MENDAMPINGI ANAK MEMASUKI USIA REMAJA

Sumber gambar: Pixabay

Oleh: Sam Edy Yuswanto*

Buku ini berusaha menjawab hal-hal seputar persiapan orang tua guna membimbing anak-anaknya yang sudah mulai memasuki usia baligh atau masa remaja. Ketika seorang anak memasuki usia remaja, ia sangat rentan terhadap pengaruh media. Begitu mudahnya mereka mengakses berbagai informasi lewat internet di waktu-waktu senggang. Bila tak mendapat pendampingan orang tua maka bisa membahayakan perkembangan anak. Misalnya terjerumus ke dalam pergaulan terlarang.

Ada empat macam pendidikan yang bisa dilakukan orang tua untuk mendidik anaknya yang mulai menapaki usia remaja. Pertama, pendidikan akal, meliputi segala hal yang berkaitan dengen pembentukan pola pikir anak. Karakter anak harus dibentuk dengan segala sesuatu yang bermanfaat, misalnya ilmu agama, kebudayaan, dan peradaban.

Kedua, pendidikan ruhani atau jiwa. Pendidikan ini bertujuan membentuk, membina, dan menyeimbangkan kepribadian anak. Sehingga ketika ia dewasa bisa melakukan kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan dan tak lari dari tanggung jawabnya. Ketiga, pendidikan sosial. Pendidikan ini berkaitan dengan bagaimana manifestasi ketakwaan seseorang di tengah masyarakat. Semakin bertakwa seseorang, maka ia akan semakin baik perilaku sosialnya.

Keempat, pendidikan seksual. Melalui pendidikan ini, anak bisa memahami urusan-urusan kehidupan yang diperbolehkan dan yang tidak diperbolehkan. Dengan mengetahui apa itu seks sejak dini, ia akan berusaha mengendalikan nafsu syahwatnya, sehingga diharapkan bisa menjaga dirinya dari melakukan hubungan terlarang seperti melakukan seks bebas (halaman 18-19).

Pendidikan seks bukanlah hal tabu. Maka jangan sampai orang tua mengabaikan hal ini. Jangan sampai anak keliru memahami seks akibat mencari informasi sendiri lewat orang lain atau media internet. Pendidikan seks sangat penting diajarkan oleh setiap orang tua kepada anak-anaknya yang mulai menginjak masa remaja. Terkait hal ini, diperlukan kepekaan, keterampilan, dan pemahaman agar mampu memberikan informasi dalam porsi yang tepat.

Ada beberapa poin penting terkait bagaimana cara mengajarkan anak agar memahami apa itu seks (halaman 20-23). Pertama, tanamkan rasa malu pada anak, jangan biasakan ia membuka aurat atau telanjang di depan orang lain. Misalnya, saat berganti pakaian atau keluar dari kamar mandi biasakan untuk tidak hanya membalut tubuhnya dengan handuk saja tapi juga menutupi bagian tubuh yang lainnya.

Kedua, tanamkan jiwa maskulin pada anak laki-laki dan feminin pada anak perempuan secara fisik maupun psikis. Hal ini penting diajarkan oleh orang tua agar pertumbuhan kejiwaan anak tak terganggu dan mengalami gangguan psikologis. Sebagaimana di era sekarang, banyak anak laki-laki yang berperilaku dan berdandan seperti perempuan, dan perempuan yang berdandan seperti lelaki.

Ketiga, memisahkan tempar tidur anak ketika usianya telah menapaki 7-10 tahun. Karena pada usia tersebut anak tak lagi memikirkan tentang dirinya, tapi juga sesuatu di luar dirinya. Memisahkan tempat tidur anak banyak manfaatnya. Misalnya  agar anak belajar melepaskan perilaku lekatnya dengan orang tua dan menanamkan kesadaran tentang kemandirian. Selain itu, pemisahan tempat tidur bagi anak laki-laki dan perempuan juga sebagai pembelajaran tentang eksistensi dua jenis manusia.

Keempat, ajarkan anak tentang cara menjaga kebersihan alat kelamin. Termasuk bagaimana cara bersuci setelah buang hajat. Kelima, mengenalkan perkara mahram (orang-orang yang tidak boleh atau haram dinikahi). Hal ini penting diketahui oleh anak untuk menghindari terjadinya hubungan terlarang dengan saudaranya sendiri. Misalnya kasus seorang adik yang mencintai dan menikahi kakaknya karena ketidaktahuan tentang mahram. Kelima, ajari anak agar menjaga pandangan terhadap lawan jenis. Sebagaimana diketahui bahwa fitrah manusia tertarik pada lawan jenisnya. Namun bila fitrah tersebut dibiarkan bebas lepas tanpa kendali, maka akan merusak kehidupan manusia itu sendiri.

Orang tua yang enggan mendidik dan mendampingi anaknya yang memasuki usia remaja maka bisa menyebabkan dampak yang fatal bagi perkembangan psikologi anak. Selama ini cukup banyak perilaku menyimpang anak usia remaja akibat ketidakpedulian orang tua terhadap pendidikan dan perkembangan anak-anaknya. Misalnya, karena ketidaktahuan anak ia tumbuh menjadi pribadi yang tertarik terhadap sejenisnya sendiri (homoseksual atau lesbian), bahkan ada juga yang memiliki ketertarikan seksual kepada kedua lawan jenis atau biasa disebut biseksual (halaman 102).

Terbitnya buku parenting ini layak diapresiasi dan bisa dijadikan salah satu buku rujukan bagi para orang tua untuk membantu mendidik putra-putrinya yang tengah memasuki usia remaja.

***

* penulis lepas di Kebumen.

 


AYAH, BUNDA, DAMPINGI AKU MENUJU REMAJA


 

 Judul Buku      : AYAH, BUNDA, DAMPINGI AKU MENUJU REMAJA

Penulis             : Wida Az Zahida

Penerbit           : Indiva Media Kreasi

Cetakan           : I, 2018

Tebal               : 232 halaman

ISBN               : 978-602-6334-98-5

 

Masa balig adalah salah satu etape kehidupan. Banyak calon orang tua mempersiapkan diri dengan demikian rupa untuk menyambut kehadiran buah hati. Desain pendidikan juga turut disiapkan untuk sang anak kelak. Semua berjalan lancar saat orang tua tengah merasakan euforia datangnya buah hati, namun tidak sedikit orang tua yang kemudian lengah dan tidak memiliki desain yang mantap untuk mempersiapkan anak dalam memasuki masa balig.

 

Masa balig adalah masa yang krusial, oleh karenanya orang tua perlu memberikan perhatian yang besar menyangkut hal ini. Sebab, dalam masa ini anak memasuki titik di mana dia akan memikul tanggung jawab yang serupa dengan muslim yang telah dewasa: shalat, puasa, dan ibadah fardhu lainnya. Amal sang anak akan dihitung sebagai amalan pribadi. Dia akan bertanggung jawab langsung di hadapan Allah SWT.

 

Buku ini menjawab hal-hal seputar persiapan yang harus dilakukan orang tua guna membimbing putra-putri menuju masa balig. Buku ini juga memaparkan tentang karakteristik remaja agar pendidikan dapat masuk dalam diri mereka dengan optimal, sehingga mereka dapat menjadi bagian dari generasi yang berkualitas dunia-akhirat.

Lembar evaluasi yang ada dalam di buku ini dapat dipergunakan untuk memudahkan orang tua melihat perkembangan anak dan menjaga komitmen orang tua dalam pelaksanaan pendidikan. Selain itu, di akhir setiap bab diberikan kisah-kisah inspiratif sehingga buku ini menjadi menarik dibaca. Untuk lebih memberikan dorongan dalam merealisasikan perencanaan yang telah dirumuskan.

 

Harapan saya, buku ini tidak sekadar menjadi bacaan, namun menggerakkan orang untuk mendidik anak sesuai didikan Rasulullah dan para sahabat. Bagaimanapun pendidikan ala Nabi adalah teladan yang terbaik. Oleh karenanya buku ini memberikan gambaran tentang bagaimana hal tersebut dapat diwujudkan kembali di era sekarang dengan bahasa yang mudah dipahami tanpa terkesan membosankan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *