MENYUSURI EKSOTIKA LUWENG JARAN

Oleh: Totok Utomo

 

Sumber gambar: pacitantourism.net

 

Di antara ciri khas tulisan Afifah Afra adalah muatan lingkungan hidup dan budaya Jawa di dalamnya. Kedua hal tersebut tidak terkecuali hadir dalam buku ini.

Isinya bertutur mengenai petualangan sekelompok mahasiswa dalam menyusuri lekuk gua vertikal bernama Luweng Jaran, di daerah Pacitan, Jawa Timur. Mereka melakukan penyusuran tersebut guna melakukan penelitian biospeleologi—ilmu yang mempelajari tentang kehidupan dalam gua.

Menariknya, gua yang ditemukan tahun 1984 ini, termasuk bertipe swallow hole, yakni memiliki sungai dari permukaan tanah yang menghilang dan masuk ke gua. Dinamika sungai di atas tanah sangat mempengaruhi keadaan sungai dalam gua. Bila sungai di permukaan tanah banjir, hal yang sama terjadi dalam gua.

Hal tersebut membuat penyusuran Luweng Jaran tidak semudah ketika memasuki gua horizontal semacam Gua Jatijajar yang sudah banyak dijamah manusia dan isinya sudah sangat artifisial. Lebih sukar lagi karena usaha penelitian itu berbenturan dengan kepentingan golongan yang berkeras mempertahankan kewingitan gua dengan cara tidak mengizinkan upaya penyusuran. Kaum ini berpendapat penjelajahan ke dalam liang di perut bumi, dapat menghilangkan keangkeran dan kemurnian gua. Padahal, kedua hal itu diperlukan guna bertapa dalam gua, menunggu wangsit dari makhluk-makhluk gaib.

Benturan dua kepentingan, menimbulkan konflik seru yang membuat novel karya penulis peraih Anugerah Prasidatama 2014 Kategori Tokoh Sastra Indonesia dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah ini, kian menarik dibaca.

Namun, tidak cuma keseruan cerita yang bisa kita dapatkan, berbagai informasi penting soal lingkungan hidup pun bisa kita peroleh sembari menekuri helai demi helai halaman buku. Misalnya tentang cavepearl (hlm. 3, 115 ), stalaktit dan stalakmit (hlm. 4-5, 79 ), fenomena seruling laut (hlm. 18-19, 118, 120), fauna jenis troglobite yang seumur hidupnya bermukim dalam gua hingga indra penglihatannya tidak berfungsi, namun indra pendengarannya amat tajam (hlm. 55-56), tips persiapan sebelum melakukan penyusuran gua (hlm. 99-100), termasuk juga informasi bahwa lima belas hektar dari wilayah Nusantara adalah alam bertipe karst atau bukit-bukit yang tersusun dari batu gamping atau kapur (hlm. 114).

Informasi-informasi tersebut tidak dipaparkan secara panjang lebar dengan bahasa sangat ilmiah seperti halnya tulisan nonfiksi, tapi diselipkan dalam narasi cerita secara smooth, sehingga tidak terasa memaksa untuk dijejalkan ke dalam benak pembaca.

Di samping itu, muatan budaya Jawa seperti pertunjukan wayang Beber peninggalan Kerajaan Majapahit (hlm. 101), soal keturunan Putri Campa, selir Prabu Brawijaya, penguasa Kerajaan Majapahit (halaman 102-103), serta kebiasaan negatif yang mengarah pada tindakan musyrik berupa semadi menanti wahyu dari makhluk halus (hlm. 43-45, 187, dst.) juga hadir memperkaya muatan novel.

Hal-hal negatif tersebut yang dengan sadar ditampilkan pengarang, secara cerdas dinetralkan lewat kelindan cerita dan dialog antartokoh tanpa bahasa yang menggurui. Lewat novel ini, pengarang berhasil menepis keyakinan umum bahwa novel reliji hanya berisi taburan ilmu agama yang disajikan amat gamblang layaknya khotbah Jumat.

Hal menarik lainnya, isi novel ini disampaikan lewat tiga perspektif, yakni sudut pandang mahasiswa peneliti gua, sudut pandang istri dukun yang menolak ekspedisi ke dalam gua, dan sudut pandang seekor kelelawar penghuni gua.


Judul               :       Akik dan Penghimpun Senja

Pengarang   :       Afifah Afra

Penerbit        :       Indiva Media Kreasi

Cetakan         :       Pertama

Tebal                :       viii + 324 halaman

ISBN                 :       978-602-1614-63-1

 

 

Sejak purba, senja mati dalam usia muda
Aku hanya mampu menggunting senja
Menyimpannya di sudut hati
Dan membukanya saat aku tak tahu
Bagaimana obati penyakit rindu


Sekelompok peneliti muda menelisik lurung-lurung gulita gua yang masih menyimpan seribu rahasia dengan harapan seluas samudra. Namun, elan yang membara harus berbenturan dengan amarah sang penghimpun akik. Nyawa pun menjadi taruhan. Tak ada yang bisa menahan, bahkan juga cinta sejati sang pengumpul senja.

Debur ombak pantai selatan, pantai yang penuh kenangan, pun menjadi saksi atas laranya harapan yang berbentur dengan kenyataan. Tetapi, semua toh akhirnya melarut dalam jingganya senja. Buktinya, dia mampu mengumpulkan empat ribu delapan ratus dua puluh tiga senja dalam hidupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *