MENGHADAPI MUSIBAH DENGAN SABAR DAN TAWAKAL

Sumber Gambar: Pixabay

Oleh: Ratnani Latifah*

Dalam hidup ini, kita tidak mungkin berjalan dalam satu arah saja. Kadang kita merasakan kenikmatan. Namun kadang kita juga merasakan kesulitan. Hal itu sudah menjadi sunnahtullah. Oleh sebab itu, kita tidak boleh kaget jika sewaktu-waktu Allah menegur kita dengan sebuah cobaan.  Karena Allah tidak pernah memberi cobaan seorang hamba, di luar kemampuan hambanya.

Mengusung tema cerita yang dekat dalam keseharian hidup kita, buku terbaru dari  penulis asal Kalimantan Selatan ini, sangat menggugah jiwa. Apalagi dengan sentuhan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami anak.

Menceritakan tentang keluarga sederhana Zira.  Keluarganya tinggal di kompleks pasar. Ayahnya memiliki sebuah toko peralatan mobil sederhana yang dibantu sang ibu dalam pengelolaannya.  Zira juga memiliki seorang kakak laki-laki, yang meski jahil, namun sangat menyayangi Zira.  Kehidupan keluarga Zira awalnya baik-baik saja berubah dalam hitungan menit, ketika tiba-tiba kebakaran terjadi di kompleks perumahan Zira.

Hari itu Zira harus melupakan rencana liburan sekolanya, yang ingin dia isi dengan membaca banyak buku yang sudah dia pinjam dari perpustakaan.  Zira terlalu kalut, ketika harus menerima kenyataan bahwa rumahnya yang nyaman itu sudah dilahap si jago merah.  Dia hanya sempat menyelematkan beberapa barang. Bahkan sepeda kesayangannya yang baru dibelikan ayahnya hilang.

Zira sangat sedih. Kenapa musibah itu harus terjadi kepada keluarganya. Belum lagi setelah tragedi kebaran, Zira harus berpisah dengan teman baiknya, Milya. Namun dari musibah itu banyak pelajaran berarti yang bisa Zira petik.  Dulu Zira, sempat merasa sebal dan marah dengan keadaan rumahnya yang tidak seperti teman-temannya. Karena rumahnya disatukan dengan toko, maka rumahnya selalu terbuka. Dia tidak bisa membukakan pintu, ketika ada temannya yang datang berkunjung. Dia juga ingin memiliki kamar sendiri, karena selama ini dia selalu tidur di kasur terpisah dari ayah dan ibunya (hal 46). Tapi kini ketika melihat rumah-nya sudah menjadi abu, Zira akhirnya memahami tentang pentingnya  mensyukuri apa yang sudah  dia miliki.  Dan sejak kepindahan Milya, Zira mulai membuka diri.

Selain itu dari musibah itu, Zira belajar tentang arti penting sebuah doa. “Tugas kita berdoa, Zira. Tentang urusan mengabulkan doa, itu urusan Allah. Kapan doa dikabulkan, itu urusan Allah. Dalam bentuk doa apa doa dikabulkan, itu juga urusan Allah. Kalau kita berdoa, Allah bisa memberikan apa yang kita minta saat itu juga. Doa juga bisa  dikabulkan Allah dengan ganti yang lain, yang lebih baik dari yang kita minta. Kalau pun di dunia belum terkabul, itu bisa jadi tabungan  di akhirat nanti. Jadi apa pun yang ditetapkan Allah,  yakinlah itu untuk kebaikan kita.” (hal 78-79).

Membaca kisah ini, kita bisa memetika banyak sekali pembalajaran juga sekaligus mengenalkan kepada anak tentang karakter kepribadian yang baik.  Di antaranya kisah ini mengajarkan kita tentang pentingnya bersikap ikhlas saat mendapat cobaan dari Allah, selalu sabar dalam setiap keadaan dan tawakal kepada Allah.  Jangan terlalu sedih, karena di balik cobaan pasti ada hikmah. Dan Allah pun sudah menjelaskan bahwa Allah tidak akan mencoba di luar batas kemampuan hamba-Nya.

Tidak kalah penting penulis juga menyisipkan anjuran bagi anak untuk gemar membaca seperti Zira. Karena dengan membaca banyak sekali pengetahuan yang bisa didapat. Buku ini sangat patut dibaca bagi anak-anak.  Hanya saja saya masih kurang puas dengan kejadian kebakaran, yang tidak dijelaskan secara gamblang tentang asal usul api, sehingga bisa menyebar di kompleks perumaha itu. apakah karena gas meledak, kebakaran hutan dan lain sebagainya. Sehingga sebab akibatnya akan terlihat jelas. Bukan hanya karena kebarakaran.

Namun lepas dari kekurangan, saya sangat salut dengan kepiawaian penulis dalam menampilkan kisah anak dengan rasa anak-anak.  Saya juga senang dengan nilai-nilai edukasi yang disisipkan penulis, misalnya tentang cinta kepada Allah tanpa terkesan memaksa dan menggurui dan kebiasaan saling tolong menolong, serta tenggang rasa.

Srobyong, 2 Desember 2018

*Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara


Judul               : Terima Kasih Allah

Penulis             : Hairi Yanti

Penerbit           : Lintang, Indiva

Cetakan           : Pertama, Oktober 2018

Tebal               : 112 halaman

Harga               : Rp 37.000,-

ISBN               : 978-602-5701-41-2

 

Liburan Zira seharusnya sempurna. Ia memang tak berlibur ke mana-mana, tapi Zira sudah meminjam banyak buku. Dengan buku, ia bisa menjelajah dunia.

Malam liburan tiba, Zira sudah selesai membantu Ibu. Ia siap untuk membaca buku dengan santai. Tapi….

 

Teng…. Teng… Teng…

 

Sebuah suara dari luar rumah terdengar keras. Buku yang dipegang Zira terlepas. Jantungnya berdegup. Zira melunglai begitu tahu apa yang terjadi. Satu peristiwa yang membuat banyak hal berubah.

 

Kejadian itu juga membuat Zira mendapatkan banyak pelajaran di kemudian hari. Tentang arti rumah, tentang doa yang dipanjatkan tapi belum dikabulkan, dan tentang bersyukur. Apa yang terjadi pada Zira di malam itu? Yuk, baca kisah Zira selengkapnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *