Kiat Sukses Menjadi Mahasiswa Mandiri dan Berprestasi di Luar Negeri

Ella Tan, seorang gadis muda dan lugu asal Indonesia mendapatkan beasiswa S1 di National Taiwan University (NTU). Ella memiliki seorang papa yang merupakan penduduk asli Taipei yang kini baru dijumpainya sejak kedua orang tua Ella bercerai belasan tahun lalu dan Ella ikut sang ibu kembali ke Indonesia. Berdasarkan perjanjian kedua orang tuanya, maka setelah dewasa Ella harus tinggal bersama sang papa. Namun, tinggal bersama sang papa yang seakan baru dikenalnya, serta ibu dan sudara tiri yang sangat membenci kehadiran Ella membuat Ella tidak betah dan selalu mengalami tekanan.

            Ella yang merupakan mahasiswa baru di kampus pun sering mengalami kesulitan pada awal-awal masa kuliah. Dimulai dengan administrasi kuliah yang hampir terlambat, surat pengumuman kelulusan yang disembunyikan sang ibu tiri, rute perjalanan yang belum dihafalnya, dan berbagai kendala khas mahasiswa baru yang belum banyak mengenal daerah asing dari negara yang kini menjadi tempatnya tinggal dan menuntut ilmu. Beruntung, Ella memiliki teman-teman baru asal tanah air yang menjadi sahabat akrabnya yang selalu setia mendampingi Ella meski mereka sendiri sibuk kerja part demi mencari tambahan uang saku. Masalah Ella tidak berhenti sampai disitu. Ella menghadapi persoalan lain yang lebih rumit, “jatuh cinta.” Ella diam-diam mengagumi Marcell Yo, seorang dosen muda nan ramah dan tampan. Namun, di sisi lain ada seorang Kim Hae Yo, pemuda asal Korea yang awalnya menjadi sahabat, namun mereka merasakan suatu rasa yang berbeda justru ketika Hae Yo pergi. Bagaimanakah Ella menghadapi hari-harinya tanpa Hae Yo? Akankah sang dosen muda yang ditaksirnya membalas perasaan Ella? Bagaimana pula Ella menghadapi sang papa yang masih diharapkannya bersatu dengan mama yang ditinggalkannya di Indonesia? Akankah Ella mampu mewujudkan tujuan utamanya di negeri tersebut?

*****

            Menarik, unik dan  menggoda! Itulah kesan yang saya dapatkan dari “pandangan pertama” dengan novel ini tatkala memandangnya di deretan novel-novel besutan Indiva di sebuah rak toko buku favorit saya. Warna cover nya yang merah menyala disertai ilustrasi sepotong wajah dengan hiasan khas etnis rumpun Tionghoa, perpaduan warna dan tulisan yang serasi menarik jari jemari saya untuk meraih dan mulai membaca sinopsisnya. Dan benar, setelah membaca keseluruhan isinya, novel ini memiliki karakter khas buku-buku terbitan Indiva. Dinamis dan selalu disertai nilai-nilai moral dan Islami… JJJ

            Menjadi mahasiswa yang mampu berkuliah di universitas luar negeri melalui jalur beasiswa tentu merupakan hal yang sangat membanggakan bagi diri sendiri dan orang tua, terlebih jika berhasil masuk di universitas yang telah menjadi impian sejak lama. Pastinya memunculkan harapan-harapan baru dan bahagia yang membuncah atas kesempatan langka tersebut.

Namun, menjadi mahasiswa baru di universitas luar negeri bukannya tanpa tantangan, terutama jika baru menginjakkan kaki di negeri asing tersebut. Persoalan bahasa, budaya,dan kebiasaan mahasiswa dan masyarakat setempat bisa menjadi kendala apabila kurang persiapan diri sejak jauh-jauh hari. Tidak hanya itu, perbedaan cuaca, rute dan sarana transportasi yang digunakan untuk aktivitas sehari-hari pun bisa menjadi masalah, seperti yang dialami tokoh Ella Tan dalam novel ini.

            Bagaimanapun, persoalan hadir memang untuk dihadapi sesulit apapun persoalan tersebut karena Yang Kuasa pastinya tidak akan membebani seseorang dengan cobaan melebihi kemampuan hamba-Nya. Seperti sebuah pepatah, tiada jalan yang mulus-mulus saja atau lurus-lurus saja tanpa lika liku, yang berarti bahwa dalam menempuh suatu kebaikan dan cita-cita pasti akan selalu ada halangan dan rintangan yang ditemui. Begitu pula dalam mengejar dan meraih cita-cita, banyak ujian yang akan muncul tidak hanya dari dalam diri sendiri, tapi juga dari lingkungan dan orang-orang di sekitar kita. Masalah-masalah itulah yang dialami tokoh Ella dalam novel ini.

The Dream in Taipei City ini hadir memberikan gambaran berbagai persoalan dalam menuntut ilmu disertai  solusi dan motivasi, khususnya bagi mereka yang akan atau sedang menimba ilmu di negeri asing yang tentunya memiliki beragam perbedaan dibandingkan dengan kebiasaan dan beragam hal di tanah air, dimulai dari hal-hal kecil, misalnya tentang kedisiplinan. Motivasi untuk menjadi mahasiswa mandiri namun tetap menomorsatukan pendidikan pun menjadi pelecut semangat. Dalam novel ini, digambarkan secara nyata bagaimana sibuknya kawan-kawan Ella dalam menyesuaikan jadwal sebagai mahasiswa dan pekerja part time demi mendapatkan tambahan uang saku yang seringnya jatah dari orang tua kurang atau kiriman datang terlambat..

Mengangkat tema dan persoalan-persoalan sederhana yang sering dihadapi oleh banyak mahasiswa, tak hanya di luar negeri sebenarnya,  baik itu persoalan internal atau yang berasal dari dalam diri sendiri maupun masalah teknis / eksternal, bisa dikatakan tema dalam novel ini sebenarnya biasa. Namun, yang menjadikannya unik adalah pengemasan cerita yang diwarnai dengan bertemunya beberapa budaya dan bahasa, yaitu Indonesia, Taipei, dan Korea, juga beberapa bahasa Inggris. Tidak hanya itu, persoalan keluarga dan kisah romance-nya pun menjadi pemanis dalam cerita ini tanpa melepaskan nilai-nilai Islami yang mesti tetap dipegang teguh sebagai seorang muslimah. Selipan pembahasan tentang kuliner ala Korea dan Indonesia pun menambah nilai novel ini. Bahasa dan gaya bercerita penulis yang ringan, mengalir dan disesuaikan dengan karakter para remaja membuat cerita dan pesan dalam novel ini mudah dicerna. Meski dari segi fiksi, saya justru merasakan emosi haru tentang hubungan Ella dengan sang ayah, bukan pada persoalan menyangkut perkuliahannya.

Sedikit membandingkan dengan novel-novel Indiva yang lainnya, dari segi cover, saya masih lebih menyukai cover-cover yang bernuansa kalem. Namun, lain buku lain pula covernya. Pemilihan cover yang sedikit ramai pada novel ini sesuai dengan pesan dan semangat yang disampaikan oleh penulis. Dinamis dan attraktif.

            Novel ini bisa dijadikan referensi yang bagus sekaligus menghibur. Nuansa Islami  pun menjadi pewarna yang menggambarkan prinsip sebagai muslimah ketika menuntut ilmu dan bergaul. Novel ini sangat menyemangati dan memberikan fokus bagaimana pentingnya menjalin silaturahim dan persahabatan terutama dengan mereka rekan setanah air, baik yang senior, agar bisa menimba banyak ilmu dan pengalaman maupun mereka yang sama-sama mahasiswa baru agar bisa saling membantu. Silaturahim juga senantiasa mesti terjalin dengan sesama mahasiswa yang berasal dari negara lain tanpa harus meninggalkan prinsip-prinsip Islami dan budaya ketimuran. Intinya, kisah dalam novel ini menginspirasi bagaimana menjadi mahasiswa yang mampu berprestasi di kampus juga mandiri secara finansial. Intinya adalah semangat dari diri sendiri untuk mewujudkan impian dan dukungan dari orang-orang terdekat didasari prinsip-prinsip diri yang sesuai dengan prinsip-prinsip Islami.

Oleh karena itu, novel ini menjadi salah satu bacaan yang saya rekomendasikan kepada teman-teman yang mencintai bacaan bermutu, berhikmah, sekaligus menghibur dan bernuansa Islami khas Indiva. Selamat bertamasya dan memetik hikmah di kebun kata ^_^

Judul Buku      : The Dream in Taipei City

Penulis             : Mell Shaleha

Penerbit           : Indiva Media Kreasi

Tahun Terbit    : Februari 2014

Tebal Buku      : 360 hlm

Ukuran Buku  : 19 cm

Harga              : Rp55.000,-

Kategori          : Fiksi Motivasi Remaja

Peresensi: Azzahra Fathurahman  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *