PENDIDIKAN AKHLAK DALAM CERITA ANAK

 

Sumber Gambar: Pixabay

 

Oleh: Untung Wahyudi*

Selama ini, dunia pendidikan, khususnya sekolah-sekolah formal, kerap mengampanyekan pendidikan karakter. Pendidikan budi pekerti yang dianggap penting untuk menggembleng siswa dengan akhlak yang baik. Pendidikan karakter, atau juga bisa disebut pendidikan akhlak, penting ditanamkan karena, selama ini banyak kasus krisis moral yang terjadi di lingkungan sekolah.

Tentu masih segar dalam ingatan kita atas tewasnya seorang guru bernama Pak Budi di Sampang, Madura. Guru yang meninggal dunia karena ulah siswanya sendiri jadi salah satu bukti konkret betapa minimnya pendidikan moral di kalangan pelajar.

Selain mendidik siswa lewat pendekatan khusus, salah satunya lewat guru Bimbingan Konseling (BK), perlu juga untuk menanamkan nilai-nilai akhlak lewat cerita. Bukan sekadar cerita yang membuat siswa terlena oleh khayalan yang melenakan, tetapi dengan cerita yang diadaptasi dari kisah-kisah keseharian.

Janji 1000 Bakau adalah buku kumpulan cerita anak yang ditulis oleh anak-anak usia SD dan SMP. Buku karya pemenang “Lomba Menulis Cerpen PECI 2015” ini memuat sejumlah cerita inspiratif yang bisa menjadi bahan cerita untuk guru, orangtua, atau juga bisa dibaca sendiri oleh anak-anak.

Ada bermacam tema yang diangkat para penulis cilik dalam buku ini. Dari tema keluarga, persahabatan, hingga petualangan. Semua kisah diramu dengan begitu seru, rapi, enak dibaca, dan sangat mudah dipahami oleh pembaca anak-anak.

Cerpen Janji 1000 Bakau adalah karya Laksita Judith Tabina yang berhasil keluar sebagai pemenang pertama. Dalam cerpen ini, Laksita berkisah tentang pentingnya menjaga lingkungan, terutama pantai. Isna adalah tokoh utama dalam cerpen ini. Isna merasa kasihan ketika Hani, teman sekelasnya harus pergi dari Kampung Nelayan. Rumah Hani tergerus ombak bersama rumah-rumah lain. Isna tak sanggup melihat kesedihan Hani karena sudah tidak punya tempat tinggal dan terpaksa harus mengungsi ke daerah lain.

Isna penasaran kenapa rumah-rumah di Kampung Nelayan itu tergerus ombak. Ia bertanya pada orang-orang kampung, siapa tahu mereka tahu penyebabnya. Lewat keterangan seorang nelayan, Isna tahu kalau semua itu disebabkan oleh penebangan liar hutan bakau. Seorang Bapak bercerita, kalau selama ini banyak orang dari luar kampung mengambil kayu bakau secara liar.

Isna berjanji, jika suatu saat punya dana atau uang sendiri, akan ikut menjaga lingkungan Kampung Nelayan dengan menanam seribu pohon bakau. Isna akan berusaha memenuhi janjinya tersebut. Ia tidak ingin teman-temannya yang lain bernasib sama dengan Hani (hlm. 10.)

Cerita menarik lainnya bisa kita baca dalam cerpen Berkah Beasiswa yang ditulis Fhatiya Khalilah Balqis. Cerpen pemenang harapan ini cukup menarik karena mengajarkan betapa pentingnya berbagi. Thiya, si tokoh utama, merasa kasihan pada Arum, teman sekelasnya. Thiya melihat selama ini Arum jarang pakai seragam baru, padahal teman-teman lain biasanya setiap tahun ganti seragam baru.

Hingga suatu ketika, Thiya melihat Arum selalu memakai jaket ke sekolah. Saat olah raga, Arum juga tak melepas jaketnya. Alasan Arum, dia tidak enak badan. Beberapa hari sudah Arum sakit, tapi dia tetap masuk sekolah. Saat di kamar mandi untuk berganti pakaian sehabis olah raga, Thiya melihat seragam Arum begitu kecil. Rasanya tidak cocok kalau dipakai Arum. Apakah itu alasannya beberapa hari ini pakai jaket ke sekolah?

Arum ternyata mengetahui apa yang dilihat Thiya. Akhirnya, Arum menjelaskan kalau selama ini, dia memang tidak pernah ganti seragam. Waktu beli di kelas satu, dia sengaja beli ukuran besar agar saat naik kelas tidak perlu menggantinya. Thiya begitu terkejut dan kasihan. Ia berjanji, jika uang beasiswanya keluar, akan membelikan seragam baru buat temannya (hlm. 127).

Secara keseluruhan, cerita-cerita dalam buku 144 halaman ini layak untuk jadi pelajaran bagaimana menanamkan akhlak pada diri siswa. Seperti dalam Rahasia Sahabat Dunia Maya karya Melika Hapsari, Kejujuran sang Juara karya Khansa Tabina Khairunnisa, Aku Bukan Kakakku tulisan Rala Digna Amanda, Dompet Lusuh besutan Queen Aira, Semua Karena Ikan Cupang karya Aldini Hwang, dan cerita lainnya. (*)

 

 

*) Untung Wahyudi, penggiat literasi, tinggal di Sumenep


 

 

Judul               : Janji 1000 Bakau

Penulis             : Laksika Judith Tabina, dkk.

Penerbit           : Lintang – Indiva, Solo

Cetakan           : Pertama, 2016

Tebal               : 144 Halaman

ISBN               : 9786021614945

“Cerita yang seru untuk dibaca dan baik untuk diambil hikmahnya. Sukses buat penulis-penulis keren seperti Laksita dan yang lainnya.” (Kak Ali Muakhir, Penulis 333 judul buku, Peraih Adikarya Ikapi 2007 Fiksi Anak Terbaik)

 

“Janji Seribu Bakau, kisah inspiratif yang dikemas begitu menarik. Tentang kegigihan seorang gadis yang peduli lingkungan, menyadarkan kita bahwa janji adalah hutang yang harus dibayar, dan tidak semua hal bisa didapatkan dengan uang. (Sherina Salsabila, Penulis, Tokoh Anak dan Remaja, Penerima Penghargaan Kebudayaan 2015 Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia)

 

“Tidak hanya menghibur, cerpen ini menyuarakan kepedulian pada lingkungan, khususnya pelestarian hutan bakau. Acung jempol untuk penulis cilik ini, yang kemampuannya merangkai kata melebihi anak-anak seusianya, disertai pesan moral kuat yang mengembus di sekujur cerita.” (Linda Satibi, penerima penghargaan IBF Award 2016 kategori fiksi anak terbaik)

 

“Wow, kalau sebagai penulis cilik karyanya udah kayak gini, nanti kalau sudah jadi penulis dewasa karyanya bakal kayak apa, ya?” (Marisa Agustina, penulis buku anak, penerima penghargaan IBF Award 2015 kategori fiksi anak)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *