INTIP 2 BAB PERTAMA NOVEL “CINTA SEGALA MUSIM”

 

Novel apik  ini merupakan pemenang unggulan Lomba Menulis Novel Inspiratif Indiva, tahun 2018 ini Cinta Segala Musim juga dinominasikan sebagai Buku Islam Terbaik Kategori Fiksi Dewasa. Sebagaimana judulnya, novel ini berbicara tentang cinta dan kesetiaan seorang istri terhadap suami.

Banyak alasan mengapa karya Maya Lestari GF ini highly recommended, salah satunya karena gaya tuturnya yang lembut, dan kehalusan penulis dalam memintal isu sosial dalam romansa rumah tangga sepasang anak manusia.

Segala yang patah akan menemukan tumbuh, dan semua yang jatuh akan menemukan bangkit. Entah secara harafiah ataupun filosofis. Rae selalu percaya dua hukum perubahan. Pertama, hidupmu takkan berubah jika kau tak mengubahnya. Kedua, untuk berubah yang perlu kau lakukan adalah mengubah perspektif dan sudut pandang. Kedengarannya manis dan mudah. Namun percayalah, itu tak semudah yang dikatakan.

So, here we go, dua bab pertama Cinta Segala Musim.


Bab I


Rae menatap Rampak. Lelaki itu dulu selalu manis dan menyenangkan. Tutur katanya baik dan sopan. Dia nyaris tak pernah marah. Satu-satunya hari saat kemarahannya muncul adalah ketika Rae mengabaikan Denia, sepupu Rampak yang mengunjungi mereka. Denia bukan sejenis orang yang diharapkan Rae menjadi teman. Meski sepupu Rampak, namun dulu dia pernah jatuh cinta pada Rampak, dan mengajukan proposal pernikahan. Tak ada salahnya memang, kalau perempuan yang meminta dinikahi, tapi akan salah kalau permintaan itu ditujukan pada Rampak, yang saat itu diketahui semua orang tengah menjalin hubungan denga Rae. Itulah yang membuat Rae kesal, dan itu pula yang membuat Rae tidak berniat menjalin pertemanan dengan Denia.

“Dia saudaraku,” berkata Rampak, “jika kamu bisa bersikap manis pada yang lain, maka pada Denia kamu pun harus melakukan hal yang sama.”

“Aku tidak bermaksud mengabaikannya,” Rae bersikeras, “aku hanya sibuk. Kamu tahu kan.”

Tapi, baik Rae maupun Rampak sama-sama tahu bahwa Rae tidak pernah betul-betul sibuk. Pekerjaan Rae sehari-hari adalah mengurus rumah tangganya dengan Rampak. Bila urusan rumah tangganya beres, Rae akan membuka internet dan mengikuti obrolan seru di grup facebook Fashionista. Itu satu-satunya grup yang  dia suka. Di situ dia banyak menemukan teman yang membahas soal fashion. Menyenangkan bisa membicarakan gaya fashion para selebritis ataupun anggota grup. Rae pernah beberapa kali meng-upload gaya fashion-nya di situ untuk dikomentari.

“Aku tahu kamu tidak menyukainya,” kata Rampak kemudian setelah menatap Rae untuk beberapa lama, “tetapi dia adalah saudaraku.”

Saudara yang melamarmu! Rae mencela dalam hati. Dia membelakangi Rampak.

“Rae.”

“Yaa … sori,” kata Rae dengan malas, “kapan-kapan kutemui dia.”

Tak ada balasan dari Rampak. Lelaki itu hanya menatap Rae, lalu berbalik dan ke luar rumah. Rampak selalu begitu. Bila marah, dia akan menjauh dari objek yang menjadi perhatiannya, untuk mencegah kemarahannya tumbuh lebih besar. Bila perasaannya sudah tenang, dia akan kembali dan bicara baik-baik.

Kini semua berubah.

Mereka berdua berdiri di ruang tamu ukuran 2×3 meter. Lantainya semen, berwarna abu-abu gelap. Terasa dingin di telapak kaki Rae. Ini bukan rumah pilihannya, namun dia tahu, dia harus memilih rumah  ini. Kadang hidup tak menawarkan banyak pilihan. Dan satu-satunya cara untuk bertahan, adalah dengan menerimanya.

Rampak berdiri menghadap jendela. Kacanya kusam pertanda jarang dibersihkan. Dari jendela Rampak memandangi halaman yang tak seberapa luas. Hanya tersisa tanah selebar satu setengah meter dengan panjang tujuh meter. Warna tanah halamannya coklat terang, sewarna dengan airnya. Air yang sama sekali tak layak untuk dipakai mandi apalagi diminum. Saluran air PDAM belum masuk ke sini. Satu-satunya cara untuk mendapatkan air bersih adalah dengan membelinya.

Lima langkah di belakangnya, Rae berdiri memandang punggung Rampak. Punggungnya kukuh. Sejenis tempat yang akan dipakai Rae berlindung bila badai melanda. Namun, bila badai itu adalah Rampak sendiri, akan kemanakah Rae berlindung?

Lama hening di antara mereka. Ini hari pertama mereka di rumah ini. Rumah yang begitu berbeda dari rumah mereka sebelumnya. Tempat dimana mereka tak mengenal satu orang pun. Rata-rata rumah di sini kosong. Bagian yang lumayan berpenghuni adalah blok A, ada di barisan depan, tak terlalu jauh dari jalan utama. Rumah ini ada di blok C, di bagian paling belakang komplekss, yang dicapai dengan menelusuri jalan tanah yang berubah menjadi rawa kala hujan melanda. Rumah di kiri kanan mereka tak berpenghuni. Rumah di seberang jalan malah belum dibangun, hanya berupa kapling tanah kosong yang ditumbuhi sesemakan. Tetangga mereka yang terdekat berjarak tiga rumah. Tak ada warung di dekat sini. Jika Rae perlu membeli sesuatu dia harus berjalan ke luar kompleks. Ada minimarket menjelang jalan masuk ke kompleks ini. Rae mengira-ngira waktu untuk mencapainya. Dengan berjalan kaki dia mungkin bisa ke minimarket itu dalam waktu lima belas menit.

Rae merasa jauh dari peradaban.

Barang-barang mereka terserak di lantai. Tak banyak yang bisa dibawa. Hanya pakaian, tempat tidur, karpet, buku-buku mereka berdua dan peralatan dapur. Karpet yang dibawa berukuran kecil. Karpet ukuran besar yang dulu Rae letakkan di ruang keluarga rumah mereka yang lama jelas tak muat di rumah ini. Dan juga, sebenarnya tak pantas.

Rae menahan tangis yang hampir muncul di matanya. Rampak tak boleh melihatnya menangis. Rampak sudah cukup menderita dengan semua ini. Rampak bukan hanya kehilangan seluruh harta bendanya, tapi juga harga dirinya. Rae tak boleh membuat Rampak terpuruk makin dalam. Setidak-tidaknya, Rae harus memperlihatkan pada Rampak, bahwa sebagai seorang suami, Rampak masih punya harga diri.

Dia menahan diri untuk menarik napas. Jika Rampak mengetahuinya, dia akan menduga Rae menderita. Jadi, Rae mengambil koper-koper mereka dan menyeretnya ke kamar. Rampak masih diam di depan jendela.

Di kamar, Rae memasang lemari plastik yang dia beli kemarin. Dia teringat dengan lemari pakaiannya yang lama. Lemari itu dari kayu surian yang kuat dan padat, dibuat built in sepanjang dinding kamar. Setiap kali membuka pintu, lampu lemari itu otomatis menyala. Warnanya putih keperakan dan sangat lembut. Rampak sendiri yang mendisain lemari itu. Dibuat Rampak dua bulan sebelum mereka menikah. Menurut Rampak, lemari itu adalah hadiah pernikahannya untuk Rae. Rae boleh memasukkan apapun benda miliknya di situ. Dari delapan kamar lemari, Rampak hanya perlu dua, sisanya untuk Rae. Dalam lima tahun pernikahannya dengan Rampak, Rae sudah menyimpan pakaian-pakaian indah, aneka tas, selusin sepatu dan puluhan aksesoris di situ. Jika dia bosan dengan pakaian yang ada, dia tinggal pergi ke butik langganannya dan membeli beberapa potong pakaian model terbaru. Rae suka bergaya, dan dia menyukai pakaian-pakaian bagus.

Kini, semua itu seperti mimpi. Seakan tidak pernah terjadi.

Rae berupaya memasang lemari plastiknya. Berulangkali dibacanya petunjuk pemasangan lemari. Berkali mencoba, berkali pula gagal. Suatu kali ujung telunjuknya terjepit besi. Dia mengatupkan gigi supaya tidak mengaduh. Rampak sangat peka terhadap keluhan sekecil apapun. Rae tak mau Rampak mendengarnya. Dia menenangkan diri sejenak sebelum mencoba lagi. Setengah jam setelah berusaha, lemari plastiknya berdiri.

Rae memandangi hasil pekerjaannya dengan sedikit kagum. Lemari itu sedikit miring ke kiri, tapi secara umum sudah baik. Sebenarnya Rae bisa saja membeli lemari kayu, ada yang harganya cukup murah untuk ukuran kantongnya saat ini, tapi, seperti kata Rampak, lemari itu mudah rusak. Bahannya dari kayu serbuk yang sangat rapuh. Usianya sependek lemari plastik. Maka, Rae akhirnya melupakan ide itu. Lemari plastik cukup baik. Teman-teman kuliahnya dulu rata-rata menaruh pakaian di situ, dan mereka baik-baik saja.

Pekerjaan berikutnya tak kalah sulit. Menyusun pakaian. Rae membawa terlalu banyak pakaian. Jika dia masukkan semuanya ke lemari itu, tak ada ruang lagi untuk pakaian Rampak. Dipilihnya dengan cermat mana pakaian yang bisa ditaruh di lemari, dan mana yang dia tinggalkan saja di koper. Dalam setengah jam, pekerjaannya selesai.

Rampak masih belum muncul di kamar.

Rae menyingkirkan kotak dan plastik pembungkus lemari, lalu disusunnya tiga koper yang ada, berjajar di dinding, di bawah jendela. Ruangan itu sedikit lebih lapang. Memang tidak selega kamar Rae sebelumnya. Ruangan itu hanya berukuran 3×3 meter. Hanya dengan satu tempat tidur ukuran dua orang saja, kamar itu sudah terasa penuh. Kini mesti ditambah lemari dan koper. Hanya tersisa sedikit ruang di situ. Di kamar Rae yang lama, dia bisa menaruh sebuah karpet tebal yang cukup besar di kaki tempat tidur, dua meja nakas, meja rias dan sebuah kursi malas di sudut kamar. Langit-langitnya tinggi dan bertekstur. Rampak menaruh lampu-lampu kecil berwarna biru di setiap lekukan langit-langit. Saat malam, ketika satu-satunya cahaya kamar hanya dari lampu-lampu kecil itu, Rae akan merasa dibawa ke kedalaman laut yang begitu tenang. Kamar yang begitu nyaman, tempat yang selalu dia rindukan setiap kali merasa penat. Di situ Rampak berkali-kali menyatakan cintanya, dan berjanji bahwa Rae akan menjadi satu-satunya bidadari dalam hidupnya.

Kini Rampak berubah. Semua telah berbeda.

Rae duduk di pinggir tempat tidur. Betapa mendesaknya keinginan untuk menangis. Betapa kuatnya dorongan untuk menumpahkan seluruh emosi jiwanya. Tapi, dia takut Rampak akan mengetahui.  Nanti Rampak akan makin terpukul. Lelaki itu akan makin menderita. Rae takut, Rampak akan terpuruk makin dalam, sehingga tak tahu lagi jalan untuk ke luar.

Ditekannya perasaannya. Dialihkannya kesedihannya dengan mengenang masa-masa indah bersama Rampak. Lalu kepedihannya memudar. Dan dia merasa siap ke luar kamar, menemui Rampak.

**

 

Bencana yang menimpa mereka bermula ketika Rampak membangun kompleks perumahan Mutiara Lestari di kawasan Aia Pacah, Padang, tak jauh dari belakang Terminal Aie Pacah yang kini berubah fungsi menjadi kantor pemerintahan. Sebenarnya, Rampak mengawali karier sebagai arsitek, namun lama kelamaan, setelah magang setahun di perusahaan developer milik seorang teman ayahnya, Rampak berbelok menjadi developer. Mungkin karena dunia itu lebih menarik dan menguntungkan dari sisi finansial. Memang tak terlalu jauh dari cita-citanya semula, namun filosofi pekerjaannya berbeda.

Rampak membangun perusahaan developernya sendiri, bernama PT. Padang Mutiara Lestari. Proyek pertama yang dia kerjakan adalah membangun sebuah cluster di Katinggian, ibu kota Kabupaten 50 Kota. Proyek pertama itu berhasil, dan Rampak percaya diri mengerjakan proyek berikutnya, kompleks perumahan untuk pensiunan tentara. Proyek ini merupakan hasil kerjasama dengan sebuah koperasi milik pensiunan tentara di Kabupaten 50 Kota. Rampak membeli lima hektar tanah dengan harga yang sangat murah di kawasan GOR Singa Harau, membaginya menjadi 120 unit rumah dan menjualnya melalui koperasi. Rampak sukses besar dengan proyek ini dan dia beroleh banyak keuntungan.  Dari keuntungan proyek ini dia menyelesaikan dua rencana hidupnya. Pertama, menikahi Rae, kedua, membeli sebidang tanah di Bukittinggi untuk dijadikan ruko. Ruko-ruko itu kemudian dikontrakkan seluruhnya. Rampak sepertinya memiliki tangan emas. Apapun yang disentuhnya selalu berhasil dengan maksimal.

Suatu kali, tak lama sesudah ulang tahun pernikahan mereka yang keempat, Rampak membeli sebidang tanah di Aia Pacah. Dia berencana membuat rumah tipe 45/150 M. Karena saat itu dia juga tengah mengerjakan sebuah proyek di Bukittinggi, dia menggandeng rekanan untuk membantunya menyelesaikan pembangunan. Tak dinyana, rekanan tersebut membuat rumah tidak sesuai spek. Kualitas bahan yang dipakai lebih rendah dari yang tertera di surat kontrak dengan pembeli. Tak cuma itu, seluruh rencana drainase yang dibuat Rampak, tidak dikerjakan sebagaimana mestinya. Akibatnya, hujan sedikit saja, banjir datang dan turun ke pemukiman penduduk yang berada tak jauh dari kompleks rumah itu. Memang Rampak teledor karena tidak mengawasi pekerjaan rekanannya dengan lebih ketat. Dia  mempercayakannya begitu saja. Akibatnya baru terasa satu setengah tahun kemudian. Komplain berdatangan, dan yang paling mengejutkan perusahaan Rampak dilaporkan masyarakat ke polisi karena dianggap merusak lingkungan. Sejak itulah dimulai fase paling menyakitkan dalam hidup Rampak. Rekanannya kabur entah kemana, dia harus menghadapi masalah seorang diri. Nama dan fotonya ditulis dalam berita halaman satu berbagai surat kabar di Sumatra Barat. Dia digelandang ke kantor polisi dan disebut sebagai penipu karena membangun rumah tidak sesuai dengan yang dijanjikan. Pada akhirnya Rampak harus membayar ganti rugi, tak cuma ke pembeli rumahnya, tapi juga ke masyarakat yang menuntutnya. Rampak memang tak dipenjara, tapi  seluruh harta bendanya habis tanpa sisa. Dia terpaksa menjual seluruh rukonya di Bukittinggi, rumah yang dia bangun untuk Rae dan mobil Mitsubisihi Pajero kesayangannya. Reputasinya berantakan, teman-temannya menghilang, dan tak satu klien pun yang sudi berurusan dengannya. Demi harga diri, Rampak menolak seluruh bantuan keluarganya maupun keluarga Rae. Dia memilih menjauh dari belas kasihan mereka, dan menyepi dalam keterpurukannya.

Dia menyingkir ke kompleks perumahan yang menyedihkan ini. Dan, Rae ikut serta bersamanya.

Keluarga Rampak bilang, ini semua akan berlalu dan Rampak akan memperoleh kembali kejayaannya. Namun, Rampak tahu, dia takkan bisa kembali seperti semula. Dia telah kehilangan sesuatu yang paling berharga. Kepercayaan.

**

Untuk pertama kalinya selama menikah dengan Rampak, Rae ke pasar. Dulu yang melakukannya adalah Kak Man, asisten rumah tangga mereka. Kak Man sudah berada di rumah sejak hari pertama pernikahan Rae dengan Rampak. Mulanya dia bekerja di rumah orang tua Rae, lalu setelah Rae menikah, dia ditugaskan membantu Rae. Rae dulu hanya menulis catatan mengenai apa saja yang harus dimasak Kak Man, berdasarkan catatan itu Kak Man berbelanja dan masak. Satu-satunya pekerjaan rumah tangga yang diurus Rae hanyalah mengurus kamarnya. Bagi Rae. Kamar adalah sesuatu yang sangat personal, dan dia tidak mengizinkan sembarang orang masuk ke situ. Raelah yang membersihkan, mengganti sprei, dan menaruh pakaian yang sudah disetrika Kak Man ke dalam lemari. Pekerjaan itu sebenarnya tidak terlalu menyita tenaga, namun selalu bisa dijadikan alasan bila Rae tidak ingin ke luar rumah. Rae suka kamarnya yang besar dan indah. Dan dia tidak mau membagi keindahan kamar itu dengan sembarang orang.

Rae ke pasar pukul delapan pagi, sama dengan jadwal Kak Man dulu ke pasar. Dia tidak pernah naik ojek dan sudah lama sekali tidak naik kendaraan umum. Sejenak, di depan gerbang kompleks perumahannya dia merasa bingung. Beberapa ojek menawarkan tumpangan kepadanya, dan Rae tidak tahu tawaran mana yang harus dia iyakan.

Rae berjalan. Bukannya dia tidak familiar dengan itu semua. Dulu saat masih kuliah kehidupannya tak berbeda dengan orang-orang lainnya. Dia juga naik angkot dan berjalan kaki bila tempat yang dituju tidak terlalu jauh. Hanya saja, dia sudah bertahun-tahun meninggalkan masa itu. Ketika dipaksa kembali, dia merasa bingung dan gamang. Perubahan hidupnya terjadi begitu mendadak. Setelah begitu nyaman dibuai Rampak dalam kehidupan yang menyenangkan, kini dia dipaksa menghadapi kehidupan yang begitu berbeda. Bahkan hal-hal seperti ini tak pernah dia alami saat bersama orang tua nya.

Rae berhenti. Ingin menangis, tapi malu kalau dilihat orang. Sejak Rampak memberitahunya dengan susah payah bahwa mereka terpaksa harus menjual rumah demi memenuhi tuntutan ganti rugi, Rae belum pernah menangis meski ingin. Ketika sendirian di kamar mandi, keinginannya untuk menangis padam oleh kecemasan bahwa Rampak akan melihat matanya yang sembab. Rae ingin Rampak pergi meninggalkannya agak beberapa jam saja, agar Rae bisa menangis, tapi itu tak pernah terjadi. Rampak selalu membawa Rae kemanapun. Ke kantor polisi, ke gedung pengadilan, menghadapi wartawan, menemui keluarganya. Di antara mereka, hanya Rampak yang menangis. Dan Rae selalu menyediakan bahunya bagi Rampak, sementara dia sendiri tidak mengizinkan bahu Rampak menjadi alas tangisnya.

Rampak sudah terlalu menderita, dan Rae tidak ingin membebani dengan air matanya.

**

Akhirnya Rae naik ojek juga menuju jalan raya. Dari situ dia naik angkot ke Pasar Siteba. Dia membeli beberapa bahan. Ayam kampung, daging, ikan tuna, cabe, sayur. Belanjaannya baru sekantung plastik kecil ketika menyadari uang dua ratus ribu yang dibawanya hanya tersisa untuk ongkos pulang.

Hanya segini? Pikirnya. Tapi kemudian dia menahan diri mengeluh terlalu jauh. Bagaimanapun ini sudah baik. Dia pulang dan membereskan bahan belanjaannya. Rampak ada di kamar. Tidur. Tak banyak yang dilakukan Rampak setelah seluruh yang mereka miliki habis. Dia hanya tidur-tiduran, membaca, atau yang lebih sering —melamun.

Rae memasukkan sebagian bahan belanjaannya ke kulkas dua pintu yang lebih tampak sebagai lemari penyimpan barang berharga, ketimbang penyimpan sayur. Ini adalah satu dari beberapa barang yang dia bawa dari rumahnya yang lama. Kulkas seharga delapan belas juta itu tampak asing di rumah ini. Tampak seperti segala sesuatu yang tidak cocok. Karpet mahal ukuran 2x3M yang sebelumnya menghuni kamar Rae juga tampak tidak cocok di ruang tamu. Piring-piring porselen yang bertumpuk di atas meja dapur  juga tidak. Demikian pula gelas-gelas Luminarc, panci-panci kaca, blender seharga tiga juta, mixer, pemanggang aluminium dan oven listrik yang masih bertumpuk di bawah meja dapur. Satu pun tak ada yang cocok. Bahkan, semua barang itu seperti menolak untuk berada di rumah ini.

Rumah ini memang mengecewakan, tapi inilah satu-satunya tempat yang sanggup mereka sewa dengan sisa uang yang ada. Rampak menolak segala bantuan. Dia bahkan bersikeras untuk tidak tinggal di rumah orang tua salah satu dari mereka. Rae tahu, Rampak sebenarnya malu. Dia tidak sanggup hidup bersama orang-orang yang mengasihani. Dengan sisa-sisa kebanggaannya sebagai suami, dia mendapatkan tempat ini. Tak ada alasan bagi Rae untuk menolak, terutama setelah begitu banyak kebaikan yang diberikan Rampak.

“Ini lumayan,” begitu komentar Rae saat pertama kali melihat rumah itu. Dilupakannya jalanan yang becek, dinding rumah yang kusam, serta kisah tentang rumah itu yang sudah dua kali ditinggalkan pengontrak.

“Airnya memang kecoklatan,” begitu kata si pemilik rumah, “tapi bisa disaring, dan hasilnya cukup jernih.”

Ada drum penjernih air di belakang rumah. Saat Rampak memasukkan air ke dalamnya, yang keluar adalah air berwarna coklat muda. Memang warnanya sudah tidak sepekat sebelumnya, tapi tetap saja tidak jernih.

“Yah, bolehlah,” kata Rae sambil menahan diri untuk menghela napas, “kita bisa menyaringnya sebanyak dua kali, setelah itu kurasa bisa dipakai. Untuk minum, kita bisa membeli air galon.”

Rae tidak menyukai rumah itu, tapi dia tahu, mereka tidak punya pilihan.

**

“Rampak, ayo kita makan.”

Itu kalimat pertama Rae hari ini untuk Rampak. Sejak pagi, belum sepotong pembicaraan pun mereka lakukan. Rampak lebih banyak melamun atau tidur.

Rampak beranjak dengan malas ke luar kamar. Rae menaruh makanan di atas meja makan kecil yang dulu menghuni teras belakang rumah mereka. Meja itu dulu mereka sebut sebagai meja sarapan. Di situ mereka makan pagi dan membicarakan rencana yang akan dilakukan seharian. Warna meja dan sepasang kursinya putih gading. Terbuat dari kayu surian tua yang konon saking kuatnya, takkan mempan dipaku. Rampak mendapatkannya dari toko loakan. Setelah dicat dan bantalan kursinya diperbaharui, kursi dan meja itu jadi tampak sangat mahal. Ini meja favorit Rampak. Benda yang takkan pernah mau dia jual.

Menu siang ini adalah sayur bayam dan ayam goreng kampung. Sudah lama Rae tidak memasak, dia takut hasilnya mengecewakan. Sungguh, dia ingin sekali Kak Man ada di sini, tapi mereka tak sanggup lagi membayar gaji asisten rumah tangga. Kak Man mereka kembalikan ke rumah orang tua Rae.

Rae menyendok nasi, lauk, dan sayur ke piring. Selintas Rae teringat meja makan besar yang sudah mereka jual. Meja itu bagus sekali. Rampak juga mendapatkannya di toko barang loak. Menurut penjualnya, meja makan itu dulu milik ekspatriat Singapura yang bekerja di Indonesia. Setelah kontrak kerjanya berakhir, meja itu dijual ke toko barang bekas dan jatuh ke tangan Rampak. Selepas makan malam, mereka berdua sering bercakap-cakap di meja itu tentang apa saja. Pekerjaan Rampak, grup Fashionista Rae, gosip politik, buku-buku dan kadang-kadang anak yang belum juga mereka dapatkan. Bila Rampak ada di rumah saat sore, dia akan meminta Rae membuatkan teh lemon, lalu membiarkan Rae memijit pundaknya. Itu masa-masa yang indah.

Setelah memberikan piring Rampak, Rae menyendok makanan ke piringnya sendiri. Di depannya Rampak mulai makan. Tak ada percakapan di antara mereka. Segalanya berlangsung dalam diam.

Daging ayam itu ternyata alot sekali, sayurnya tawar, Rae lupa memberinya garam. Tapi, Rampak terus makan. Seolah makanan di piringnya merupakan olahan tangan terampil Kak Man. Rae menggigit bibirnya. Air matanya sudah menggenang di pelupuk mata. Tapi dia tak boleh menangis. Dia harus menyurutkan air mata itu. Dia memang bodoh. Dia memang pemalas. Seharusnya dulu dia belajar memasak pada Kak Man. Seharusnya dulu dia menjadikan semua fasilitas yang diberikan Rampak, sebagai jalan untuk memperbaiki diri.

Dia menelan ludah berkali-kali sampai perasaannya tenang dan air matanya surut. Di depannya, Rampak selesai makan. Ditinggalkannya Rae —sesuatu yang belum pernah dilakukannya di meja makan— lalu kembali ke kamar. Dia duduk di pinggir tempat tidur, menghadap jendela. Rae kehilangan alasan untuk melanjutkan makan. Segala yang membahagiakan pergi dari kehidupannya, seperti pasir yang dilenyapkan oleh angin.

**


Bab II


Rampak terjaga. Jam di ponselnya menunjukkan pukul setengah dua dini hari. Suasana sepi, hanya terdengar sahutan bunyi jangkrik mengisi kesunyian. Dia menarik napas. Saat yang sama, suasana yang sama. Begitulah, belakangan ini dia sering terjaga sekitar pukul segini, lalu tak bisa tidur lagi sampai pagi. Mungkin inilah yang disebut insomnia. Dia susah sekali tidur—biasanya setelah bolak balik di tempat tidur selama dua atau tiga jam baru bisa tertidur—dan mudah sekali terjaga tanpa sebab yang jelas. Rampak ingin bisa tidur nyenyak seperti dulu. Saat dunia tampak seperti sebuah rumah yang indah untuk ditempati.

Dipandanginya Rae yang tertidur di sampingnya. Gadis yang begitu cantik, hati yang begitu baik. Bagaimana bisa Rampak membawa serta gadis ini ke dalam carut marut kehidupannya? Rae seperti gelas kaca. Rampak takut Rae akan pecah. Kehidupan yang mereka jalani ini jelas bukan sesuatu yang bisa dihadapi Rae. Rampak yakin bisa bertahan, tapi tak yakin dengan Rae. Bila nanti Rae benar-benar kalah, akan seperti apa hidup Rampak?

Dia mengatupkan rahangnya kuat-kuat. Bajingan! Bangsat! Keparat! Kalau bukan gara-gara Hendrik sialan itu, maka mereka tak akan mengalami hidup seperti ini. Sekian tahun dia dan Hendrik berteman, dan dia percaya saja saat Hendrik mengajukan diri menjadi rekanan. Rampak memang teledor, tidak mengontrol pekerjaan Hendrik, tapi Hendrik jelas salah. Yang paling menyakitkan dari sebuah pengkhianatan adalah, hal itu dilakukan oleh orang yang dianggap teman. Bertahun-tahun kerja keras Rampak, hancur oleh ulah seorang Hendrik. Rampak tak bisa memaafkannya.

Rampak mencoba menelusuri kamarnya dalam lemah cahaya. Kamar itu dingin dan lembab. Tadi sore hujan turun dengan lebat, dan sampai kini Rampak masih merasakan kelembapannya. Semen dinding tidak padat, plesterannya pun dikerjakan sebelum semen betul-betul kering, itulah sebabnya kenapa ada banyak pori di dinding. Hujan merembes masuk, kamar menjadi lembab. Cat di bagian dinding atas jendela tampak menggembung dan berjamur, pertanda ada banyak air di situ. Cacat rumah ini terlalu banyak. Satu-satunya jalan untuk memperbaiki hanyalah dengan menghancurkannya. Siapa pun developer rumah ini, jelas bukan orang yang bertanggungjawab. Membangun rumah asal-asalan di daerah yang tak punya air bersih, dan tidak pula membangun jalur air PAM  jelas sebuah kezaliman. Dari sisi manapun, Rampak tak bisa melihat kebaikannya.

Apakah ini semacam balasan dari Tuhan karena dia teledor membiarkan Hendrik membangun rumah tidak sesuai spek? Jika ya, betapa panjang dan banyak kemarahan Tuhan karena setelah seluruh harta benda Rampak habis pun dia masih marah. Rampak tak punya apa-apa lagi. Jika ada yang tersisa maka itu adalah harga dirinya sebagai lelaki, sebagai suami. Dia memang tak lagi punya apa-apa, tapi dia pun takkan mengemis bantuan pada siapapun.

Rampak mengusap rambut Rae. Rambutnya panjang hingga ke punggung, halus dan indah. Rampak suka mengelusnya menjelang tidur. Rae adalah cinta pertamanya dan akan menjadi cinta terakhirnya. Dia akan tetap bersama Rae bahkan meski Tuhan memutuskan takkan memberi mereka anak. Ada banyak anak yang membutuhkan orang tua  di luar sana, dan Rampak bersedia mengasuh beberapa di antaranya.

Rae bergerak sedikit, tapi tak bangun. Tidur Rae selalu nyenyak. Selalu polos seperti bayi. Itulah satu-satunya kemewahan yang bisa dinikmati Rae sekarang ini. Tidur dan bermimpi. Semoga di mimpinya, Rae bahagia.

Rampak menutup matanya. Di dadanya berkelindan emosi-emosi buram. Dia tak tahu bagaimana masa depan, tapi dia akan berusaha sekuatnya, agar Rae tak menjalani kehidupan yang suram.

Rampak takkan menangis lagi. Dia malu pada Rae. Rae tak pernah menangis, meski dia perempuan, dan bisa pergi dari Rampak kapanpun dia mau.

**

“Aku pergi,” ujar Rampak pagi itu.

“Ya?” Rae mencegah dirinya untuk bertanya ‘ke mana?’

“Menemui seorang teman,”sambung Rampak.

“Oke,” kata Rae, “hari ini aku akan beres-beres rumah.”

“Baik. Bagus.”

Rampak mengenakan sepatu Nike-nya. Jeans levi’s-nya sudah longgar. Dia kurus sangat cepat. Banyak masalah membebani pikirannya. Dia bahkan tidak ingat untuk mencukur kumis dan jenggotnya.

“Kamu akan pulang untuk makan siang?” tanya Rae.

“Mungkin tidak.”

Rampak menyelesaikan ikatan terakhir sepatunya. Jemarinya seperti ranting kering, kurus dan kusam. Dulu kulit Rampak selalu kuning mengkilap, matanya yang coklat gelap bersinar-sinar seperti bintang, tapi kini dia berubah. Kulitnya kusam, cahaya matanya memudar dan dia tampak lebih pendek dari sebelumnya. Apa Rampak mengalami tekanan batin yang hebat hingga tulang-tulangnya mengkerut? Rae menggigit bibir dengan khawatir sambil mengingat-ingat apakah dia pernah membaca artikel yang membahas tentang itu. Dulu Rampak hanya kalah lima senti dari rak bukunya yang bertinggi 180 cm, kini dia tampak sama tinggi dengan Rae, padahal tinggi Rae tak sampai 165 cm. Rae mengerang. Sepertinya dia berhalusinasi. Mana mungkin orang mengkerut.

“Oke. Baik,” kata Rae.

Rampak mencium Rae sekilas, lalu pergi. Dia tampak bungkuk dari belakang. Bungkuk yang sedih. Apa cobaan ini yang membuat Rampak begitu? Dia terlihat seperti lelaki yang dicampakkan oleh dunia. Terlihat seperti ditinggalkan oleh segala sesuatu.

Terdorong oleh rasa ibanya, Rae memanggil. Rampak menoleh. Dia seperti daun yang dimakan ulat. Layu dan menyedihkan. Rae ingin menangis.

“Ya?” Tanya Rampak. Suaranya selalu manis untuk Rae.

“Hati-hati.”

Rampak tersenyum. Perempuan yang manis, pikirnya. Rae kadang-kadang sangat sentimentil, sesuatu yang tidak disukai Rampak. Dia melambaikan tangan.

“Baik-baik di rumah,” katanya. Entah mengapa, belakangan ini dia merasa, mereka berdua saling mengkhawatirkan.

Rampak berbalik, berjalan kembali. Sebenarnya dia tak tahu hendak kemana hari ini. Dia hanya ingin pergi dari rumah untuk melepaskan mumet pikirannya. Dia perlu bertemu seorang teman untuk bercakap-cakap. Teman yang mana, Rampak tak tahu. Sepengetahuannya, dia tak lagi punya teman sejak masalah tuntutan masyarakat itu membelitnya. Mereka menjauh, seakan takut akan dituduh sebagai penipu pula. Rampak mendengus. Di saat beginilah seseorang tahu siapa yang betul-betul teman. Dan kenyataannya, Rampak tak punya teman sama sekali. Satu-satunya orang yang tetap di sampingnya selain keluarganya hanyalah Rae.

Rampak melompati genangan air.

Uang di rekeningnya saat ini kurang dari lima juta. Dengan uang segitu, bila berhemat, dia dan Rae bisa hidup selama beberapa pekan. Jika Rampak masih belum punya kegiatan yang menghasilkan uang dalam satu bulan ini, maka mereka harus siap kelaparan. Rampak takkan membiarkan itu. Dia yakin bisa menghasilkan sesuatu, meski sekarang belum punya bayangan. Ayah Rampak yang seorang dosen teknik arsitektur mau meminjamkan SK jabatannya pada Rampak untuk digadaikan ke bank. Rampak bisa membangun kembali usahanya dengan modal pinjaman bank.  Rampak menolak. SK itu adalah benda berharga satu-satunya yang dimiliki ayahnya, dan Rampak merasa sudah cukup pengorbanan ayahnya membesarkan dia selama ini. Dia tak mau menambah beban itu lagi. Rampak menghargai usaha ayahnya, tapi ayahnya harus tahu bahwa dia seorang lelaki. Dan lelaki, tidak menggantungkan hidupnya pada belas kasihan pihak lain, meski itu orang tua sendiri.

Sebuah sepeda motor lewat. Rampak berhenti di tempat yang kering untuk mencegah kendaraan itu mencipratkan air kotor ke pakaiannya. Jalan yang jelek. Developernya harus masuk daftar hitam. Dia memaki. Membangun rumah bukan sekadar menegakkan dinding dan atap, tapi juga membangun suasana. Hunian sebenarnya bukanlah ruang-ruang yang dibatasi dinding, tapi ruang-ruang kosong yang tidak dibatasi apa-apa. Kekosongan itulah hunian yang sebenarnya, tempat manusia belajar berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Orang-orang telah salah memahami konsep rumah. Mengira hanya sekadar tempat berteduh saja. Tidak. Rumah lebih dari itu. Rumah adalah sebuah konsep tentang kehidupan yang manusiawi.

Jika saja waktu bisa diulang, maka dia sendiri yang akan mengerjakan kompleks perumahan di belakang Terminal Aie Pacah itu. Dia sudah mendesainnya dengan sempurna. Merancang drainase, taman, jalan kompleks yang lebar dan jalan dua jalur dengan taman-taman rindang sebagai ruang publik yang bisa digunakan warga untuk bersosialisasi. Desain yang begitu indah hancur di tangan orang serakah. Konsep yang menurut Rampak sangat manusiawi itu, berubah horor bagi penghuninya.

Rampak sampai di luar kompleks perumahan. Beberapa ojek memanggilnya. Ojek-ojek itu punya dua rute. Rute pertama ke Simpang Tinju, rute yang harus diambil Rampak bila ingin naik angkot menuju Lapai. Kedua, rute ke Simpang Bapelkes, tempat angkot menuju Jati berada. Rampak berpikir akan ke mana. Dia teringat dengan Yusuf, teman lamanya yang kini punya kios fotokopi di Simpang IAIN Imam Bonjol Padang. Segera dipanggilnya ojek menuju Simpang Bapelkes. Setidak-tidaknya sekarang dia sudah punya tujuan.

**

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *