KETULUSAN, KEBENCIAN, DAN SEBUAH RAHASIA

Oleh: Siti Bandiyah

Apakah ini saatnya? Status pasien bernama Ramelan, penderita schizophrenia hebephrenic ada di tangannya. (hal. 18)

Tidak banyak novel yang mengangkat kondisi kejiwaan seseorang sebagai konflik. Cinta Suci Adinda, sebuah novel dengan latar RSJ di Solo mempunyai daya tarik tersendiri. Afifah Afra, penerima Anugerah Prasidatama 2014 Tokoh Sastra Indonesia dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah itu mengajak kita mengenal Adinda, tokoh utama, seorang perawat berhati lembut yang akan menolong si penderita schizophrenia.

Novel ini diawali dengan dialog para perawat RSJ yang membicarakan dokter idola. Dialah dr. RM. Irhamudin Prasetyo, Sp.KJ, dokter yang mendapat award dari sebuah koran nasional papan atas sebagai Man of the Year dalam kategori medis.

“Reza Rahadian? Hm … tampang boleh sih, mirip. Tapi soal kualitas, doi jelas lebih yahud! Udah ganteng, pintar, berprestasi, kariernya selangit lagi!”(hal. 6)

Dokter Irham adalah tokoh utama kedua dalam novel ini. Dialah yang akan menguak rahasia tentang penyakit schizophrenia paranoid[1] yang diderita oleh tokoh berikutnya, seorang pengusaha sukses dan trainer bernama Brata Kusuma.

Sedangkan sang tokoh utama, Adinda adalah gadis dengan NEM sangat menakjubkan. Tapi apa daya, karena kondisi ekonomi keluarga yang miskin, Adinda tidak bisa melanjutkan sekolah. Oleh bibi yang membesarkannya, ia disarankan untuk mencari seorang bernama Brata Kusuma dan meminta pekerjaan padanya. Pada akhirnya Adinda menjadi pembantu di rumah super mewah sang pengusaha.

Pada novel ini, pembaca akan disuguhkan beberapa teka-teki yang akan membuat penasaran. Tentang hubungan Adinda dengan Brata Kusuma, tentang kebencian anak-anak si pengusaha terhadap Adinda dan tentang penyakit skizofrenia paranoid.

Sewajarnya, saat orangtua sakit, anak akan mencari cara agar orang tuanya sembuh. Tapi tidak dengan anak-anak Pak Brata. Sikap mereka sungguh aneh, telah satu tahun papanya sakit, tapi mereka biarkan tidak mendapatkan perawatan medis. Ada dendamkah di hati anak-anak itu? atau karena pesimis bahwa penderita  skizofrenia paranoid bisa disembuhkan?

“Dia juga berstatus sebagai pencuri, karena memasuki rumah orang tanpa ijin. Dia itu cuma mantan babu.”  (hal. 166). “Dan kau … kenapa tak segera menyusul dokter sinting itu minggat dari rumah ini?” (hal. 167)

Kata-kata kasar dari anak-anak Pak Brata kepada Adinda cukup menjadi bukti betapa bencinya mereka kepada gadis perawat itu. Ketiga anak pengusaha kaya tersebut bahkan menjebloskan Adinda ke penjara karena suatu tragedi yang sangat janggal.

“Celaka Ndoro … celaka! Ndoro Brata tak ada di kamarnya. Beliau, beliau hilang!” (hal. 195)

Pada akhir cerita, dr. Irham yang super cerdas menemukan akar permasalahan dan rahasia di balik ketidak pedulian anak-anak Pak Brata terhadap papa mereka. Juga kenapa mereka sangat membenci Adinda. Hubungan Adinda dan pengusaha kaya itu pun tersingkap. Jelaslah motif sesungguhnya, kenapa Adinda berkeras ingin mantan majikannya sembuh.

Adegan adu urat bahkan sampai saling jotos menjadi pembuka bab terakhir novel ini. Perkelahian dengan melibatkan preman dan polisi menjadi tambahan daya tarik. Hingga pada akhir kisah, hubungan ketiga tokoh utama: Adinda, dr. Irham, dan Pak Brata mampu penulis akhiri dengan manis meskipun sedikit menggantung.

Novel ini sedikit berbeda dengan karya Afifah Afra yang lain. Tidak seperti novel sebelumnya yang beraroma sejarah dan perjuangan, novel ini justru mengangkat isu yang marak akhir-akhir ini seperti gejala kejiwaan yang sering disebut sadisme. “Dia selalu menyiksa pasangan hidupnya untuk mendapatkan puncak kepuasan seksual. Perilaku itu dalam ilmu jiwa disebut sadisme.” (hal. 93)

Kesan narsis juga membuat novel ini lebih segar dan mengundang tawa, “Saat Pak Brata membawanya ke toko buku untuk memilih hadiah, Adinda memilih beberapa buku. Buku syair Jalaludin Rumi, satu novel dari novelis favoritnya, Afifah Afra, dan satu novel filsafat Dunia Shopie.” (hal. 74)

Paling penting, dalam novel ini terdapat kata hikmah yang akan membuat pembaca mendapat nasihat kesehatan tanpa merasa bosan atau digurui. “Pancaran matamu keruh, jangan-jangan kamu telah jauh meninggalkan wudhu dan sujud menghadap Illahi.” (hal. 157) “Dalam masalah penjagaan fisik, dalam ajaran agama kita mengenal konsep halal dan thayyib. Thayib itu ya bergizi, sehat, segar, tidak basi dan sebagainya.” (hal. 161). “Untuk melegakan hatimu, ambillah air wudhu lalu bersujud selama mungkin di hadapan Illahi. Pastikan kamu melihatNya. Jika kamu tidak bisa melihatNya, maka sesungguhnya Dia Maha Melihat.” (hal. 162)

Novel dengan tokoh utama seorang dokter tampan, perawat lugu, dan pasien RSJ sangat pas dibaca para pecinta cerita ringan. Tidak seperti novel dengan muatan budaya dan sejarah yang lumayan membuat kening berkerut karena kosa-kata asing, novel ini bisa ditamatkan sekali duduk. Bahasa yang digunakan penulis pun begitu renyah, ditambah teka-teki  yang sangat rapi disembunyikan oleh penulis, menjadikan pembaca ingin segera sampai pada ending.

Sayangnya, ada beberapa hal yang terkesan bias dan sengaja tidak dijelaskan. Marissa, kekasih dr. Irham, seorang aktivis perempuan yang menyunjung tinggi hak perempuan tiba-tiba pulang ke Indonesia bersama seorang bernama Ane, teman satu apartemennya di Paris. “Irham berjalan di belakang kedua wanita modern itu. Dia sama sekali tidak curiga terhadap apa yang telah terjadi dengan kekasihnya itu.” (hal.50)

Hingga novel berakhir, tidak ada kejelasan apa yang sebenarnya terjadi antara Marissa dan Anne? Terjadi hubungan tidak wajarkah semacam menyukai sesama jenis? Atau ada hal lain yang terjadi? Pertanyaan ini belum terjawab.

Yang mencemaskan perkembangan Irham justru Rahayu, tantenya yang seorang psikolog. Dia jelas memiliki wawasan jauh lebih melimpah dan bernas disbanding sang mbakyu yang masih bangga dengan keningkratannya.

“Dia masih terlalu kecil untuk masuk SD! Nanti dia akan mengalami masalah sosial.”

“Tapi dia cerdas gitu, kok ….” (hal. 43)

Bab ini pun tidak ada kelanjutan di halaman berikutnya. Tidak ada akibat buruk yang terjadi pada dr. Irham karena masuk SD terlalu dini.

Untuk novel dengan penulis sekelas Afifah Afra, sangat disayangkan tim editing salah dalam menuliskan akronim. Singkatan dokter adalah dr, sedangkan Dr adalah akronim dari doktor (gelar seseorang yang telah menempuh pendidikan S2).

Dr. RM. Irhamudin Prasetyo, Sp.KJ seharusnya ditulis dr. RM. Irhamudin Prasetyo, Sp.KJ (hal. 7)

Kelemahan novel ringan adalah mudah dilupakan begitu pembaca telah menamatkan kisahnya. Begitu pun dengan Cinta Suci Adinda. Karakter tokoh yang tidak ekstrim, juga setting tempat yang tidak memerlukan banyak detail dalam diskripsi membuat novel ini kurang istimewa. Tentu keistimewaan itu dirasa kurang karena saya membandingkannya dengan novel sebelumnya yaitu Tetralogi De Winst dan Bulan Mati di Javasche Oranje. Kedua novel itu mempunyai daya lekat yang sangat kuat.

Meskipun begitu, novel ini cocok sebagai hiburan di kala suntuk karena banyak hal lucu yang diceritakan terutama keadaan pasien RSJ. Juga bisa sebagai sarana menambah pengetahuan perihal kejiwaan. Selamat membaca.

           

 

[1] Skizofrenia paranoid adalah keadaan kejiwaan seseorang yang mengalami halusinasi dan delusi. (https://www.alodokter.com/skizofrenia-paranoid)


PROFIL BUKU


Judul                           : Cinta Suci Adinda

Penulis                         : Afifah Afra

Penerbit                       : INDIVA Media Kreasi

Terbit Pertama             : Februari, 2018

Halaman                      : 312 hlm

ISBN                          : 978-602-6334-56-5

 

Adinda ditangkop polisi? Siapa yang bisa percaya kabar itu? Adinda perawat lugu dan berhati selembut sutra. Tak mungkin dia terlibat dalam kriminalitas. Apalagi, tuduhan yang dilayangkan padanya sungguh tak masuk akal: menculik Brata Kusuma, sang penderita skizofrenia yang tak lain adalah mantan majikannya. Pria itu bagai mutiara bagi Adinda, selalu dirawat dan dijaga.

Irham, dokter jiwa ternama itu menyaksikan dengan mata kepala sendiri, betapa besar pengorbanan Adinda untuk Brata Kusuma. Rasanya mustahil dia menjadi aktor di balik penculikan Brata Kusuma. Irham memang tak percaya gadis selugu Adinda terlibat kasus pelanggaran hukum, namun di saat bersamaan, Irham mendapati hubungan yang janggal antara Adinda dan Brata Kusuma. Ya, sebuah interaksi aneh. Tak lagi sekadar hubungan pasien dan perawatnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *