MISTERI BERLIAN WARISAN KAKEK

Qiya Risha

Oleh Thomas Utomo

Kamu suka cerita detektif? Kalau iya, buku ini cocok kamu baca.

Berkisah tentang Qiya dan Risha, sepasang sepupu yang tidak akur. Perselisihan keduanya bermula saat memperebutkan sebuah boneka beruang dari Amerika, kiriman saudara mereka. Akhirnya, guna menentukan anak yang berhak mendapatkan teddy bear, Kakek memberi tantangan untuk memecahkan kalimat misteri. Kalimat itu berbunyi OREJNAT FRZOIALV QV WBGNX OYRAQRE YRZNEV QNCHE.

Sebelumnya, Kakek telah menyembunyikan boneka berukuran besar itu di suatu tempat. Qiya dan Risha harus bisa memecahkan kalimat misteri untuk mengetahui letak penyimpanan boneka beruang.

Kedua anak kelas lima tersebut bingung. Kendati demikian, Qiya merasa tertantang untuk memecahkan kalimat misterius. Sementara Risha, justru sebaliknya. Dia merasa enggan dan malah sebal pada Kakek. Sejak dulu, dia tidak suka teka-teki. Dia lebih suka membuat kue.

Qiya makin semangat. Dia mengutak-atik kalimat misteri. Dia menjejerkannya dengan huruf-huruf alfabet yang disusun dua shaf. Masing-masing shaf terdiri dari tiga belas huruf. Waktu itulah, bohlam di kepala Qiya menyala. Ternyata, kalimat Kakek ditulis menggunakan sandi A = N. Kamu yang rajin mengikuti ekskur Hizbul Wathan, pasti tahu sandi ini. Akhirnya, kalimat misterius terpecahkan. Kalimat itu berbunyi BERUANG SEMBUNYI DI KOTAK BLENDER LEMARI DAPUR.

Boneka beruang pun menjadi milik Qiya. Risha marah. Sedang Qiya tidak peduli. Keduanya lalu bermusuhan, tidak mau saling menyapa, tidak mau saling menolong.

Setahun berselang, Kakek meninggal. Seluruh keluarga berduka, tidak terkecuali Qiya dan Risha. Beberapa waktu setelah kematian Kakek, kedua anak sebaya itu mendengar cerita Nenek yang mengatakan ketiadaan sepasang berlian warisan suaminya. Nenek mengira berlian itu hilang. Padahal Nenek ingat, dua berlian asal Martapura itu harus diberikan pada mama Qiya dan bunda Risha.

Nenek memutuskan membeli lagi berlian pengganti di Martapura, meski kondisi kesehatannya tidak baik. Mama Qiya dan bunda Risha berjanji mengantarkan Nenek ke pulau seberang, setelah urusan kerja mereka kelar.

Pada saat bersamaan, tanpa sengaja, Qiya menemukan kejanggalan di surat-surat yang Kakek kirimkan pada mama dan bunda saat keduanya merantau untuk kuliah—bertahun-tahun lampau. Di balik surat-surat itu ada deretan sandi yang sukar ditentukan maknanya. Qiya merasa, mungkin ini jawaban untuk mengetahui letak penyimpanan berlian warisan Kakek. Di sisi lain, Risha juga mendapati tulisan aneh Kakek di buku miliknya. Di sinilah, kekompakan dan kerja sama keduanya diuji.

Beberapa hal yang perlu dikritisi dari novel karya Hairi Yanti ini, misalnya, apa sebetulnya alasan Kakek menyembunyikan berlian untuk kedua anak perempuannya? Apakah karena keadaan tidak aman? Mengapa Kakek tidak menitipkannya ke Nenek? Atau kalau Kakek mau menyimpan sendiri, kenapa dia tidak memberi tahu istri dengan gamblang di mana letak penyimpanannya? Kenapa malah memberi tahu letak penyimpanan lewat deretan sandi yang tersebar di mana-mana? Apakah sebagai istri, Nenek tidak dapat dipercaya?

Lalu, sandi untuk menemukan letak berlian, bisa dibilang sangat rumit untuk ukuran siswa kelas lima SD. Meski pada akhirnya, Qiya dan Risha bisa memecahkan sandi Kakek dengan media keyboard komputer bunda Risha, tapi patut diherankan, apa iya seorang laki-laki tua sampai berpikir sedemikian njlimet? Kalau hanya sekadar sandi A = N, masih cukup mungkin, dengan argumen, bisa jadi, dulu Kakek pernah belajar sandi itu di kegiatan kepanduan. Tapi, sandi dengan qwerty atau tata letak tombol di keyboard?

Di luar pertanyaan-pertanyaan itu, buku ini sangat layak baca. Pengarangnya piawai menggerogoti rasa penasaran pembaca lewat jalinan cerita yang dia anyam. Sambil menelusuri cerita, pembaca juga jadi ikut menebak-nebak dan berpikir mengenai teka-teki yang ada. Dan inilah salah satu kegunaan membaca, ialah mengasah daya nalar pembaca.


Judul          :    Qiya dan Risha, Si Detektif Cilik

Pengarang  :    Hairi Yanti

Penerbit      :    Indiva Media Kreasi

Cetakan      :    Pertama, Agustus 2017

Tebal          :    128 halaman

ISBN          :    978-602-6334-21-3

Harga         :    Rp 35.000

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *