MANAJEMEN MENUJU PELAMINAN

 

Oleh: M Ivan Aulia Rokhman*

 

Jodoh adalah kuasa Allah. Setiap manusia Allah takdirkan untuk saling berpasangan. Namun, tidak semua manusia dipertemukan dengannya di dunia. Berdasarkan catatan sejarah, banyak juga manusia yang tidak menikah hingga akhir hayat. Mereka yang berilmu, menyikapi takdir ini dengan ikhlas dan ketawakalan penuh. Karena, sebuah keyakinan terpatri; selalu ada hikmah yang terkandung dalam garis-garis takdir.

Psikologi Pengantin merupakan buku yang berisi tentang bagaimana calon pasangan dalam menghadapi pengantin baru di kursi pelaminan. Tulisan ini sangat inspiratif, karena terdapat pada kisah yang bisa dijadikan rujukan pada pembaca betapa keagungan rasulullah sangat dimuliakan oleh perempuan setia. Bahasa dalam buku cukup otentik, ringan, dan mudah dipahami oleh pembaca dari alur awal manajemen ta’aruf hingga meresmikan jadi suami istri sebagai keakraban sakinah, mawaddah, warohmah. Buku ini sangat cocok untuk para pembaca yang penasaran tentang pernikahan, psikolog, para pakar agama, dan ilmuwan agar menambah wawasan.

Mempelai lelaki dan perempuan berada dalam status pendidikan yang sama, status ekonomi yangn sama, latar belakang yang mirip pula. Pada kenyataannya, jodoh ternyata berfungsi untuk saling melengkapi, pihak lelaki dari keluarga pengusaha, yang tak terlalu menekankan pada gelar akademis. Kemampuan menguasai pasar sangat penting, menjadi pengusaha dengan penghasilan besar lebih mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.

Menjadi istri, sepertinya karier yang dipilih secara sukarela, mengingat keahlian sebagai seorang dokter pun bukan keterampilan yang diperoleh secara main-main. Berbakti sebagai istri, dijalani perempuan cantik ini bahkan hidup menjadi taruhannya.

Di atas segalanya, shalat istikharah jangan ditinggalkan. Tingkatkan terus kedekatan dengan Allah SWT, terutama saat-saat galau, dilematis, sulit, meresahkan dengan melakukan amalan-amalan terbaik: shalat wajib, shalat sunnah, bersedekah, puasa, baca Alquran, membaca asmaul husna, menghafalkan Alquran, mendoakan orang lain dan seterusnya. Insya Allah, titik hati nan terang akan berdenyut, keputusan yang melegakan akan ditemukan.

Kemungkinan besar, salah satu memang harus mengalah. Ungkaplah secara jujur perasaan hati, secara terus terang namun tidak emosional. Bahwa sebagai istri ingin berbakti dan mendukung karier suami. Bahwa sebagai suami ingin mendukung karier suami, mendapatkan keberkahan Allah SWT dari keridhaan suami. Bahwa sebagai suami ingin mendukung istri dan mempersilakan perempuan maju terlebih dahulu, sebab ditilik dari berbagai hal memang karier istri lebih menjanjikan bagi keluarga inti (hal 37-45).

Hubungan seksual seharusnya tidak didasarkan pada pemahaman dari mulut ke mulut namun juga berdasarkan pemahaman ilmiah dan penelitian di lapangan. Bukan berati nasihat dari orang tua dan para sesepuh menjadi tidak bermanfaat. Namun, seiring perkembangan zaman, mitos-mitos harus didukung data dan fakta yang akurat. Seks bagi kaum muslimin adalah perkara sakral. Hal-hal yang suci dan mulia selayaknya mendapat perhatian khusus serta harus dipahami secara saksama. Calon pasangan juga memahami sebagaimana bab shalat adalah aktifitas yang utama dan mulia, kaum muslimin wajib memahami shalat mulai dari aturan wudhu, hal yang membatalkan shalat, syarat sahnya shalat, bahkan waktu haramnya shalat.

Variasi dapat dilakukan sesuai pengalaman masing-masing pasangan. Sebagai bagian dari basic instinct manusia yang telah diberkan Allah Swt, seiring perjalanan kemesraan suami istri, masing-masing akan memiliki ide untuk meningkatkan variasi hubungan intim (hal 79-84).

Jadi intinya adalah calon pasangan harus jernih dalam pernikahan agar dijadikan sakinah, mawaddah, dan warahmah. Setelah menikah tetap menjaga hubungan lahir dan batin.

 

*Peresensi adalah Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Dr Soetomo Surabaya.


 

Judul Buku : Psikologi Pengantin
Penulis  : Sinta Yudisia
Penerbit : Indiva Media Kreasi
Cetakan : I, Juli 2016
Tebal : 200 Halaman

 

Begitu banyak masalah seputar pernikahan. Keuangan, karier, hubungan seksual, relasi dengan orang tua- mertua, anak-anak, juga program masa depan. Buku ini mengupas masalah pernikahan berdasar penelitian psikologi dan sosial, serta jalan keluarnya dari segi agama dan dari sisi ilmiah. Permasalahan yang selama ini tabu dibicarakan seputar kehidupan seksual seperti honeymoon, visual sexual stimuli, online-offline infidelity, atau pasangan sexy; dibahas di buku ini.

Apakah sesungguhnya permasalahan suami istri di 5 tahun pernikahan serta pada tahun-tahun selanjutnya? Benarkah money management adalah penyebab tertinggi pertengkaran? Apa yang harus dilakukan bila berselisih paham dengan pasangan? Dan oh, betapa menyedihkan bahwa hormon kortisol yang berfungsl sebagai euforia cinta hanya bertahan paling lama dua belas bulan Ada temuan-temuan baru yang mengejutkan, bahwa pasangan suami istri —baik baru menikah ataupun lama- mengabaikan hal- hal penting yang sesungguhnya sangat krusial sekaligus sensitif untuk dibicarakan!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *