MEMAKNAI HIDUP LEWAT PENDAKIAN

Sumber Gambar: Pixabay

 

Oleh: Ratnani Latifah

Hidup itu seperti jalur pendakian. Kadang mulus, kadang juga penuh jalan terjal dan tantangan. Tinggal bagaimana kita menyikapinya. Jika ingin sukses dan berhasil meraih puncaknya, kita harus siap untuk terus bergerak dan berjuang. Karena ketika kita memilih stagnan, maka kita akan terus berada di jalur aman dan tidak akan berkembang, apalagi sekadar mencicipi keberhasilan.

Bisa dibilang novel ini sedikit banyak tidak jauh berbeda dari dua novel sebelumnya—Altitude 3676; Tahta Mahameru atau Altitude 3088; Rengganis—di mana keduanya sama-sama menawarkan tentang perjalanan pendakian. Namun jangan khwatir meski mengusung tema yang serupa, kisah yang dihadirkan penulis ini sangat berbeda. Apalagi dengan bumbu kisah cinta yang tidak kalah seru dari pendakian itu sendiri. Novel terbaru karya penulis asal Palembang ini, sangat menarik untuk kita baca. Membaca novel ini selain kita bisa melihat dan menikmati asam manis perjuangan meraih cinta dan meraih puncak Gunung Dempo, lewat kisah ini, kita juga bisa menemukan makna kehidupan yang kadang sering kita lupakan.

Fathan dan Hilda, sudah bersahabat sejak kecil. Sejak dulu mereka selalu berada di sekolah yang sama, dan tinggal di daerah yang sama. Namun perjalanan waktu, membuat kehidupan mereka berubah. Hilda yang dulunya bak putri jelita, kini berubah menjadi gadis gunung yang tangguh dan gemar bertualang. Tidak tanggung-tanggung Hilda bertualang mendaki satu gunung ke gunung yang lain.

Sebaliknya Fathan yang dulu dianggap dekil karena terlahir dari keluarga yang kurang mampu, kini tumbuh menjadi sosok yang elit yang sukses. Meski memiliki kegemaran yang sama dalam urusan traveling, tapi Fathan lebih mencintai keindahan bangunan-bangunan klasik nan megah di negara-negara yang dipenuhi bangunan tinggi dan gemerlap teknologi. Dalam kamusnya tidak ada enaknya pergi bersusah payah mendaki gunung. Namun janji lama yang pernah ia ucapkan pada Hilda serta kesadaran yang terlambat tentang perasaannya sendiri, menuntun Fathan untuk keluar dari zona nyaman yang selama ini ia nikmati. Fathan yang awam dan belum pernah sekali pun mendaki gunung, nekat ikut bergabung dengan tim Hilda, demi ingin mendapat perhatian gadis itu.

Bersama Lukman sang ketua, Hilda, Doni, Zen dan juga Rifhan, Fathan memulai babak baru dari perjalanan yang jauh dari kebiasannya. Ia harus siap dengan trek-trek pendakian di Gunung Dempo, yang bisa dibilang sangat mendebarkan.

“Trek pendakian termasuk cukup sulit, terjal, dipenuhi akar dan juga kadang bebatuan. Hanya ada satu bonus yaitu ketika mendekati puncak pertama. Untuk membantu memanjat trek, bisa berpegangan pada sisa batang pohon mati yang ada di kiri kanan.” (hal 96).

Secara keseluruhan novel ini sangat menarik dan seru. Penulis berhasil menghadirkan ruh petualangan yang benar-benar nyata. Membaca buku ini kita seperti ikut terlibat langsung dalam perjalanan panjang dalam pendakian. Kita akan ikut merasakan ketegangan, ketakutan juga kebahagiaan setiap kali para tokoh berhasil menyelesaikan satu trek ke trek lainnya.

Dengan gaya bertutur yang lugas dan mudah dipahami, ia berhasil menyihir pembaca agar tidak berhenti sebelum menyelesaikan novel ini. Dan sebagaimana novel sebelumnya untuk urusan setting lokasi, penulis yang juga memiliki kegemaran traveling, berhasil menghadirkan latar cerita yang benar-benar hidup. Dan dipadukan dengan alur campuran kita akan dibuat penasaran dengan bagaimana akhir kisah perjalanan Fathan. Apalagi dengan kehadiran bidadari lain yang berhasil mencuri perhatiannya.

Membaca kisah ini kita akan menemukan banyak sekali nilai-nilai kehidupan. Di antaranya kita diingatkan untuk selalu waspada dan tidak sombong di mana pun kiat berada.

“Tolong diingat untuk menjaga semangat, hindari sifat egois dan sombong, banyak berzikir, tidak mengeluh selama pendakian.” (hal 96-97).

Kemudian melalui pendakian ini, kita diajarkan tentang arti penting rasa syukur, setia kawan, saling tolong menolong, menghormati lingkungan, dan banyak lagi. Pendakian adalah satu cara untuk memahami bahwa dalam hidup kita harus terus berjuang tak kenal lelah, jangan mudah menyerah apalagi kalah, karena jika tidak kita tidak akan bisa menyelesaikan masalah. Beberapa kekurangan yang ada tidak mengurangi keseruan cerita.

Srobyong, 11 Oktober 2019

*Ratnani Latifah adalah seorang penulis dan penikmat buku asal Jepara.


ALTITUDE 3159 MIQUELLI


Judul               : Altitude 3159 Miquelli

Penulis             : Azzura Dayana

Penerbit           : Indiva Media Kreasi

Cetakan           : Pertama, September 2019

Tebal               : 288 halaman

ISBN               : 978-602-495-252-5

 

Adakah perjalanan paling menantang, selain petualangan mengejar cinta seorang malaikat?

Hilda, malaikatnya Fathan, telah berubah dari seorang putri jelita bak boneka kristal menjadi petualang tangguh. Dunia masa kecil mereka kini bertolak belakang: Hilda dengan berbagai petualangan di pelosok rimba hingga ketinggian gunung-gunung, Fathan yang tenggelam di lingkup kemegahan gedung-gedung tinggi dan gemerlap teknologi. Namun, ada janji-janji masa lalu yang tiba-tiba muncul sebagai kenangan, lantas menjelma sebagai tekad di dada Fathan.

Dari Patuha, Pagaruyung, hingga Pagaralam seorang Fathan mengejar. Lantas, bersama Hilda dan timnya, ia putuskan ikut mendaki salah satu gunung paling menggentarkan di negerinya. Dunia yang satu kali pun belum pernah ia jajaki. Lalu ketika muncul pula seorang bidadari lain di lembah antara dua puncak Dempo, masihkah mimpi lamanya bisa diraih?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *