MAU TINGGAL DI MANA SETELAH MENIKAH?

LaTahzan for Kontraktors

Oleh Arinda Shafa & Wahyu Widyaningrum

Itu pertanyaan paling standar yang diajukan kerabat atau teman-teman pada pasangan pengantin baru. Tentu saja jawabannya variatif sesuai situasi dan kondisi mereka saat itu. Ada yang memutuskan sementara tinggal bersama orang tua, atau numpang tinggal di pondok mertua indah, ada pula yang sudah sreg mau mengontrak rumah yang dekat dengan tempat kerja.

Bagi yang beruntung, ada pasutri yang begitu menikah sudah punya rumah mungil pemberian orang tua, atau bahkan ada yang sudah menyiapkan rumah sederhana saat masih bujangan. Semua pilihan itu sah-sah saja. Tinggal bagaimana pasangan suami istri menjalaninya.

Setelah menikah, saya dan suami mendapat pertanyaan yang sama. Mau tinggal di mana? Itu bagian dari never-ending-questions yang biasanya datang dari orang-orang terdekat. Hehe. Tapi kami positive thinking saja. Menganggap bahwa pertanyaan itu adalah sebentuk perhatian, bukan bermaksud apa-apa.

Awalnya memang kami sempat bingung mau tinggal di mana, sebab kami belum sempat mencari kontrakan. Alasannya saya merasa tidak nyaman kalau belum sah jadi pasutri sudah pilih-pilih rumah kontrakan. Juga mengingat banyak prioritas yang harus dilakukan menjelang pernikahan.

Kami sepakat menunda mencari kontrakan setelah walimah selesai dan semua urusan beres. Mencari kontrakan bisa sambil jalanlah, pikir saya enteng. Jadilah beberapa minggu lamanya kami hidup nomaden.

Terkadang tinggal di rumah tante suami yang sudah dianggap seperti orang tua sendiri. Terkadang mudik ke rumah orang tua saat weekend. Kadang, saya masih suka berlama-lama di kos-kosan lama saya. Namun, kami menyadari bahwa kami akan membentuk pondasi keluarga sehingga tidak bisa terus-menerus mempunyai pola hidup seperti itu. Sedangkan mencari rumah kontrakan sungguh tak semudah yang saya bayangkan. Benar kata orang, bahwa mencari tempat tinggal yang pas tak ubahnya seperti mencari jodoh.

Setelah menemukan rumah kontrakan mungil rekomendasi teman yang harganya cocok dengan budget kami saat itu, kami langsung menyanggupinya. Suami sempat ragu dan banyak pertimbangan, tetapi mungkin beliau teringat sebuah ayat.

Tempatkanlah mereka (para istri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. (Q. S. Ath Thalaaq: 6)

Allah menyeru para suami berkaitan dengan kepemimpinanya. Salah satunya untuk menyediakan tempat tinggal yang layak bagi istri sesuai kadar kemampuannya. Hal itu bertujuan agar istri terjaga kehormatan dan privasinya serta sebagai sarana untuk mengabdikan diri pada keluarga yang akan dibina bersama suaminya.

“… seorang lelaki/ suami adalah pemimpin bagi keluarganya dan dia akan ditanya tentang kepemimpinanya. Wanita/ istri adalah pemimpin terhadap keluarga dan anak-anaknya dan dia akan ditanya tentang mereka….” (H.R Bukhari)

Jadi sepasang suami istri harus bersinergi dalam rangka bertanggung jawab atas apa yang menjadi kepemimpinannya dalam sebuah rumah tangga.

Salim A. Fillah dalam Barakallahu laka, Bahagianya Merayakan Cinta mengisahkan sebuah sirah yang menyejarah.

Adalah Fatimah putri Rasulullah. Setelah menikah dengan Ali bin Abi Thalib, mereka berdua telah menentukan pilihan untuk tinggal di rumah sendiri. Saat itu Ali belum berkemampuan untuk menyediakan rumah bagi keluarga baru yang hendak dibinanya. Lantas seorang shahabat yang kaya dari kalangan Anshar, memberikan salah satu rumah mungilnya kepada Ali dan Fatimah. Akan tetapi, mereka menolak. Rasulullah juga menolak meski sang Anshar memaksa dan bersumpah takkan memasuki rumah itu selama-lamanya.

Akhirnya diambillah jalan tengah yaitu Ali dan Fatimah akan menempati rumah itu dengan pembelian yang terutang. Mereka membayarnya dengan mencicil sedikit demi sedikit. Bahkan mereka menjual mahar berupa baju besi untuk membeli perabotnya. Menurut riwayat dikisahkan bahwa kasur dan bantal mereka terbuat dari sabut.

Dari kisah agung itu, ada hikmah yang bisa dipetik, khususnya bagi pasangan pengantin baru. Bahwa dengan tinggal terpisah dari orang tua atau mertua, kita belajar menata rumah tangga sendiri. Belajar untuk saling menyelami perasaan, saling memahami karakter, dan sekaligus mengasah kepekaan terhadap pasangan. Memulai segalanya dari bawah dengan perjuangan berpeluh-peluh dalam membangun pondasi rumah tangga sesuai visi misi yang telah dipetakan bersama.

Ada beberapa poin penting bagi pasangan suami istri dalam memutuskan untuk membeli atau mengontrak rumah.

Ustadz Salim A. Fillah mengutip pernyataan Ustadz Mohammad Fauzil Adhim dalam bukunya Mencapai Pernikahan Barakah, mengemukakan bahwa salah satu manfaat tinggal di rumah sendiri, baik kontrakan maupun hak milik adalah agar istri bisa ‘melepaskan ikatan-ikatan keluarganya’. Melepaskan ikatan keluarga bukan berarti memutuskan silaturahim. Akan tetapi, melepaskan pola hidup berumah tangga yang selama ini dia jalani sebagai anak di rumah orang tuanya, untuk kemudian bisa memulai pola kehidupan berumah tangga yang baru yaitu sebagai seorang istri bagi suaminya.

Ustadz Cahyadi Takariawan dalam Daurah Keluarga Sakinah menggambarkan pasangan suami istri yang tinggal bersama orang tua atau mertua dengan istilah ‘sebiduk dua nahkoda’. Di dalam satu rumah terdapat dua kepala rumah tangga. Kelebihannya, orang tua/mertua bisa memberikan bimbingan dan pengarahan tentang ilmu kerumahtanggaan tanpa mencampuri perkara-perkara yang sudah menjadi tanggung jawab sang suami. Apabila orang tua/mertua sudah semakin menua, kita bisa ikut merawat dan membantu keperluannya.

Namun, pada kenyataannya, ‘sebiduk dua nahkoda’ tetap saja mencuatkan permasalahan dan menimbulkan tingkat sensitivitas yang tinggi. Adanya ketegangan emosi dan psikis bagi suami/istri menyangkut proses penyesuaian diri, masalah komunikasi, juga gesekan-gesekan yang biasa terjadi dengan mertua sendiri dan para ipar. Terlebih-lebih jika mertua masih memiliki anak-anak lain yang belum menikah dan tinggal bersama dalam satu rumah.

Ustadz Burhan Sodiq dalam status Facebook-nya pernah menulis sepenggal tulisan yang sangat bermakna berjudul Berikanlah Dia Istana.

Masih ingatkah Anda, saat dulu membawa istri anda ke rumah anda. Dia adalah orang baru dan sangat baru dengan lingkungan rumah anda. Dia masih rikuh dengan ibumu, dengan bapakmu, dengan keluargamu. Pahamilah posisinya. Kadangkala dia susah menerima perbedaan itu.

Wow! So sweet, bukan?

Poin penting berikutnya sebelum memilih tempat tinggal adalah Al Jaar Qablad Daar. Artinya pilihlah tetangga sebelum memilih rumah (H.R Al Khathib). Memilih rumah bukan semata-mata karena harganya, bangunannya, ataupun letaknya yang strategis. Menentukan siapa tetangga kita nantinya adalah paling utama di antara itu semua. Sebab salah satu tolok ukur kebahagiaan seorang mukmin adalah memiliki tetangga yang baik.

Rasulullah SAW usai berhijrah memilih tetangga orang-orang Anshar. Pertetanggaan antara Muhajirin dan Anshar adalah adalah hubungan pertetanggan yang karib, indah, dan saling mencintai karena Allah. Mereka adalah tetangga yang penuh barakah satu sama lain. Bahkan Allah memuji mereka dalam Quran Surat Al Hasyr ayat 9.

Selain memilih tetangga sebelum memilih rumah, Ustadz Salim A. Fillah  mengutip atsar dari Imam Asy Syafi’i yang berbunyi,

‘Jika engkau memasuki suatu daerah yang tidak memiliki pemimpin adil, tidak ada air yang mengalir, dan tidak ada tabib/dokter yang baik, maka jangan tinggal di situ.’

Nah, selamat berburu rumah (kontrakan) idaman.


Arinda Shafa

IMG-20170912-WA0024

Arinda Shafa adalah nama pena dari Arinda Sari. Arinda adalah ibu dari tiga anak. Tulisannya terselip dalam 98 antologi yang telah terbit. Pernah menerbitkan 4 buku solo indie. Buku yang sedang dalam proses terbit Sahabat Pena untuk Alia, 15 Cerita Anak Pembentuk Karakter (Ziyad), dan Lifelatte (Mizan). Tulisannya pernah dimuat di Kompas, Radar Sampit, Hadila, Smarteen, Solopos, Buletin Pustaka, dan Koran Jakarta. Bergiat di Komunitas Penulis Ambarawa dan IIDN Semarang. Mau kenal lebih lanjut? Kunjungi blog pribadinya di http://arinda-shafa.blogspot.co.id/, Twitter @arindashafa, Facebook Arinda Shafa, atau surel arindashafa@yahoo.com.


Wahyu Widyaningrum

IMG-20170912-WA0021

Wahyu Widyaningrum, seorang penyuka seni yang berdomisili di Desa Sumowono, lereng Gunung Ungaran, Jawa Tengah. Bukunya yang telah terbit Kumpulan cerita anak -Biola Tua Kakek- (PHP, 2012), Novel anak –Fara dan Edelweis- (GP Publishing, 2013), Cinta 2 Rasa (Duet, Pena House 2014) dan beberapa buku antologi. Karyanya telah dimuat di Majalah Bobo, Majalah Potret Anak Cerdas, Majalah Potret, Buletin Pustaka. Menulis artikel untuk konten kesehatan, serta aktif menulis di blog www.awanhero.com, http://wahyuwidyaning.blogspot.co.id/. Serta menjadi script writer untuk beberapa skenario sinetron televisi. Bergiat di Komunitas Penulis Ambarawa. Mau kenalan? Add FB Wahyu Widyaningrum, twitter wahyuwidy4_ww, IG wahyuwidya22, email: awanhero.ww@gmail.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *