusuma. Ya, sebuah interaksi aneh. Tak lagi sekadar hubungan pasien dan perawatnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *