INTIP 2 BAB PERTAMA NOVEL “THE SECRET OF ROOM 403”

Novel thriller satu ini baru saja diganjar sebuah nominansi bergengsi di ajang Islamic Book Fair Award. Hal yang tidak mengherankan, sebab Riawani Elyta menyajikan cerita yang sangat menarik. Elemen sejarah, intrik politik, dan unsur spekulatif terjalin apik.

Aliff larut dalam kesibukannya menulis skenario sinetron. Kala dia berencana untuk rehat sejenak, Goerge datang menawarkan sebuah proyek. Proyek yang menariknya menuju sebuah titik pencerahan. Proyek yang juga menariknya pada pusaran tragedi pembantaian di masa silam.

Berbekal sebuah bundel misterius, Aliff dititahkan menulis novel biografis tentang sosok dari kalangan militer, ayah dari salah seorang bakal calon presiden yang akan berlaga di pilpres mendatang. Kejanggalan demi kejanggalan dia temukan. Naluri dan nuraninya terhenyak. Terlebih saat Revi, gadis sederhana yang dia kenal di tengah liburan, menunjukkan sebuah buku catatan dengan tulisan tangan yang persis sama dengan tulisan dalam bundel itu.

Aliff tercengang. Hanya satu pertunjuk yang ia temukan; 403.

Nah, kali ini mari intip dua bab pertama novel ini. Let’s ceki-ceki….


BAB 1


Mushala Ar-Raudah, 12 September 1984

“Allahu akbar!”

Takbir pertama berkumandang. Lirih diikuti para jemaah Isya’ yang bershaf di belakang sang imam. Jumlah mereka tidak sampai empat puluh orang. Dan dengan jumlah itu, mereka hanya perlu membentuk dua shaf di belakang imam. Tak terlihat makmum perempuan. Tabir dari kain hijau yang biasanya menjadi pembatas, hari ini dibiarkan tersampir begitu saja pada tali yang dipaku di kedua sisi dinding mushala.

Sejak beberapa bulan terakhir, mushala itu memang hanya terlihat ramai saat ada pengajian rutin, ataupun ketika anak-anak belajar mengaji. Jadi, sememangnya tak ada yang terlihat ganjil malam ini. Para jemaah itu juga bukanlah siapa-siapa. Hanya sekelompok pria yang jiwanya masih terpanggil untuk menunaikan shalat berjemaah. Para pria  yang tak ingin mengotori pikiran dengan prasangka apapun. Termasuk prasangka atas peristiwa yang terjadi beberapa hari lalu di mushala.

Ketika itu, sholat Ashar berjemaah baru saja usai saat dua orang pria berseragam Babinsa datang. Tanpa ba-bi-bu langsung menyuruh jemaah untuk melepas pamflet yang tertempel di dinding luar mushala. Tak sekadar memerintah, tetapi juga membentak, memaki dan mengumpat. Andai saja mereka bukan “aparat”, detik itu juga mereka pasti sudah diusir.

Keduanya kembali datang keesokan harinya. Lalu menatap penuh amarah seraya mengumpat-umpat di depan pamflet-pamflet  yang masih tertempel di dinding. Tak seorang pun peduli pada apa yang mereka perintahkan. Bagi para jemaah, mushala adalah tempat untuk menjalankan perintah sang Mahakuasa. Bukan tempat untuk mematuhi orang-orang yang datang dengan sikap arogan juga tanpa etika.

Cetek! Lampu mushala mendadak padam. Tiba-tiba saja….

Dor! Dor! Dor!

Dor! Dor! Dor!

Dor! Dor! Dor!

Runtut bunyi tembakan memecah gulita. Susul menyusul dalam kecepatan per mili detik. Pertanda bahwa senjata yang memuntahkan puluhan peluru itu, jumlahnya tak hanya satu.

Suara sang imam sesaat lenyap, berganti rintih. Lalu terdengar suara mengaduh, menyebut nama Tuhan. Dalam kegelapan, tak seorang pun tahu persis apa yang baru saja terjadi. Sebagian berusaha merangkak keluar, mencari pertolongan. Sebagian memilih untuk bertahan. Membasahi bibir dengan dzikir lirih “Allah, Allah.” Bukan karena jiwa mereka telah pasrah, tetapi dalam setiap detik yang bergerak, bagian tubuh mereka yang tertembus peluru tak henti-hentinya mengucurkan darah, seiring denyut jantung dan detak nadi mereka yang kian melemah.

Namun, tak seorang pun tahu, bahwa ini bukan akhir.

Ini hanyalah segelintir, dari serentetan peristiwa tragis yang kelak akan membangkitkan kenangan getir.

Juga tak seorang pun tahu, bahwa dalam beberapa jam ke depan, situasi di tempat ini telah kembali normal. Tidak ada jejak kematian. Tidak ada selongsong peluru. Tidak ada korban tertinggal.

Juga tak pernah ada…. keadilan.

 


BAB 2


Batam, November 2013

Kalau lidahmu sudah mencecap air di sini, percayalah, sejauh mana kau bergerak, hatimu tetap akan memanggil langkahmu, untuk kembali pulang.

Aku mencebik. Tumben pula Fahmi menulis pesan sepuitis ini. Dia pasti sekadar menyalinnya dari internet lalu mengirimkannya kepadaku. Segera kubalas. Akan kubuktikan. Tunggu kedatanganku.

Tinggal sepelemparan batu saja lagi, aku akan tiba di kota kelahiran Fahmi. Bukan semata-mata demi pembuktian, tetapi karena sejak lama aku memang ingin melarikan diri seutuhnya. Lari dari kesibukan yang mencekik, dari kejaran deadline yang terkadang membuatku panik, juga dari kemacetan Jakarta yang hanya membuatku cepat tua. Kalau saja denyut kehidupan negeri ini tidak menjadikan Jakarta sebagai jantung, sudah pasti aku lebih tertarik untuk mencari jantung yang lain. Jantung dengan kekuatan pompa yang lebih bugar, mengalirkan darah yang lebih segar, bukan pompa yang tertatih-tatih, dan sering menyumbat aliran darahku dengan debu, kotoran, dan juga polusi.

Ponselku bergetar lagi. Knp pulak kau ke Batam dl? Dah hbs tiket ke Pinang-kah? Atau kau nak menyeberang dl ke Spore?

Hmm, jangan-jangan Fahmi sedang terperangkap di ruang rapat, hingga dia tak bisa menelepon selain hanya mengirim pesan. Aku membalas lagi.

Aku mau belanja dulu. Nt kukabari begitu tiba di pelabuhan.

“Ke mana, Pak?” Sopir taksi di sampingku bertanya. Saat ini, taksi berwarna silver yang kutumpangi baru saja meninggalkan area bandara Hang Nadim.

“Nagoya Hill. Betul ‘kan itu namanya, yang pusat gadget?”

“Betul, Pak. Bapak mau beli handphone, tablet, ipad, laptop, apa notebook?” Lelaki ini menyebut jenis-jenis gadget itu dengan fasihnya.

Smartphone deh, pokoknya. Murah ‘kan, di sana?”

“Tergantung hoki, Pak. Kalau lagi murah, ya murah, kalau tidak, ya tidak.”

“Maksudnya?”

Sopir taksi itu tersenyum. “Tergantung kurs, Pak. Juga pandai-pandainya kita mengenal barang. Yang KW 1, KW 2, KW super, itu harganya beda-beda. Tapi bentuknya mirip-mirip saja. Kalau tak jeli, susah membedakannya.”

Aku tertegun. Namun sejurus kemudian, kuanggukkan kepalaku penuh yakin. “Oh, ya, ya. Betul itu.”

Nyatanya, aku tak bisa membedakan mana gadget tiruan dan mana yang asli. Jangan tanyakan pula, bagaimana aku bisa mengenali “kelas” replikanya. Untuk kau ketahui, semua piranti teknologi yang kumiliki sudah distempeli label besar: gratis.

Aku diganjar ponsel saat menang lomba artikel, blackberry-ku adalah hasil memenangkan lomba blog, dan notebook sembilan inchi yang kini terguncang-guncang dalam ranselku, adalah pemberian Davesh. Jadi, jujur saja, dalam lima tahun terakhir, aku tak pernah merasakan sensasi bertanya-tanya pada penjual gadget, menawar harga, lalu memutuskan untuk membeli atau meninggalkannya. Aku juga tak terlalu peduli dengan fitur. Sejauh ini, fungsi gadget bagiku hanyalah sebatas untuk komunikasi dan mendukung pekerjaanku.

Namun, hasutan teman-temanku yang pernah sampai di pusat gadget ini seraya memamerkan ponsel pintar mereka yang up-to-date, berkamera canggih dan berfitur lengkap, konon pula dibeli dengan harga superfantastis –fantastis miringnya– akhirnya membangunkan juga keinginanku untuk sedikit berfoya-foya dari tidur panjangnya.

Katakan aku beruntung. Dalam lima tahun terakhir, aku memang tak pernah mengalami kesulitan uang. Saldo tabunganku selalu bertambah setiap bulan, pulsaku selalu terisi sebelum habis, dan aku hanya mengambil dana seperlunya untuk kebutuhan sehari-hari.

Jadi, berada di tengah lautan gadget yang hanya kukenali merk dan jenisnya ini, aku berusaha untuk tetap percaya diri. Jangan sampai aku terlihat seperti orang yang tak tahu persis mana gadget yang akan kupilih.

Nagoya Hill belum terlalu ramai pada jam sepuluh tiga puluh. Menurut sopir taksi, rata-rata mall di sini memang baru buka pada jam sepuluh.

“Mau yang mana, Pak?” Seorang pria berwajah etnis bertanya, saat aku merendahkan kepala di atas etalase tokonya yang memajang berbagai jenis gadget.

Aku menunjuk perangkat tipis berwarna abu-abu yang berada persis di tengah. “Yang ini berapa?”

Dia ikut merendahkan kepalanya lalu menekan tombol kalkulator. Aku sempat mengintip dia mengalikan dua nominal angka, (aku teringat ucapan sopir taksi, sepertinya ini yang dia maksud dengan “harga tergantung kurs”).

“Itu net-nya delapan juta lima ratus.”

Aku mengernyit. “Kenapa mahal bener?”

“Itu yang ori, Pak.”

“Lalu, kalau yang KW?”

Wajah pria itu berubah. Sejenak melirik kiri kanan, merendahkan suaranya saat menjawab. “Di sini semua original punya, lho. Bapak boleh cek.”

Begitu? Aku kembali melihat-lihat deretan kotak persegi yang ada di dalam etalase. Beberapa sudah dilabeli harga, dan tak satu pun di bawah angka lima juta.

Seorang pria yang tengah melihat-lihat sarung ponsel berbisik di sampingku. “Kemarin baru ada razia KW, jadi semuanya disimpan, yang dipajang hanya yang ori.”

Begitu? Aku mengetuk-ngetuk kaca etalase, menimbang-nimbang. Aku tidak mungkin pergi dari sini sebelum membeli. Mataku mengedari sekeliling. Pandanganku lalu tertancap pada sebaris nama toko di bawah terangnya lampu neon, Fortune Shop.

“Maaf, Mas, anda tahu di mana Fortune Shop?” Aku bertanya pada pria di sebelahku. “Minggu lalu teman saya beli Note 3 di sana, dan sekarang, dia nitip dua gadget yang sama.”

“Oh, toko itu…. di sana.” Pria itu mengacungkan telunjuknya pada toko dengan penerangan paling maksimal di lantai ini.

Aku mengucapkan terima kasih. Baru saja berjalan beberapa langkah saat pria etnis di depan etalase tiba-tiba mencolek lenganku. Nyaris berbisik dia berkata. “Ini kita punya stok yang Bapak cari. Baru datang punya. Net-nya tiga juta delapan ratus aja.”

Pria itu lalu membuka lemari di belakangnya. Memamerkan sederet kotak-kotak persegi yang tersusun rapi di dalamnya.

Aku mengulum senyum. Sesaat merasakan gelembung kemenangan.

 

 

“Nanti kau dijemput kerabatku. Revi namanya. Nomor kau sudah ada padanya. Sori, aku ada urusan mendadak, salah kaulah, siapa suruh main dulu di Batam.”

Setelah puas berbalas pesan, barulah siang ini aku mendengar suara Fahmi saat menjawab panggilanku. Lima tahun meninggalkan Jakarta, panggilan logue sudah benar-benar pamit dari lidahnya, terganti oleh logat Melayu yang kental.

“Nggak dijemput juga nggak apa-apa kok. Angkutan umum banyak ‘kan?”

“Mumpung Revi lagi di pasar. Jadi sekalian bisa jemput kau.”

Pasar? Pelabuhan? Memangnya mereka berdekatan?

Aku belum lagi bertanya, ponselku sudah berbunyi bip bip pertanda nyawanya akan segera tamat.

Aku memilih kursi dekat jendela seraya mencolokkan ponselku pada powerbank. Dari jendela kaca ini, aku melihat orang-orang yang berdiri di tepi dermaga mulai menjauh, mengecil, lalu berganti riak-riak gelombang seperti gumpalan buih sabun.

Rasa kantuk mulai menyerangku. Sepiring nasi padang yang kulahap sejam lalu tampaknya mulai bereaksi. Aku memejamkan mata, menutup separuh wajahku dengan topi. Rasanya, aku baru saja terlelap saat lantai kapal ini terasa bergerak naik turun dan tubuhku terasa berayun-ayun. Aku gelagapan. Lekas kubuka topi dan melihat sekeliling.

Tetapi… hey! Kenapa semua penumpang justru tenang-tenang saja?

“Kau datang bertepatan musim angin utara. Ombak tengah kencang. Kalau tak biasa naik kapal, nanti kau mabuk laut. Kenapa tak langsung saja kau naik pesawat ke Tanjungpinang?”

Itu ucapan Fahmi di ponsel sesaat setelah pesawat yang menerbangkanku dari bandara Soetta mendarat dengan selamat di Hang Nadim. Awalnya, kukira Fahmi hanya menakut-nakutiku. Tetapi, sejurus kemudian, gerak naik turun kapal ini yang lebih kuat lagi seakan-akan menegaskan kebenaran ucapan Fahmi.

Aku mulai pusing. Aku mencengkeram jok kursi depan sambil menarik napas dalam-dalam. Gelombang belum juga reda. Aku mulai gelisah. Tetapi, alih-alih menyuruh lidahku untuk berdoa, ingatanku justru terpaut pada novel yang kubaca kemarin malam. Kisah tentang orang-orang yang terperangkap di bawah reruntuhan akibat gempa, lalu berupaya mengatasi rasa takutnya dengan mengingat momen terpenting dalam hidup mereka untuk diceritakan.

Aku memilih melakukan itu. Menyibukkan pikiran dengan memutar memori, merunut kembali semua alasanku hingga sampai ke kota ini.

 

 

Jakarta, sebulan lalu

Ponselku memekik. Pasti dari Davesh. Bos besarku di rumah produksi Shangrilla. Pria ekspatriat penggila kerja yang sudah mencoret hampir semua hari libur dalam kalendernya. Celakanya, dia juga “mengondisikan” semua anak buahnya untuk memiliki almanak yang sama.

Nyaris tak ada hari libur dalam kamus para kru Shangrilla. Mulai dari sutradara, pemain, juru rias, tukang gotong peralatan, hingga penulis skenario. Dan apa yang kusebut terakhir ini, menjadi denyut nadi hari-hariku dalam lima tahun terakhir. Juga beberapa pekerjaan lain yang semula hanya kuanggap sebagai pengisi waktu senggang: menjadi co-writer, ghost-writer, blogger, dan kontributor media online. Semua “pengisi waktu” yang akhirnya benar-benar merenggut nyaris seluruh waktu senggangku yang tersisa.

Terkadang, saat sejenak merebahkan diri di kedinian hari, memandang langit-langit kamarku yang sudut-sudutnya menjadi tempat favorit laba-laba memintal sarang. Aku iseng menghitung berapa jam yang kujalani di depan notebook dan berapa jam saja yang tersisa untuk melarikan diri ke alam mimpi. Setelah itu, reaksi pertamaku adalah terbeliak mendadak, lalu menggeleng-geleng seperti orang sakaw, dan baru di menit ketiga, aku memutuskan untuk melupakan hitung-hitungan itu dan segera tidur.

Aku tak tahu berapa menit yang kubutuhkan sampai benar-benar tertidur pulas. Aku biasanya terlebih dulu melakukan bermacam-macam gaya di atas ranjangku yang berukuran king size. Melengkung ke kiri, ke kanan, telentang, telungkup, dan tahu-tahu saja aku terbangun dengan posisi sebelah kaki terjuntai ke lantai.

Tolong, jangan dulu berpikiran macam-macam. Sampai hari ini, aku tidak pernah menghabiskan malam-malam pendekku bersama sesuatu yang bisa bernapas, bergerak, mendengkur, atau merayu. Aku sudah merasa cukup dengan ranjang besar yang memungkinkanku bisa berputar bebas seperti jam, tidur kapan saja tanpa peduli hitungan jam. Juga tanpa merasa bersalah atas hitung-hitungan waktu tidurku yang tak pernah lebih dari tiga jam.

Kupikir, ritual ini akan terus berlanjut, kalau saja bunyi panggilan barusan tak keburu menghadirkan gempa yang kemudian mengocar-ngacirkan zona nyamanku. Itu bukan dari Davesh. Melainkan Adul, rekan kerja yang bolehlah kuanggap sebagai salah satu sahabat terbaikku.

“Kenape, Dul? Laptop lo ngadat lagi?” Aku bertanya tanpa basa-basi.

“Lo ingat Dina nggak?” Adul mengabaikan pertanyaanku. Suaranya terdengar lelah dan putus-putus seolah-olah dia tengah berlari di atas treadmill.

“Dina… Dina yang copywriter, yang tempo hari dapet orderan iklan parfum Gracious?”

“Bener, Dina mana lagi? Dia baru meninggal, Al. Dua jam lalu.”

“Apa?” Otot mataku spontan menegang. “Kenapa meninggalnya, Dul? Di mana?”

“Kata teman-temannya, karena kelelahan. Lo tau ‘kan ritme kerja dia gilanya kaya’ apa? Gara-gara ngejar deadline, dia kerja nggak berhenti-henti, seharian pol, juga nggak pake tidur. Tadi sore dia masih hang out Atrium, eh, tiba-tiba saja pingsan.  Langsung dibawa ke rumah sakit. Tapi, dua jam lalu, Dina sudah nggak ada.”

Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un….” Aku mendadak lemas. Sesaat, memoriku menghadirkan sketsa gadis mungil itu. Usianya baru 22, rambutnya lurus sebahu, berponi pagar, dan mata bulat kecilnya selalu bersembunyi di balik kacamata kudanya.

“Lo masih di situ, Al?”

“Ma…. masih,” Aku tergagap. “Terima kasih, Dul. Besok pagi gue ngelayat.”

Aku melempar ponselku ke ranjang. Lalu memeluk kedua lutut, nanar menatap dinding kosong.

Inilah kali pertama dalam lima tahun terakhir, aku takut untuk terlelap. Takut bahwa ini akan menjadi lelap temporerku yang terakhir. Takut kalau malaikat maut akan datang menjemput sebelum matahari pagi mengetuk dan menghangatkan jendela apartemenku.

Ini pula kali pertama dalam lima tahun terakhir, kuputuskan untuk melakukan satu hal yang sudah tercoret lama dari kalender hidupku. Berlibur.

 

 

Aku tengah membongkar isi lemari untuk mencari ransel besarku saat ponselku berbunyi lagi. Siapa lagi ini? Kabar buruk apa yang hendak dia bagi? Penulis mana lagi yang wafat gara-gara dipaksa bekerja rodi?

Tolong, maafkan pikiran sarkastisku barusan. Menurutmu, alasan apa yang membuat seseorang tega menelepon pada jam empat Subuh kalau bukan untuk memberi kabar duka cita?

Orang-orang yang berada dalam atmosfer kehidupanku adalah mereka yang kadar gilanya tak jauh beda. Para workaholic sejati. Mereka yang menetaskan puluhan ribu kata per hari dari cangkang otaknya, menempeli belasan post-it di sisi meja dan halaman buku serta memenuhi kalender mejanya dengan lingkaran-lingkaran merah penanda deadline. Dan sejak kematian Dina, bunyi ponsel pada kedinian hari otomatis membuat dadaku berdebar dan benakku spontan membayangkan akan mendengar lagi sebuah kabar duka.

George. Nama yang ternyata muncul di layar, seketika mengerutkan keningku. Telah berbulan-bulan George tak pernah menghubungiku. Meski namanya beraroma impor, George seorang Batak tulen. Bermarga Hasibuan. Mungkin saja, George Bush Jr tengah berpidato lantang akan rencana invasinya ke Irak sesaat setelah George melengkingkan tangis perdananya di dunia.

“Halo….” suaraku serak dan berat saat menempelkan ponsel ke telinga. Mataku gagal terlelap malam ini. Jadi, kuputuskan untuk melakukan persiapan liburanku.

“Eh, kau lagi tidur rupanya? Kukira lagi begadang. Sori, mimpi indahmu jadi terusik, Bro.” George terkekeh. “Sebelum kau tidur lagi, gue punya kabar penting sekaligus menggembirakan buat kau, Al.”

“Apa?” Sergahku. “Kau berencana membujukku lagi untuk menerbitkan novel di bawah label penerbitanmu? Mencetak sepuluh ribu eksemplar pada cetakan pertama? Lalu menawarkannya pada produser yang juga seorang Hasibuan itu untuk diangkat ke layar lebar?”

George terbahak. Keras sekali. Kujauhkan ponsel dari telinga. Kubayangkan saat ini dia duduk di ranjangnya, tubuh sedikit gempalnya terguncang-guncang hingga sang istri yang berbaring di sampingnya terbangun karenanya, menatap tajam untuk memastikan bahwa suaminya tidak sedang mabuk atau mengigau, kemudian menghadapkan punggungnya pada George setelah yakin kalau yang dilakukan suaminya barusan hanyalah bicara di telepon.

“Ini jauh lebih hebat, Al. Gue berani jamin, bayarannya jauh lebih fantastis dari semua proyek-proyek penulisan yang pernah kau pegang. Dan kau bisa mengerjakannya dengan deadline yang lebih fleksibel, karena orang ini, menginginkan hasil yang perfect. Bukan seperti naskah kejar tayang ala Davesh, hingga seorang anak balita pun bisa mengajarkan puisi Khalil Gibran pada pamannya yang tengah dimabuk cinta.”

“Aku sedang tak butuh sindiran, George.”

Dalam hati aku mengutuk George. Apa yang dikatakannya barusan, pernah menyelip di antara puluhan ribu lembar skenario yang kutulis. Aku tak tahu apakah penonton setia drama televisi di seluruh negeri ini sempat memperhatikannya, tetapi George menontonnya, dan benar-benar menyadarinya. Kupikir, dia memang sengaja melakukannya, menonton semua sinetron yang menyebutku sebagai penulis skenario, lalu berusaha mencari-cari sesuatu yang absurd untuk mengejekku.

Padahal, semestinya George tak perlu bersusah payah. Cukup dia temani saja istrinya menonton sinetron pada jam-jam prime time, tak perlu pula sampai menyimak dengan serius, cukup mendengar istrinya mengomeli dialog-dialog dan mimik lebay para aktris, (namun entah kenapa, menurut George, istrinya tetap setia menontonnya setiap malam), dan dia bisa membombardirku dengan sejuta satu ledekan. Karena empat puluh persen skenario drama itu, adalah hasil kreativitas-ku. Davesh tak pernah ambil pusing dengan mutu dialog. Satu-satunya yang dia ambil berat, adalah berapa puluh lembar skenario yang bisa kuselesaikan dalam sehari.

“Oke, sekarang aku serius.” George berdehem. “Aku sudah merekomendasikanmu untuk menulis novel biografi dari ayah orang ini. Aku sudah memberi orang ini semua CV dan prestasimu, dan dia langsung setuju. Menurutnya, sebelumnya sudah ada beberapa calon, tetapi tak satu pun yang cocok. So, it’s your luck, right?”

“Tunggu! Dari tadi lo sudah tiga kali menyebut orang ini. Siapa sebenarnya yang lo maksud?”

George memelankan suaranya, separuh berbisik saat mengucapkan nama itu. Seakan tak sudi membaginya dengan angin sekali pun. Nama yang langsung menampilkan sesosok pria cerdas, kharismatik, tampan, dan lumayan ambisius dalam benakku, juga sejak belakangan ini kerap berseliweran di layar kaca. Menjadi tamu di berbagai acara talkshow berbobot, memperbincangkan topik-topik ekonomi dan politik dalam bahasa “langit”, seolah-olah menjadi ajang pamer akan ilmu dan wawasannya yang selangit. Secara profesi, dia cukup mentereng. Berada di jejeran para pembantu presiden yang tergabung dalam kabinet gotong royong, dan sampai hari ini, track record kementeriannya terhitung bersih, belum pernah diguncang skandal gratifikasi, perempuan, maupun korupsi. Satu hal yang mulai santer berhembus, bahwa orang ini, juga tengah mempersiapkan diri menuju kursi RI-1 pada pilpres mendatang.

“Bagaimana, Al? Sudah lama otak kau gatal untuk mengkhayal kisah yang mencerahkan, bukan? Lupa apa yang gue bilang dulu? Jangan terlalu lama bekerja ala pekerja pabrik, Bro! Nanti kau lupa bagaimana caranya menghasilkan tulisan yang cerdas dan berbobot.”

Sial. Dipikirnya kata-kata dalam otakku bisa termuntahkan begitu saja tanpa perlu berpikir, apa?

Sorry, George. Gue nggak tertarik. Gue mau pergi liburan. Gue udah susah payah meminta izin Davesh dan gue juga udah beli tiket. Jadi, silakan lo tawarin ke orang lain. Bye.

“Woy, jangan matikan dulu! Dengar! Kau tetap bisa jalani proyek ini tanpa mengganggu liburanmu. Kau pernah bilang bahwa kau sudah lama menginginkan “kebebasan”, bukan? Menulis sesuatu yang benar-benar kau inginkan tanpa harus berdesakan dengan waktu? Percaya gue, Al, ini peluang paling bagus buat kau!”

“Oh, ya?” Aku meledek George di depan ponselku. “Bisa lu jelasin di mana letak kebebasannya kalau ujung-ujungnya gue tetap harus menulis untuk kepentingan orang lain?”

Sayup-sayup terdengar adzan Subuh dari mushala di ujung jalan. Awas kau, George. Jika pagi ini aku sampai menyusul Dina gara-gara ngantuk dan kelelahan, maka kaulah yang akan pertama kuhantui!

“Tidak, ini berbeda, Al. Gue jamin itu. Apa yang lebih membahagiakan seorang penulis ketika dia tetap bisa menghasilkan uang saat liburan? Menulis sesuatu yang selama ini sudah menggelepar-gelepar dalam hasratnya? Kapan terakhir kali novel kau terbit? Tidakkah kau rindu sapaan penggemar-penggemarmu, Al? Mereka yang mengantri hanya untuk mendapat tanda tangan cakar bebekmu? Juga wanita-wanita yang berebut mengajakmu berfoto seakan-akan kau sama tenarnya dengan Iko Uwais? Lukman Sardi? Reza Rahadian?”

Shit. Aku tidak gila popularitas, George!

Sekali lagi, makian itu hanya bergema dalam benakku. Bagaimana pun, separuh keinginanku membenarkan ucapan George. Di luar urusan tanda tangan, pujian, dan foto-foto, aku merindukan semuanya. Aku rindu menulis novel. Aku rindu berkhayal menjadi seorang pengacara, aktor, musisi, atau seorang pebisnis ulung, menjadi tuhan atas jalan hidup tokoh-tokoh fiktifku, lalu memberi mereka kehidupan yang berbahagia di akhir cerita, atau sebaliknya, membiarkan pembaca menentukan sendiri nasib  tokoh yang mereka puja.

Aku rindu membaca lagi resensi-resensi pembaca yang bertebaran di blog-blog pribadi, goodread, media cetak, atau sekadar pengakuan “rahasia” yang dikirim lewat surel. Mereka yang merasa telah mengidentifikasi diri atau segelintir pengalaman hidup dengan kisah yang kutulis, seakan-akan menemukan teman senasib, lalu merasa puas saat menyadari bahwa mereka tak sendirian melewati peristiwa yang menurut mereka, jauh lebih tragis dari kisah siapa pun di muka bumi.

“Dan, ada satu lagi yang sangat perlu kau ketahui, Bro.” George memberi tekanan pada suaranya saat menyebut “sangat”.

Tuhan, demi apa gerangan, aku masih juga membiarkan George melancarkan bujukannya bak rayuan maut iblis pada hawa agar memakan buah khuldi?

“Tahukah kau, bahwa orang ini pun memiliki darah yang sama dengan kau? Tidakkah kau bangga, orang-orang yang sesuku bangsa dengan kau, yang selama ini kau anggap terlalu santai dan tak punya ambisi, kelak akan menjadi orang nomor satu di negeri ini?”

Cukup, George!

Aku membanting ponsel. Gusar hingga ke ubun-ubun. Namun, tanpa dapat kucegah, pada detik yang sama aku sudah menjelma Hawa yang rebah tak berdaya. Menggelepar dibuat obsesi manis yang berhembus dari bisikan iblis. Iblis bernama George.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *