Perjalanan Kemanusiaan ke Tanah Para Anbiya

Sejak kecil, Rinai Hujan adalah pribadi yang gelisah. Terlalu banyak pertanyaan yang bergelayut di benaknya. Tentang mengapa dia diharuskan ibunya untuk memegang teguh keluhuran norma hidup orang Jawa–sementara zaman terus bergerak menggilas semua nilai tradisionalitas? Mengapa perempuan perlu mengalah di bawah telapak kehendak laki-laki? Apa hal yang menyebabkan Guntur, kakaknya selalu dimenangkan dalam segala-galanya? Apa karena Rinai seorang perempuan yang konon ditakdirkan sebagai warga dunia kelas dua? Termasuk mimpi tentang ular yang hadir nyaris setiap malam dan merusak ketenangan batinnya dari aliran waktu ke waktu? Rinai tumbuh besar dengan pertanyaan-pertanyaan itu yang tidak kunjung menemukan jawaban, bahkan setelah dia kuliah di jurusan psikolosi.

Suatu hari, Rinai sang mahasiswa yang selama ini merantau, tiba-tiba pulang ke rumah dengan membawa kabar mengejutkan: dia akan berangkat ke Palestina sebagai relawan kemanusiaan! Tak pelak, orangtua dan kakaknya tidak berkenan memberi lampu hijau. Keadaan ayahnya yang buta dijadikan dalih yang diharapkan dapat membatalkan maksud keberangkatan Rinai. Tapi keputusan Rinai sudah bulat. Dia tetap berangkat, bukan karena membangkang atau kehilangan rasa bakti pada orangtua. Justru dia ingin membuktikan: sebagai anak bungsu, sebagai perempuan yang selalu dikalahkan, dia tetap mampu berbuat, mampu memberi manfaat–setidak-tidaknya mengurangi sedikit beban psikologis–masyarakat Palestina yang didera perang berkepanjangan.
Sebagai relawan kemanusiaan, Rinai tergabung dalam tim trauma healing bersama teman-teman klinisan yang dipimpin Nora Efendi, dosennya. Di samping timnya itu, ada pula rombongan dokter dan jurnalis.

Perjalanan ke dan selama di Palestina, ternyata lebih rumit dari yang Rinai bayangkan. Prosedur masuk Palestina yang berbelit-belit–bahkan sempat tertahan berhari-hari di Mesir, hubungan tidak harmonis antarsesama anggota rombongan karena dicemari silang pendapat tajam, perbedaan maksud dan tujuan, juga gesekan rasa cemburu dan iri, membuat suasana batin Rinai semakin runyam. Belum lagi hubungannya dengan Nora Efendi dan Amaretta Astuti, seniornya yang seperti berjalan di atas lapisan es yang tipis, saking rentannya. Kenyataan-kenyataan tersebut, berangsur-angsur membuat Rinai jengah dan berpikir: sejatinya apa guna dia berangkat ke Palestina?
Tetapi kemudian, Rinai justru menemukan jawaban-jawaban mencengangkan atas aneka pertanyaan yang ditanggungnya selama ini, baik soal jatidirinya sebagai bangsa Indonesia–wabil khusus orang Jawa, soal keharusan memegang teguh identitas tanah kelahiran, penerimaan dan keikhlasan tanpa batas, termasuk juga tafsir tentang ular yang mendominasi mimpinya selama ini. Menariknya, jawaban-jawaban yang menolongnya bermetamorfosis menjadi pribadi lebih baik itu, justru dia temukan di Palestina, di tanah para anbiya!

Rinai menuturkan secara mengharukan di buku hariannya, “Aku tidak pernah menghargai upacara bendera. Kupalingkan mata saat menghormat merah putih… Tapi tidak demikian sepulang dari Gaza… Kali pertama yang kucari ketika turun dari pesawat di Bandara Jakarta dan Surabaya adalah adakah bendera berkibar di tiang halaman muka? Mataku merebak. Kain merah putih, berkibar bisu, di langit dan bumi milik sendiri. Di Gaza, setiap anak-anak, pemuda, orangtua, gadis, ibu berjuang agar bendera mereka bisa tegak berkibar. Di negerinya sendiri.” (halaman 381).

Selain silang sengkarut konflik psikologis antartokoh, novel ini juga mendudah karakter bangsa Palestina yang belum banyak diketahui orang, seperti tulus memuliakan tamu tapi tidak mau membuka diri seratus persen pada orang asing, bersemangat gempita menyambut sekecil apapun upaya eksistensi bangsa, ramah, teguh memegang budaya asli, tidak kehilangan sisi kemanusiaan sekalipun digempur perang, dan sebagainya lagi.

Menarik pula disimak syarat menjadi prajurit Palestina, yaitu, “Berfisik sehat. Hafal Qur’an, setidaknya al-Anfaal dan at-Taubah. Berada di masjid selalu dalam shaf pertama, setidaknya tiga bulan berturut. Subuh dan Isya tak pernah lalai dari berjamaah.” (halaman 352).
Di luar kesalahan teknis seperti nama panjang kakak Rinai, apakah Guntur Alam (halaman 15) atau Guntur Laksmana (halaman 263), bagaimanakah deskripsi diri Rinai, apakah berhidung separuh (halaman 304) atau berhidung mancung (halaman 348), novel ini sungguh layak dicermati. Apabila Helvy Tiana Rosa banyak menulis Palestina dengan bahasa kepalan tangan, maka sebaliknya. Sinta Yudisia menuturkan Palestina lewat bahasa angin semilir. Halus, lembut namun tetap memiliki substansi yang berujung mencerahkan.

Judul : Rinai
Pengarang : Sinta Yudisia
Penerbit : Gizone Books
Cetakan : Pertama, September 2012
Tebal : 400 halaman
ISBN : 602-8277-65-7
Harga : Rp 45.000,00
Ukuran : 20 cm

Ledug, 24 Juni 2013

*Thomas Utomo pernah kuliah di Universitas Muhammadiyah Purwokerto, jurusan Pendidikan Guru SD. Sekarang bekerja di SD Universitas Muhammadiyah Purwokerto sebagai guru kelas III. Kerja sampingan sebagai penulis lepas di sejumlah media dan menjadi guru les di sebuah lembaga bimbingan belajar. Dapat dihubungi lewat telepon 085.747.268.227 atau e-mail utomothomas@gmail.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *