KISAH DI BAWAH DENGUNG LAMBARU

Sumber Gambar: Pixabay

Oleh: Thomas Utomo

Sayat-Sayat Sunyi merupakan karya teranyar pengarang Bugis; S. Gegge Mappangewa. Secara sinoptik, novel ini mengemukakan perjalanan hidup Tungke’—perempuan yang sejak kecil menyandang predikat buruk: patula-tula atau pembawa sial. Julukan pembawa sial disematkan pada diri Tungke’ karena berurutan, orang-orang yang mengasuhnya, meninggal secara mendadak, dimulai dari ayah, ibu, paman, dan seterusnya.

Di masa dewasa, putaran roda kehidupan Tungke’ pun tidak semulus yang diharapkan. Baru dua hari menikah, suaminya menghilang, disusul kemalangan-kemalangan berikutnya, akibat stigma negatif yang telanjur dilekatkan orang.

Jujur, membaca novel ini, membuat jengkel. Adakah di kolong langit ini, manusia yang merana sedari mula hingga menutup mata—seperti Tungke’?

Selama menelusuri kisah yang dibentangkan pengarang, kadang-kadang muncul pertanyaan: apakah S. Gegge Mappangewa menciptakan tokoh yang sekujur hidupnya luka, lantaran terilhami sinetron fenomenal Tersanjung? Bukankah pemeran utama sinetron picisan tersebut, selalu menderita sejak kecil sampai tua? Sialnya, ‘rumusan nasib tokoh’ yang ‘harus’ ditimpa kemalangan tak berkesudahan, kemudian menjadi stereotip sinetron-sinetron Indonesia selanjutnya.

Untunglah, S. Gegge Mappangewa membangun cerita rakitannya secara lebih baik dan meyakinkan daripada sinetron Tersanjung dan banyak sinetron pembebeknya. Kemalangan demi kemalangan yang menimpa Tungke’ pengarang hadirkan secara masuk akal dan tidak sekonyong-konyong. Ada lanjaran kuat mengapa hal demikian bisa terjadi?

Di samping kepiawaian pengarang menyeret pembaca dalam pusaran cerita, ada nilai lebih lainnya yang dapat diperoleh dari novel ini. Pertama, kandungan lokalitas yang  kental. Membaca novel ini, terasa sekali upaya pengarang untuk memperkenalkan budaya Bugis yang sekarang hilang digilas modernisasi. Misalnya, tentang kebiasaan menerbangkan lambaru atau layang-layang dengung saat masa panen tiba—perihal lambaru ini, bahkan menjadi pondasi penting dalam bangunan cerita. Tanpanya, cerita menjadi tidak lengkap. Selanjutnya, pantangan soal pabbereseng atau tempat beras, rangkaian prosesi pernikahan seperti mappaettu ada, mappenre dui, mannampu’, dan mappacci, eksistensi sanro wanua atau dukun kampung, serta keyakinan akan Nabi Khidir yang masih hidup dan kerap menyamar, lalu menemui warga—dua hal yang disebut paling akhir, juga menjadi bagian penting yang menguatkan cerita.

Kedua, sindiran terhadap budaya patriarki. Hal ini terbaca gamblang di banyak bagian. Misalnya di halaman 241, “Dibandingkan laki-laki, jumlah perempuan seolah lebih banyak dilahirkan untuk menjadi objek penderita. Ditinggal, dikhianati, dikasari, dan banyak lagi di-di yang lain, yang semua objeknya adalah perempuan. Bahkan saat seorang perempuan dihamili, seisi dunia menghujat sementara laki-laki seolah memang dipantaskan untuk sifat apapun. Namanya juga laki-laki! Kalimat itu selalu muncul di balik dosa yang diperbuat laki-laki.”

Ketiga, mengangkat detail kebobrokan sosial masyarakat Bugis pada dekade 1980-an akibat merebaknya judi Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah (SDSB) yang difasilitasi secara resmi oleh Pemerintah Orde Baru.

Keempat, alur dan keakhiran cerita yang menjebak sekaligus memberi efek kejut. Di tengah-tengah cerita, dituturkan suami Tungke’ menghilang saat hari kedua pernikahan mereka. Pengarang menggiring seolah-olah suami Tungke’pergi merantau bersama tetangga. Namun, di ujung cerita, baru ketahuan kalau tidak demikian yang terjadi. Justru ‘sesuatu’ di dekat Tungke’ yang penyebab hilangnya suami.

Terakhir, banyak pilihan kata menarik bertebaran dalam novel, di antaranya, “Keluarga memang adalah tempat berpulang. Namun, jika itu tak ada, rasa kekeluargaan pun bisa menghangatkan.” (halaman 190). Juga, “Seorang ibu ternyata selalu punya cara untuk membahagiakan anaknya meski dia sadar tengah melukai dirinya sendiri.” (halaman 260).

 


SAYAT-SAYAT SUNYI


STOK TERBATAS!

Judul          :    Sayat-Sayat Sunyi

Pengarang  :    S. Gegge Mappangewa

Penerbit      :    Indiva Media Kreasi

Cetakan      :    Pertama, 2019

Tebal          :    344 halaman

ISBN   :           978-602-5701-05-4

 

Tungke’ telah akrab dengan perpisahan, terbiasa kehilangan, dan telah sering menatap kepergian. Lalu ketrika Malik harus pergi, setianya tetap bergeming meski luka tak kunjung mengering.

Kepergian demi kepergian mengajarkannya bahwa setia dan sunyi adalah dua sejoli dan luka dan luka adalah oarang ketiga. Tungke’ yang berharapo malik adlaah nahkoda ternyata tak lain adalah dermaga, tak mungkin hanya dia yang berlabuh di sana.

Benarkah pertemuan selalu ada bagi orang yang selalu merawat penantiannya dengan kesetiaan, meski luka? Ataukah penantian itu luka, kesetiaan juga luka, sunyi adalah cuka, sedangkan pertemuan hanyalah ilusi?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *