DE WINTS: SINOPSIS DUA BAHASA

D Winst

 

Rangga Puruhita was an aristocrat noble of Mataram Kingdom and graduated from Leiden University. He was the first indigenous who got the title of Bachelor of Economy with the highest grade. After spending eight years education in Netherland, he went back to his country. Then he became an administrative assistant in De Winst (a name of private sugar company belonged to Netherland). De Winst transformed in its leadership. Then it was commanded by Jan Meiyer Thijsse. In his practice, Jan Meiyer Thijsse treated the labors that were majorly indigenous, in injustice manner. The labors earned very low wages. In addition, the sugarcane plantation land was rented with absolute low cost.

Rangga determined to change the existing system. His struggles met many obstacles since most of De Winst administrators were the Dutch. They strictly refused Rangga notion because the factories would suffer lots of loss. Rangga finally involved into some conflicts with Jan Meiyer Thijsse that led him decided to quit from De Winst. Afterward, he planned to establish textile factory and persuade the labors in De Winst to run a massive exodus.

The fight against De Winst tyranny not only carried out by Rangga but also Sekar Prembayun, Pratiwi, and Jatmiko. Sekar Prembayun was a daugther of Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Suryakusuma. She was so loud in protesting De Winst policy by writing an article in newspaper with a fake name, Elizabeth Fenton. Pratiwi was a friend and student of Sekar. She represented local community to claim more compensation to De Winst. While Jatmiko was critical young man affecting Sekar and Pratiwi in form of ideas. They were united in Society Party.

In this novel, confrontation happened to both ways; against Netherland’s colonialism and tradition in Java. Rangga and Sekar lived within kingdom (keraton) surroundings wrapped in strict Java tradition. Both of them had been arranged in marriage since they were kid, but they refused it. Arranged marriage was no longer relevant at the moment of modern era like nowadays. As the matter of fact, Sekar already had the love of her life, so had Rangga.

Despite of confronting the arranged marriage, both of them did not wear Java traditional costume the way other kingdom’s residents did. Java traditional costume such as beskap and kebaya considered to be moves restriction and more complicated. Rangga preferred suit and trousers to beskap. So did Sekar that liked wearing skirt and blouse better than kebaya.

Inside the novel, there was a Dutch woman fought against colonial policy. She was Everdine Kareen Spinoza. She was the wife of Jan Meiyer Thijsse. Before marrying to Jan Meiyer Thijsse, she fell in love with Rangga. Eventhough she was a Dutch, she had her sympathy to what Rangga and Sekar struggled for. Sadly, their fights finally ended when Sekar and Rangga were arrested for their action reckoned as rebellious attitude toward Queen Wilhelmina and eventually exiled to Netherland.


Rangga Puruhita, seorang bangsawan aristokrat keturunan raja Mataram dan lulusan Leiden University. Ia seorang pribumi pertama yang mendapat gelar sarjana ekonomi dengan nilai tertinggi. Setelah delapan tahun mengeyam pendidikan di Belanda, Rangga kembali ke tanah airnya. Ia kemudian menjabat sebagai asisten administratur De Winst (nama sebuah perusahaan gula swasta milik Belanda). De Winst mengalami perubahan kepemimpinan. De Winst kemudian dipimpin oleh Jan Meiyer Thijsse. Dalam praktiknya, Jan Meiyer Thijse berlaku tidak adil terhadap para buruh yang sebagian besar adalah pribumi. Upah yang diberikan kepada para buruh sangat kecil. Selain itu, perkebunan tebu yang tanahnya disewa dari penduduk juga dibayar dengan sangat murah.

Rangga bertekad untuk mengubah sistem yang sedang berlaku tersebut. Namun, perjuangan Rangga menemui banyak halangan, terutama dari administratur De Winst yang sebagian besar adalah orang-orang Belanda. Mereka menolak dengan tegas usulan Rangga karena dianggap dapat merugikan pabrik. Sampai akhirnya, Rangga terlibat konflik dengan Jan Meiyer Thijse dan ia kemudian memutuskan untuk keluar dari De Winst. Setelah keluar dari De Winst, ia berencana mendirikan pabrik tekstil dan mengajak buruh pabrik De Winst  mengadakan eksodus besar-besaran.

Perlawanan terhadap kesewenang-wenangan yang dilakukan oleh De Winst tidak hanya dilakukan oleh Rangga, tetapi juga oleh Sekar Prembayun, Pratiwi, dan Jatmiko. Sekar Prembayun adalah putri Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Suryakusuma. Ia memprotes keras perlakuan De Winst dengan cara menulis di koran dengan nama samaran, Elizabeth Fenton. Pratiwi adalah teman sekaligus murid Sekar. Ia adalah gadis yang ditunjuk sebagai perwakilan warga desa untuk menuntut bayaran yang lebih mahal kepada De Winst. Adapun Jatmiko adalah seorang pemuda yang mempengaruhi pemikiran-pemikiran Sekar dan Pratiwi. Mereka tergabung dalam Partai Rakyat.

Perlawanan yang dimunculkan dalam novel tidak hanya perlawanan terhadap kolonial Belanda, tetapi juga perlawanan terhadap adat Jawa. Rangga dan Sekar, keduanya hidup dalam lingkungan keraton yang kental dengan adat Jawa. Mereka berdua sudah dijodohkan sejak kecil, tetapi mereka menolak perjodohan tersebut. Perjodohan sudah tidak relevan dipraktikan di masa tersebut karena jauh dari modernitas. Ditambah lagi, Sekar sudah mempunyai pria dambaan lain dan Rangga pun begitu.

Selain menentang masalah perjodohan, keduanya juga tidak mengenakan busana Jawa seperti halnya penghuni keraton yang lain. Busana Jawa seperti beskap dan kebaya dirasa mereka mengekang pergerakan dan  cenderung ribet. Rangga lebih suka memakai jas dan celana panjang dari pada memakai beskap. Begitu juga Sekar lebih suka memakai rok dan blouse dari pada memakai kebaya.

Dalam novel digambarkan seorang wanita Belanda yang menentang kebijakan kolonial, yakni Everdine Kareen Spinoza. Ia adalah istri Jan Meiyer Thijsse. Sebelum menjadi istri Jan Meiyer Thijsse, ia jatuh cinta pada Rangga. Kareen meskipun seorang Belanda, ia sangat bersimpati terhadap perjuangan yang dilakukan Rangga dan Sekar. Namun, perjuangan mereka akhirnya berakhir ketika Sekar dan Rangga dianggap memberontak kepada Ratu Wilhelmina dan diasingkan ke Belanda.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *