PENTINGNYA SIKAP MENTAL POSITIF

Sumber Gambar: Pixabay

 

Oleh: Thomas Utomo*

Ada sebelas cerita pendek dalam buku Jangan Suka Berburuk Sangka ini. Ditulis oleh sepuluh anak—terdiri dari delapan perempuan dan dua laki-laki. Dari semuanya, Zata Yumni Adania Tarisa Iskandar merupakan satu-satunya kontributor yang menyumbangkan dua cerita pendek.

Cerita pendek Jangan Suka Berburuk Sangka karya Aida Shazie—yang dijadikan judul sampul—mengisahkan tentang Naya yang kabur dari rumah setelah berselisih dengan Umi, ibunya. Didorong pikiran pendek, dia nekat pergi ke hutan. Celakanya, setiba di hutan, dia justru mendapat kecelakaan. Tidak hanya itu. Dia juga bertemu seorang perempuan lansia yang didesas-desuskan sebagai dukun. Naya merasa semakin terpojok ketika perempuan lansia itu menyuruhnya meminum secawan air berwarna kuning kecokelatan. (halaman 24-27). Namun, perkembangan kejadian berikutnya, membuat Naya harus mengoreksi kekeliruan pikiran dan pendapatnya.

Cerita pendek lain yang ‘berbicara’ hal senada dengan Jangan Suka Berburuk Sangka yakni tentang pentingnya mengedepankan sikap mental postif adalah Di Balik Tato Bang Jay karya Khonsa’ Al Hasna, Master of Science karya Alifa Suci Parameswati, dan Biru karya Arina Rasyada.

Sementara itu, dari sebelas suguhan yang tersedia, Menanti Adik Bayi karya Ghilman Fadhlil Azhim Tasya dan Tutor Sebaya anggitan Zata Yumni Adania Tarisa Iskandar adalah cerita pendek yang paling ‘menggigit’ dalam hal cara penyampaian maupun isi pesan—bukan berarti, cerita pendek lain tidak bagus.

Dalam Menanti Adik Bayi, pembaca digiring untuk ikut merasakan kekhawatiran ketika ada anggota keluarga—dalam hal ini ammah atau tante—yang akan melahirkan bayi. Meski bukan jenis persalinan berisiko atau sukar, namun cara Ghilman Fadhlil Azhim Tasya mendeskripsikan tahap demi tahap kekalutan menanti lahirnya sang sepupu, menarik sekali.

Proses penantian kelahiran itu dihubungkan serta dikilasbalikkan dengan cerita Nenek tentang perjuangan Bunda dalam melahirkan sang tokoh utama yang berujung kematian (halaman 76, 85-86). Kendati demikian, sang tokoh—atas didikan Nenek—lebih mengedepankan sangka baik dalam menghadapi peristiwa meninggalnya Bunda dan proses bersalinnya Ammah.

Sementara cerita pendek Tutor Sebaya bertutur mengenai kedongkolan Risa—sang bintang kelas—karena diharuskan oleh guru untuk belajar secara berpasangan dengan Ella—anak yang sukar memahami pelajaran, sehingga selalu mendapat nilai tidak bagus. Padahal, belajar yang mereka lakoni, bukan main-main, karena untuk menghadapi Ujian Sekolah.

Zata Yumni Adania Tarisa Iskandar menggambarkan perasaan Risa sebagai berikut, “Memang Ella merupakan salah satu temanku, namun tidak untuk belajar bersama. Aku menghempaskan napas. Dadaku sesak. Ingin rasanya aku menangis: kemungkinan pindah kelas, dapat pasangan yang tidak pintar lagi!” (halaman 132).

“Masak aku dapat pasangan Ella. Dia itu nggak bisa paham kalau nggak dijelaskan berulang kali. Kenapa nggak dipasangkan sama Eli saja yang juara kelas. ‘Kan enak nggak perlu jelasin. Huh! Ngapain juga Pak Wahyudi masangin aku sama Ella! Pak Wahyu nyebelin! Pak Wahyu nggak adil!” (halaman 137).

Dari penggambaran tersebut, pembaca dapat ikut merasakan kejengkelan yang dialami Risa. Apik sekali!

Sedikit kekurangtepatan ditemukan dalam cerita Biru karya Arina Rasyada. Pada halaman 63, Arina Rasyada menuliskan, “… suara adzan dari mic puluhan masjid yang bertebaran dari Sabang sampai Merauke. Semua berkumpul membentuk irama lembut nan indah.”

Kekurangtepatan yang dimaksud adalah pertama, bukankah wilayah Indonesia sangat luas, seperti dituliskan Arina Rasyada, dari Sabang  sampai Merauke? Lalu, apakah logis jika disebutkan kalau masjid sepanjang Sabang sampai Merauke hanya berjumlah puluhan saja?

Kedua, di Indonesia dikenal tiga perbedaan waktu: Waktu Indonesia Timur, Waktu Indonesia Tengah, dan Waktu Indonesia Barat. Dengan demikian, tentu waktu adzan-nya tidak mungkin sama atau berbarengan, sehingga mustahil jika, “… Semua berkumpul membentuk irama lembut nan indah.”

Selanjutnya, dalam cerita pendek Gara-Gara Utang karya Ukasyah Ammar Robbani, ada pengulangan kata yang cenderung boros lagi mubazir. Kata yang dimaksud ialah ucapan, “Assalamu’alaikum,” dan “Wa’alaikumsalam.” Dalam dua belas halaman cerita (99-110), ditemukan ada sembilan pengulangan, “Assalamu’alaikum,” dan delapan pengulangan, “Wa’alaikumsalam.”

Tentu saja, mengucapkan salam dan menjawabnya merupakan hal baik, bahkan wajib dibudayakan, karena sesuai tuntutan Rasulullah. Namun, tidak tepat dan kurang etis, jika dalam ruangan cerita pendek yang sempit, disebutkan pengulangan yang terlalu banyak. Wallahu a’lam bish shawab.

Kendati demikian, kedua hal tersebut adalah kekurangtepatan kecil. Dibandingkan usaha pengarang dan muatan positif yang terkandung dalam cerita pendek karya mereka, kekurangtepatan itu, jelas tidak ada apa-apanya. Insyaallah, kekurangtepatan yang ada, akan sirna seiring perjalanan kepenulisan keduanya. Apalagi telah diketahui bahwa selain buku Jangan Suka Berburuk Sangka, ada juga buku-buku antologi cerita pendek lain yang Arina Rasyada dan Ukasyah Ammar Robbani tergabung di dalamnya sebagai kontributor. Artinya, kedua anak belia ini serius menekuni bidang tulis-menulis.

Akhirnya, kehadiran buku ini dapat dimaknai sebagai salah satu bentuk pemasyarakatan wejangan Rasulullah, “Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR Bukhari dan Muslim), pada kaum muda—wabil khusus anak-anak dan praremaja.

*Thomas Utomo adalah guru SDN 1 Karangbanjar, Purbalingga, Jawa Tengah. Menulis novel Petualangan ke Tiga Negara  yang diterbitkan Indiva Media Kreasi. Dapat dihubungi lewat 085802460851 atau utomothomas@gmail.com.


PROFIL BUKU


Judul          :    Jangan Suka Berburuk Sangka

Pengarang  :    Aida Shazie, dkk

Penerbit      :    Indiva Media Kreasi

Cetakan      :    Pertama, September 2018

Tebal          :    144 halaman

ISBN          :    978-602-5701-17-7

 

Naya kesal pada Bunda. Kok Bunda nggak ada capek-capeknya ngomelin Naya ya? Sebenarnya Bunda sayang nggak sih sama Naya? Begitu pikir Naya. Akhirnya, Naya pergi ke hutan untuk membuktikan, apakah Bunda sayang padanya atau tidak.

Diam-diam Naya kabur ke tengah hutan. Di hutan Naya bertemu seorang nenek. Naya ngeri mengingat cerita Alifa. Konon ada dukun perempuan yang tinggal di hutan itu. Jangan-jangan nenek itu yang dimaksud Alifa? Benarkah si nenek seorang dukun? Lalu, bagaimana reaksi Bunda saat tahu Naya tidak ada di rumah?

Nah, teman-teman cari tahu kisah selengkapnya di buku ini. Ada juga cerpen-cerpen lain yang tidak kalah menarik. Selamat membaca….

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *