KOLEKSI CERPEN TERBAIK AFIFAH AFRA

Sumber Gambar: Pixabay

Oleh: Thomas Utomo

Dua puluh tahun sudah Afifah Afra berkiprah dalam dunia literasi Tanah Air—dimulai dari diumumkannya cerpen Pelangi Ibu di majalah Annida 1999. Hingga kini, tidak kurang enam puluh lima buku telah lahir dari tangan perempuan asal Bobotsari, Purbalingga ini—di luar puluhan tulisan fiksi dan nonfiksi di berbagai media massa.

Kumpulan cerpen Seorang Lelaki dan Selingkuh merupakan buku terbaru Afra. Isinya memuat dua puluh satu cerpen teristimewa Afra selama dua dekade karier kepenulisannya.

Secara substansi, cerpen Seorang Lelaki dan Selingkuh—yang didaulat menjadi judul sampul buku—merupakan upaya Afra menyoroti fenomena betapa dekatnya hubungan antara rokok dan orang miskin. Sebagaimana disampaikan World Health Organization (WHO) dalam laporan berjudul The Global Tobacco Crisis, pada 2015, ada sekitar satu koma satu miliar perokok di seluruh dunia. Delapan puluh persen dari jumlah tersebut, berasal dari kalangan berpendapatan rendah. Di Mesir, misalnya, golongan papa mengeluarkan uang sepuluh kali lipat lebih banyak dari biaya pendidikan anak mereka untuk membeli rokok. Sementara di Indonesia, keluarga miskin mengalokasikan rata-rata lima belas persen pendapatan untuk asap rokok. Tentu saja, sebagai sebuah karya fiksi yang menekankan aspek estetis, cerpen Seorang Lelaki dan Selingkuh tidak menggelarkan secara gamblang data-data seperti disampaikan dalam laporan WHO tersebut. Saya hanya mencoba mengaitkannya saja.

Cerpen lain yang memiliki rantai nyata dengan realitas sosial adalah Membunuh sang Kyai. Ada dua fakta sosial yang ditemui dalam cerpen ini. Pertama, tentang makin banyaknya orang yang mendakwahkan agama secara kaku, kasar, dan mau menang sendiri. Pendakwah lain yang berseberangan dengan diri dan kelompoknya, tidak ragu-ragu dihantam, diburuk-burukkan, dan ‘dianugerahi’ sederet label negatif.

Kedua, tentang prostitusi. Di halaman 127 dipaparkan dialog, “Kau ini bagaimana? Sudah divonis HIV masih saja melayani lelaki!” lengking seorang perempuan.

“Peduli amat! Aku butuh makan. Dan aku dapat virus brengsek itu juga dari lelaki.”

Penggalan dialog tersebut sungguh mengingatkan saya akan fragmen buku Totto-chan’s Children karya Tetsuko Kuroyanagi terbitan Gramedia Pustaka Utama yang menceritakan perempuan-perempuan belia di Haiti yang memilih menjual diri untuk memberi makan keluarganya. Mereka ‘berpraktik’ di pekuburan dan melakukan hubungan badan dengan pelanggannya di atas nisan! Waktu Totto-chan bertanya, “Tidakkah kau takut tertular AIDS?” Jawaban salah seorang dari mereka, “Aku memang takut. Tapi kalaupun aku tertular AIDS, aku masih bisa hidup beberapa tahun lagi ‘kan? Kau tahu, keluargaku tidak punya makanan untuk besok.” (halaman 260). Merinding!

Cerpen lain yang tidak kalah menarik ialah Alex dan Roxana. Cerpen ini menyuguhkan kenyataan betapa ada pasangan suami-istri yang melalui tahun-tahun pernikahan dalam rutinitas datar, hambar, dan tidak jarang dibungai pertengkaran-pertengkaran panas. Namun, di akhir cerpen, Afra mengecoh pembaca. Rupanya, Afra memelintir cerita sedemikian rupa, sehingga ada kejutan tidak disangka, meski sesungguhnya indikasi ke arah sana sudah ditaburkan sedari awal.

Apabila dicermati, ada dua tema besar yang mewarnai kumpulan cerpen ini, yakni politik dan sosial. Kendati kedua tema tersebut tampak berat, membaca kumpulan cerpen ini tidak akan membuat alis berkerut, karena Afra mengemasnya secara sederhana dan menyenangkan.

*Thomas Utomo pernah mengenyam pendidikan di jurusan PGSD Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Sekarang berkarier sebagai guru SD Negeri 1 Karangbanjar, Purbalingga. 


SEORANG LELAKI DAN SELINGKUH


Judul          :    Seorang Lelaki dan Selingkuh

Pengarang  :    Afifah Afra

Penerbit      :    Indiva Media Kreasi

Cetakan      :    Pertama, April 2019

Tebal          :    264 halaman

ISBN          :    978-602-495-115-3

Merokok di malam yang beku … sepertinya sangat nikmat. Setidaknya, pasti akan mampu membuat tubuhnya sedikit menghangat.

Tetapi, tidaklah! Ia sudah berjanji kepada Supeni, istri yang ia lamar dengan proses susah payah, bahwa ia tidak akan merokok. Selamanya! Baik kretek, filter, cerutu, atau pun sekadar puntung rokok. Sekali tidak, tetap tidak. Dan ia sudah memegang janji itu sejak empat tahun silam. Apakah ia akan mengingkarinya hanya gara-gara tak kuat menahan dingin? Bah, lelaki macam apa dia?

* * *

“Akhirnya, saya berani menyimpulkan, bahwa kumpulan cerpen yang satu ini berbenang merah permasalahan politik dan Afra tampak sedang berusaha menyiasati narasinya. Berarti ada dua lapisan politis dalam kumcer ini, tema politik dan siasat bernarasi.” (M. Irfan Hidayatullah, S.S, M.Hum, kandidat doktor Ilmu Susastra UI, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran).

“Setiap kali membaca tulisan Afifah Afra, bukan hanya muatan sastra yang didapat. Kekuatan pesan dan renungan yang dalam, meninggalkan jejak di skema pemikiran kita.” (Sinta Yudisia, Penulis, Psikolog, Anggota Dewan Pertimbangan Forum Lingkar Pena)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *