Memungut Inspirasi dari Kehidupan

19897684_523212211352548_939788953_o

Oleh Muhammad Rasyid Ridho

 

“Gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama.” Adagium terkenal ini tentu sering kita dengarkan atau kita baca dalam sebuah tulisan. Namun, dalam kehidupan sepertinya maksud dari adagium ini seringkali terlupakan. Buktinya masih banyak orang yang masih tidak memikirkan bagaimana kehidupan kelak ketika sudah dipanggil oleh Allah Swt Sang Pencipta.

Dari perenungan itu penulis buku Steve Jobs dan Ilmu Hitam pun tetap menulis tentang ini, dalam rangka saling mengingatkan agar terus berbuat baik. Hal ini dia tulis dalam tulisan tentang Steve Jobs. Tentu kita semua tahu siapa itu Steve Jobs. Ya, dia adalah mantan CEO Apple Inc yang sudah beberapa tahun lalu meninggal.

Satu hal yang dibidik untuk diceritakan oleh Zaenuddin adalah ketika Steve meninggal dunia, adalah fenomena penerbit-penerbit di Indonesia yang berlomba-lomba menerbitkan buku tentangnya. Mulai dari penerbit ternama yang menerbitkan buku yang digarap dengan serius oleh penulis luar, sampai yang ditulis oleh penulis Indonesia. Bahkan, meskipun itu hanya kumpulan atau kliping berita tentang Steve, ada penerbit tidak terkenal yang mau menerbitkan dengan satu keinginan mencari untung dalam kesempatan yang tepat.

Kita semua mafhum, Steve adalah tokoh telekomunikasi yang fenomenal. Jadi, perlombaan yang dilakukan oleh penerbit dalam menerbitkan biografi tentangnya memang wajar. Setiap ada kematian seorang yang berpengaruh, maka seringkali juga kemudian segera dihadirkan buku biografinya. Ya, begitulah kebaikan mereka akan terus terkenang. Maka, Zaenuddin  dalam tulisannya berharap agar kita semua bisa terinspirasi menjadi manusia baik yang akan meninggalkan kesan baik, meski mungkin tidak bisa menjadi yang fenomenal Steve. (halaman 12)

Zaenuddin juga mencoba mengambil inspirasi dari kata ilmu hitam yang sering dianalogikan dengan ilmu mistis, seperti yang dilakukan penyihir dan dukun. Namun, Zaenuddin dalam tulisannya mengatakan bahwa ilmu yang awalnya bermanfaat, seperti ilmu politik akan menjadi ilmu hitam jika digunakan untuk politik yang menyengsarakan rakyat dan mengambil manfaat hanya untuk diri sendiri dan golongan. Ilmu ekonomi yang bermanfaat pun bisa menjadi ilmu hitam jika digunakan untuk korupsi.

Ilmu hukum yang bermanfaat pun akan menjadi ilmu hitam jika digunakan untuk membela mereka yang membayar bukan membela mereka yang benar. Maka, menurut Zaenuddin jika ada politisi yang memanfaatkan ilmunya untuk kepentingan diri sendiri dan kelompok bukan kepentingan rakyat maka dia bukanlah politisi yang negarawan, karena dia menggunakan ilmu hitam. Begitu juga jika ada cendikiawan hukum dan ekonomi, jika menghitamkan ilmunya dengan menyelewengkan penggunaannya maka dia bukanlah cendikiawan (halaman 58).

Zaenuddin juga mencoba merenungi beberapa kata-kata yang seolah-oleh bijaksana padahal beracun yang sering ada dalam kehidupan kita. Seperti kata, “Kalau bisa dipersulit, mengapa dipermudah?” Zaenuddin mengomentari, bahwa padahal mempermudah sesuatu yang sulit adalah pekerjaan orang-orang yang kreatif. Orang-orang yang sukses juga sangat pandai mempermudah urusan orang lain, memperingan urusan yang berat.

Perkataan lain yang sering kita dengar seperti, “Buat apa memikirkan dan memperjuangkan nasib orang lain. Memikirkan dan memperjuangkan nasib sendiri saja sulit.” Zaenuddin mengomentari dengan fakta bahwa orang-orang mulia lebih mengedapankan nasib orang lain ketimbang nasibnya sendiri. Menolong dan melayani orang lain justru akan memberikan kebaikan pada diri sendiri, seperti terangkatnya harkat dan martabat. Semakin banyak memberi, maka akan semakin banyak yang akan diterima. Hal ini karena Allah memberikan keberkahan padanya (halaman 63).

Zaenuddin juga mengingatkan pembaca tentang adagium terkenal yang berbunyi, “Bergaul dengan penjual minyak wangi akan ikut harum, bergaul dengan penjual ikan akan ikut amis.” Zaenuddin mengatakan memilih teman itu sangatlah penting, karena kalau bergaul dengan seorang yang malas, maka kita akan cenderung malas. Kalau kita sering bergaul dengan penjahat, maka kita akan bisa terseret menjadi penjahat juga. Bergaul dengan siapa saja boleh, tetapi mencari sahabat haruslah selektif. Sebab tanpa mengurangi penghargaan kita terhadap orang lain atau sesama manusia, kita juga berhak memilih orang lain sebagai teman. Ada adagium, “Lima tahun yang akan datang Anda akan menjadi apa, jadi sukses atau gagal, sangat tergantung pada dua hal yakni, apa yang Anda baca dan siapa teman Anda sekarang.”

Maka, buku yang terdiri dari 60 tulisan pendek namun narasinya menghentak dan mencerahkan ini sangat layak dibaca oleh banyak orang khususnya kaum muda. Karena isi dalam buku ini banyak tentang motivasi,  menawarkan perbaikan diri dan cara berpikir dan pandang yang benar. Selamat membaca!

 

Steve Jobs & Ilmu hitam

 

Judul                            : Steve Jobs & Ilmu Hitam

Penulis                          : Zaenuddin HM

Editor                           : Muridatun Ni’mah

Penerbit                       : Indiva Media Kreasi

Tahun Terbit                : Pertama, Maret 2017

Jumlah Halaman          : 200 halaman

ISBN                           :  978-602-6334-15-2


 Muhammad Rasyid Ridho

dsc00807

Karya-karya lainnya berupa cerpen, artikel, resensi, dan puisi juga dimuat di beberapa media offline maupun online, antara lain di Kompas, Jawa Pos, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Koran Jakarta, Radar Surabaya, Jateng Pos, Malang Post, Republika, Harian Surya,Radar Mojekerto, Radar Sampit,  Metro Riau, Majalah Matan, Majalah   Majalah Gizone, Majalah Sabili, Koran Kampus UMM Bestari, Kompas.com.   Minimagz Gen_M2. Kunjungi blog pribadinya di Ridho dan Bukunya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *