DAENG GEGGE: VITO DAN TEMAN-TEMANNYA ADALAH SISWA-SISWAKU

Masih ingat dengan kisah Vito dan sahabat-sahabatnya dalam novel Sajak Rindu? Cerita sekumpulan remaja Bugis tersebut kembali hadir menemani ruang baca kita. S Gegge Mapangewa kembali ‘menghidupkan’ mereka lewat novel terbarunya, Sabda Luka.

Direncanakan rilis Februari ini, cover, blurb, quotes, dan spoiler novel ini telah mulai ditebar sejak akhir tahun lalu.


 

JUDUL           : SABDA LUKA: Calabai, Sepasang Merpati Tanpa Dara

PENULIS       : S. GEGGE MAPPANGEWA

ISBN               : 978-602-633-47-3

Harga              : Rp 65.000,-

 

 

Vito pergi meninggalkan ayahnya. Melangkah bersama air mata.  Beranjak bersama bahagia bercampur luka. Pertemuan itu nyata, tetapi bahagia tetaplah fiksi.

Vino lelah melawan rindu. Dia bisa mengerti bahwa Vito untuk ibu, Vino untuk ayah. Namun sulit untuk dia pahami bahwa rindu yang dibagi tak boleh bersisa luka.

Si kembar Vito dan Vino harus  terpisah karena perceraian orang tua. Dari jauh mereka didera rindu,  jauh lebih deru dari angin dendam yang menari di Danau Sidenreng.

“Selalu ada luka di atas rindu yang terlalu.”

 


TRAILER



Kali ini sang kreator akan mengungkap proses di balik layar penulisan Sabda Luka. Apa saja cerita Daeng Gegge soal novel ini? Check this out!

Melarikan Diri ke Jogja

Sabda Luka hadir karena banyak pembaca Lontara Rindu/Sajak Rindu,  yang menyerang saya dengan pertanyaan, “Ada kelanjutannya, ya?” Padahal, Vito bertemu dengan ayahnya, bagiku itu sudah  ending tapi pembaca masih juga merasa ‘digantung’.

Tahun 2013, saya butuh rehat karena sakit. Istri juga lagi sibuk-sibuknya kuliah di Jogja. Saya memilih resain dari tempat kerja tapi pihak pimpinan memberi saya kebijakan untuk istirahat maksimal tiga bulan.

Tiga bulan ini kupakai untuk melarikan diri ke Jogja, kumpul anak dan istri. Istri ngampus, saya jaga anak sambil menulis.

Tiga bulan malah  bukan hanya Sabda Luka yang lahir, tapi juga novel Sayat-Sayat Sunyi, yang juga akan diterbitkan Indiva.

Saat pertama nulis Sabda Luka, saya  punya modal 40 halaman, sebuah novelet berlatar Danau Sidenreng. Novelet itu  kukembangkan hingga alur cerita berkaitan dengan kehidupan Vino dan Vito, yang juga di novel Sajak Rindu muncul latar Danau Sidenreng.

Nulisnya saat anak saya yang masih dua tahun,  tidur setelah mandi pagi.  Itu biasanya nulis 3-4  halaman hingga duhur. Malam sempatkan lagi untuk tambah-tambah halaman.

Empat  halaman per hari selama 3 bulan, itu bisa dapat 360 halaman. Bisa untuk dua novel. Tapi  disiplin dirinya harus ketat.

Vito dan Teman-temannya adalah Siswa-siswaku

Tentang referensi dan observasi, saya nggak terlalu pusing lagi. Waktu nulis Sajak Rindu, saya sudah observasi langsung ke Pakka Salo dan Danau Sidenreng. Cerita  tinggal dialirkan melalui jari-jari, meski itu bukan mukjizat saya karena tetap harus berjuang. Apalagi di antara sakit yang belum pulih betul. Untunglah, menulis bagi saya adalah terapi. Dengan menulis, saya merasa rileks dan benar-benar santai tanpa tekanan.

Di masa kecil, saya biasa diajak ayah saya ke Danau Sidenreng. Berperahu ke rumah sahabatnya, bahkan sampai bermalam di rumah terapung. Saat SD saya biasa berjalan kaki ke Pakka Salo bersama guru dan teman-temanku untuk berkemah di sana. Jadi untuk latar Pakka Salo dan Danau Sidenreng, saya menuliskannya seolah-olah berada di latar tersebut.

Tokoh-tokoh di Sabda Luka dan Sajak Rindu, yakni Vito dan teman-temannya, adalah siswa-siswaku yang saat itu masih kelas IX SMP. Sekarang sudah pada kuliah, bahkan ada yang sudah jadi polisi. Jadi saya tak kewalahan untuk menggambarkan penokohannya. Bimo dan Anugerah yang agak gemuk, Adnan yang kecil dan jago main futsal, Vito yang kalau senyum kelihatan gigi kelincinya, Alauddin yang jago menirukan suara hewan, Irfan yang cerdas dan pejuang tangguh. Saya benar-benar membayangkan wajah mereka saat kuberi peran dalam novel saya.

Hal paling sulit di novel ini adalah menentukan ending.  Kisah Kamaruddin dan Tiara  bahkan harus kuganti ending-nya karena merasa nggak pas. Kisah rindu Halimah, Vito, Vino, dan Irfan pun harus menunggu lama untuk kutentukan ‘takdir’ yang pas untuknya.

Vito berhasil bertemu sang Ayah yang dirindukannya. Berjumpa pula dengan saudara sedarah yang sempat berbagi tempat di kandungan mama, Vino. Namun, kisah Vito, Vino dan anak-anak dari Desa Pakka Salo belum berakhir. Vito memang telah menuntaskan hasratnya untuk bertemu orang-orang yang dirinduinya. Lantas bagaimana dengan Vino? Kisah selengkapnya dapat kalian simak dalam novel Sabda Luka.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *