HANTU, SIAPA TAKUT?!

 

Oleh: Thomas Utomo

Kali ini, penulis ternama Sinta Yudisia—yang banyak melahirkan karya tulis bermuatan psikologi—menelurkan novel anak ber-genre misteri. Mengambil setting di Surabaya dan Tegal—dua tempat yang pernah dan masih menjadi tempat bermukim penulis—novel ini menceritakan tentang Naya yang mengisi masa liburan sekolah dengan bercuti ke rumah kakek-neneknya di pesisir utara pantai Jawa tersebut.

Naya menghabiskan waktu tidak hanya bersama kakek-neneknya saja. Dia juga mengunjungi rumah para sahabat, karena dulu keluarga intinya memang pernah tinggal di Tegal selama sekian lama, sebelum orang tua dipindahtugaskan ke Surabaya. Bersama sahabat-sahabatnya—Leli, Subki, dan Banu—dia mendatangi tempat-tempat kuno seperti Mbah Gentong (halaman 36-39) dan Masjid Kubah Hijau (halaman 83-96).

Mendatangi tempat-tempat tersebut membuat Naya mendapatkan desas-desus kisah seram, misalnya mengenai kelebat putih yang sering tampak di Masjid Kubah Hijau. Konon, merupakan hantu penunggu bangunan yang telantar itu (halaman 55-61, 67-71, 80-81).

Bukannya takut, Naya malah tersulut rasa penasarannya. Dia mengajak ketiga sahabatnya untuk menjelajahi isi masjid yang dulu pernah menjadi tempat belajar-mengajar ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum (66, 72). Tentu, ajakan Naya ditolak teman-temannya. Mereka emoh mendapatkan nasib buruk lantaran bertemu makhluk gaib.

Tidak menyerah, Naya kemudian mencari informasi lebih detail tentang masjid itu. Dia bertanya langsung pada penjual kupat bongkok yang dikabarkan tiap pagi saat berangkat berjualan melihat sosok putih misterius berada di dekat jendela masjid seolah-olah tengah mengawasi (halaman 80).

Tambahan cerita penjual kupat bongkok membuat rasa ingin tahu Naya semakin menggelora. Dia nekat berangkat ke lokasi yang dianggap angker seorang diri. Hingga kemudian, dia bertemu sosok yang menjadi pergunjingan warga (halaman 83-94).

Di luar alur cerita yang makin lama makin merangsang keingintahuan pembaca, lewat buku ini, Sinta Yudisia juga menyelipkan nilai-nilai moral, budaya—wabil khusus mengenai kuliner lokal Tegal, juga sejarah.

Melalui tokoh Naya, pembaca dimotivasi untuk menjadi pribadi pemberani. Naya sendiri dapat digolongkan ke dalam jenis tokoh bulat atau tokoh yang memiliki sifat hitam-putih berupa kelebihan serta kekurangan. Semula dia tidak mandiri, tergolong penakut, tapi keadaan membuatnya bersedia melawan kekurangan diri sendiri.

Sementara dari sisi budaya, pembaca dimanjakan imajinasinya dengan suguhan deskripsi juga informasi soal kuliner khas Tegal semacam kamir, bubur lolos, kupat glabed, kupat bongkok, lengko, dan tempe pesing. Seperti pengarang senior Nh. Dini, cara Sinta Yudisia dalam melukiskan makanan tradisional sungguh bisa melumerkan air liur pembaca.

Sedang dari segi sejarah, pembaca dapat belajar sekelumit tentang tempat-tempat kuno di Tegal.

Renungan yang patut dicantumkan di sini—yang merupakan nasihat Bapak atas ketakutan Naya akan setan, hantu, dan sejenisnya, yakni, “Setan bukan hanya banyak di kuburan, Kak. Setan ada di jalan, setan ada di sekolah, setan ada di rumah kita. Pendek kata, setan yang mengerikan ada di mana-mana, berkeliaran menggoda manusia supaya lupa jalan Tuhan. Kuburan sering dianggap banyak setannya, karena sepi, gelap tanpa lampu, dan jarang dikunjungi orang. Kesannya angker. Padahal, banyak gedung yang angker, lho. Contoh, gedung yang menyewakan playstation, lalu anak-anak bermain di situ tanpa ingat waktu belajar dan beribadah.” (halaman 47).

Yuk, baca buku ini dan naikkan level keberanian kita ke level yang lebih tinggi.

 

*Thomas Utomo adalah guru SDN 1 Karangbanjar, Purbalingga, Jawa Tengah. Menulis novel Petualangan ke Tiga Negara  yang diterbitkan Indiva Media Kreasi. Dapat dihubungi lewat 085802460851 atau utomothomas@gmail.com.


Judul          :      Hantu Kubah Hijau

Penulis        :      Sinta Yudisia

Penerbit      :      Indiva Media Kreasi

Cetakan      :      Pertama, November 2017

Tebal          :      120 halaman

ISBN          :      978-602-6334-34-3

Naya yang tinggal di kota Metropolis Surabaya, berlibur di kota kecil Tegal bersama kedua adiknya, Angga dan Tegar. Naya bertemu lagi dengan Leli, Subki, dan Banu. Liburan pun menjadi mengasyikkan.  Naya dimanjakan jajanan tradisional dan makanan lezat oleh Nenek. Naya juga mengenal tempat-tempat bersejarah yang dikenal dengan sebutan Kiai Gentong, Masjid Kubah Hijau, dan Daerah Ki Gede Sebayu. Namun, mengapa teman-teman Naya ketakutan ketika Naya meminta mereka menemaninya ke Masjid Kubah Hijau? Konon,kubah masjid tersebut ratusan tahun lalu merupakan hadiah dari Kerajaan Melayu. Apakah karena telah lapuk, tua, antik, dan tak berpenghuni, maka Masjid Kubah Hijau tersebut dihuni hantu? Temukan segera jawabannya dalam buku ini, ya! Selamat membaca!

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *