MENDIDIK PERASAAN MELALUI PENGALAMAN HIDUP

Sumber Gambar: Pixabay

Oleh: Khairul Anam

 

Perasaan merupakan suatu keadaan manusia yang sangat sulit diolah. Perasaan dapat berubah sewaktu-waktu tanpa diberi aba-aba terlebih dahulu. Kadang di jam ini kita merasa sangat bahagia dan kadang tidak sampai hitungan jam, perasaan kita berubah menjadi sedih.

Selain itu, ada sebuah perasaan yang apabila tidak bisa diolah akan berdampak buruk bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. Misalnya rasa egois dan ingin menang sendiri. Rasa egois memanglah sangat buruk dan sebaiknya kita hilangkan dari diri kita, mungkin lebih tepatnya kita olah agar tidak terlalu muncul.

Perasaan semacam itu tidak akan mampu menghantarkan diri kita pada puncak kedewasaan. Rasa egois, mudah marah dan perasaan lain, merupakan perasaan bawaan ketika kita masih kecil. Hal yang biasa bila kita menemukan perasaan semacam itu di diri anak kecil, namun jika kita menemukan perasaan semacam itu di diri orang dewasa, maka sangat tidak wajar.

Orang-orang dewasa tentunya harus mendidik perasaannya. Sehingga perasaan, emosi, dan sifat kekanak-kanakan hilang dari dirinya yang sudah dewasa. Ketika kita mampu mendidik perasaan kita sendiri, kita akan menjadi seseorang yang bijaksana—yang mampu mencari solusi dan jalan keluar sebijak mungkin ketika menghadapi sebuah masalah.

Berbicara tentang perasaan, memang tidak semudah yang dibayangkan. Bahkan diri kita sendiri tidak mampu mengelola perasaan kita sendiri. Perasaan berubah tak tentu.

Lalu bagaimana cara mendidik perasaan kita? Dengan cara mengambil pelajaran dari pengalaman hidup kita. Kita perlu mengasah kepekaan hati kita, sehingga kita bisa memahami dan mengambil pelajaran dari pengalaman hidup itu. Pelajaran dari setiap pengalaman itu kita jadikan landasan untuk memperbaiki, mengolah dan mendidik perasaan kita. Agar kita benar-benar matang sebagai orang dewasa.

Seperti yang dikisahkan dalam novel berjudul “Ayah, Aku Rindu” ini. Rudi Gilang seorang anak remaja harus ditempa berbagai ujian di dalam hidupnya. Ujian pertama bisnis ayah dan ibunya bangkrut.

Sayangnya, ketika banyak orang yang sukses karena ayam petelur. Ayahku sebaliknya, dua tahun lalu, ribuan ayam petelur ayah terjangkit virus flu burung. Dalam satu hari, lebih dari lima ekor mati mendadak, sisanya yang bertahan sekitar tiga ribuan ekor pun harus ikut dimusnahkan. (halaman 14)

Ujian kedua, ibunya meninggal. Rudi Gilang sempat terkejut dengan kabar itu. Dia sempat tidak percaya. Rudi Gilang ingin dipeluk oleh ayahnya, tetapi saat itu ayahnya hanya diam. Untung saja ada gurunya yang bernama Pak Sadli, rumahnya juga tidak jauh dari rumah Rudi Gilang.

Ujian berlanjut. Beberapa bulan setelah kematian ibunya, ayahnya menjadi gila. Dia kebingungan. “Saya menggeleng. Masih tidak percaya melihat ayah bicara sendiri. Kepalaku yang sudah melongok masuk kukeluarkan untuk mencari sandal di depan tangga. Siapa tahu ada sepasang sandal tamu yang menjadi lawan bicara ayah, tapi tak ada. Tante yang biasa datang untuk memasak di rumah, tak ada di ruang tamu, tak ada kesimpulan lain kecuali, ayah bicara sendiri.” (Halaman 21)

Rudi Gilang yang digambarkan sebagai tokoh “saya” di dalam novel menjadi sering melamun setelah kejadian. Dia seperti tidak memiliki ayah lagi. Kehadiran sosok ayah di sampingnya kini tiada dia rasakan.

Namun Pak Sadli yang memiliki ayah pemabuk terus menyemangati. Dia mengatakan pada Rudi Gilang untuk bersabar, dia terus memompa semangat Rudi Gilang dengan menyamakan nasib keduanya. “Agar kamu bercermin dari pahit hidupku tentang kehadiran Ayah!” Kata Pak Sadli yang meminta Rudi Gilang untuk melihat gurunya yang sudah sejak lama mengalami hal yang sama sepertinya.  (halaman 60)

Namun inilah yang paling sulit dari kehidupan Rudi Gilang. Ternyata selama ini dia bukanlah anak dari ayahnya yang gila itu, dia merupakan anak hasil pemerkosaan ibunya yang dilakukan oleh ayahnya Pak Sadli yang pemabuk itu.

“Rud, bukan hanya cincin itu yang ayahku ambil dari kakekmu. Anak gadisnya, yang kini jadi ibumu, juga diperkosanya di malam perampokan itu.” (halaman 179)

“Rud, kita saudara. Kamu anak Pak Ramli, Rud. Itulah mengapa ayahmu sangat membencimu.” (halaman 180)

Semua pengalaman hidupnya yang dipenuhi dengan ujian membuat Rudi Gilang menjadi seorang dewasa yang matang. Dia yang awalnya egois menjadi sangat bijaksana. Pengalaman hidup berhasil mendidik perasaannya.

Dari novel yang bagus ini. Novel remaja yang ternyata kisahnya bukan tentang roman picisan seperti novel remaja lainnya, kita dapat mengambil pelajaran bahwasanya setiap ujian memiliki pelajaran dan hikmah, bukan untuk menyiksa, melainkan untuk menjadikan kita menjadi sosok dewasa yang matang. (*)

 


AYAH AKU RINDU


 

Judul Buku    : Ayah, Aku Rindu

Penulis            : S Gegge Mappangewa

Penerbit          : Indiva Media Kreasi

Cetakan pertama, Maret  2020

Tebal              : 192  halaman; 19 cm

ISBN               : 978-602-495-290-7

Samar-samar kudengar suara ayah. Ya, suara ayah. Suara yang telah lama kurindukan itu terdengar dari ruang tamu. Ada sebuah rasa yang menyusup ke dalam dadaku. Rasa bahagia yang melonjak-lonjak.

Doa itu …?

Doa yang selama ini kupanjatkan dengan menyebut nama ayah di dalamnya, ternyata begitu cepatnya dikabulkan. Padahal saya pernah pesimis, toh ayah sendiri yang pernah bilang bahwa tidak semua doa langsung dikabulkan. Butuh penantian. Butuh kesabaran.

Luka, duka, derita, tak menunggu orang dewasa dulu untuk kemudian ditimpanya. Semua kepahitan itulah yang akan menempa kedewasaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *