Cinta Yang Membawaku Pulang: Cerita Dari Balik Dapur Redaksi

Cinta bawaku pulang

 

 

 

 

 

 

 

By Afifah Afra

(CEO Indiva Media Kreasi)

Sumber: www.afifahafra.net

I

Manuskrip naskah ini sudah disodorkan oleh editor sekitar dua tahunan yang lalu. Saat itu, PJ novel di kantor Indiva masih dipegang mbak Saptorini (Rien Dije). “Dik, ini novel indiva banget,” kata Mbak Rien, begitu panggilan kami kepada mbak Saptorini. “Terbitkan, yuk!”

Kata ‘indiva banget’ itu langsung menusuk perhatian saya. Berkali-kali saya memang memberikan penegasan, apa sih novel-novel yang akan menjadi kekhasan Indiva. Tampaknya hal tersebut pun sudah merasuk ke benak teman-teman redaksi.

Setelah membaca draft novel yang dimaksud, kami berembug lagi. Kesimpulan dari brainstorming redaksi: naskah masih harus direvisi. Dipermak lagi alurnya, karena masih terlalu kaku, kurang sentuhan humor, dan sebagainya.

II
Saya melihat kesungguhan Agung F. Aziz, penulis novel yang awalnya berjudul: Di Balik Kiswah Ka’bah ini dalam merevisi novel tersebut. Di pihak penerbit, berkali-kali kami mendiskusikan dengan intens, mau dikemas seperti apa novel ini. Judul berkali-kali berubah. Judul asli DBKK menurut marketing kurang nendang, dan terlalu segmented. Padahal isi novel ini sangat layak dibaca oleh semua kalangan. Lalu redaksi mengusulkan nama Shabana, yang merupakan nama tokoh dalam novel ini sebagai judul. Ini bisa selaras dengan judul-judul novel Indiva lainnya yang menggunakan nama tokoh utama sebagai judul, seperti Rose, Rinai, Jasmine, My Avilla.

Lagi-lagi ditolak. Tim redaksi pusing tujuh keliling. Akhirnya, bertemulah sebuah judul yang sekilas terlihat ‘cemen’: Cinta Yang Membawaku Pulang, tetapi justru di-acc tim marketing. Hahay, cemen or not cemen sebenarnya soal selera, ya?

Sama bingungnya adalah tim desain, khususnya cover. Mas Andi, sang designer berkali-kali mengubah cover novel ini. Dari cover bergaya natural yang gagah seperti cover-cover novel Indiva lainnya, sampai cover yang lembut feminim. Tetapi, cover yang disepakati bersama ternyata justru cover yang sederhana, lembut, namun tetap gagah.

III
Cukup menarik, karena akhirnya saya berhasil bertemu dengan penulisnya. Muhammad Agung F. Aziz, suatu hari datang ke kantor Indiva. Saya ‘terkesima’ melihat gayanya yang nyentrik dan seniman banget. Sekaligus nyantri banget. Berkaos oblong, kain sarung, dan sandal jepit. Sangat bertolak belakang dengan penampilan para penulis (khususnya lelaki) yang kebanyakan mencoba tampil keren sehingga sahabat sekaligus ‘kakak’ saya, Uni Maimon Herawati (Muthmainnah, penulis Serial Pingkan) sering guyon menyebut, “I’m writer and I’m handshome.” Hahay….

Serius! Saya kira penampilan Mas Agung ini (usianya ternyata lebih tua beberapa bulan dibanding saya) hanya sementara. Tetapi ketika suatu hari, setelah novel ini terbit, beliau kami ajang promosi di Togamas Semarang bersama Mbak Sinta Yudisia, penampilan itu tetap dipertahankan.

Naaah, akhirnya, setelah novel ini terbit, dalam sebuah perjalanan keluar pulau, saya mencoba membaca ulang novel ini. Walhasil, saya dibuat nangis–hampir tersedu-sedu, tetapi malu dilihat orang, karena saat itu saya sedang di bandara. Nanti saya dikira baru menjadi korban KDRT lagi, barabe!

Seperti apa sih, novel yang membuat saya sampai tenggelam dalam emosi?

IV
Ini sinopsis novelnya…

Maha Besar Allah, kita berjumpa lagi, Ghatamah Khoor,” suara gadis Pakistan itu bergetar.

Shabana terkesiap dan bingung. Selain sikapnya yang mengundang berjuta tanya, gadis Paksitan itu juga memanggilnya Ghatamah Khoor. Dalam tradisi Pashtun, tidak ada yang memanggil seseorang dengan sebutan itu kecuali seorang adik kepada kakak perempuannya.

“Hei, apa yang terjadi, Hajjah?”

“Tak pernah menduga kalau kau ternyata kakak kandungku, Ghatamah Khoor. Aafia Khanum telah menceritakan semuanya padaku,” gadis Pakistan itu bicara sambil sesenggukan.

Shabana terperangah. “Hei, apa yang kau bicarakan, Hajjah?”

“Aku adalah Maryam Shekiba binti Massoud Kamal, Ghatamah Khoor. Aku adik kandungmu.”

Shabana Ahmas, seorang perempuan Afghanistan yang hidup sebatang kara di tanah kelahirannya. Perang yang memporak-porandakan Afghanistan telah memisahkan dia dengan ayahnya, adik perempuannya, suaminya, dan anak semata wayangnya yang masih berusia 5 bulan.

Setelah bertahun-tahun tak ada kabar berita, Shabana mendapat kabar jika saat ini ayahnya bermukim di Saudi Arabia. Dengan uang hasil menjual tanah ayahnya, dia berangkat ke Saudi. Tak diduga sebelumnya, di Makkah, dia tak hanya menemukan ayahnya. Tapi, Shabana juga menemukan adik perempuannya, suaminya, dan anak semata wayangnya yang kini telah tumbuh menjadi anak yang pintar.

Tapi, ternyata keadaan saat ini tidak seperti yang dia harapkan. Begitu banyak perubahan yang terjadi dengan orang-orang tercintanya. Suami yang memiliki kehidupan lain, termasuk seorang wanita yang hendak dinikahinya saat beribadah haji di Mekah, hingga sang ayah yang terancam hukuman pancung!

V
Untuk sebuah novel yang ditulis pendatang baru, saya acung 4 jempol sekalian. Kalau teman-teman mau meminjami jempol juga boleh ^-^

Nyaris tak ada pilihan kata yang sia-sia. Demikian juga dialog-dialognya, semua memiliki peran untuk membangun sebuah struktur cerita yang mengalir lancar. Indah, rapi, merdu. Sisipan-sisipan informasi, memperlihatkan kecerdasan dan luasnya wawasan si penulis. Misalnya, kritik penulis terhadap berbagai permasalahan yang terjadi di Timur Tengah. Setting baik saat Shabana masih di Afghanistan maupun tatkala berada di tanah suci, digambarkan begitu detil. Tentu hal ini terjadi karena si penulis memang sudah pernah mendatangi tanah suci. Konflik cerita bisa dikatakan berkelas. Sebuah kehidupan anak manusia yang tercerai-berai karena masalah politik. Ini sih, konflik yang ‘gue banget’. Ditambah humor-humor yang cerdas,

Kekurangan dari novel ini harus saya ungkap secara jujur. Eksplorasi kurang mendalam, khususnya sebab-akibat munculnya sebuah ledakan konflik. Beberapa hal yang sebenarnya penting, sering mendadak muncul, sehingga ibarat pintu dan jendela pada sebuah rumah yang mestinya nempel sempurna dengan disemen dan cat rapi, di novel ini ibarat digantungkan begitu saja dengan tali 🙂

Ekspresi Shabana yang sering tergambarkan riang-gembira juga membuat saya sedikit terganggu. Lalu saya teringat, oh… penulis novel ini seorang lelaki. Mungkin banyak dari kalangan lelaki yang memandang enteng sebuah permasalahan seberat apapun. Okelah, itu kodrat lelaki. Tetapi Shabana adalah seorang wanita. Mas Agung harus belajar, bahwa pada wanita, masalah sepele saja bisa membuat dia bermuram durja berhari-hari lamanya, apalagi masalah sedemikian beratnya.

Selamat membaca!

Identitas Buku
Judul : Cinta Yang Membawaku Pulang
Penulis : Agung F. Aziz
Penerbit : Indiva Media Kreasi
ISBN : 978-602-8277-62-4
Harga : Rp 42.000

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *