PERAN MUSLIMAH DALAM RENTANG SEJARAH

Sumber Gambar: Pixabay

 

 

Oleh: Ratnani Latifah*

 

Dalam rentan sejarah,   bukan hanya  kaum lelaki yang memiliki sumbangsih dalam kemerdekaan Indonesia. Para kader wanita juga ikut memiliki sumbangsih yang sama.  Buku ini membahas tentang para pejuang Nusantara sejati. Para muslimah yang ikhlas berkorban dan mendedikasikan diri bagi kemerdekaaan dan kesejahteraan bagi masyarakat.  Sebuah buku yang sangat patut diapresiasi dan dibaca anak bangsa.

Misalnya saja Nyai Ageng Pinatih. Dia memiliki peran penting dalam bidang perdagangan. Karena kesuksesan yang telah dia capai, Raja Majapahit pun mengakui kekuasaannya. Selain itu dia juga berperan penting dalam merawat dan mendidik tokoh besar yang dikemudian hari diberi gelar sebagai Sunan Giri—yang juga dikemudian hari sempat memimpin masa transisi dari kerajaan Majapahit ke Kerajaan Islam Demak (hal 25-26).

Ada juga Ratu Kalinyamat. Namanya aslinya adalah R.A Retno Kencono. Dia adalah putri dari Sultan Trenggono, Raja Demak ketiga. Ratu Kalinyamat ini memiliki banyak sumbangsih untuk kesejahteraan masyarakaat Indonesia. Saat dia  menjadi Adipati Jepara, Ratu Kalinyamat berhasil mengembalikan roda perekonomian yang sempat tersendat selama konflik politik  Kerajaan Demak. Dia membangun kembali industri  keunggulan Jepara, yaitu indutri galangan kapal (hal 36).

Selain mengembangankan industri galangan kapal, Ratu Kalinyamat dengan bantuan suaminya—Pangeran Hadirin merintis industri ukir yang terus maju hingga saat ini. Hal ini terlihat jelas dari motif-motif ukiran yang ada kental antara perpaduan motif jawa dan Tiongkok yang Islami.

Tidak hanya itu, Ratu Kalinyamat  ini juga termasuk orang yang sangat peduli dengan pendidikan. Oleh karena itu dia membangun Masjid Mantingan di dekat makam suaminya. Di mana masjid itu digunakan sebagai pusat pendidikan—pesantren—anak-anak dan pemuda yang terpelihara hingga saat ini (hal 38). Dan yang lebih mengagumkan, Ratu  Kalinyatam—ratu yang terkenal dengan kecantikannya ini juga seorang panglima perang yang tangguh.

Pada masa penjajahan, Ratu Kalinyamat menyadari bahwa keberadan Portugis yang telah menjajah Malaka tidak boleh dibiarkan karena hal itu dapat mengancam stabilitas kawasan bahkan kedaulatan negara. Oleh karena itu dia memberangkatkan 40 buah kapal perang berisi 4.000-5.000 prajurit bersenjata. Dan serangan kedua dilancarkan Ratu Kalinatamn ketika Portugis nyata-nyata menganggu jalur perdagangan di Selat Malaka (hal 40).

Ada juga Roro Ayu Mas Semangkin. Dia adalah wanita pemberani yang tidak pernah gentar jika harus terjun di medan laga. Sebagai anak yang pernah diasuk Ratu Kalinyamat, R.A Mas Semangkin ini juga didik keprajuritan dan ilmu kemiliteran. Oleh karena itu ketika ada huru-hara perampokan dan gangguan keamaan di daerah sekitar Gunung Muria, juga tentang Bupati Pati yang memberontak terhadap Mataram, dia meminta izin ke pada suaminya untuk memimpin pasukan untuk menertibkan masalah tersebut.

Dengan batuan empat tumenggung hebat, R.A Mas Semangkin berhasil mereda huru-hara tersebut.  Kemudian  R.A Mas Semangkin  ingin membuat markas bagi pasukananya. Oleh karena itu, mereka melakukan babat hutan di sebuah dataran landai di kaki gunung Muria yang kemudian dinamai Mayong (hal 42).

Lalu ada pula R.A Kartini. Dialah tokoh emansipasi wanita. Kartini berani menyerukan ketidakadilan tentang pola pendidikan yang ada di Indonesia. Di mana anak perempuan dianggap tidak memerlukan pendidikan dan hanya mendapat tugas sebagai tukang masak dan manak. Keberanian Kartini ini, akhirnya berhasil membuka peluang bagi wanita untuk mendapat pendidikan yang sama dengan kaum lelaki. Selain itu Kartini juga melakukan program pemberdayaan masyarakat berbasis usaha mikro kerajinan rakyat (hal 79).

Selain beberapa nama yang sudah dipaparkan, dalam buku ini  masih disebutkan beberapa muslimah lain yang memiliki sumbangsih dalam kemajuan Indonesia. Buku ini memuat nilai-nilai luhur tentang perjuangan para pejuang yang luar biasa. Sebuah buku yang mengajarkan tentang keberanian dan rasa cinta tanah air. Hanya saja saya merasa gaya pemaparan penulis kurang lues. Namun lepas dari kekurangan  buku ini tetap patut diapresiasi.

 

*Alumnus Universitas Islam Nahdlatu Ulama, Jepara


KARTINI DAN MUSLIMAH DALAM RAHIM SEJARAH


 

Judul               : Kartini dan Muslimah dalam Rahim Sejarah

Penulis             : Rahayu Amatullah

Penerbit           : Indiva Media Kreasi

Cetakan           : Pertama, April 2017

Tebal               : 144 halaman

ISBN               : 978-602-6334-29-9

 
 
Raden Ajeng Kartini, kita sering memanggil beliau dengan Ibu kita Kartini, merupakan salah satu tokoh yang turut mendorong pergerakan bangsa menuju kemerdekaan. Untuk mengenang jasa beliau 2 Mei 1964, Presiden Sukarno mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 tahun 1964 guna menetapkan R.A. Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional. Kepres ini sekaligus menjadikan hari lahir beliau, 21 April, sebagai Hari Besar Nasional. Hari besar yang hingga kini kita peringati sebagai Hari Kartini. Terlepas dari berbagai pertanyaan dan kritik mengenai peringatan ataupun penetapan beliau sebagai Pahlawan Nasional, saya mencoba menghadirkan runutan peristiwa perihal sosok perempuan yang tak dapat dipisahkan dalam perjalanan kita sebagai bangsa.Sebagai manusia R.A. Kartini tentu mengalami berbagai dinamika yang membentuk dirinya, baik dari aspek pemahaman, pemikiran, maupun perilaku. Dinamika ini saya ungkapkan dengan perjalanan menjadi diri, perjalanan Kartini binti Ario Sosroningrat hingga menjadi sosok yang kita kenal sekarang. Sebagaimana manusia pada umumnya, Kartini pasti mengalami perjalanan dan dinamika dalam masa hidupnya yang ibarat noktah dalam bentang panjang sejarah peradaban. Melalui pemahaman ini kita dapat merunut pemikiran anak bangsa yang hidup di pengujung abad ke-19 ini. Apa yang dijalaninya-dihempas-diperas-digelandang; juga apa yang dipaksakan padanya…. Agar kita belajar menghargai-menjaga-memperjuangkan-mengharumkan jati diri bangsa.

 

Sungguh tak enak menjadi bangsa pecundang, yang bahkan menamai dirinya sendiri saja tak punya kuasa. Yang dikatakan bahwa dirinya tak punya sejarah dan takkan bisa membuat sejarah. Sejarah milik pemenang? Maka mari menjadi bangsa yang tak sudi kalah.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *