Menanamkan Akhlak lewat Cerita Misteri

Buku menjadi salah satu media paling ampuh untuk menanamkan pelajaran moral dan akhlak kepada anak-anak. Lewat buku, kita tahu, anak tak sekadar diajak untuk berpetualang dalam lautan ilmu pengetahuan. Lebih jauh, terutama dalam buku-buku cerita atau fiksi, anak akan diajak untuk hanyut dalam pengalaman-pengalaman imajinatif yang kaya nilai-nilai kehidupan.

Buku anak terbaru berjudul Jejak Kaki Miterius ini misalnya, merupakan kumpulan cerita anak yang bertema misteri. Di dalamnya, kita akan disuguhi cerita-cerita misteri yang memancing rasa penasaran untuk bisa memecahkan masing-masing misteri tersebut. Tema misteri menjadikan buku ini memiliki daya pikat tersendiri bagi anak-anak. Sebab, mereka akan dibuat penasaran dengan pemecahan masing-masing misteri di dalamnya.

Misalnya, dalam cerita berjudul “Misteri Kotoran Kelas”, kita akan melihat bagaimana rasa penasaran itu dimunculkan lewat hal-hal aneh yang terjadi di lingkungan anak-anak. Yana, Rara, dan Asti, anak-anak murid kelas 6 SD, dibuat heran dengan adanya bercak-bercak ungu yang mengotori kelas mereka. Bercak-bercak itu ada di meja, lantai, dan jendela kelas. Padahal, Yana, yang kemarin baru saja piket, sangat yakin telah membersihkan kelas dan mengunci pintu sebelum pulang sekolah.

Kejadian itu berulang lagi keesokan harinya. Tak hanya mereka bertiga yang mulai penasaran, kini semua anak satu kelas mulai dibuat heran dengan adanya bercak-bercak ungu tersebut. Tidak mungkin itu ulah kucing atau binatang lain, sebab jendela selalu ditutup dan pintu selalu dikunci rapat setiap pulang sekolah. “Aku tahu kalau ini ulah salah seorang dari kita. Cuma kelas 6 yang kotor begini, dan cuma kelas 6 yang belajar sore di sekolah ini!” kata Yana pada teman-temannya yang lain (hlm 72).

Kebingungan itu bahkan sempat memantik perdebatan di kalangan siswa kelas 6. Mulai muncul kecurigaan-kecurigaan siapa sebenarnya yang melakukan itu semua. Sampai kemudian, keesokan harinya, tidak hanya bercak-bercak ungu yang ditemukan, namun juga ada dedaunan dan ranting-ranting pohon di meja guru. “Teman-teman, aku sudah tahu asal bercak-bercak itu!” ujar Yana pada teman-temannya. Ternyata, bercak-bercak berwarna ungu itu berasal dari sari buah buni yang sudah matang.

“Berarti ada yang memanjat pohon buni di belakang sekolah, lalu masuk ke dalam kelas melalui jendela, dan mengotori kelas ini. Begitu?” kata salah seorang murid (hlm 75). Saat itulah anak-anak satu kelas itu mulai menemukan titik terang misteri kotornya kelas mereka beberapa hari terakhir. Kelas menjadi semakin tegang, semua anak menunggu siapa sebenarnya pelakunya. Rara yang kemarin sempat melakukan penyelidikan sepulang sekolah, dengan bersembunyi di samping gedung sekolah memberi kesempatan kepada Budi untuk mengakui perbuatannya.

Meskipun awalnya sempat mengelak, akhirnya ia mengakuinya. Perbuatan itu dilakukan tiga orang, yakni Budi, Eka, dan Dylan. Beberapa hari terakhir, mereka mengambil buah buni di belakang sekolah dan membawanya ke dalam kelas sehingga ranting-ranting dan bercak-bercak buah itu banyak yang tertinggal dan mengotorinya. Namun, mereka bertiga hanya ingin membantu nenek Eka untuk menjual manisan buni. Mereka ingin membantu memetikkan buah buni dari pohon, namun mereka juga sekaligus ingin sambil memakannya. Makannya, mereka memilih ruang kelas karena di kebun banyak nyamuk.

Akhirnya, mau tidak mau mereka mengakui berbuatannya dan meminta maaf kepada semua teman-teman sekelas karena selalu mengotori kelas setiap hari. Mereka mendapat hukuman membersihkan kelas. Dan karena tujuan mereka sebenarnya baik, yakni membantu nenek Eka, Rara kemudian mengajak mereka memilih hasil petikan buah buni di kebun saja biar tidak mengotori kelas.

Dari cerita tersebut, banyak pelajaran yang bisa dipetik anak-anak. Rasa penasaran akan suatu hal yang misterius, atau dalam hal ini adanya bercak-bercak kotoran yang ada di kelas, dijadikan media untuk menanamkan nilai-nilai kreatifitas, kejujuran, dan persaudaraan di antara anak-anak. Meskipun pada dasarnya apa yang dilakukan Budi, Eka, dan Dylan itu baik, yakni ingin membantu nenek Eka untuk mengambil buah Buni, namun mereka tetaplah bersalah karena telah mengotori ruang kelas. Dari sini, di samping kejujuran, anak-anak juga diajak untuk belajar melakukan hal baik dengan cara yang baik pula.

Masih ada banyak cerita misteri yang terhimpun dalam buku ini. Masing-masing cerita membawa kisah tersendiri yang menarik untuk disimak dan terus diikuti. Selain itu, masing-masing cerita juga menyimpan nilai-nilai akhlak tersendiri yang sangat inspiratif dan bermanfaat bagi anak-anak. Selamat membaca!

-Peresensi: Al Mahfud,

penikmat buku, bermukim di Pati

 

Jejak kaki MisteriusJudul                : Jejak Kaki Misterius

Penulis             : Riawani Elyta, dkk.

Penerbit           : Indiva Media Kreasi

Cetakan            : 1, 2016

Tebal                 : 144 halaman

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *