MERESAPI SEJARAH BANGSA LEWAT KARYA SASTRA

Sumber Gambar: Pixabay

 

Oleh: Thomas Utomo*

 

Uraian sejarah dalam buku teks sering kali disampaikan dengan bahasa yang terlalu resmi dan kaku, berisi urutan kejadian beserta tahun yang disambung dengan pendapat tokoh tertentu. Akibatnya uraian sejarah tersebut kurang dapat dinikmati kalangan awam maupun kaum muda. Padahal, untuk menjejak masa depan lebih mantap, orang perlu menengok masa lalu untuk belajar daripadanya—bila sejarah itu baik maka dapat diteruskan atau malah dikembangkan, sebaliknya jika sejarah itu buruk maka perlu koreksi dan perbaikan..

Lalu bagaimana jika teks sejarah itu sendiri sukar dicerna atau kurang diminati, karena penyajiannya tidak menarik? Jawabannya adalah lewat karya sastra.

Lewat karya sastra, misalnya novel, orang dapat belajar menelusuri dan menghayati sejarah sesuatu kelompok masyarakat atau bangsa. Justru dengan belajar sejarah lewat sastra, orang dapat lebih mendalami sisi kemanusiaan para pelaku sejarah. Tentu karena karya sastra menyajikan pengalaman-pengalaman para pelaku sejarah secara lebih personal dan partikularis. Tokoh-tokoh itu bergerak, berbicara, bersenyawa dalam benak imajinasi pembaca, sehingga pembaca dapat turut merasakan, meresapi, dan bahkan berempati dengan peristiwa yang menimpa para tokoh imajinatif itu—yang sesungguhnya kalau ditelusuri jejaknya pasti ada tokoh yang serupa di alam nyata. Berbeda dengan teks sejarah yang lebih mengemukakan urutan kejadian dan cenderung mengabaikan sisi kedalaman psikologis.

Kaitannya dengan paparan tersebut, salah satu alternatif karya sastra yang dapat digunakan sebagai bahan menyusuri serta mendalami sejarah bangsa—dalam hal ini bangsa Indonesia—adalah novel Mei Hwa dan Sang Pelintas Zaman. Novel peraih Penghargaan Prasidatama 2018 dari Balai Bahasa Jawa Tengah ini mengemukakan riuh rendah sejarah Indonesia sejak pendudukan Belanda, kedatangan tentara Nippon, peristiwa G30S/ PKI, sampai huru-hara Mei 1998. Tokoh utamanya sendiri dua perempuan lintas generasi—lahir dan tumbuh besar di zaman yang berbeda.

Tokoh pertama, Sekar Ayu, lahir zaman Hindia-Belanda. Bapaknya asal Hadramaut, sedang ibu asli Surakarta. Perbedaan latar belakang orang tua menimbulkan perpecahan dalam keluarga. Korban utama perpecahan ini adalah Sekar Ayu—anak malang yang tidak mengerti duduk persoalannya.

Pada saat Jepang mencengkeram Nusantara, menggantikan kekuasaan Belanda, Sekar Ayu terseret menjadi jugun ianfu. Di era kemerdekaan, dia kembali terperosok. Kali ini ke Kamp Plantungan, karena kedekatannya dengan anak petinggi PKI.

Tokoh kedua, Mei Hwa, keturunan Tionghoa. Sejak kecil, dia tidak boleh bergaul dengan pribumi, cukup dengan lingkaran etnisnya sendiri. Saat huru-hara 1998, rumah dan toko milik keluarga dijarah dan dibakar. Lebih dari itu, harga diri Mei Hwa turut menjadi korban: dia diperkosa beramai-ramai oleh kawanan bengal beraut muka pribumi.

Novel ini menyuguhkan pagelaran keanekaragaman manusia dalam naungan rumah besar bernama Indonesia—dalam novel ini disajikan tokoh-tokoh beretnis Jawa, Sulawesi, Tionghoa, Yaman beserta persinggungan dan pergumulan keyakinan mereka.

Hampir sama dengan karya Afifah Afra lainnya—ialah Da Conspiraḉẫo—novel ini juga menyuguhkan kenyataan getir betapa semboyan Bhineka Tunggal Ika seakan-akan hanya olok-olok belaka, karena perbedaan yang ada di Indonesia justru tidak dipahami sebagai rahmat—sebagaimana firman Tuhan—namun lebih kerap menjadi pemicu sengketa.

Akhirnya, membaca novel ini adalah alternatif cara untuk meresapi sejarah bangsa. Pembaca dapat turut berempati dengan perempuan-perempuan korban ketamakan politik dan kekuasaan. Pembaca juga dapat mensyukuri keadaan sekarang ini—yang meskipun belum stabil dan terus diisi silang-sengkarut urusan korupsi, namun tidak lebih mengerikan dari peristiwa perjalanan bangsa di masa silam yang banyak melelehkan darah, air mata, juga keringat.

 

*Thomas Utomo adalah guru SD Negeri 1 Karangbanjar, Purbalingga. Novelnya Petualangan ke Tiga Negara masuk masuk nominasi Buku Islam Terbaik, Kategori Fiksi Anak pada ajang Islamic Book Award 2019. Dapat dihubungi lewat nomor 085802460851 atau surel utomothomas@gmail.com.


MEI HWA DAN SANG PELINTAS ZAMAN


Pengarang  :    Afifah Afra

Penerbit      :    Indiva Media Kreasi

Tebal          :    367 halaman

ISBN          :    978-602-1614-11-2

 

“Dia korban perkosaan,” bisikan lelaki berjas putih itu menyakitiku.

Korban perkosaan. Aku mengerang. Meradang. Seakan ingin memapas sosok-sosok beringas yang semalam itu menghempaskan aku kepada jurang kenistaan.

“Kasihan dia,” ujar lelaki itu lagi, samar-samar kutangkap, meski gumpalan salju itu menghalangi seluruh organ tubuhku untuk bekerja normal seperti sediakala.

“Kenapa?” tanya seorang wanita, juga berpakaian serbaputih.

“Rumahnya dibakar. Tokonya dijarah. Ayahnya stres, masuk rumah sakit jiwa. Dan ibunya bunuh diri, tak kuat menahan kesedihan.”

……………

Huru-hara 1998 tak sekadar telah menimbulkan perubahan besar di negeri ini. Sebongkah luka yang dalam pun menyeruak di hati para pelakunya. Mei Hwa, gadis keturunan Tiong Hoa adalah salah satunya. Dalam ketertatihan, Mei Hwa berusaha menemukan kembali kehidupannya. Beruntung, pada keterpurukannya, dia bertemu dengan Sekar Ayu, perempuan pelintas zaman yang juga telah terbanting-banting sekian lamanya akibat silih bergantinya penguasa, mulai dari Hindia Belanda, Jepang, hingga peristiwa G30S PKI. Sekar Ayu yang telah makan asam garam kehidupan, mencoba menyemaikan semangat pada hati Mei Hwa nan rapuh.

Dalam rencah badai kehidupan, berbagai kisah indah terlantun: persahabatan, ketulusan, pengorbanan dan juga cinta. Lewat novelnya ini, Afifah Afra kembali mengobrak-abrik emosi pembaca lewat novel bergenre fiksi sejarah yang sarat konflik, diksi menawan dan pesan yang sangat kuat.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *