JUJUR BIKIN MUJUR

Sumber Gambar Pixabay

Oleh: Thomas Utomo*

 

SDIT Nur Hidayah adalah salah satu sekolah dasar Islam terkemuka, terutama di wilayah Surakarta. Banyak capaian prestasi yang telah ditorehkan warga sekolah ini. Tentu saja, hal tersebut tidak akan diraih tanpa adanya sederet program unggulan. Di antara program unggulan itu adalah ekstrakurikuler Jurnalistik yang saat ini diampu dua penulis produktif: Deasylawati Prasetya dan Ungu Lianza.

Buku Bahagianya Bisa Jujur merupakan salah satu monumen penanda keberhasilan ekstrakurikuler di sekolah yang juga menerbitkan majalah bertajuk Nur Hidayah ini.

Menariknya, hampir semua pelaku dalam sepuluh cerita pendek karya para siswa SDIT Nur Hidayah ini, merupakan tokoh yang memiliki perangai buruk.

Misalnya, para tokoh cerita pendek Pramuka Berbuah Sahabat ciptaan Irsyada Al Mumtaz adalah anak-anak yang suka berdebat dan bertengkar serta sukar kompak (halaman 6). Tokoh Azka dalam Ayat-Ayat Persahabatan rekaan Zahra Khairunisa Winanti, ialah pribadi pemalas yang gemar berbohong (halaman 15, 18). Sikap pemalas dan tidak sungkan berdusta juga ditemui dalam diri Lily di cerita Bahagianya Bisa Jujur karya Shofiyya Al Qonita (halaman 30-32, 36-37, 40) serta Ucok pada cerita Ucok dan Kebohongan karya Jianka Arkhadiva (halaman 74).

Sementara pribadi yang lebih suka mengambil jalan pintas dan enggan bersusah payah dijumpai dalam diri Ucok dalam cerita Ucok dan Kebohongan (halaman 81-82), Indira, tokoh cerita Indira dan Lomba Matematika karya Guirena Gahara Esthi Nugraha (halaman 109, 111), dan Alya pelaku cerita Kalkulator Kejujuran karya Labibah Amanina (halaman 126-127, 135).

Namun, dalam perkembangan kejadian berikutnya, para tokoh berperangai negatif tersebut perlahan-lahan mengubah kepribadiannya menjadi lebih positif. Perubahan sifat serta sikap yang paling menarik, dijumpai pada tokoh Feyla dalam cerita Gara-Gara Handphone karya Annisa Tsabita Zuhaira, tokoh Tiara dalam Hadiah Kejujuran Tiara anggitan Annafi’ah Fissilmi Samigus Surya Wijaya, dan tokoh Alya pelaku utama cerita Kalkulator Kejujuran.

Menurut Utami Munandar, seorang pakar kreativitas—sebagaimana dikutip dalam rubrik Fatherhood majalah Men’s Health edisi November 2007—ada perbedaan umum antara minat baca anak laki-laki dan perempuan dalam sifat dan tema cerita. Umumnya, anak-anak perempuan menyukai buku cerita dengan tema kehidupan keluarga dan sekolah. Sedangkan anak laki-laki lebih menyukai buku cerita petualangan, kisah perjalanan yang seram dan penuh ketegangan, cerita kepahlawanan, dan cerita humor. Bila ditilik secara keseluruhan, isi buku Bahagianya Bisa Jujur lebih cocok untuk bacaan anak-anak perempuan. Wallahu a’lam bish shawab.

 

*Thomas Utomo adalah guru SDN 1 Karangbanjar, Purbalingga, Jawa Tengah. Menulis novel Petualangan ke Tiga Negara  yang diterbitkan Indiva Media Kreasi. Dapat dihubungi lewat 085802460851 atau utomothomas@gmail.com.


Judul          :    Bahagianya Bisa Jujur

Pengarang  :    Shofiyya Al Qonita, dkk

Penerbit      :    Indiva Media Kreasi

Cetakan      :    Pertama, Juli 2018

Tebal          :    144 halaman

ISBN          :    978-602-5701-44-3

 

 

“Buku PR-ku manaa!? Bukuku hilang!” Lily terlihat menangis. Tapi di mataku, aku melihat Lily memaksa matanya untuk menangis.

“Kamu sudah mengerjakan, Lily?” Bu Sajidah menatap Lily.

“Sudah Bu … Tapi, bukuku hilaang....” Lily menangis tersedu-sedu.

—-

Namaku Faridah. Aku punya sahabat bernama Lily. Sahabatku ini malas sekali mengerjakan PR. Dan untuk menutupinya Lily tidak segan berbohong. Sampai-sampai Bu Guru pun dibohonginya.  Sebagai sahabatnya, aku tidak bisa tinggal diam. Aku harus melakukan sesuatu! Aku harus membantu Lily untuk disiplin dan berhenti berbohong. Aku harus menunjukkan indahnya kejujuran!

Nah, teman … baca kisahku dan Lily di kumcer ini. Di sini juga ada sembilan cerpen lain yang oke punya buat dibaca. Selamat membaca!

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *