PERJUANGAN RELAWAN KESEHATAN DI PELOSOK

Sumber Gambar: Pixabay

Oleh: Ratnani Latifah*

“Kita tidak bisa menuntut seseorang sesuai dengan harapan kita, tapi setidaknya kita bisa mengetuk pintu hatinya. Entah akan dia buka atau justru kita akan diusir, itu hak pemilih hati. Aku berusaha keras belajar akan hal itu, meskipun sejujurnya aku tak kuat menahan semua.” (hal 118)

Mengambil tema yang jarang diangkat penulis lain, Ulin berhasil menciptakan sebuah novel yang cukup menarik dan unik. Sebagai novel jebolan Wattpad, novel ini hadir dengan napas baru yang tidak melulu mengangkat kisah cinta para CEO atau pekerja kantoran yang sudah berkali-kali ditampilkan. Di sini Ulin mengambil kisah tentang perjuangan para dokter muda yang ingin mengabdi dan menjadi relawan medis di pelosok dunia.

Yashinta merupakan tokoh sentral dalam kisah ini. Karena salah satu apoteker dalam sebuah tim relawan medis bernama Mayla, melarikan diri dari tugasnya, karena mitos kelelawar, Yashinta mendapat tugas di Mariorawa, Soppeng, Makasar, Sulawesi Selatan. Dia sangat beharap dalam tugasnya sebagai relawan medis—dalam program Indonesia sehat—dia bisa bekerja dengan maksimal. Dia benar-benar ingin mengabdikan dirinya kepada masyarakat. Dia berharap dengan ilmu apoteker yang dimiliki, dia bisa membantu orang-orang yang masih buta akan obat-obatan dan butuh perawatan. Yashinta ingin mencontoh perjuangan ayahnya yang dahulu pernah menjadi relawan di Aceh 2004 ketika gempa dan tsunami besar melanda.

Yashinta datang ke Mariorawa dengan semangat dan kebulatan tekad yang berkobar. Namun siapa sangka, ketika dia sampai di sana, dia menemukan fakta yang tidak terduga. Sang ketua tim, Ray yang seharusnya meng-handle tim agar bekerja dengan baik, malah terkena virus patah hati yang amat marak. Ray belum bisa merelakan kepergian Mayla, yang merupakan teman dekatnya, memilih mundur dari tim dan meninggalkan dia seorang diri. Karena bagi Ray, Mayla adalah sumber semangatnya.

Yashinta cukup kaget dan kecewa dengan kenyataan itu. Akan tetapi, Yashinta berusaha tetap profesional. Dia tidak ingin masalah pribadi di sekitarnya membuat tekadnya roboh.  Dengan sifatnya yang lues dan tidak mudah menyerah, dia berusaha menyemangati teman-temannya untuk kembali fokus berjuang dalam tim relawan medis. Bersama, Farhan, Sarah, Dian dan juga Ray, mereka berusaha bahu membahu untuk mengerjakan tugas dengan baik. Mereka mencoba mengobati virus penyakit cacar, anthrax dan banyak lagi.

Bahkan ketika Yashinta tanpa sengaja tertular virus cacar dari salah satu penduduk, dia berusaha tetap menjalankan tugasnya dengan baik. Melihat hal itu, Ray yang sebelumnya sempat patah semangat, karena ditinggalkan Mayla, mulai mencoba memperbaiki kinerjanya. Dia sangat salut dengan semangat kerja Yashinta yang tidak setengah-setangah.

“Untuk apa datang ke sini kalau tidak mampu memberi solusi? Kita relawan, bukan wisatawan, jadi sudah seharusnya kita kerja keras.” (hal 62).

Hingga suatu hari, Mayla tiba-tiba muncul lagi dengan keadaan yang tidak terduga, yang membuat Ray tidak bisa tinggal diam saja. Dengan berbagai upaya dia ingin membantu Mayla sembuh seperti sedia kala. Hanya saja jalan yang ditempuh Ray salah dan bahkan berakibat merugikan tim relawan yang dia pimpin. Ray ingin teman-temannya memberi izin agar Mayla bisa kembali bergabung. Padahal dia tahu, dalam sebuah tim relawan hanya diperbolehkan satu apoteker. Di sinilah mereka harus memilih apakah Mayla atau Yashinta yang akan tetap tinggal sebagai relawan di Mariorawa.

Buku ini membuka pengetahuan kita tentang masalah medis dan lika-liku para relawan kesehatan di pelosok Indonesia. Bagaimana mereka beradaptasi dengan masyarakat atau bagaimana berdamai dengan berbagai mitos yang masih sering terjadi dalam sebuah komunitas tertentu. Secara keseluruhan novel ini cukup menarik. Dilengkapi dengan bumbu kisah cinta segi empat, hal itu menjadi warna tersendiri dalam novel ini. Beberapa kekurangan dalam novel ini meski sedikit menganggu, tapi tidak mengurangi keseruan cerita.

Lewat novel ini kita bisa belajar tentang arti penting tanggung jawab, tenggang rasa, tolong menolong serta perjuangan dan pengorbanan dalam meraih impian. “Tenangkan pikirmu. Tidak ada keberhasilan yang diraih dari rasa ragu dan takut.” (hal 236).

Srobyong, 27 Juli 2019

*Alumnus Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara


MARIORIAWA


Penulis             : Ulin Nurviana

Penerbit           : Indiva Media Kreasi

Cetakan           : Pertama, Maret 2019

Tebal               : 304 halaman

ISBN               : 978-602-5701-10-8

Mayla melarikan diri dari tugasnya hanya karena mitos kelelawar yang menghantuinya. Kepergiannya membuat teman-teman satu tim kalang kabut. Tugas baru satu bulan berlangsung, tapi ia telah menghancurkan separuh kekuatan tim, terutama Ray sebagai ketua. Ia kehilangan segalanya tanpa Mayla.

Dalam kerapuhan itulah Yashinta datang menggantikan posisi Mayla. Ia mampu menjadi obor dan membangkitkan kembali semangat juang tim yang sempat rapuh, tetapi justru dirinya menjadi korban keegoisan sang ketua tim. Haruskah cinta mengorbankan pasien dan tim yang sudah mati-matian berjuang? Jika ada pasien di tempat ini yang harus kutolong, ia adalah kamu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *