INTIP PROLOG & 2 BAB PERTAMA NOVEL “MESKI CINTA SAJA TAK PERNAH CUKUP”

 

Novel karya Deasilawaty P. ini menyoal tentang perjuangan cinta. Banyak hati pembaca, terutama perempuan, lantak dan terhanyut karenanya. Oleh karena itu, romance lover bakal jatuh hati pada novel ini.

 

Nah, sekarang yuk intip prolog dan 2 bab pertama novel Meski Cinta Saja Tak Pernah Cukup. Get ready…


Prolog:

     Luka lama ….


 

 

 

“Tunggu di sini, ya. Jangan pergi-pergi. Nanti kakak segera kembali.” ucap Syahdan pada Naila, adik semata wayangnya. Harta miliknya … satu-satunya … peninggalan terakhir kedua orang tua mereka yang telah tiada.

Namun … Syahdan tak pernah kembali lagi ….

Tidak untuk Naila, adiknya ….

 

 

——

Lapangan Gasibu Bandung, 1990

Jelang petang ….

Gerimis hujan membelah malam. Sepi menjadikannya semakin kelabu yang pilu. Desau angin bertiup lebih ganas. Memainkan melodi alam yang mencekam. Bunyi gemerisik dedaunan Akasia terdengar mengancam. Lapangan besar itu terlihat suram.

Dua anak kecil tengah memperhatikan sebuah geduh megah berwarna putih yang menjulang pongah tak jauh dari pohon Akasia tempat berteduh mereka. Si anak laki-laki kecil, menggenggam erat tangan anak perempuan yang lebih kecil darinya itu. Keduanya saling merapat dengan gelisah. Si anak perempuan tersengguk perlahan.

“Lapar, Kak ….”

“Iya, Kakak juga. Tahan sebentar, ya …. Kita tunggu sampai kerumunan orang-orang itu sedikit berkurang.” Jawab sang kakak.

“Nanti kalau kehabisan bagaimana, Kak ….?” rengek si anak perempuan.

Sang kakak melongokkan kepalanya, berusaha menjangkaukan pandangnya melebihi batas kemampuan mata kecilnya. Penuh rasa ingin tahu akan nasib serombongan orang yang masih saja berdesak-desakan tanpa memedulikan hujan di depan gerbang gedung mewah yang berhiaskan setangkai sate berbentuk butiran jambu pada puncak atapnya itu. Dalam hatinya, ia pun tertimpa kekhawatiran yang sama; bagaimana jika jatah makanan itu habis?

Sedang ada pembagian jatah makanan untuk para kaum papa di sekitar lapangan Gasibu. Lebih tepatnya, pembagian buka puasa. Ya, bulan itu bulan puasa. Dan setiap orang miskin di sekitar lapangan Gasibu boleh bernapas sedikit lebih lega. Sebab ada waktu di mana mereka tak perlu menukar uang yang susah payah mereka dapatkan demi menghilangkan lapar dan dahaga. Bagi orang-orang pinggiran ini, bulan puasa atau bulan-bulan yang lainnya sama saja. Sama-sama harus bekerja keras sekalipun hanya untuk makan saja.

Menjelang maghrib para kaum pinggiran itu akan berkumpul di sekitar gedung sate yang megah itu, lantas menunggu datangnya azan berkumandang. Bukan, bukan untuk menunaikan ibadah berbuka ataupun hendak shalat bersama, tapi sekadar untuk memberi jeda bagi keringat mereka. Makan tanpa harus keluar uang. Atau makan tanpa harus mengais di pinggir jalan.

Maka berduyun-duyunlah mereka ke sana. Berkerumun dan saling berebut untuk menjadi yang pertama menadahkan tangan-tangan mereka. Tanpa malu-malu saling berteriak bahkan memaki pada sesama. Tanpa peduli mana tangan mana kaki, saling injak dan dorong ke sana kemari. Khawatir tidak mendapatkan jatah makanan yang sama.

Syahdan kecil dan Naila adiknya, mendengar pembagian buka puasa itu dari teman-teman kecil mereka. Sudah hampir satu minggu kedua kakak beradik itu hidup terlunta-lunta. Keduanya tersesat dari alamat yang seharusnya mereka datangi di kota ini. Keduanya bukan asli anak-anak kota Kembang. Nasiblah yang membawa keduanya ke tengah kepahitan di kota besar itu.

“Kakak ….” Naila mengusap-usap hidung dengan tangan mungilnya. Sebuah tanda lahir serupa bulatan kehitaman pada lengan dalam sebelah kirinya terlihat saat ia mengangkat tangannya. “Lapaar ….” suaranya memecah, berubah menjadi rengekan.

Syahdan ingin sekali memarahi adiknya. Namun demi melihat gadis cilik berambut ikal itu, ia tak tega. Ia tahu, Naila pasti kelaparan. Ia juga!! Anak laki-laki itu kembali memandangi kerumunan orang di depan gerbang Gedung Sate. Ia menarik napas dalam-dalam. Dipandanginya langit kelam. Hujan masih rintik. Perlahan namun pasti membasahi tubuh kecil beserta tas ransel mereka. Dua anak hilang yang tak tahu rimba.

Syahdan menghela napas sekali lagi. Lapar ini harus segera diobati. Kepergian kedua orang tuanya yang begitu mendadak itu urung membuatnya menjadi anak laki-laki kecil yang dipaksa ‘besar’ oleh situasi. Hanya satu tempat yang menurut pikiran kecilnya tersedia makanan yang masih layak makan. Kerumunan itu.

“Ya sudah, tunggu di sini, ya. Jangan pergi-pergi. Nanti kakak segera kembali.” Ucapnya pada adik semata wayangnya. Harta miliknya satu-satunya, peninggalan terakhir dari kedua orang tua mereka.

Syahdan beranjak pergi. Sejenak Naila masih memegangi tangan kakaknya. Wajahnya seperti mau menangis saja.

“Aku ambilkan makanan di sana. Kamu tunggu di sini saja. Nanti kita makan sama-sama.”

Naila semakin berkaca.

“Kamu nggak usah ikut. Di sana terlalu ramai. Nanti kalau hilang gimana?”

“Takuuut ….” rengek Naila.

“Kalau tunggu di sini tidak usah takut. Pegangan saja sama pohon. Jangan ke mana-mana, ya?”

Sesaat, dua kakak-beradik itu saling pandang. Selama mereka hidup hanya berdua saja beberapa hari ini, inilah pertama kalinya mereka akan berpisah tangan. Naila segera menurut dan berpegangan erat pada pohon Akasia tempat bernaung mereka. Syahdan memandangnya sebentar. Anak laki-laki itupun setengah berlari meninggalkan adiknya di bawah pohon tempat bernaung mereka. Ia menuju kerumunan di depan gerbang yang terus saling berjejal itu.

Gerimis masih membelah malam. Dan kerumunan belum juga menipis. Suara azan mulai berkumandang. Kerumunan itu berubah seperti ombak yang membesar. Tua muda, lelaki, perempuan, semua menengadahkan tangan. Tak cukup hanya satu bungkusan, mereka saling berebut untuk mendapatkan lebih dari yang bisa dibawa tangan-tangan mereka. Syahdan kalah badan. Orang-orang yang berjejalan itu adalah para orang tua yang dinanti perut-perut lapar anak-anak mereka, orang-orang renta yang telah ikut menengadah untuk menyambung hidup puluhan tahun mereka. Sementara anak-anak kecil tersingkirkan, terpinggirkan. Kalah badan dan kekuatan.

Syahdan terus berusaha merangsek ke tengah. Nyaris saja terinjak-injak. Namun tangan kecilnya tetap saja jauh dari uluran orang-orang yang membagikan bungkusan dari balik pagar. Suasana semakin hingar bingar. Orang-orang semakin brutal. Saling berteriak, saling memaki. Tak peduli lagi pada suara azan.

Tiba-tiba, entah dari arah mana, serombongan anak-anak jalanan datang menyerbu. Merangsek jadi satu dan membuat keadaan menjadi semakin kacau. Sebagian dari mereka merebut nasi bungkus yang telah diperoleh orang-orang yang telah mengantri sebelumnya. Mereka yang telah berhasil merebut nasi-nasi bungkus bergegas lari.

Keadaan jadi kacau balau! Orang-orang semakin brutal berebut makanan. Berlari-larian, saling timpuk, saling cakar, saling tinju. Tidak tua, tidak muda, tidak laki-laki, tidak perempuan. Jerit kesakitan, teriakan-teriakan marah dan makian bercampur jadi satu. Langit pun seolah ikut bergumul. Petir menggelegar bersahut-sahutan.

Syahdan jatuh terjerembab di antara orang-orang. Ia meringkuk di balik sebuah tumbuhan perdu. Selaksa ketakutan menjelma dalam dirinya. Kebingungan dan ketakutan beradu menjadi satu. Ia menatap manusia laksana ombak yang menggila. Tak berani ia bergeser dari tempatnya barang sesenti jua. Di tengah kepanikannya, ia teringat bahwa ia telah meninggalkan adik semata wayangnya di bawah pohon Akasia. Batinnya semakin bergejolak. Namun ketakutannya telah mengalahkan nuraninya. Ia tetap saja bergeming di tempatnya semula. Meringkuk, menundukkan kepala, berharap tak seorangpun di antara manusia-manusia yang sedang bergumul itu melihatnya.

Sementara itu, di bawah sebuah pohon Akasia … seorang anak perempuan kecil tengah terisak pilu. Dicengkramnya pohon dimana sang kakak telah berpesan padanya untuk berpegang padanya. Berharap pohon itu akan memberikan perlindungan padanya. Di sekitarnya, orang-orang saling mencakar, saling memaki, saling berteriak dan berkejaran. Naila terisak semakin keras. Ketakutan dalam diri anak itu tak terperi lagi. Ia mencengkram pohon Akasia tempat ia bergantung padanya, seolah khawatir pohon itu akan berlari meninggalkannya. Gadis kecil itu sungguh tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Kakak yang ditunggunya mengambilkan makanan tak kunjung datang. Dan kini orang-orang saling marah dan berlarian sambil mengacung-acungkan tangan.

Sekonyong-konyong, sebuah tangan kekar menariknya. “Sini, Nak. Jangan berada di sini, berbahaya sekali!” kata si pemilik tangan itu.

Naila mendongak. Seorang laki-laki besar berseragam cokelat tengah berusaha menariknya lepas dari pohon tempatnya bernaung. “Kamu sama siapa, Nak?” laki-laki itu menyorotinya, menoleh ke sekitarnya, mencari-cari barangkali ada orang lain di dekat anak perempuan itu. Naila seperti mengkerut, berpegang semakin erat pada pohon Akasia di belakangnya.

Si laki-laki menoleh ke arah para perusuh yang mulai saling melempar dan berlarian. Saling teriak, saling pukul, saling tendang. Wajah-wajah kelaparan berubah menjadi beringas dan seram. Seolah terjadi perang. Wajah laki-laki itu menegang. “Ayo, sini, ikut Bapak ….”

“Tidak mauu. Tidak mauuu ….” Naila mulai menangis. “Kak Adaaaan ….”

“Siapa Adan? Kakakmu?” si pria menoleh lagi ke sekeliling anak itu. Sebutir kerikil nyaris saja mengenai anak itu jika sang pria tidak sigap memajukan tubuh besarnya untuk melindungi Naila. “Kita cari kakakmu nanti saja. Yang penting sekarang pergi dulu dari sini. Ayo, Nak ….” si laki-laki berseragam masih menariknya paksa.

Naila memberontak. Namun tangan pria itu lebih kuat. Dalam sekejap saja, tubuh kecil gadis itu sudah berpindah dalam gendongan. Naila meronta dan menjerit-jerit histeris. Kaki dan tangannya ia gerak-gerakkan dengan liar, tapi tak cukup kuat untuk membuat laki-laki berseragam itu menurunkannya. Laki-laki itu membawanya, menyingkir dari hiruk-pikuk manusia. Membawanya pergi, berpisah dari pohon Akasia tempatnya menunggu sang kakak tiba.

Kedua kakak beradik itu terpisah.

Suasana lapangan Gasibu masih ramai dengan orang-orang. Sebagian besar sudah melarikan diri dengan rampasan nasi bungkus mereka. Sebagian masih marah dan memaki-maki, sebagian menangis karena jatah makanan yang telah mereka dapat direnggut paksa.

Malam itu, gerimis masih mewarnai langit. Udara yang sempat memanas beberapa saat yang lalu berangsur-angsur pulih. Menjadi dingin yang menusuk kulit. Perlahan-lahan, lapangan Gasibu mulai tenang. Beberapa petugas polisi nampak berlalu lalang. Menghalau sebagian pengemis dan orang-orang kecil yang masih tertinggal meratapi nasib.

Syahdan yang semula tak berani beranjak, mulai menegakkan badan. Melongok-longok dan mengamati keadaan. Tak secuilpun nasi yang ia dapatkan. Hanya tersisa sedikit rasa takut dan kelaparan. Segera ia teringat adiknya. Berlari sambil sembunyi ia, takut para polisi menghalaunya juga. Syahdan bergegas menuju pohon Akasia tempat ia meninggalkan adiknya. Namun ….

Tak ada siapapun di sana.

Syahdan ternganga. Dikitarinya pohon Akasia itu dengan tak percaya. Sungguh memang tak ada seorangpun di sana. Naila, adiknya, tidak ada!!

Dengan panik Syahdan berlari ke sana kemari, sambil berteriak-teriak memanggil adiknya. “Nailaa! Nailaaa!!! Deek!! Kamu di manaaa, Adeek!!!”

Tak ada yang menjawab panggilannya. Beberapa petugas polisi menoleh dan memandanginya. Syahdan tak peduli. Ia terus berlari. Memanggil-manggil sang adik. Dipanggilnya di antara timbunan tumbuhan perdu. Dipanggilnya di balik pohon-pohon rambutan dan asem di pinggiran lapangan, di balik pohon-pohon palem yang berdiri jarang … bahkan dipanggilnya ke arah gerbang Gedung Sate. “Nailaaaaa!!!!”

Ia tak mendengar jawaban. Justru seorang petugas polisi mendekatinya. Syahdan tak sempat menghindar lagi. Pikirannya kalut dengan keadaan Naila.

“Hayo, sini kamu!” si petugas mencengkram lengannya.

“Sebentar, Pak. Adik saya hilang. Adik saya hilang, Pak!” wajah anak laki-laki itu pias.

“Halah, banyak omong pisan atuh! Nanti juga ketemu sama adikmu di penampungan gelandangan!” ujar si petugas galak, menarik lengan Syahdan untuk digiring, dikumpulkan bersama puluhan gelandangan dan pengemis yang diamankan di halaman belakang Gedung Sate.

Syahdan meronta. Ia cemas akan nasib adiknya. “Izinkan saya cari adik saya dulu, Pak. Tadi saya tinggalkan dia sendirian di sini ….”

“Paling juga ikut diciduk sama petugas yang lain. Sudah jangan banyak omong lagi. Ayo ikut! Kalian-kalian ini, berandalan tidak tahu diuntung! Sudah diberi makan gratis malah bikin rusuh!!” si petugas mulai menyeret Syahdan.

Mata Syahdan mengumbar kelaparan. Berharap sekonyong-konyong menangkap sosok adiknya, di tengah lapangan, di balik pohon, atau di antara semak perdu. Namun di tengah gerimis itu, di bawah temeram malam, ia tak bisa menemukannya. Ia telah kehilangan harta paling berharga miliknya, peninggalan satu-satunya dari kedua orang tuanya yang telah tiada. Mata Syahdan memanas. Marah, kecewa, dan takut bercampur menjadi satu, membuncah dari dalam dadanya.

“NAILAAAAA!!!” anak laki-laki itu berteriak sambil terus diseret oleh sang petugas.

“NAILAAAAA!!!!” Tangisnya pecah.

“NAILAAAAA!!!!” Teriakannya pilu.

Dan hawa dingin itu serasa begitu menusuk ….

* * *


Bagian Satu:

Di Ujung Beku


 

 

Geliat pagi yang muram. Langit menampilkan siluet mentari sekaligus mendung yang menggelanyut manja. Matahari jadi tampak seperti kuning telur setengah matang di ufuk timur. Sinarnya malu-malu seperti gadis dalam pingitan. Suara kokok ayam bersahutan dalam perlombaannya menjerang surya. Burung-burung mulai keluar dari sarang-sarang basah mereka karena hujan semalam, mencari makan, merentas kehidupan. Tetes-tetes embun menitik dari ilalang-ilalang panjang, dan dari pucuk-pucuk dedaunan dalam pohon-pohon yang tinggi. Bau segar tanah masih sedap tercium, bercampur dengan bau kotoran sapi basah serta jerami apak. Lenguh-lenguh sapi dan embikan kambing turut menyambut harmoni pagi, mengharap rumput segar yang segera terhidang.

Aku duduk dengan mengapit map besar berisi tumpukan lembar arsip-arsip kerjaku. Menghirup dalam-dalam bau sedap tanah basah sambil memikirkan sepiring nasi hangat—dengan uap mengepul—lauk sambal ikan panggang, pindang goreng, dengan mentimun segar yang sedang disiapkan ibu di belakang. Ibu yang tak pernah membiarkanku memasuki dapur setiap kali aku pulang kampung. Ibu yang selalu membangunkanku dengan suara wudhu dan bacaan Al-Qur’annya yang merdu. Disusul dengan suara uleg-uleg yang beradu dengan cowek, serta bau sedap terasi bakar. Persiapan sarapan yang selalu dikerjakannya sejak pukul empat pagi, mulai dari menanak nasi yang masih menggunakan gaya konvensional di-aru, hingga memasak berbagai lauk dan sayur yang selalu sudah siap begitu mentari menggeliat bangun.

Apa kau tahu model memasak nasi dengan di-aru? Itu cara memasak nasi yang merepotkan sekali. Nasi tidak langsung sekali jadi. Setelah dicuci, beras ditanak dulu dengan panci khusus menanak nasi yang disebut dandang. Setelah kira-kira tanak, barulah beras tadi dimasukkan dalam panci, ditambah air, lantas dimasak sampai mendidih. Begitu mendidih dan airnya menyusut, beras yang sudah setengah jadi, ditanak kembali dalam dandang hingga benar-benar menjadi nasi. Jangan tanya, baunya memang jauh lebih wangi, dan nasinya memang jauh lebih pulen.

Sekalipun sudah ada kotak ajaib bernama magic com dan magic jar, atau produk pembuat nasi sejenisnya yang populer disebut rice cooker, ibu tidak pernah mau menggunakannya. ‘Nasinya tidak sedap,’ kata ibu ketika suatu kali kutanya. Pun demikian dengan keberadaan kotak ajaib lain bernama kulkas atau lemari es. Fungsinya di rumah besar ini tak lebih hanya sebagai tempat penyimpanan es. Ibu tidak mau menggunakannya karena jika dimasuki bahan lain selain es, kulkas akan berbau! Tidak peduli ada produk lain bernama antibau yang telah siap di pasaran untuk mengantisipasi permasalahan semacam itu.

“Sarapan, Nduk ….” tiba-tiba ibu telah di belakangku, membawakan secangkir teh yang masih mengepul dan sepiring kecil srabi hangat, menyodorkannya padaku. Tubuhnya yang mungil dan gempal itu selalu bergerak lincah ke manapun. Ibu duduk di sampingku.

Matur nuwun[1], Bu.” Kusambut wanita paruh baya itu dengan senyumku yang paling purna. Ibu adalah mentariku! “Bapak pundi[2]?” tanyaku seraya menyeruput cangkir, teh buatan ibu selalu sama. Sedapnya, pahitnya, manisnya, sebuah komposisi yang tiada dua.

“Masih asyik sama bebek-bebek. Habis ini kamu aturi[3], ya?”

Nggih[4] … Bu, Bapak jangan boleh capek-capek le, Bu.” Aku teringat pada penyakit jantung Bapak yang dua tahun terakhir ini sering kambuh, sambil mengendus harum srabi yang sudah dilelehi gula jawa oleh ibu. Ibu selalu begitu jika membelikanku srabi, selalu dilelehi gula Jawa sendiri, karena beliau tahu aku sangat menyukainya.

Biasanya srabi Rembang tanpa gula jawa. Hanya ditaburi kelapa parut atau dimakan dengan santan gurih begitu saja. Jenisnya pun beda sekali dengan srabi di kota Solo, tempatku kuliah dan bekerja selama ini. Srabi Solo manis dan teksturnya lembek karena kaya santan. Sementara srabi Rembang gurih saja. Sama sekali tidak ada rasa manis-manisnya. Teksturnya juga padat seperti apem di Solo. Entah bagaimana, aku lebih suka srabi Solo dari pada Rembang, mungkin karena aku cukup lama di sana. Yang jelas, di rumah ini hanya aku yang suka makan srabi Rembang dengan dilelehi gula Jawa. Ya, hanya aku yang suka makanan manis di rumah ini.

Wong cuma buat hobi. Kalau ndak sama bebek-bebek itu la po[5] Bapakmu itu? Tahun depan sudah pensiun, makin ndak ada kerjaan nanti. Ha biar too, ora usah dilarang .…”

“Lho, lho, Silmi bukannya melarang, Bu. Cuma mengingatkan saja, Bapak jangan boleh capek-capek. Penyakit Bapak itu lho ….”

Ibu menghela napas lembut. “Asal ora[6] pikiran lah, Nduk ….” ibu masih dengan suara yang sama. Andai saja aku tidak memperhatikan matanya, tentu kupikir ia hanya memperhatikanku seperti biasa. Ibu memang begitu. Jika ia sedang rindu maka ia akan menatapku lama-lama, menekuri setiap sudut wajahku tanpa bosannya. Namun kali ini berbeda, ada tanya dalam bola matanya.

Kubalas lembut tatapannya. “Ibu kenapa?”

Ibu tersenyum. Sebait lesung pipit beradu dengan sudut bibirnya. “Piye, Nduk[7]? Sudah kamu pikirkan belum?”

Aku terhenyak. Refleks, kugenggam tepian map yang sedari tadi di tanganku dengan lebih erat. Tertunduk. Malu. Seperti Mimosa pudica yang menguncup begitu tersentuh daunnya. Pada map yang kuapit ini memang tidak hanya berisi arsip kerja saja. Selembar foto dengan biodata lengkap dalam amplop yang wangi turut tersimpan di sana. Ada asa yang berpijar dari sana. Ada rasa yang menggelora. Akupun tersipu. Merasa seperti kuncup bunga yang dinanti mekarnya. Malu yang mau. Mau yang merindu.

“Kalau memang cocok apalagi yang ditunggu tho, Nduk. Bapak-Ibu ini lho, sudah pengen banget nimang cucu.” Suara ibu penuh harap.

Aku kembali tersipu yang tidak tanggung-tanggung. Ibu memang selalu bicara langsung ke dalam mataku, melesat hingga lubuk hatiku. Menerobos segala cadas keras yang kubangun dalam bentengku. Barier yang selalu sukses menghalau siapapun yang hendak ‘bicara’ dengan hatiku selama ini.

Kalau memang cocok, apalagi yang ditunggu?

Ah … aku tahu ini barangkali kisah yang klise. Tapi aku tidak ingin semua ini berakhir seperti kisah cerita picisan yang sudah-sudah. Tukar biodata, ta’aruf, lantas selesai begitu saja, tanpa ending bahagia ataupun duka. Oh, sedih, tentu saja, jika proses itu berakhir tanpa ijab kabul. Karena sudah lagu lama para wanita mendamba cintanya datang tanpa diminta. Wanita memang persis seperti Mimosa podica yang disentuh daunnya. Menguncup malu-malu, lantas berangsur pulih kembali mengintip dunia. Berharap akan ada sentuhan lain lagi yang membuatnya malu yang mau.

Dan bahagia adalah ending yang selalu dinanti setiap wanita. Wanita-wanita seperti aku tentunya. Ya, aku, Silmi Paramitha, satu wanita yang seperti Mimosa podica. Ya, yang seperti itu. Kurasa tidak berlebihan kalau aku menggambarkannya seperti itu. Ia akan menutup dan menciut seperti malu jika disentuh, ditiup, atau dipanaskan, namun beberapa saat kemudian akan membuka kembali. Gerak seismonasti. Wanita dengan sifatnya yang malu-malu, namun tidak memungkiri adanya keinginan akan fitrah itu.

Jika kau tanya pada wanita manapun, tentu ia akan menjawab sama, bahwa sebenarnya ia butuh perhatian, kasih sayang, dan pengertian dari orang lain, terutama dari lawan jenisnya. Ini sudah menjadi fitrahnya. Maka sungguh tidak heran fitrah laki-laki adalah sebaliknya. Dan bukan hal yang aneh lagi jika tampuk kepemimpinan dijatuhkan ke pundak laki-laki yang memang sudah seharusnya mengayomi. Karena laki-laki, kebalikan dari perempuan, memiliki fitrah untuk melindungi. Dua makhluk berlawanan jenis ini memang telah diciptakan untuk saling melengkapi. Sebuah keseimbangan sempurna yang tercipta dari Sang Kreator yang Mahasegala.

Semalam, amplop berisi foto dan biodata seorang pria itu kutunjukkan kepada Bapak dan Ibu. Seorang pria yang hendak dijodohkan denganku. Ah, kau mungkin bertanya-tanya, masa seperti ini masih mau dijodoh-jodohkan juga? Asal kau tahu saja, aku, dan mungkin juga pria yang menjadi calon suamiku itu, memang seperti itu. Kami sama-sama memilih gaya Siti Nurbaya. Mungkin kau bertanya lagi, bagaimana bisa harmoni jika sebelumnya belum pernah mengenal sama sekali? Bagaimana bisa langgeng jika belum ada masa penjajagan sama sekali?

Soal itu, aku dan mungkin juga pada orang-orang lain yang sepertiku, tidak takut hal semacam itu terjadi. Karena kami percaya, cinta itu akan dihadirkan oleh-Nya. Cinta itu akan muncul bersama sang waktu. Bukankah, cinta datang karena terbiasa? Oh, lebih dari semua itu, maka ikatan yang suci itu mengandung janji dari Sang Ilahi Rabbi. Bahwa ikatan itu akan memberikan ketenangan, kasih sayang, dan … cinta. Tolong jangan bilang aku picisan! Sudah banyak teman-temanku yang bilang, bahkan cinta itu dapat hadir tanpa terasa. Ayat-Nya memang sungguh luar biasa. Dan dari ayat-ayat-Nya bahwasannya Dia telah menciptakan untukmu dari dirimu sendiri jodoh-jodohmu. Supaya kamu menjadi tenang kepadanya dan Dia menjadikan di antaramu kecintaan dan kasih sayang ….[8]

Yah, wanita manapun akan merasa dirinya berubah menjadi romantis dan sentimentil jika mendengar ayat ini. Dan aku, sudah bukan pertama kali lagi ingin menagih ‘janji’ ini. Hanya saja, proses-proses ta’arufku yang telah lalu belum pernah ada yang sampai garis finish. Semuanya ‘menguap’ tanpa melewati para penjaga gawang, kedua orang tuaku, bapak dan ibu.

Kali ini Bapak-Ibu telah membaca biodata yang dilengkapi selembar foto itu. Foto seorang pria dengan senyumnya yang surya. Kukatakan senyumnya adalah surya karena dengan ajaibnya aku terpana oleh hangatnya. Aku tidak ingin memungkiri bahwa memang aku terpana olehnya sejak pertama. Sejak bertemu dengannya di gedung Tiara ….

* * *

 

Gedung Tiara, sebulan sebelumnya.

“Tidak ada sound. LCDnya juga mati! Bagaimana ini?” wajah Dellia tampak seperti ditinggal pergi oleh seluruh persediaan darahnya. Peluh dingin telah membanjir di sekujur tubuh mungilnya. Kedua tangannya bergerak-gerak gelisah.

Kudongak jam dinding yang jarumnya sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Seharusnya acara sudah dimulai …. gumamku, gundah. “Siapa PJnya?” tanyaku.

“Pihak Tiara sendiri. Mestinya kan kita pesan, mereka yang persiapkan. Sound dan LCD siap. Ini kan fasilitas pameran juga!” Dell tambah bersungut-sungut. Kepala panitia acara seminar itu dia sendiri, dengan anak buah yang rata-rata jauh lebih senior dibandingnya. Wajar saja kalau dia tidak berani pasang perintah sana-sini. Apa-apa dikerjakannya sendiri.

“Sudah lapor ke panitia pameran?”

“Udah, Mbak. Tapi katanya sound kepake semua. Gimana ini yaa?” Dell kembali menggerak-gerakkan tangannya ke samping pahanya. Wajahnya sudah benar-benar seputih cat tembok. Anak bagian administrasi itu memang sangat ekspresif jika terjadi sesuatu padanya.

Acara seminar bertema parenting itu memang dirancang bertaraf nasional, bersertifikasi, dan menjual prestise. Pembicara didatangkan langsung dari Jakarta, ketua umum salah satu organisasi muslimah terbesar di Indonesia. Peserta sebagian besar sudah tiba. Kursi yang disediakan sudah hampir terisi seluruhnya. Wajar kalau Dell begitu panik hingga level yang paling tinggi. Kalau LCD mati barangkali masih bisa diobati dengan keluwesan pembicara, tapi kalau sound-nya juga tidak ada, apa kata dunia? Penerbit Tazkia yang mulai mengibarkan bendera besarnya mengadakan seminar nasional yang tidak ada apa-apanya. Ecek-ecek kalau kata orang Jawa.

Seorang wanita paruh baya berjilbab anggun mendatangi kami, Bu Aya, pengajar sebuah SD Islam Internasional yang didaulat menjadi moderator. “Ini pesertanya sudah penuh lho. Apa tidak sebaiknya dimulai saja?” tanya beliau.

Dell memandangku pias, lantas memaksakan senyumnya pada Bu Aya. “Maaf, Bu. Pembicaranya belum datang. Tunggu sepuluh menit lagi, ya ….” pintanya dengan nada agak memelas.

Aku kasihan juga melihatnya. Kudengar dari seorang rekan, tadi pagi-pagi sekali dia sudah datang dan marah-marah pada pihak panitia gedung Tiara. Acara seminar ini memang difasilitasi secara gratis oleh pihak Tiara, sebagai pihak penyelenggara pameran buku IKAPI, Ikatan Penerbit Indonesia. Penerbit yang turut andil dalam pameran tersebut diperkenankan mengadakan acara pendukung dalam bentuk apapun. Penerbit kami, Tazkia menjadi salah satu peserta dalam pameran tersebut.

“Apa yang bisa kubantu? Masak nggak ada sound tambahan, Dell?”

“Katanya baru diusahain, Mbak. Mana Bu Sulis-nya belum datang lagi jam segini ….” gadis bertubuh mungil itu mengangkat jam tangannya, diteruskan menyeka keringat dengan lengan baju tangan yang sama. Dell benar-benar sedang bekerja keras sendirian, dalam dunianya. Kutepuk-tepuk punggungnya untuk memberikan support. Aku sendiri bukannya tidak mau membantu. Tapi aku mendapat jatah jaga stand, hanya ‘melarikan diri’ sebentar untuk melihat keadaan.

Gedung besar milik perusahaan swasta Tiara itu memang tampak sudah begitu penuh. Kebanyakan peserta yang hadir adalah para ibu muda dan guru-guru sekolah. Waktu sudah molor hampir satu jam dari jadwal yang ditetapkan. Bu Aya yang ditunjuk menjadi moderator sudah berkali-kali meminta acara segera dimulai. Dell makin pias.

Di saat seperti itu, belum satupun batang hidung para crew Tazkia pria yang tampak, membuat gigi ini rasanya ingin merontokkan sesuatu saja. Si Bos juga malah asyik berbincang dengan para tamu, tidak mau ambil pusing. Yaah, memang jadi bos di manapun paling enak, kecuali mungkin para bos atau pemimpin di masa Rasulullah dan sahabat khulafaur-rasyidin. Apalagi di zaman Umar! Ada pemimpin yang ketahuan punya penghasilan lebih sedikit saja langsung dipotong gajinya dan dimasukkan kas negara!

Ah, sudahlah, mungkin hanya mimpi bisa menemukan kembali para pemimpin yang mendekati orang-orang hebat itu. Nah, salah satunya, itu dia, si laki-laki yang mungkin memang harus bermimpi dulu untuk menjadi pemimpin hebat suatu saat nanti. Yaah … setidaknya, menurutku, dia memang harus belajar lebih banyak lagi jika ingin menjadi pimpinan yang benar-benar handal … Coba saja lihat ….

“Assalamu’alaikuuuum! Halo, Sil, Dell! Maapin telat, ada satu dan lain hal yang terjadi dalam hidup ini yang membuat roda waktu terasa berjalan begitu lambat ….” serunya dengan kedatangan yang bisa menghebohkan seantero pasar jika saja ia tidak mengatur suaranya.

Dia Yunan, rekan kerjaku yang selalu saja heboh dan rame. Dia divisi kreatif, salah satu desainer cover-cover buku terbitan Tazkia. Kami nyaris seumuran, lebih tua dia sedikit, dan kami sangat beda haluan. Maksudku, dia manusia yang selalu ceroboh dan tidak rapi, beda jauh denganku yang rajin dan super teliti. Aku narsis, ya? Tapi begitulah Yunan. Meskipun selalu berantakan, namun ia rekan kerja yang sangat menyenangkan, asal tidak sedang kumat jam karetnya seperti saat sekarang!

“Hei, kau pikir jam berapa ini, baru datang? Kasihan Dellia kan, apa-apa ngurus sendirian ….” Kataku dengan nada yang menekan.

Yunan meringis sambil garuk-garuk kepala. Tampangnya memang mirip Dao Ming Tse dalam drama Taiwan yang sempat melejit Meteor Garden dulu, dari segi rambut berantakannya. Bertubuh jangkung dan bahu yang agak melengkung, ia memiliki seraut wajah yang secara ajaib mampu membuat orang lain tersenyum padanya. Sepasang matanya yang dalam dan penuh binar seolah menyiratkan berjuta keceriaan.

Dell memutar matanya dan memasang tampang mengiba. “LCD mati, sound system  tidak ada. Gimana coba?” Dell marah, tapi aku tahu ia hanya pura-pura. Anak itu, entah kenapa aku merasa ada yang aneh dengannya tiap kali berhadapan dengan Yunan.

“Hwah! Nggak ada sound system?” Yunan mengernyit lucu. Tubuh jangkungnya meliuk-liuk ke kanan dan ke kiri, kepalanya melongok-longok ke lorong yang menghubungkan ruang pertemuan dengan pintu keluar. “Whuah … nggak beres ini panitianya. Bentar, tak cari dulu. Eh, tadi kenapa, LCDnya mati? Sudah ada yang ngurus belum?”

“Siapa yang mau ngurusi? Si Darwis tugas njemput Bu Sulis, kamu sendiri baru aja datang. Yang lain-lain ke mana nggak tahu!” sembur Dell sebal.

“Gitu yak? Kenapa nggak sms suruh cepat datang tadi?”

“Nyuruh siapa? Kemarin kan udah kesepakatan, panitia datang jam 8, titik!” Dell mendelik. Cocok sekali dengan wajah mungilnya yang dibalut jilbab merah muda. Manis seperti boneka.

Yunan meringis saja. “Iya, iya, ampun. Kan tadi udah minta maaf .… Ya udah, urusan LCD, tak panggilin temenku, aku nyari panitia yang ngurus sound.” Ujar Yunan seraya berlalu cepat.

“Hei, hei! Kamu mau manggil temenmu ke mana? Mau ke bengkel komputer dulu?” seru Dell, panik campur gemas. Aku geli melihatnya. Terasa sekali aura ‘berbeda’ yang ditunjukkan Dell pada Yunan.

“Tenang aja!! Nggak sampai ke laut kook!!” Yunan malah mengangkat kedua jempolnya.

Aku dan Dellia berpandangan. Aduh, ini orang … mau kemana lagi di saat genting begini? Dell sudah mau mulai membahas lagi apa yang harus kami lakukan ketika tiba-tiba rombongan pembicara utama datang. Bersamaan dengan itu, Yunan kembali datang secepat dia pergi, kali ini bersama seorang pria muda bertubuh tinggi tegap, berjenggot tipis, dan berambut agak cepak. Yunan menggamit lengannya (mungkin lebih tepat jika kukatakan menyeretnya) dan menyodorkannya pada kami berdua seperti menyodorkan segelas air saja.

Pria itu seolah tidak terpengaruh sama sekali dengan gerak cepat Yunan. Dengan tenang ia menatapku, dan tersenyum. Saat itu Dell mengalihkan perhatiannya pada rombongan Bu Sulis dan mengabaikanku. Jadi, sukseslah aku menjadi korban yang harus menanggapi Yunan dan pria itu. Aku nyaris berada dalam titik kebodohanku yang paling purna ketika Yunan berkata, “Nih, LCDnya biar dibenahin dia!” seraya kembali berlalu—karena aku hanya melongo saja! Tapi untunglah hanya sesaat, sebab pria itu segera menyapa. Jika dia diam saja mungkin aku sudah benar-benar menampakkan kebodohanku dengan tampang melongo paling bodoh sedunia!

“Apa yang bisa saya bantu?” suaranya terdengar serak dan berat.

“Mm … anu, tadi disuruh apa sama Yunan?” tanyaku tolol.

Pria itu kembali tersenyum, dan astaga! Senyumnya begitu besar, berat, tapi hangat. Seperti matahari yang menyinari. Senyuman surya. Aku tidak merasa silau, hanya hangat yang menenangkan saja yang kurasakan. Dan, puh … aku seperti kehilangan diriku selama beberapa saat. Suatu hari nanti, aku akan sangat menyesali ketololanku yang bisa-bisanya kehilangan jati diri hanya karena diberikan senyum oleh sang pria surya ini!

“LCDnya mati ….” Samar-samar suara Dellia yang terdengar panik menembus gendang telingaku. Ah, benar, LCD.

Kutengok gadis mungil itu. Ia sedang berbicara dengan Darwis, rekan sekantorku yang lain, bagian marketing. Yah, kuakui kepanitian acara kali ini memang agak amburadul, berhubung ada pameran buku juga di lokasi yang lain. Crew terpaksa dipecah, dan kepanitiaan dibagi-bagi pada seluruh pegawai, termasuk pada yang tidak punya pengalaman meng-handle acara juga.

Nah, aku jadi ingat apa yang mesti kulakukan pada pria ‘matahari’ ini. “Oya. Itu, LCD yang mau dipakai mati. Tadi kata Yunan mau memanggil teman yang bisa membenahi LCD, gimana?”

“Hmm … gitu, ya? Saya sih tadi langsung ditarik begitu saja dari kursi saya ….” Gumamnya, masih dengan senyum suryanya.

“Oh, Yunan, ya? Mohon dimaafkan … dia memang begitu ….”

“Ha ha ha … saya sih sudah biasa dibegitukan sama dia. Saya kerjakan sekarang?” ia memandang jauh ke arah panggung, tempat sebuah laptop dan LCD teronggok merana tanpa siapapun mau menyentuhnya.

“Oh, ya, silakan. Tolong, ya?” balasku. Aku heran dengan diriku sendiri. Sepertinya, aku merasa salah tingkah.

Pria itu berjalan ke panggung dengan anggun. Aku tak percaya bahwa mataku masih saja mengekor pada punggungnya. Haduh … apa ini ya, Rabbi? Buru-buru kupalingkan wajahku dan mengutuki refleks kewanitaanku yang bagai tersengat listrik itu. Astaghfirullah ….

“Sound system dataaaang!!” suara Yunan yang kembali datang cukup mengalihkan perhatianku. Kali ini ia bersama dua orang pria berseragam dengan tulisan Tiara yang menarik sesuatu seperti sebuah salon besar. Huf … akhirnya …. Setidaknya kantor kami tidak perlu malu dengan para tamu dari Jakarta yang terpaksa harus berteriak-teriak jika sound tetap tidak tersedia.

“Nemu di mana?” candaku.

“Di kolong tempat tidur!” Yunan ngasal. “Ya pokoknya nyari lah! Eh, mana Mas Daniar?”

“Yang lagi benerin LCD itu?” Aku mengangguk ke arah panggung tanpa mengarahkan mataku ke sana.

“Tolong, ya, Mas.” Yunan masih mempersilakan para panitia dari Tiara untuk memasang sound, lantas ganti memandangku. “Tenang aja, itu teknisi komputer kok. Asal bukan laptopnya yang bermasalah, dijamin bisa deh!”

“Eh, siapa? Dua mas yang tadi?”

“Bukan. Tukang komputer di rumahku. Ya Mas Daniar laaah!!” Yunan pura-pura manyun, menyandarkan tubuh jangkungnya tak jauh dariku sambil mengawasi para panitia dari Tiara yang sudah mulai menguji mic. Cepat juga kerja mereka ….

“High quality, masih single lho! Mau?” Yunan bergumam.

“Para tukang sound itu? No thanks.”

“Halah, Neng .… Ngelez aja sih ….”

“Habis, nggak tepat waktunya ngomongin yang beginian, Yu.”

“Iya juga, ya? Habis, mumpung kamu lihat orangnya sih. Dia lagi cari soulmate-nya. Sempet nyinggung-nyinggung apa aku punya temen kantor yang juga high quality gitu ….”

“Emang sebelumnya hilang di mana, kok nyarinya sampai ke kantor kita?”

Yunan tertawa renyah. “Yaah, siapa tahu ada yang minat gitu ….”

Aku tersenyum saja. Malas menanggapi. Paling-paling hanya akan menjadi pembicaraan sepintas lalu tanpa kelanjutan yang berarti. Yaah, setidaknya, begitulah aku menanggapi rekan-rekan kerjaku selama ini. Just partner. Makanya aku malas terlibat pembicaraan terlalu jauh dengan salah satu rekan kerja. Bukannya tidak punya simpati, malas saja rasanya jika harus terlibat secara emosi dengan salah satu dari mereka, yang perempuan sekalipun.

Di depan, Dell sudah mulai membuka acara. Ya, lagi-lagi dia. Ketua panitia, merangkap seksi sibuk, merangkap MC. Untung tidak sekalian merangkap moderator, kalau iya, aku yakin bisa habis mukanya yang sudah mungil itu. Sound berfungsi dengan sangat baik. LCD juga sudah mulai uji coba, dan ternyata memang sukses. Canggih juga si teknisi komputer itu, siapa namanya tadi, Surya? Ah, itu kan julukanku padanya.

Astaga, kenapa dengan diriku ini? Apa aku sedang kena sindrom love at the first sight?

Masak, sih?

Kendalikan diri, Silmi …. Itu tidak mungkin!

Oke, aku memang sedang ikhtiar mencari suami. Tapi bukan berarti ketika ada yang lewat trus aku merasa ada sesuatu yang beda lantas aku bilang, ‘Oh, mungkin itu jodohku!’ begitu, kan? Walaupun untuk tipikal orang yang suka mengedepankan intuisi akan lebih suka mengambil keputusan berdasarkan apa yang dirasakannya, aku sih tidak.

Tidak, tidak … lagipula aku tidak merasa apa-apa sebenarnya. Maksudku, tidak ada desir aneh yang menggelora, ataupun degup jantung yang membahana. Aku hanya menyukai senyumnya. Ya, itu saja. Entah bagaimana, melihat senyumnya yang surya, aku merasa begitu hangat. Sesuatu yang belum pernah kurasakan saat bertemu dengan pria-pria lainnya.

Memang, kuanggap itu sebagai salah satu dari sekian kebekuanku. Kuakui, aku memang tipikal yang sulit, perfeksionis, runut, detail, rumit, dan seabrek ‘kesempurnaan’ lain yang kadang, menurutku sendiri, memang agak keterlaluan. Aku tidak mau bersusah payah merubahnya. Setidaknya, aku ingin berusaha dulu mendapatkan jodoh yang sesuai dengan kriteriaku, tanpa perlu repot-repot merubah diriku.

Tapi bagaimana dengan ‘rasa hangat’ ini?

Dan lagi … dia terlihat dewasa, tak banyak cakap, bertanggung jawab, bisa diandalkan, yah … intinya … the real gentleman menurut versiku (dilihat dari kesediaannya membantu kami yang notabene belum dikenalnya—astaga, naifkah aku berpikir seperti ini??). Semuanya … cocok dengan kriteria ‘kedewasaan’ yang kuharapkan untuk menjadi pendamping hidupku!

Jadi, apakah ‘dia’ lelaki pilihan itu?

Is he the one …, finally?

Ah, tidak. Mungkin ini semua hanya sekedar perasaan sepintas saja yang sedang dalam pose ‘sentimentil mode on’ ….

* * *

 

Ternyata apa yang kualami di gedung Tiara terus berlanjut. Entah bagaimana, apakah atas bantuan dari Yunan ataukah siapa, yang jelas, seminggu setelah pertemuan di gedung Tiara, aku dipanggil menghadap guru mengajiku. Sebuah amplop disodorkan padaku, kata beliau sebagai jawaban atas proposal pranikah yang kuajukan beberapa waktu yang lalu.

Tanpa perasaan apa-apa, aku membukanya begitu sampai di tempat kost-ku, dan itu dia … sang senyum surya menatapku dari selembar fotonya. Aku hanya bisa melongo selama beberapa saat. Jujur, ini pertama kalinya aku mulai mempertimbangkan intuisiku.

“Apa jangan-jangan dia memang jodohku?”

Pertanyaan itu tak urung terus saja menggelitikku. Aku yang selalu berusaha rasional dan mengabaikan keterlibatan emosi ini, rasanya mulai masuk dalam fase intimacy dalam teori triangular of love. Bah, rasanya memang tidak mungkin, tapi ciri-ciri ini pasti!

Apa salah jika aku begini? Apa salah jika aku memutuskan untuk terus dengan pria senyum surya ini hanya karena aku merasa hangat dengan senyumannya?

Entahlah … Hanya saja, aku merasa, barangkali inilah saatnya. Barangkali pencarianku memang telah purna. Barangkali memang sudah saatnya kubuka kebekuan hatiku atas berbagai pertimbangan penuh rasio seperti yang selama ini selalu kukedepankan dalam setiap keputusanku. Ya, barangkali, sekaranglah saatnya aku boleh memutuskan dengan intuisi.

Boleh, kan …?

* * *

 

[1] Terima kasih, Bu.

[2] Mana?

[3] Persilakan

[4] Baik …

[5] Terus ngapain

[6] Tidak

[7] Bagaimana, Nak?

[8] QS. ar-Rum: 21

 


Bagian dua:

Senandung Rindu


Apa kau benar-benar percaya bahwa ada ksatria yang dilahirkan di dunia ini? Maksudku, dunia yang sudah dicemari oleh kepongahan materi dan segala arogansinya. Dunia yang hanya ada kata ‘Aku’ saja di dalamnya. Sempit, individulistis, dan materialistis. Setidaknya itulah gambaran kehidupan perkotaan yang kutahu sampai sejauh ini. Jarang ada sekali pertunjukkan sosial di mana yang satu menunjukkan perhatian tulus kepada yang lain kecuali ada tendensi tertentu. Bahkan sekalipun dalam bulan suci seperti Ramadhanpun, segala aksi kebaikan dinisbatkan kepada pencarian ketenaran, na’udzubillah ….

Nyatanya, tampaknya ada jenis manusia yang mempunyai potensi untuk menjadi ksatria yang sebenarnya, dalam konteks, menolong orang lain tanpa pamrih. Mungkin aku berlebihan, tapi sungguh, di kota macam Solo ini saja sudah cukup sulit menemukan orang baik yang berhati tulus.

Di sela-sela prosesku dengan Mas Daniar, yang sudah berjalan hampir satu setengah bulan, aku, Dellia, dan Yunan, mendapat tugas studi banding dengan salah satu penerbit di Bandung. Aku tidak pamit padanya, dan dia juga tidak mengatakan apapun padaku sekalipun dia tahu aku pergi ke Bandung—Yunan bilang padaku bahwa dia bercerita tentang rencana kepergian kami padanya.

Hei, jangan kau pikir yang disebut ‘proses’ itu kami akan saling berkencan dan terus saling bertukar kabar sebagaimana layaknya orang-orang yang menyebut ‘masa penjajagan’ sebagai pemerhalus kata ‘pacaran versi Islami’ sebelum menikah. Sama sekali tidak ada yang seperti itu. Meskipun, yah, aku tidak memungkiri bahwa jauh di lubuk hatiku yang paling dalam, setidak-tidaknya aku juga ingin merasakan perhatian yang semacam itu. Hei, aku ini wanita, tentu wajar bukan jika ingin diperhatikan oleh seseorang yang spesial?

Hah … but nothing special with him, itu masalahnya. Mmm … not yet tepatnya. Why? Karena dia belum jadi apa-apaku. Kau mengerti maksudku? Kami masih belum apa-apa, baru ‘berjalan’ menuju jenjang pernikahan saja. Apapun bisa terjadi setiap saat, bisa lanjut dan resmi menjadi suami istri (jika sudah resmi aku boleh saja mengharapkan perhatian terus darinya), atau sebaliknya, gagal dan kembali mencari calon yang lain untuk diikutkan audisi.

Itulah kenapa, baik aku, maupun dia, mesti menahan diri untuk tidak larut dalam ‘hubungan yang lebih mesra’ sebelum segalanya menjadi halal. Yah, sekalipun bapak dan ibu berulangkali menanyakan kelanjutan ‘proses’ itu padaku, aku tetap berusaha konsen dengan pekerjaanku. Itulah kenapa, aku berusaha mengalihkan perhatian agar tidak memikirkannya dalam ‘acara’ku kali ini. Biarlah semua berjalan sesuai rel yang telah ditentukan. Yang penting semua tetap dijalani. Yah, kita tidak akan pernah tahu bagaimana takdir kita kecuali kita terus maju untuk menjalaninya, bukan?

Jadi, pergilah aku, Dell, dan Yunan ke Bandung. Kami naik kereta, berangkat dari stasiun Solo-Balapan, stasiun terbesar di kota batik ini. Oya, aku sendiri bukan warga asli Solo. Aku dari kota pesisir bernama Rembang, tempat di mana Raden Ajeng Kartini menghabiskan masa-masa terakhirnya sebagai istri sang adipati. Aku hijrah ke Solo sejak kuliah, hingga bekerja di penerbit Tazkia sekarang sebagai seorang editor.

Yunan sendiri juga bukan asli Solo. Dia asli anak Bandung, tapi lama di Yogyakarta, SMA dan kuliah di sana, ikut kakeknya. Lalu terlempar ke Solo gara-gara suka sama nasi timlo-nya (alasan yang sangat aneh). Dellia satu-satunya putri Solo, jadi dia yang menjadi komandan saat keberangkatan. Sementara jika nanti telah sampai di Bandung, pimpinan akan dialihkan pada Yunan. Aku? Cukup jadi makmum saja. Di mana-mana jadi makmum itu paling enak. Nanti kalau ada apa-apa tinggal tunjuk sang imam. Bukankah imam menanggung semua kesalahan yang diperbuat makmum? Ha, maksudku, itu dalam shalat.

Pukul setengah delapan pagi, aku sudah siap di Stasiun Balapan. Kereta bisnis ke Bandung, Lodaya, berangkat pukul delapan pagi, bisa (dan sangat biasa) molor. Sebaliknya, tidak mungkin berangkat lebih awal. Biasa, jadwal Indonesia. Ironis memang jika bangsa ini terkenal karena jam merk karetnya, mentang-mentang salah satu penghasil karet dunia ….

Tak lama, Dellia berlari-lari tiba. Tangannya melambai-lambai ceria. Anak administrasi satu itu memang paling semangat kalau disuruh main. Ya, Dellia mewakili bagian administrasi perusahaan kami. Aku bagian publishing, dan Yunan bagian kreatif. Kenapa kami tidak pergi saja study banding satu kantor ke sana?

Biasa, alasan klise para akuntan: ngirit biaya!

“Jadi mana si mister telat itu?” aku mengangkat Alba lapis emas pemberian ibu di tangan kananku. Jam tangan hadiah ulang tahunku yang ke tujuh belas dulu. Aku mencintainya sebagaimana cintaku pada ibu. Ah, salah … maksudku, aku lebih mencintai ibu yang telah memberiku jam tangan itu. Bukan barangnya yang kusuka, tapi perhatian ibu yang tahu bahwa aku ini ‘manusia yang tepat waktu’.

“Tauk, Mbak. Biasa, paling juga telat. Asal nggak sampai ketinggalan kereta aja.” Dell bersikap sok acuh. Tapi menurutku ia terlihat cemas karena rekan kami satu itu belum datang juga. Aku tertawa.

“Kalau nanti kereta mau berangkat dia belum datang juga, kita tinggal, ya?”

“Waduuh, jangan dong, Mbaak. Kasihan kaan ….” Dell memasang tampang iba. Aku malah menikmatinya (jahat sekali, ya?).

“Biar saja! Biar nanti dia nebeng kereta malam. Yang penting besok udah nyampai di Mizan, kan?” kataku lagi. Masih dengan niat menggoda Dellia yang semakin merona.

Yah, Yunan sudah terlambat lima belas menit, dan dia belum menampakkan batang hidungnya juga. Hukuman yang sudah disiapkan: membawakan tas kami yang gemuk-gemuk seperti badan gajah!

Barisan calon penumpang dengan berbagai barang bawaannya berjajar semrawut di sepanjang peron. Maklum saja, ini memang awal pekan libur sekolah. Orang-orang meluangkan waktu untuk pergi bersama-sama keluarga mereka. Atau bagi anak kuliahan, sekarang saatnya pulang ke kampung halaman. Ah, jadi ingat masa-masa masih kuliah dulu. Aku hanya bisa menyempatkan pulang sebulan sekali, bahkan kadang jika banyak tugas kuliah, paling-paling hanya pulang saat lebaran saja.

“Kita naik dulu?” ajakku pada Dell sambil melirik ke arah Lodaya yang sudah stand by di peron 2 sejak beberapa menit yang lalu.

Dell mengerutkan kening sejenak sebelum akhirnya mengangguk pasrah. Mungkin dia masih berharap Yunan tiba saat itu juga.

Dengan masing-masing meneteng 2 tas besar, kami berdua naik dan mulai menyusuri gerbong mencari seat kami. Gerbong kami sudah penuh dengan para penumpang. Kipas mungil yang hanya terdapat pada ujung-ujung gerbong tak kuasa mengusir panas yang terkumpul akibat penuhnya gerbong ditambah pelbagai barang bawaan para penumpang. Aku dan Dell berhasil menemukan tempat duduk kami, dua kursi dari toilet. Namun kami kesulitan menaikkan keempat tas kami yang memang super besar. Nah, di sinilah aku menemukan si ksatria langka yang belum tentu ada setiap seratus tahun sekali ini (ah, ini tentu saja berlebihan!).

Yunan kah? Bukan, sobat. Yunan baru menyusul tepat setelah petugas announcer membunyikan bel dan mengumumkan bahwa kereta kami hendak berangkat.

Dia seorang lelaki kurus berkaca mata. Ia duduk di belakang kursi kami. Saat melihat kami kepayahan menaikkan tas besar ke tempat penyimpanan tas di atas kursi kami, dengan sigap ia berdiri dan berkata dengan sopan hendak menolong kami. Tidak ada yang istimewa memang. Tapi kenapa aku menyebutnya ksatria, karena nantinya di sepanjang perjalanan ke Bandung ia terus saja memberikan pertolongannya kepada kami.

Di tengah perjalanan, Dell tiba-tiba mengeluh pusing hebat dan sukses mengeluarkan kembali isi sarapannya. Aku tadinya baik-baik saja, tapi demi melihat Dell yang duduk di sampingku berhasil mengeluarkan ‘bau sedap’ khas ‘pengeluaran kembali’ dari saluran cerna itu, akupun tak kuasa menahan perutku. Sukseslah kami berdua mabuk bersama. Dan tahu tidak, Yunan yang duduk di belakang kami hampir saja menolong kalau saja tidak ikut-ikutan muntah di hadapan kami saat membantu membersihkan sisa-sisa muntahan di lantai bawah kursi dengan koran. Maka itulah dia, si ksatria, tampil kembali. Entah bagaimana Tuhan mempertemukan kami. Dia, yang duduk satu kursi dengan Yunan, tanpa merasa jijik, tiba-tiba saja turun tangan membereskan ‘pekerjaan’ Yunan. Ia juga tak segan membelikan minum untuk kami bertiga, para pemabuk yang awalnya begitu pede dari penerbit Tazkia. Besok ketika kejadian ini tersebar di kantor, kami bertiga sukses menjadi bulan-bulanan orang sekantor. Kami mendapat julukan baru: trio pemabuk!

Awalnya, aku dan Dell agak curiga, kenapa dia begitu baik mau menolong kami. Tapi ia tidak menunjukkan gejala yang tidak wajar. Ia terus mengajak Yunan mengobrol untuk mengalihkan anak grafis itu dari bau-bauan bekas muntahan yang cukup terus membuat kami pusing. Saking tidak tahan dengan bau muntahan kami sendiri, akhirnya (dengan berat hati) kami membalik kursi kereta sehingga, aku, Dell, Yunan, dan pria itu duduk berhadapan. Bau muntahan memang jauh berkurang. Aku mencoba tidur, demikian halnya dengan Dell. Samar-samar, kudengar obrolan Yunan dengan pria itu. Namanya Rifki, seorang dokter di sebuah rumah sakit swasta Islam di Solo. Ia ke Bandung untuk mencari seseorang. Yunan tidak berhasil mengorek lebih jauh siapa orang yang dicari Rifki itu (atau aku yang tidak mendengar kelanjutan ceritanya).

Hanya satu hal yang tidak begitu kusuka dari pria muda itu. Ia sering melempar matanya yang sayu ke arahku. Kentara sekali. Aku merasa sangat tidak nyaman karena setelah memandangku ia seperti mengerutkan keningnya dan matanya seperti berduka. Apa aku mengingatkan dia akan seseorang? Ataukah aku mengingatkannya akan orang yang dicarinya itu? Huh, dasar narsis!

Kebaikan yang ditunjukkan oleh Rifki tidak selesai sampai di situ saja. Begitu sampai di Bandung, ia tak segan membantu Yunan yang bertekad membawakan tas-tas besar kami. Ia juga membukakan jalan bagi aku dan Dell saat para penumpang berjejal-jejalan dengan para penjual dan penjaja makanan di sepanjang peron menuju pintu keluar stasiun. Sungguh jika ini adalah salah satu cerita dalam kisah-kisah dari negeri dongeng, mungkin Rifki akan lolos audisi menjadi pemeran sang Ksatria atau Pangerannya.

Delapan jam berguncangan di kereta dalam keadaan pusing dan perut kosong karena isinya dipaksa keluar semua, tak urung membuat aku dan Dell berjalan agak terhuyung. Yunan yang tampak sekali memaksakan diri juga kelihatan masih pucat. Sekali lagi Rifki menawarkan mampir ke warung dekat Stasiun untuk memesan segelas teh panas. Aku tentu saja menyambut dengan gembira atas usulan ini. Dell dan Yunan juga sepakat. Rifki masih saja membawakan tas kami hingga ke warung tersebut. Bau harum teh dengan uapnya yang hangat mengepul-ngepul segera saja menyegarkan badan kami kembali.

“Mas Rifki sudah sangat hapal daerah Bandung, ya?” Yunan memulai percakapan seraya menyeruput teh manis panasnya.

“Ah, tidak juga. Hanya saja saya memang cukup sering bolak-balik Bandung.”

“Yunan merendah, ih! Yunan ini justru asli Bandung, lho, Mas Rifki!” Dell sudah mulai mengeluarkan suara yang selama delapan jam yang lalu hilang di tenggorokannya.

“O ya? Pantes saja dari tadi nyambung banget bicara tentang daerah Bandung.”

Yunan nyengir kuda. “Cuma lahir di sini aja. Dulu memang pernah tinggal di sini, tapi terus pada pindah ke Yogya. Mas Rifki sendiri, ada bisnis di sini atau punya keluarga?” tanyanya kembali.

Rifki menerawang. “Punya keluarga? Ya. Tapi saya tidak tahu dia di mana …” jawabnya suram.

“Oh, yang lagi dicari itu, ya? Kok bisa begitu bagaimana?”

Rifki tersenyum samar. Suasana jadi agak kaku selama beberapa saat, hingga Dell menendang lutut Yunan dari bawah meja sambil melotot ke arahnya. “Eh, pesan makan yuk, sekalian makan malam!” ujarnya mengalihkan pembicaraan.

“Nggak bisa! Pokoknya malam ini kalian harus makan masakan nenekku!” sahut Yunan seraya meringis, mengelus lututnya.

Berikutnya terjadi sedikit keributan kecil antara Dell dengan Yunan. Laiknya suami isteri saja. Kuperhatikan, Rifki terdiam. Matanya menerawang, seperti ada jutaan kerinduan yang terpendam. Tampak sekali pertanyaan Yunan tadi telah menyinggungnya. Mungkin memang ‘orang yang sedang dicari’ itu adalah keluarganya. Dan dilihat dari reaksinya, mungkin ada kejadian tak menyenangkan yang membuat mereka terpisah. Yah, semua tentu hanya tebakanku saja. Kurasa aku tak perlu ambil pusing dengan urusan pria yang baru kami kenal ini.

Kami berpisah setelah masing-masing menyantap seporsi kecil sup ayam hangat yang keukeh dipesan Dell. Rifki mendukung dengan mengatakan bahwa sup bawang dapat membantu meningkatkan daya tahan tubuh. Yunan langsung menurut saja karena saran itu keluar dari seorang yang mengaku sebagai dokter. Kami tidak menanyakan tujuan dia, namun Yunan sudah bertukar nomer handphone dengannya.

* * *

 

Gasibu, Bandung

“Uwaaah … sudah berapa tahun, ya, aku nggak main ke Gasibu?” Yunan menangkupkan kedua tangannya pada ujung depan topinya dan berpura-pura melihat jauh ke depan. Gayanya mirip sekali dengan tokoh kartun dalam komik-komik.

“Memangnya sudah berapa tahun kamu tidak pulang ke Bandung?” tanya Dell.

Yunan meringis. “Nggak kok, baru aja kemarin pulang, hi hi ….”

Dell sudah manyun dan bersiap dengan gaya mau memukul Yunan, tapi tentu saja tidak dilakukannya. Meskipun kami sekantor cukup cair satu sama lain, namun kami masih menjaga aturan-aturan pergaulan dalam Islam.

Sementara Dell asyik bertanya ini-itu tentang Bandung dan Gasibunya pada Yunan, aku sendiri melamun. Entah ada atmosfir apa, begitu menginjakkan kaki di lapangan Gasibu ini, perasaanku seperti diaduk-aduk. Entah kenapa, aku merasa lapangan yang hampir seluruh bagiannya dipenuhi oleh para pedagang asongan pada minggu pagi ini seperti mengancamku.

Lapangan Gasibu termasuk salah satu trademark-nya kota Bandung. Pada Minggu pagi suasananya sangat ramai. Manusia dari berbagai kalangan seperti membaur menjadi satu di tempat ini. Mulai dari yang sekedar jalan-jalan, makan, ataupun belanja. Mirip-mirip Stadion Manahan di Solo pada Minggu pagi (atau Solo yang memiripkan diri?). Aneka rupa makanan dijajakan di sini. Sate Jebred, Bubur Ayam, Lontong Kari, Nasi Campur, Semur Jengkol, Gulai Tutut (sejenis siput yang hidup di sawah atau kolam), buntil daun singkong, daun pepaya, ataupun daun talas, dan masih banyak lagi. Tak kalah dengan daerah asalku, ikan asin dan sambal terasi yang ‘nendang’ rupanya juga ada. Jangan salah, aku menceritakan aneka kuliner ini bukan berarti kami mencicipinya satu-persatu. Yunan yang memang gemar bercerita, dengan antusiasnya menyebutkannya satu-persatu dengan tangan yang melesat lincah menunjuk ke sana kemari. Aku dan Dell jadi semacam pasangan turis yang sedang dipandu oleh seorang guide yang sangat ramah.

Tapi sekali lagi, sekalipun Yunan menawarkan keceriaan untuk agenda jalan-jalan ke Gasibu ini, aku tetap merasa tidak nyaman. Terlebih saat melewati sebuah gedung besar dengan bagian atap yang bertiang mencuat ke atas. Mungkin karena itulah gedung yang pada masa penjajahan Belanda menjadi pusat pemerintahan kolonial itu dinamakan Gedung Sate. Gerdung yang menjadi ikon kebanggaan kota Bandung bahkan Jawa barat itu seperti mengingatkanku pada sebuah peristiwa besar yang telah terlupakan. Ya, aku benar-benar tidak ingat, ada kenangan apa aku dengan Gedung Sate maupun lapangan Gasibu ini. Seingatku aku belum pernah ke tempat ini. Namun satu suara dalam benakku mengatakan ada yang hilang dalam memoriku tentang tempat ini.

De javu?

“Silmi kenapa?” tiba-tiba suara Yunan mengalihkan perhatianku.

“Ah, enggak. Itu Gedung Sate, ya?” tunjukku ke arah gedung besar itu.

“Ya. Bandung punya tuh. Kamu nggak akan menemukan gedung sate yang lain di pelosok Indonesia selain di Bandung ini.”

Tuh kan … tidak mungkin dulu aku pernah ke sini. Batinku. Apalagi bila dikaitkan dengan perasaan yang aneh ini.

Perasaan apa ini? Aku benar-benar tidak mengerti. Ya, aku begitu tidak mengerti, kenapa ketika aku mnginjakkan kakiku ke lapangan yang begitu meriah dan ramai serta melihat gedung megah di depanku ini, hatiku merasa begitu … sedih?

“Melamun lagi ….” Suara Yunan kembali mengembalikan pengembaraan anganku. “Kayak si Dell tu lho, ke sana-kemari dengan ceria. Kalau kusut gitu kan aku sebagai tuan rumah merasa telah mengecewakan tamu …” Yunan pura-pura menekuk wajahnya.

Aku memaksakan diri tersenyum. “Enggak, Yu. Sama sekali nggak mengecewakan kok. Top service malah! Yuk, kita jalan lagi. Mana lagi yang belum kamu tunjukkin?”

Yunan meringis. “Naaah, gitu dong! Eh, bukannya itu Mas Rifki?”

Aku menoleh ke arah mana Yunan menganggukkan kepalanya. Seorang pria muda berkaca mata berjalan pelan ke arah kami. Saat itu Dell sudah kembali lagi bergabung denganku dan Yunan dengan kedua tangan yang telah meneteng dua buah tas plastik besar, salah satunya beisi boneka kelinci warna pink yang super besar.

“Assalamu’alaikum, lagi belanja?” Rifki mendahului menyapa kami, menyalami Yunan dan mengangguk takzim ke arahku dan Dell.

“Ha, enggak, cuman lagi mborong aja, Mas.” Yunan menyindir Dell yang langsung cemberut dikatai demikian. “Mas sendiri?”

Rifki tersenyum samar, memandang dengan sendu ke arah Gedung Sate. “Lagi mengenang sesuatu, hehehe ….”

Mengenang sesuatu? Apa dia juga merasakan hal yang sama seperti yang kurasakan saat ini? Matanya begitu sendu saat menatap gedung sate itu. Seperti terluka akan sesuatu. Sebenarnya ada apa ini? Kenapa pria ini juga …?

“Pernah ada kejadian tak terlupakan di sini, Mas?” entah kenapa tiba-tiba mulutku sudah melontarkan pertanyaan itu sebelum otakku sempat mengeremnya.

Rifki menoleh ke arahku sesaat, lantas memandang sendu ke arah Gedung Sate kembali. “Ya. Sesuatu yang tak terlupakan … benar. Mungkin hal yang biasa bagi orang-orang yang memiliki keluarga. Tapi sesuatu yang …” Rifki menelengkan kepalanya sedikit, “menyakitkan …?” sambungnya seperti tak yakin.

Yunan dan Dell saling memandang, kemudian ke arahku. Aku mengendik ragu. Apa jangan-jangan kami sudah membangkitkan kenangan buruk pada Rifki? Kalau memang itu yang terjadi, sungguh berarti kami ini kawan perjalanan yang sangat buruk. Sudah ditolong begitu banyak malah membuat Sang Ksatria ini bersedih hati.

Yunan segera mengambil inisiatif mengajak kami semua mampir ke kedai siomay dan batagor langganannya untuk mencairkan suasana. Dell langsung menyambut dengan penuh suka cita. Sementara aku … rasanya aku kembali tenggelam dalam sebuah kenangan buruk yang tidak bisa kuingat. Sesuatu yang … seolah-olah sudah lama kulupakan.

Ah … menyakitkan, ya? Apa rasa itu juga yang menderaku saat ini?

Sebenarnya ada apa ini? Apa yang terjadi padaku, yang berhubungan dengan tempat ini?

* * *

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *