Menangis sambil Tertawa dan Tertawa sambil Menangis

Oleh: Angger Meina

Dalam dunia persinetronan terutama sinetron komedi, Boim Lebon adalah nama yang tidak asing. Pengarang yang satu ini memang sangat familiar di mata dan telinga penggemarnya. Beliau yang bernama asli H. Sudiyanto bin H. Pandi bin Karyokromo adalah penulis buku novel humor berjudul 3 Anak Badung ini. Penulis yang imut (= item mutlak)—julukan Boim Lebon yang berkulit hitam legam ini lahir pada 17 Juli 1967.

Dahulu, Boim Lebon pernah bekerja di Indosiar sebagai script writer drama dan sekarang bekerja sebagai Head Writer Drama di RCTI. Salah satu karyanya (sinetron berjudul Dona Sang Penyamar) masuk nominasi Festival Sinetron Indonesia 1996 dalam kategori sinetron komedi seri terbaik. Beliau juga pernah membuat Lenong Bocah di TPI pada era tahun 1990-an.

Novel humor berjudul 3 Anak Badung ini bercerita tentang seorang ibu bernama Bunga Cinta Lebay (BCL) yang tega membuang ketiga anak lelakinya. Mereka adalah Mola—si sulung yang lemot banget mikirnya, Rama—si tengah yang doyan berantem namun paling cerdas, dan Reh—si bungsu yang hobi banget tidur tidak kenal tempat. Ketiga kakak beradik ini dibuang karena kebencian dan rasa frustasi emaknya (BCL) terhadap sang suami yang “kabur” entah ke mana. Mereka terpaksa dibuang di atas kereta api jurusan Yogyakarta di Stasiun Senen karena himpitan ekonomi.

Selama sepuluh tahun dalam pembuangan sampai akhirnya bertemu kembali dengan emaknya itu, mereka bertiga hidup sebagai pengamen jalanan yang penuh dengan kesengsaraan, penderitaan, keprihatinan, bahaya, ancaman, miskin perhatian dan sangat kekurangan kasih sayang. Beruntunglah ada sosok Mas Kelik –seniman Yogya, yang cukup membantu mereka mendapat tumpangan. Selain itu, ada tokoh Bang Sofwan—sopir truk yang mantan preman, yang membantu mencarikan emak mereka.

Walaupun sangat mengharukan dan mungkin akan membuat pembacanya bersimbah airmata selama membacanya, novel ini disajikan dengan bahasa yang kocak, ringan, dan barangkali bisa membuat pembacanya tersenyum dan bahkan tertawa ngakak. Bagaimana tidak! Aksi dari tiga anak badung yang kocak, selipan cerita humor singkat yang semakin membuat senyuman lebar dari pembaca, dan lirik lagu dari penyanyi terkenal yang diubah-ubah juga berhasil membuat pembaca terhibur. Nah, inilah nilai plus, plus, plus dari novel ini. Menjadikan pembacanya terharu di tengah kelucuan, dan menjadikan pembacanya tertawa di tengah keharuan. Perpaduan suasana hati yang sangat bertolak belakang. Ini sesuatu yang unik sekaligus langka.

Namun ending cerita ini menggantung, sehingga membuat pembaca kurang puas. Misalnya saja, bagaimana kelanjutan kisah si Botak dan anak buahnya, apa yang terjadi pada Bang Sofwan setelah kembali ke rumahnya, dan bagaimana pula nasib dari tiga anak tersebut dan ibunya setelah rumah dan harta bendanya habis dilalap api?
Meskipun demikian, kekurangan yang sedikit ini tertutupi oleh kecerdasan Boim Lebon membangun karakter setiap tokoh yang ditampilkannya. Ditambah lagi dengan gaya penceritaannya yang super kocak di tengah suasana haru-biru batin para tokoh yang dibangunnya, lengkap sudah.

Maka dari itu, sangat merugi rasanya bila tidak membaca novel ini. Melalui novel setebal 192 halaman ini, pembaca akan dibuat tertawa sekaligus menangis. Atau sebaliknya, akan dibuat menangis sekaligus tertawa. Belum ada tandingannya novel Boim Lebon yang satu ini. Tidak percaya? Buktikan sendiri sajalah!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *