Jangan Jadi Cewek Cengeng: Si Pinky yang Penuh Nutrisi

JJ CeCengeng

ISBN: 978-602-6334-18-3

Tebal: 208 halaman

Tinggi: 19 cm

Harga: Rp 50.000

Antologi motivasi kedua hasil Sayembara Indiva Cari Karya “Jangan Jadi Cewek Cengeng” sudah ready dan siap dikoleksi. Antologi yang dikemas pinky ini memang hadir supergirly namun tetap bernutrisi. Kedua belas karya dalam Jangan Jadi Cewek Cengeng membincangkan ketegaran perempuan dengan beragam kasus dan pendekatan.

  • Jangan Jadi Cewek Cengeng, Jadilah Cewek Tangguh!

Djayanti Nakhla Andonesi membuka dengan gaya yang meremaja dan kekinian. Djayanti memberikan tips untuk menjadi cewek kuat, ikhlas, pantang menyerah, dan optimis.

“Ya, kalau kita mau lebih jujur terhadap diri sendiri, sebenarnya tak ada masalah yang terlalu berat untuk dihadapi. Tak ada pula masalah yang sampai membuat kita mati berkali-kali. Tidak ada.” Tandasnya di halaman ke-14.

Kemudian ia menegaskan pernyataannya dengan mengutip lirik lagu yang dipopulerkan Kelly Clarkson, “… What doesn’t kill you make you stronger. And make you fighter…”

Ayu Wulan, Asri Istiqomah, dan Linda Satibi mengungkapkan hal senada. Ayu menyampaikannya dengan lebih straight forward dan dengan badass mengatakan, “Berhenti Mengeluh, Jadilah Tangguh!”

Sementara Asri Istiqomah memberikan paparan seputar ketegaran cewek dengan sentuhan yang lebih ilmiah dan bernuansa seorang kakak. Kata Mbak Asri, “Kalau ada masalah datang, ayo kita hadapi dan teriakkan pada si Masalah itu, ‘Hai masalah besar! Aku punya Allah Yang Mahabesar!’”

Lain hal dengan Linda Satibi. Penulis yang meraih penghargaan Fiksi Anak Terbaik dalam Islamic Book Fair lewat Zia Anak Hebat ini memiliki warna khas keibuan dalam gaya tulisannya. Mbak Linda bercerita tentang sulitnya tumbuh dalam kondisi keluarga yang tidak sempurna. Dia mengajak pembaca untuk menghadapi dari pelik permasalahan dengan berlapang dada, bersyukur,  sabar, dan mengambil hikmah atas tiap kejadian. Broken home tidak sama dengan broken dreams. Solusi ada di depan mata, tergapai atau tidaknya tergantung pada usaha dan strategi Anda untuk menggapainya.

  • Cewek Punya Pilihan: Maju, Diam, atau Tertinggal di Belakang

Usia remaja adalah masa yang  penuh dengan turbulensi psikologis. Melalui Batu Karang (V. Vanessa Augustine) dan  Perempuan Tanpa Sosok Ayah (Dewinta Dwi Cahyani), kalian akan dapat menangkap aroma teenage angst. Pembaca juga dapat belajar bagaimana they deal with those anxiety.

Vanessa Augustine menunjukkan determinasinya dalam Batu Karang. Menjadi berbeda kadang menjadi ujian bagi konfidensi. Akan tetapi jika menyikapinya dengan bijak dirimu yang berbeda justru dapat menjadi berlian.

“Aku benar-benar merasakan setiap nafas yang aku coba pertahankan, setiap degup jantung, setiap geraman air di telingaku. Saat hanyut itulah, aku dapat melihat warna-warni kehidupanku.” (halaman 86)

Rasa patah hati diungkapkan Dewinta Dwi cahyani dalam Perempuan Tanpa Sosok Ayah. Gadis yang dia kisahkan terluka oleh sikap abai ayahnya. Dia berharap dan dia dikecewakan. Tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah justru menyulut tekadnya untuk tumbuh menjadi sosok yang lebih kuat dan mandiri.

“Kita harus mempunyai tekad. Yakinkan pada diri sendiri, jadilah perempuan kuat, tegar, pantang menangis. Karena manangis bukan jalan kehidupan yang sesuangguhnya. Percayalah jika Tuhan pasti telah menuliskan rencana terbaik agar setiap umatnya bahagia dengan jalannya masing-masing.” (halaman 57)

  • Girl Power itu mewujud dalam kemandirian dan ketangguhan

Girl power? Well, bagi kalian yang menjaga jarak dengan konten berbau feminisme, jangan parno dengan istilah ini, karena kita sedang menggunakannya dalam tataran literal. Bahwa cewek yang punya tangguh dan mandiri selalu radiant dan menawan.

Cewek yang mandiri dan punya dayar tawar, inilah dirangkum Kavita Siregar.

“Berdasarkan pengalaman yang aku alami di lapangan, kita bisa kok menjadi yang terdepan, meraih impian kita. Gak cuma jadi cewek cengeng. Terlepas dari kata orang kita ini cewek, harusnya kita melakukan yang wajar-wajar saja sebagai cewek. Yang perlu digarisbawahi di sini adalah, kita sebagai cewek memang sepatutnya melakukan apa-apa yang sesuai kodrat cewek. Bukan berarti pula, cewek itu hanya berdiam diri dan selalu membutuhkan bantuan serta tidak mandiri.”

Dinah Khair menggambarkannya dengan Mademoiselle Lotus. Teratai.

“Si nona Teratai. Ibarat teratai yang tumbuh di air berlumpur dan harus senantiasa menjaga dirinya agar tidak tenggelam.” (halaman 141)

Irra Fachriyanthi berbagi kisah menyentuh tentang perjuangan perempuan melawan penyakitnya. Kisah ini mungkin akan membuatmu menangis, tapi juga sekaligus memberimu dorongan untuk berusaha lebih baik dan memberi lebih banyak.

“Berbagai tes dilakukan lagi dan hasilnya tetap sama. Hingga dokter pun menjatuhkan vonisnya, “Hidup tanpa rahim atau mati membawa rahim!”(halaman 94).

  • Tekad Perempuan menembus ketidakmungkinan

Bolehkah kita menyebut kisah tentang perjuangan untuk meraih impian, terutama dalam hal pendidikan dan karier, sebagai narasi yang klise? Karena kita sudah memiliki tons of its. Tapi membaca kisah seperti ini selalu menarik dan meniupkan ilham. Oleh karenanya, sulit rasanya untuk tidak melibatkan kisah sejenis ini. Kisah yang polos namun heartwarming.

Agustian Deny Ardiansyah, seorang guru di SMA Muhammadiyah Toboali, bercerita tentang kisah seoarng gadis yang berasal dari Desa Transmigrasi di Bangka. Gadis yang tak lain dan tak bukan adalah istri Agustian sendiri.

Mimpi dan perjuangan adalah kerja nyata.” (halaman138)

Home sick kala berada di perantauan adalah hal yang lumrah. Dan itu juga yang dialami pada gadis dalam fragmen yang dibagikan oleh Kayla Mubara. Bagaimana si gadis rantau menangani masalahnya?

“Saat kita jauh, orang yang ketika kita dekat tak kita rindukan menjadi terasa berarti. Saat kita jauh, kegiatan biasa bersama keluarga menjadi momen yang begitu berharga. Mungkin begini Allah menunjukkan ilmu-Nya padaku. Ilmu tentang hidup, bertahan, rundu, dan menghargai keluarga.” (hal. 34)

  • Oh Girls, belum ketemu jodoh? Don’t worry be happy….

“Kata siapa jadi jomblo itu nasibnya ngenes? Dih, hanya orang-orang yang pemikirannya sempit yang bilang kek gini. Memilih jomblo sampai halal itu soal prinsip.”

Isnaini S. Ibiz menutup antologi dengan final punch yang adorkable. Pernyataannya yang tegas justru menenangkan dan bikin cewek semangat buat memperbaiki diri dalam usaha menjemput jodoh. Bukan cuma buat di dunia, tapi juga seterusnya bersama hingga akhirat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *