KRITIK POLITIK, SOSIAL BUDAYA DAN AGAMA

Sumber Gambar: Pixabay

 

Oleh: Ratnani Latifah*

Cerpen selain sebagai prosa naratif yang memberikan hiburan bagi pembaca, juga merupakan salah satu media yang digunakan masyarakat dalam melemparkan kritik terhadap berbagai persoalan di sekitar kita—baik itu kritik politik, sosial budaya, atau agama. Maka tidak heran kebanyakan cerpen yang dimuat di berbagai media atau buku kumpulan cerpen, banyak tema politik, sosial budaya atau agama yang diangkat dalam cerita.

Begitu pula dengan kumpulan cerpen Seorang Lelaki dan Selingkuh karya Afifah Afra. Dengan apik dan menarik, penulis yang sudah menelurkan 61 buku, berhasil menghadirkan kisah-kisah, yang selain penuh dengan kritik membangun, kisah-kisah yang ada juga penuh aroma inspirasi dan pesan-pesan kehidupan.

Seorang Lelaki dan Selingkuh, sebagai cerpen pembuka memaparkan dengan apik tentang potret rumah tangga. Kisah ini sedikit banyak merupakan sindiran bagi kaum lelaki yang terlalu mendewakan rokok, menjadikan rokok selingkuhan, karena disadari atau tidak, ketika seorang suami memiliki kebiasaan merokok, maka jatah uang untuk sang istri otomatis akan dikurangi untuk keperluan merokok. Wied, tokoh sentral dalam cerpen ini, adalah sosok suami yang berusaha menjauhi rokok, demi sang istri. Dia tidak ingin mengecewakan istrinya karena kebiasaan merokoknya.

Maka mati-matian ia mencoba menolak pesona rokok meski berkali-kali godaan itu datang menghadang. Sayangnya balasan Wied tidak sesuai dengan perjuangannya. Ditutup dengan ending tidak terduga, penulis berhasil membuat pembaca geleng-geleng kepala.

Perempuan yang Mencintai Pohoh-pohon, selain mengungkapkan tentang kesedihan wanita-wanita yang ditinggalkan orang yang dikasihi, kisah ini juga mengusung ajakan bagi masyarakat untuk mencintai pohon dengan merawat dan menjaga kelestarian. Tidak hanya itu kisah ini memuat kritik tersirat tentang bagaimanaa anak-anak memperlakukan orang tua, ketika mereka dewasa. Kecil dirawat, dijadikan orang hebat, tapi ketika telah tumbuh dewasa mereka lupa dan bahkan tidak peduli—bahkan untuk meluangkan waktu sejenak hal itu pun sulit untuk dilakukan.

“Nenek itu kehilangan cinta. Cinta telah melewati jalan licin dan tergelincir, lalu terperosok ke dasar jurang dan pecah berkeping-keping. Mungkin cinta itu pun juga menyumblim dari putra-putranya. Meskipun mereka masih selalu rajin mengunjungi sang bunda, bilangan waktunya selelu melewati angka satu bahkan dua purnama, dan mereka tampak selalu tergesa-gesa.” (hal 74).

Membunuh Sang Kiai, salah satu cerpen yang menurut saya sangat menarik dan merupakan gambaran langsung dalam lingkup kehidupan masyarakat masa kini. Membaca kisah ini kita akan menemukan tentang jawaban Islam yang sebenarnya. Bahwa Islam bukanlah agama yang keras. Kebanyakan kiai di masa lalu, mereka selalu melakukan dakwa dengan halus. Mereka merangkul semua orang bahkan ketika orang-orang itu pernah melakukan sesuatu yang kelam di masa lalu. Namun hal itu tidak membuat kiai abai. Karena menurutnya semua orang patut untuk dinasihat dan mendapat petunjuk.

Sayangnya cara itu sudah mulai terkikis. Karena kebanyakan pemuda yang baru paham soal agama, dengan entengnya menerapkan dakwah dengan membabi buta dan bahkan merasa paling benar, menganggap metode lama sebagai kesia-siaan dan tidak ada manfaatnya.

“Sayangnya, anak-anak muda sekarang jarang yang memiliki kesabaran dan kelembutan seperti sang Kiai. Mereka berdakwah dengan tergesa-gesa, membabi buta. Mengajak orang bertaubat dengan menusuk harga dirinya sendiri, berdebat di sana-sini. Memaksa kebenaran atas penafsiran mereka sendiri.” (hal 126).

Masih ada kurang lebih 18 cerpen yang akan membuat kita terperangah, tersudut, tersindiri dan berbagai kecamuk perasaan lainnya. Karena sedikit banyak hampir semua cerpen yang ada di sini memang sangat dekat dalam kehidupan sehari-hari kita. Misalnya cerpen bertajuk Fardhu Kifayah, Perang Doa, Pesta Kematian, Sampah, Sandal Jepit Walikota dan banyak lagi. Secara keseluruhan kumpulan cerpen ini patut dibaca dan diapresiasi oleh para penikmat buku. Meski ada beberapa bahasa penulis dan alur cerita yang terlalu halus, namun hal itu tidak mengurangi keseruan cerita.

Srobyong, 28 September 2019

*Penulis dan penikmat buku asal Jepara


SEORANG LELAKI DAN SELINGKUH


Judul          :    Seorang Lelaki dan Selingkuh

Pengarang  :    Afifah Afra

Penerbit      :    Indiva Media Kreasi

Cetakan      :    Pertama, April 2019

Tebal          :    264 halaman

ISBN          :    978-602-495-115-3

Merokok di malam yang beku … sepertinya sangat nikmat. Setidaknya, pasti akan mampu membuat tubuhnya sedikit menghangat.

Tetapi, tidaklah! Ia sudah berjanji kepada Supeni, istri yang ia lamar dengan proses susah payah, bahwa ia tidak akan merokok. Selamanya! Baik kretek, filter, cerutu, atau pun sekadar puntung rokok. Sekali tidak, tetap tidak. Dan ia sudah memegang janji itu sejak empat tahun silam. Apakah ia akan mengingkarinya hanya gara-gara tak kuat menahan dingin? Bah, lelaki macam apa dia?

* * *

“Akhirnya, saya berani menyimpulkan, bahwa kumpulan cerpen yang satu ini berbenang merah permasalahan politik dan Afra tampak sedang berusaha menyiasati narasinya. Berarti ada dua lapisan politis dalam kumcer ini, tema politik dan siasat bernarasi.” (M. Irfan Hidayatullah, S.S, M.Hum, kandidat doktor Ilmu Susastra UI, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran).

“Setiap kali membaca tulisan Afifah Afra, bukan hanya muatan sastra yang didapat. Kekuatan pesan dan renungan yang dalam, meninggalkan jejak di skema pemikiran kita.” (Sinta Yudisia, Penulis, Psikolog, Anggota Dewan Pertimbangan Forum Lingkar Pena)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *