INTIP BAB PERTAMA NOVEL “PESAN RAHASIA DARI HUTAN RIMBA”

 

Assalamu’alaikum, Adik-Adik dan Ayah-Bunda … Kak Lintang dari keluarga Indiva punya novel keren untuk jadi bahan bacaan yang ga sekadar seru, tapi juga mengandung pesan rahasia yang bermanfaat buat semua. Judul novelnya, PESAN RAHASIA DARI HUTAN RIMBA. Ditulis oleh Wahyu Noor S.

Pesan Rahasia dari Hutan Rimba bercerita tentang Zen, anak Jakarta yang sedang berlibur ke Jambi. Bersama dua temannya Ahmad dan Ruli, Zen tanpa sengaja tersesat di rimba belantara. Saat mereka berusaha mencari jalan pulang, bertemulah mereka dengan tiga orang anak yang tinggal di rimba. Merekalah berasal dari suku Anak Dalam.

Nah, mari intip bab pertama novel Pesan Rahasia dari Hutan Rimba.


I. BERLIBUR KE JAMBI


Liburan sekolah kali ini sangat menyenangkan bagi Zen. Karena ayah mengajak Zen pergi ke Jambi. Yaitu ke tempat Om Huda mengajar. Dan begitu melihat perkampungan tempat Om Huda bertugas … wow! Zen sangat takjub dibuatnya.

Inilah pertama kali Zen pergi ke Jambi. Di mana-mana banyak pohon. Di mana-mana warna hijau pepohonan.

“Pagi yang cerah!” Zen merentangkan kedua tangan sambil menghirup udara melalu hidungnya, lalu mengembuskan lewat mulutnya.

Udara sejuk dan segar. Berbeda sekali dengan Jakarta yang panas dan banyak polusi.

“Pagi yang cerah.” ulang Zen seperti berdeklamasi. Dia merentangkan kedua tangan lagi, menghirup udara melalui hidungnya lagi, mengembuskan lewat mulutnya lagi. Begitu berulang-ulang.

Matahari bersinar indah dan mengendap-endap dari balik pohon. Sinarnya berpendar-pendar menerobos celah-celah daun yang rimbun. Burung-burung bernyanyi sambil berlompatan dari dahan ke dahan dengan gembira.

“Ayo, jalan-jalan, Zen. Melihat-lihat suasana perkampungan!” seru Om Huda yang keluar dari dalam rumah bersama ayah Zen, yaitu Pak Samsul. Mereka menghampiri Zen yang berdiri di halaman.

“Ayo, Om!” jawab Zen penuh semangat.

Mereka  keluar halaman, lalu turun ke jalan. Jalan di kampung itu tidak beraspal. Di kanan kiri jalan terdapat rumah-rumah papan berderet. Masing-masing rumah memiliki halaman luas dengan banyak tanaman. Dan setiap halaman berpagar rapi. Pagarnya dari bilah-bilah bambu yang dicat warna-warni. Zen senang sekali melihatnya. Rumah-rumah itu sederhana. Tetapi, sejuk dan asri. Dan di belakang rumah adalah kebun yang luas. Berbeda sekali dengan rumah-rumah di Jakarta. Berhimpitan, panas, dan gersang tanpa tanaman.

Beberapa saat kemudian, pemandangan berganti. Tak ada lagi rumah-rumah di kanan kiri jalan. Namun, berganti dengan hamparan hutan yang luas. Suara-suara binatang terdengar riuh rendah. Suara burung-burung, siamang, tungkeret, belalang, tupai, jangkrik, dan … entah apa lagi. Zen tidak tahu namanya. Zen hanya mengira-ngira nama itu. Zen hanya tahu suara-suara itu terdengar kompak, serasi, dan … indah. Ah, pokoknya tidak ada sama sekali suara-suara seperti ini di Jakarta.

Mungkin ini yang disebut musik alam, ya? Dan musik alam itu membuat hati merasa tenang. Mungkin binatang-binatang itu sedang berpesta pora. Atau bahkan sedang bertasbih. Subhanallah subhanallah subhanallah. Sampai di pertigaan, tiba-tiba Zen berhenti melangkah. Dia memandang ke  arah jalan yang bercabang. Spontan Om Huda dan Pak Samsul menoleh dan turut berhenti.

“Ada apa, Zen?” tanya keduanya berbarengan.

“Cabang jalan ini menuju ke mana?”  Zen balas bertanya.

“Ke tengah rimba,” Om Huda yang menjawab.

“Wow,” mata Zen membundar takjub. “Ayo, kita menuju tengah rimba!” soraknya. Naluri petualangan Zen bangkit.

Om Huda tersenyum lebar.

“Silakan yang mau pergi ke tengah rimba!” Pak Samsul meledek sambil diajaknya Om Huda untuk melanjutkan langkah.

Sesaat Zen masih menantap ke arah cabang jalan, yakni arah barat. Seakan bertanya-tanya di dalam hatinya, ada apa di tengah rimba sana? Kemudian dia berlari-lari mengejar paman dan ayahnya yang berjalan lurus menuju arah selatan.

“Nanti kalau kamu sudah besar, jelajahilah hutan sesukamu. Pastilah kamu akan mendapatkan banyak pelajaran di sana,” nasihat Om Huda, begitu Zen sampai di sebelahnya.

Zen mengangguk-angguk.

“Nah, di ujung jalan itu pasar desa,” tunjuk Om Huda kemudian ke arah ujung jalan.

“Oh, ya? Jadi di situ letak pasarnya?” sambut Zen bersemangat seolah mendapat masukan lagi. Pandangannya lurus ke arah ujung jalan.

“Tetapi, sepagi ini masih sepi. Pedagang-pedagang belum pada datang. Sekarang, kita pulang dulu, ya?” dan Om Huda berbalik arah.

Om Huda melangkah dengah cepat. Seperti dikejar sesuatu. Zen dan ayah mengikuti langkah Om Huda yang tampak tergesa-gesa itu.

“Ada apa sih, Om?” Zen bertanya.

“Tidak ada apa-apa,” Om Huda menggeleng santai dan memperlambat langkah. “Kasihan tantemu sudah menyiapkan sarapan untuk kita. Nanti keburu dingin,” Om Huda tersenyum lebar.

Zen dan ayah tertawa mendengarnya.

“Saya  kira ada hantu,” gurau ayah.

“Tetapi, boleh juga sarapan. Soalnya perutku sudah keroncongan, nih,” kata Zen senang.

“Makanan melulu yang kamu pikir, Zen.” olok ayah.

Zen tertawa. Sedang Om Huda mengelus kepala keponakannya itu sambil tersenyum. Saat memasuki halaman rumah Om Huda kembali, terlihat seorang anak sebaya Zen di halaman rumah sebelah. Anak itu sedang menyirami tanaman.

“Hai, Ahmad!” panggil Om Huda seketika. Anak itu rupanya bernama Ahmad.

Anak itu tampak kaget. Dia menoleh sambil menghentikan pekerjaannya. Lalu mengangguk dan tersenyum begitu tahu siapa yang memanggilnya.

“Ini ada teman baru dari Jakarta!” Om Huda melambaikan tangan.

“Ya, Pak Guru!” jawab anak yang dipanggil Ahmad itu sambil menaruh ember dan gayung yang sedang dipegangnya.

Ahmad melangkah ke arah halaman rumah Om Huda. Sementara Zen, juga melangkah ke arah halaman rumah Ahmad. Rumah Om Huda dan Ahmad bersebelahan. Dibatasi oleh pagar bambu ukuran rendah. Pada pagar samping itu ada pintu penghubung. Di pintu penghubung itulah Zen dan Ahmad berpapasan. Keduanya sama-sama berhenti melangkah.

“Namaku Zen. Baru kemarin tiba dari Jakarta,” kata Zen spontan. Tersenyum dan berjabat tangan. “Keponakannya Om Huda,” lanjutnya.

“Namaku Ahmad,” balas Ahmad tersenyum. “Nanti kita bermain bersama, ya?” lanjutnya  ramah.

“Tentu!” sorak Zen. “Kita bermain ke dalam hutan?”

“Bukan ke dalam hutan, nanti bisa tersesat. Main di halaman saja atau di ladang juga boleh,” kata Ahmad.

“Itu juga mengasyikan.” sambut Zen girang.

Tanpa diketahui oleh keduanya, ada seorang anak mengintai dari balik dinding rumah pohon. Siapakah dia?

***


INFO BUKU


 

Judul               :  Pesan Rahasia dari Hutan Rimba

Penulis             :  Wahyu Noor S.

Penerbit           :  Penerbit Lintang

Tahun              :  Desember, 2016

Tebal               :  127 halaman

Harga               :  Rp 30.000,-

 

 

Zen berdiri sambil melempar senyum manis kepada ketiga anak rimba itu. Senyuman adalah bahasa yang bisa dimengerti oleh siapa pun manusia di dunia ini. Bahasa persaudaraan.

“Namaku Zen dari Jakarta.” seru Zen memperkenalkan diri. “Kami mohon izin untuk menginap di sini.

“Jakarta?” ucap ketiga anak rimba seketika. Ketiganya saling berpandangan.

“Jakarta,” ulang ketiganya. Lalu berlari pergi.

Mereka menerobos masuk ke dalam hutan. Melintasi jalan setapak, menuju arah bukit.

Zen, Ahmad, dan Ruli tercekat. Apa yang salah? Mengapa mereka malah berlari?

Wah, apa yang terjadi dengan Zen dan teman-temannya, ya? Sepertinya mereka tersesat di hutan. Dan … mereka bertemu dengan anak rimba. Apakah mereka akan berhasil keluar dari hutan? Apa yang akan dilakukan anak-anak rimba itu terhadap Zen dan teman-temannya? Segera temukan jawabannya dalam buku ini!

One thought on “INTIP BAB PERTAMA NOVEL “PESAN RAHASIA DARI HUTAN RIMBA”

  1. aidpsicilia says:

    Thanksfor the follow up.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *