KETIKA SEORANG REMAJA HARUS BERSIKAP MELAMPAUI USIANYA

Sumber Gambar: Pixabay

 

Oleh: Suratmi

“Luka, duka, derita, tak menunggu orang dewasa dulu untuk kemudian ditimpanya. Semua kepahitan itulah yang akan menempa kedewasaan (hlmn 60).”

Kehidupan remaja selalu identik dengan keceriaan, masa-masa pencarian jati diri, juga fase mulai mengenal cinta pada lawan jenis. Sehingga tak sedikit novel remaja yang menyuguhkan kisah percintaan para tokoh utamanya, atau gaya hidup kekinian. Berbeda dengan novel remaja kebanyakan, novel ini menyuguhkan cerita tentang seorang remaja yang harus menjadi dewasa untuk merawat ayahnya.

Rudi pernah mencecap masa-masa penuh cinta di rumahnya. Namun, semua berubah setelah ibuya meninggal. Sejak saat itu, Rudi tak hanya kehilangan sosok ibu, tapi juga sosok ayah yang terpukul dengan kenyataan itu.

Ayahnya begitu larut dalam kesedihan. Untuk mengusir kesedihan, ayahnya  mengajak pindah rumah. Setelah berada di rumah baru, ayahnya selalu murung. Tak hanya itu, ayahnya menjadi tak mau berbicara. Ayahnya lalu menjadi sosok yang asing baginya.

Namun, Rudi akhirnya harus menerima kenyataan pahit. Ayahnya ‘sakit’. Rudi kini harus merawat sang ayah. Rudi tak pernah menyangka, jika sakit ayahnya akan membuka tabir yang selama ini tak diketahuinya. Keadaan ini membuat Rudi harus bersikap dewasa melampaui usianya.

Secara umum novel ini cocok dibaca remaja, agar mampu menyikapi hidup yang sering tak sesuai keinginan. Di sisi lain, novel ini juga layak dibaca para orangtua, agar tak abai dengan keberadaan anak yang masih butuh perhatian. Jangan sampai orangtua larut dalam dunianya sendiri.

Kemampuan penulis dalam merangkai konflik mampu mengaduk-aduk emosi saya sebagai pembaca. Selain itu, penulis secara apik mengupas lokalitas masyarakat Sidenreng Rappang dan legenda Nenek Mallomo yang memperkaya wawasan pembaca tentang kekayaan lain di bumi nusantara.[]


AYAH, AKU RINDU


 

Penulis             : S. Gegge Mappangewa

Penerbit           : Indiva Media Kreasi

Cetakan            :  I, Maret 2020

Tebal                : 192 hlm

ISBN                 : 978-602-495-290-7

 

Samar-samar kudengar suara ayah. Ya, suara ayah. Suara yang telah lama kurindukan itu terdengar dari ruang tamu. Ada sebuah rasa yang menyusup ke dalam dadaku. Rasa bahagia yang melonjak-lonjak.

Doa itu …?

Doa yang selama ini kupanjatkan dengan menyebut nama ayah di dalamnya, ternyata begitu cepatnya dikabulkan. Padahal saya pernah pesimis, toh ayah sendiri yang pernah bilang bahwa tidak semua doa langsung dikabulkan. Butuh penantian. Butuh kesabaran.

Luka, duka, derita, tak menunggu orang dewasa dulu untuk  kemudian ditimpanya. Semua kepahitan itulah yang akan menempa kedewasaan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *