Menulis ala Marisa Agustina

20150228_173319

 

 

Ada banyak teori menulis, namun eksekusi menulis sesungguhnya adalah sesuatu yang personal. Selalu begitu, setidaknya begitu bagi saya. Sebenarnya saya tidak punya kiat khusus dalam menulis. Menulis, ya, menulis. Jika saya sedang ingin menulis blog ya saya akan mengerahkan segenap sumber daya untuk mendukung terciptanya sebuah postingan blog. Blogwalking, mengumpulkan data, gambar, dan segala yang diperlukan demi sebuah tulisan untuk dipajang di blog. Demikian pula ketika saya ingin menulis tulisan jenis lain, novel misalnya, atau cerita bergambar, atau mungkin cerpen. Namun seringnya hal-hal berikut menjadi semacam pola alami yang akan terjadi setiap kali saya membuat tulisan.

 

Pre Writing Process

 

Make up your mind. Tentukan niatmu, apa tujuanmu menulis? Kamu merasa harus menulis? Kenapa? Untuk apa? Apakah untuk mengejar materi? Atau mungkin ingin populer? Atau kamu merasa berbakat mungkin? Atau demi eksistensi? Atau untuk bersenang-senang? Jawablah secara jujur, dan biarkan hatimu berkolaborasi bersama pikiran dan ragamu setelah itu.

Kemudian, setelah kamu yakin akan menulis, dalam bentuk apa kelak tulisanmu itu harus sampai pada pembacamu? Novel, buku cerita bergambar, komik, postingan blog, status di media sosial, atau apa? Kamu sendiri yang tentukan…

Anggaplah kamu ingin kelak tulisanmu tampil dalam bentuk novel. Maka selanjutnya novel kamu itu kelak kamu inginkan terbit melalui penerbit apa? Mayor atau indie? Akan terpajang di toko buku apa saja? Offline atau online bookstore?

Writing Process

gbr nulis

 

 

Seperti sudah saya sebutkan, ada banyak teori tentang menulis. Apa yang cocok bagi saya belum tentu pas untukmu. Ada yang sanggup menyelesaikan draft novel selama dua minggu saja, ada pula yang dua tahun pun belum tentu selesai. Ada yang tak bisa menulis tanpa kerangka yang lengkap dan detil, ada juga yang tetap stabil menulis begitu saja. Kita sendirilah yang paling tahu apa yang kita butuhkan.

Saya pribadi tidak terlalu saklek dengan metode kepenulisan. Yang penting ide ada, sinopsis ada. Standar menulis yang umum saja, ide-sinopsis-kerangka. Biasanya, nanti dalam prosesnya akan berkembang sendiri sesuai kebutuhan. Jika dalam prosesnya ada hal-hal tertentu yang menurut kita menarik untuk mendapatkan porsi dalam tulisan, selalu catatlah sebelum lupa.

Yang pasti jika keinginan untuk menyelesaikan sebuah tulisan sudah sekuat baja, biasanya eksekusi saya akan cepat. Bahkan rekor saya adalah dua minggu untuk sebuah draft novel 100 halaman. Tips untuk itu adalah kamu harus menulis dengan ide, sinopsis, tokoh, dan kerangka yang benar-benar sudah lengkap, dari awal hingga ending. Dan selama dua minggu itu, siap-siaplah untuk melayang-layang terbius cerita dalam tulisanmu sendiri. Fun to do for challenge but for the sake of your health, you’d better not do that!

 

Post Writing Process

 

Setelah tulisanmu jadi dan selesai, apapun itu, endapkan sejenak. Lupakan. Kemudian setelah beberapa jeda, kembalilah untuk membacanya. Bagaimana rasa tulisanmu? Kalau perlu mintalah beberapa orang kepercayaanmu, terutama yang tega bilang jelek, untuk mencicipi karyamu. Setelah itu lakukan pengeditan mandiri. Sedangkan jika tulisanmu akan kau tayangkan di blog pribadimu saja, itu membutuhkan editing agar typo-free, bukan? Apatah lagi jika tulisanmu hendak kamu kirimkan kepada pihak lain. Lakukanlah pengeditan mandiri. Serius!

Dan setelah tulisanmu tayang di blog, atau di media sosial, atau terkirim kepada penerbit, sekarang saatnya menikmati efek baliknya. Komentar, jempol, kritik, atau jawaban yes or no dari penerbit. Yap, semua tulisan akan menemukan takdirnya masing-masing. Makanya kalau bagi saya pribadi, canangkanlah niat dan keinginan sekuat mungkin di awal mengawali proses menulis, agar sang pemilik semesta membukakan jalan terbaik-Nya atas tulisan kita.

One thought on “Menulis ala Marisa Agustina

  1. Rindang says:

    Wah, mantap nih tipsnya kak. Makasih yak ^^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *