JANJI SERIBU BAKAU

sumber gambar: http://www.anythingbali.com/menjelajahi-hutan-mangrove-bali/

sumber gambar: http://www.anythingbali.com/menjelajahi-hutan-mangrove-bali/

 

Oleh: Laksita Judith Tabina

 

Isna menatap keluarga Hani dari halaman rumahnya. Ada rasa sesak yang memenuhi dadanya. Mungkin di antara penduduk Kampung Nelayan yang tersisa, hanya Isna yang tidak mengantar kepergian mereka. Bukan karena dia tidak mau. Tapi dia tidak sanggup melihat Hani, sahabatnya karibnya, pergi meninggalkan kampung mereka. Dan sebelum rombongan itu menaiki perahu, Isna sudah menghilang ke dalam rumahnya.

Di ruang tamu Isna jatuh terduduk ke lantai. Airmata membanjiri wajahnya. Dia tidak percaya Hani akhirnya pergi seperti sahabat-sahabatnya yang lain. Rumah yang menjadi tempat berlindung bagi Hani dan keluarganya hanyut tersapu ombak. Hingga keluarga Hani terpaksa pindah ke tempat saudaranya yang tinggal di pulau seberang. Meninggalkan Isna juga meninggalkan kampung halaman mereka yang kini sepi dan keadaannya memprihatinkan.

Awalnya Kampung Nelayan adalah kampung yang ramai, indah, serta nyaman. Ada sebuah pantai berpasir lembut dengan deretan pohon kelapa yang bisa melindungi mereka dari panasnya matahari. Juga terdapat hutan bakau yang membentang panjang. Isna, Hani, serta teman lainnya selalu menghabiskan waktu di pantai. Mereka membantu ibu menjemur ikan asin serta membantu ayah membawakan hasil laut. Isna dan sahabat-sahabatnya juga bermain di sana. Mengejar ombak, mengumpulkan kerang, membuat istana pasir, serta bermain layang-layang. Tak jarang mereka berperahu bersama untuk mencari ikan sambil berenang di dekat hutan bakau yang airnya tenang.

Hasil tangkapan ikan penduduk Kampung Nelayan sangat melimpah. Ayah mereka tak perlu pergi jauh ke tengah lautan untuk menangkapnya. Di sekitar hutan bakau ikan-ikan begitu mudah didapat. Sebagian besar ikan itu dijual tapi selebihnya disimpan untuk dibawa pulang. Ibunya Isna pandai membuat berbagai macam hidangan dari ikan begitu pula ibu teman-temannya. Dan semua anak sangat suka makan ikan. Hidup mereka berkecukupan. Tak ada seorang pun yang mengeluh kekurangan. Semua penduduk hidup aman dan damai.

Suatu hari, muncul orang-orang tak dikenal yang sangat tidak ramah. Mereka tidak mau bertegur sapa dengan para penduduk kampung. Orang-orang itu lebih suka berada di hutan. Awalnya tak ada yang curiga dengan kedatangan mereka. Tapi semakin hari, semakin banyak orang berkeliaran di hutan bakau. Mereka datang berombongan sambil menumpang truk. Saat pergi bak belakang truk itu penuh dengan kayu-kayu hasil tebangan. Semua penduduk Kampung Nelayan tidak senang. Mereka menegur dan melarang penebangan pohon bakau secara liar. Namun orang-orang itu sangat pandai membuat alasan. Katanya mereka hanya akan mengambil sedikit kayu untuk dijual. Sebab mereka miskin dan tidak punya pekerjaan. Hasil penjualan kayu itu untuk membeli makanan keluarganya. Semua penduduk kampung merasa kasihan hingga membiarkan perbuatan itu. Tapi, ternyata para penebang kayu liar itu berbohong. Mereka menebang kayu sebanyak-banyaknya tanpa peduli lagi bahwa tindakan mereka telah merusak lingkungan.

Perlahan-lahan hutan bakau semakin menyusut. Kampung yang tadinya indah mulai gersang. Ikan-ikan yang dulu mudah ditangkap juga mulai berkurang. Banyak orang yang tak tahu apa sebabnya. Tapi guru di sekolah Isna mengatakan penyebabnya adalah berkurangnya pohon-pohon bakau di kampung mereka. Isna menjadi sedih. Demikian pula sahabat-sahabatnya.

Tak lama hutan bakau pun lenyap dan hanya menyisakan kayu tebangan yang bertebaran di atas tanah berlumpur. Ikan-ikan pun ikut menghilang. Semua nelayan terpaksa mencari ikan ke tempat yang jauh dan memakan waktu berhari-hari. Saat mereka pulang pun hasilnya sangat mengecewakan. Tak banyak ikan dapat mereka tangkap. Bahkan semua pulang dengan perasaan lapar, lelah serta perahu mereka kehabisan bahan bakar.

Sedikit-demi sedikit bencana mulai menyerang Kampung Nelayan. Suatu hari ombak besar menghempas hingga masuk ke kampung karena tak ada lagi hutan bakau yang menjadi pelindung. Lalu perlahan-lahan pantai lenyap disusul tumbangnya pohon-pohon kelapa. Jalanan juga musnah bahkan satu per satu rumah-rumah hanyut terseret banjir. Kampung Isna pun nyaris tenggelam dan hanya menyisakan sebuah bukit kecil dengan beberapa rumah yang masih berdiri, termasuk rumah Isna yang dulunya terletak paling jauh dari laut.

Sejak itu satu per satu tetangga Isna pergi meninggalkan kampung. Dia kehilangan sahabat karena rumah mereka musnah tersapu banjir. Bahkan penduduk yang tersisa harus menggunakan perahu untuk pergi ke pasar, ke sekolah ataupun ke tempat-tempat lain karena jalanan telah berubah menjadi lautan. Isna sendiri yakin suatu hari nanti rumahnya juga akan hanyut terbawa ombak. Dan kampung mereka akan lenyap untuk selamanya.

*****

Isna sangat sedih melihat keadaan kampungnya. Dan kini dia menyesal telah mengabaikan janji yang pernah dibuatnya bersama Hani.

Dulu, ketika bencana mulai menyerang kampungnya, Isna dan Hani telah berjanji untuk menanam1000 pohon bakau agar hutan mereka bisa kembali lagi. Saat itu guru sekolah Isna mengatakan bahwa bibit pohon bakau harganya tidak mahal. Dengan uang saku mereka berdua, Isna dan Hani bisa membeli sebatang bibit setiap harinya. Bila rajin menabung tak akan membutuhkan waktu lama untuk membeli 1000 bibit bakau. Tapi, janji untuk mengumpulkan uang saku tak pernah dilakukan. Uang mereka selalu habis untuk jajan atau untuk membeli keperluan lainnya.

Ketika kampung mereka semakin parah keadaannya danan semakin banyak sahabat yang pindah, Isna dan Hani kembali teringat janji menanam 1000 pohon bakau. Namun saat itu harga bibit pohon bakau sudah naik. Sementara uang saku mereka tidak sebanyak dulu lagi. Sebab penghasilan orang tua mereka kian tak menentu. Akhirnya, Isna dan Hani benar-benar melupakan janji mereka.

Setelah Hani pergi, barulah Isna teringat akan janji 1000 bakaunya. Kali ini dia bertekad untuk mewujudkannya. Sebab hanya itu satu-satunya cara untuk mengembalikan hutan mereka.

*****

Hari masih pagi. Bahkan matahari belum terbit. Tapi Isna sudah bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Dipakainya seragam merah putih yang sudah memudar warnanya. Setelah mengenakan sepatu bututnya Isna menyandang tas kain buatan ibunya. Hari ini untuk pertama kalinya Isna berangkat sendiri tanpa Hani.

Di luar langit masih gelap, tapi sudah ada beberapa orang yang menunggu perahu di tepi laut. Isna cepat-cepat berlari karena tak ingin ketinggalan perahu yang akan mengangkutnya ke seberang. Ketika perahu yang ditunggu datang, semua orang bergegas naik. Perahu itu tidak penuh karena hanya tinggal beberapa keluarga saja di kampungnya.

Pagi itu Isna tidak banyak bicara. Dia hanya menyapa seperlunya saja pada setiap orang yang ditemui. Isna masih merasa sedih karena kehilangan Hani. Perahu baru saja bergerak ketika terdengar suara memanggil. Semua penumpang menoleh. Dari daratan tampak Pak Arman berteriak sambil melambaikan tangannya. Pak Arman adalah tetangga Isna yang setiap hari membawa sampah-sampah di dalam karung. Perahu berbalik untuk menjemput Pak Arman. Sebentar kemudian perahu itu berlayar lagi. Isna tersenyum pada Pak Arman yang duduk di sampingnya. Karung-karung yang dibawanya tampak begitu berat. Dulu Pak Arman adalah seorang nelayan, tapi kini dia jadi pengumpul sampah. Sampah-sampah tersebut diambil dari sekitar rumah mereka. Karena air laut yang menerjang selalu membawa banyak sampah. Isna pernah mengintip isi karung itu. Di dalamnya ada plastik bekas, botol-botol bekas, kayu-kayu sisa tebangan pohon, dan masih banyak lagi.

Isna tak pernah tahu untuk apa sampah-sampah itu dikumpulkan. Mungkin untuk dibuang agar tidak mengotori kampung mereka. Isna jadi penasaran.

“Pak,” sapa Isna. “Memangnya sampah-sampah itu mau dibawa ke mana?” tanya Isna ingin tahu.

“Sampah ini mau dijual, Isna. Sejak bapak berhenti menjadi nelayan, bapak bekerja jadi pemulung. Dan dari barang-barang yang terbuang inilah bapak mencari nafkah. Mungkin ada yang berpikir pekerjaan bapak sangat kotor karena mengumpulkan sampah. Tapi berkat barang-barang ini, bapak bisa menyekolahkan anak bapak. Bapak juga bisa membuat lingkungan kita bersih dari sampah-sampah.”

Isna mengangguk-angguk. “Memang dijualnya di mana, Pak?” tanya Isna lagi.

“Kenapa? Isna mau juga, ya, jualan sampah seperti bapak?” kelakar Par Arman.

Muka Isna memerah.

“Kalau Isna ingin tahu kapan-kapan bapak ajak ke sana,” janji Pak Arman.

Isna hanya mengangguk sambil tersenyum.

Saat itu perahu yang mereka tumpangi telah berhenti di dermaga. Isna meloncat turun sambil tak lupa mengucapkan terima kasih pada tukang perahu. Sepanjang perjalanan ke sekolah dia sibuk berpikir hingga tak memperhatikan jalanan yang kini mulai ramai. Ketika hampir sampai di sekolah ada seorang anak kecil yang sedang mengamen di sebuah warung yang baru saja buka. Pemiliknya tampak marah.

“Pagi-pagi belum ada yang beli, sudah ngamen!” teriak pemilik warung. Di tangan kanannya ada sebuah keranjang yang penuh berisi sampah. “Memang mau dibayar pakai apa? Pakai sampah?” sambungnya sambil menggoyang-goyangkan keranjang di depan pengamen itu. “Sudah! Besok-besok lagi ngamennya!” sergahnya kencang.

Anak itu pergi sambil berlari. Isna menatap kepergiannya dengan iba. Tapi, mendadak langkahnya terhenti. Tiba-tiba, dia mendapat ide bagaimana mewujudkan janjinya yang telah terlupakan. Janji 1000 bakaunya.


Penulis: Laksita Judith T, Meika Hapsari, dkk.

Penulis: Laksita Judith T, Meika Hapsari, dkk

Halaman: 144

Harga: Rp 34.000,-

 

 

 

 

Apa yang akan dilakukan Isna selanjutnya? Bagaimana caranya dia mewujudkan janji seribu bakaunya? Simak cerita lengkapnya di Janji Seribu Bakau.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *