PERJUANGAN MENGEJAR BUKU-BUKU BERHARGA

Buku-Ini-Tidak-DijualBuku seringkali disebut sebagai jendela dunia. Melalui buku kita dapat melihat kehidupan di berbagai tempat tanpa perlu beranjak kemana pun. Buku juga sering disebut sebagai gudang ilmu. Dengan membaca buku, kita akan mendapat berbagai pengetahuan, kisah inspiratif dan motivasi yang dapat membuka pikiran.

Itulah sebabnya mengapa Padi begitu marah ketika ia pulang ke rumah dan mendapati buku-buku koleksinya sejak SD baru saja dijual Bapak. Jumlahnya mencapai lima karung. Bukan jumlah yang sedikit (halaman 19).

Bagi Bapak, tumpukan buku dalam ruangan berukuran 4×4 meter itu tidak berguna. Sekumpulan barang bekas yang hanya menghabiskan tempat untuk menyimpan. Serta menghabiskan waktu untuk merawatnya. Sementara Padi, si pemilik buku malah merantau di Ibukota dan hanya sesekali pulang.

Lain Bapak, lain pula pendapat Padi. Menurutnya buku pelajaran yang tampak tidak berharga sekalipun bisa menjadi saksi perjuangan ketika masih sekolah dulu. Kelak ketika pemiliknya telah dewasa, bekerja, dan menemui takdir masing-masing mereka akan selalu ingat. Buku-buku itulah saksinya. Ketika memori telah mulai meninggalkan mereka, buku-buku itu akan memanggil kembali segala ingatan. Hal itulah yang dapat membuat mereka tersenyum dihari tua (halaman 22).

Perbedaan pendapat diantara keduanya membuat keadaan rumah tidak nyaman. Gading memilih menenangkan diri di sawah. Disana ia bertemu sepupunya, Kingkin. Gading pun menceritakan masalah yang sedang terjadi di rumah. Rupanya Kingkin mengenali ciri-ciri orang yang membeli koleksi buku Padi. Masih ada kemungkinan buku yang telah dijual dapat dimiliki kembali. Sehingga pertengkaran di rumah bisa segera teratasi (halaman 29).

BITDKetika ide tersebut disampaikan, Padi malah tidak mau mendatangi tempat pengepul barang bekas yang disebut Kingkin. Alasannya karena ia masih lelah karena baru saja sampai dari Jakarta. Padahal alasan yang sebenarnya ia tidak ingin meninggalkan Bapak sendirian di rumah. Ternyata dalam keadaan marah sekalipun, Padi masih memperhatikan Bapak (halaman 35).

Akhirnya Gading dan Kingkin yang mendatangi rumah pengepul barang bekas tersebut. Namanya Pak Mersudi, rumahnya terbagi menjadi dua bagian. Salah satu bagian digunakan sebagai tempat tinggalnya bersama keluarga. Sebagian lainnya digunakan sebagai tempat penampungan barang bekas.

Para pegawai Pak Mersudi tampak sedang memilah barang bekas sesuai dengan jenisnya. Tak hanya buku, koran dan majalah bekas, berbagai macam peralatan rumah tangga yang sudah tidak terpakai pun ada di tempat penampungan tersebut. Sayangnya buku yang mereka cari baru saja dibawa anak Pak Mersudi kepada seorang pembeli (halaman 47).

Alamat yang diberikan Pak Mersudi mengantarkan Gading dan Kingkin pada sebuah sekolah swasta. Mereka menemui Pak Saidi dan istrinya yang tinggal di belakang sekolah. Dua karung buku tampak teronggok di salah satu sudut rumah tersebut. Gading berusaha membeli kembali tapi Pak Saidi tampak keberatan.

Pasalnya sekolah di tempatnya mengajar membutuhkan banyak buku untuk perpustakaan. Sementara dana yang dialokasikan untuk pengadaan sangat terbatas karena sekolah tersebut tidak pernah mendapat bantuan dari pemerintah. Rasanya tidak memungkinkan jika harus membeli buku baru. Sehingga buku bekas menjadi alternatif yang dipilih (halaman 67).

Tawar menawar dengan Pak Saidi tak juga berujung pada kata sepakat. Dan Gading masih harus dipusingkan dengan tiga karung buku lainnya yang entah dimana. Tadinya Gading pikir lima karung buku tersebut dibeli Pak Saidi tapi ternyata dugaannya meleset.

Gading terpaksa meninggalkan Kingkin untuk melanjutkan negosiasi dengan Pak Saidi. Sementara ia sendiri kembali ke rumah Pak Mersudi untuk menanyakan kemana tiga karung buku yang lain dijual. Gading menyesali kebodohannya yang tidak sempat bertukar nomor dengan Pak Mersudi. Sehingga harus bolak balik ke rumahnya (halaman 83).

Novel dengan judul unik ini menyampaikan pesan akan arti penting buku. Bahwa nilai-nilai baik dari sebuah buku bisa sangat berguna bagi kehidupan pembacanya. Dan buku bekas sekalipun masih bisa dibaca oleh orang lain.

* dimuat di Harian Radar Sampit

Judul Buku        : Buku Ini Tidak Dijual

Penulis              : Henny Alifah

Penerbit             : Indiva

Cetakan             : Maret 2015

Tebal                 : 192 halaman

ISBN                 : 978-602-1614-48-8

Diresensi oleh Nining Sumarni.

Anggota Be A Writer Community.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *