PERLUNYA MENJAGA PANDANGAN DAN PERGAULAN

Sumber Gambar: Pixabay

 

Oleh: Ratnani Latifah*

Bagi seorang muslim menjaga pandangan dan pergaulan itu sangat dianjurkan. Karena menjaga pandangan dan pergaulan akan membantu seorang muslim untuk menjaga hati agar tidak mudah tergelincir pada jalan yang salah.  Menjaga diri agar tidak terpengaruh pada lingkungan buruk, menjaga diri agar tetap istiqamah pada jalan yang diridai Allah.  Khususnya perihal menjaga diri agar tidak terjebak pada pesona cinta yang memang tidak bisa jauh dari kehidupan. Apalagi virus cinta itu sangat cepat menjaring dan menangkap mangsanya.

Tema cinta memang selalu menarik untuk dibahas. Tidak ada yang basi, meski sedikit banyak kisah-kisah yang bertaburan dalam perbukuan sediki banyak memiliki sisi yang sama. Hanya saja dengan sentuhan yang berbeda dari para penulis dengan berbagai latar belakang lingkungan, keluarga dan pendidikan, membuat setiap cerita memiliki ciri unik tersendiri. Sebagaimana kisah yang ditawarkan novel karya Azzura Dayana. Penulis yang pernah memperolah penghargaan Buku Fiksi Dewasa Terbaik versi Islamic Book Fair Award 2014 menghadirkan kisah cinta dengan latar lingkungan kental keagamaan  yang menarik dan menggelitik.

Daiyah merupakan  murid SMA  yang religius. Dia merupakan Ketua Keputrihan Rohis di sekolahnya. Maka tidak heran jika Daiyah merupakan tipe murid yang selalu  berhati-hati dalam pergaulan antara pria dan wanita. Dia selalu berusaha menjaga pandangan. Dia menyadari  jika dia tidak menjaga pandangan, hal itu bisa menimbulkan fitnah. Namun  gara-gara ulah temannya, Bella citra baik yang selama ini Daiyah jaga berubah menjadi bencana dan fitnah.

Semua dimulai dengan kehadiran guru baru bernama Sir Fatah, yang konon menurut Bella sangat cocok untuk dijadikan gebetan buat Daiyah. Karena mereka sama-sama sosok yang selalu menjaga pandangan. Bella pun berusaha mencoblangkan mereka dengan berbagai akal bulus, agar keduanya bisa berinteraksi dan bisa berduaan.  Padahal sudah berkali-kali Daiyah mengingatkan Bella agar tidak berbuat macam-macam.

Namun nasi sudah menjadi bubur, puncaknya  adalah setelah kegiatan Twenty-four Camp  karena sebuah alasan dan akibat keisengan Bella, Daiyah pulang diantar Sir Fatah. Di sinilah fitnah jahat mulai menghantui kehidupan Daiyah yang awalnya tentram dan damai.  Banyak murid-murid yang mencibir dan menganggap Daiyah munafik. Daiyah bahkan juga disidang karena kejadian itu.

Di sisi lain, kejadian itu menyadarkan Daiyah, bahwa memang ada sebersit rasa yang diam-diam tertanam di hatinya. Bahwa dia memang menyukai Sir Fatah. Di sisi lain,  tanpa sengaja, dia pun tahu ternyata Sir Fatah juga mengalami dilema yang sama terhadap dirinya. cinta itu ternyata diam-diam juga sudah tumbuh subur. Lalu apa yang harus mereka  lakukan? Daiyah masih terlalu kecil untuk menikah. Masih banyak mimpi yang ingin dia raih agar menjadi muslimah yang berdaya guna.

Keputusan bijak yang harus dia ambil kala itu adalah dengan berusaha melupakan Sir Fatah.  Tapi bagaimana dia bisa melakukan  pilihan tersebut jika masih harus bertemu dengan Sir Fatah? Akhirnya Daiyah membuat keputusan penting perihal kehidupannya. Setelah kelulusan sekolah dia yang awalnya ingin melanjutkan kuliah di Usri (Universitas Sriwijaya) di Palembang. Namun Daiyah akhirnya memilih melanjutkan kuliahnya di Unpad, Bandung.

Lalu apa yang terjadi dengan kisah antara Daiyah dan Sir Fatah?  Belum lagi terdengar bahwa Sir Fatah akan melakukan ta’aruf dengan Mbak Arni guru mengaji Daiyah. Hati Daiyah sungguh  terkoyak.  Secara keseluruhan novel ini menarik dan menghibur.  Banyak kejutan yang disiapkan penulis setiap halaman cerita.  Dari cinta yang disimpan Reno, taaruf yang dilakukan kakak Daiyah, Kak Hidayat dengan Widya, hingga munculnya teman seperjalanan Daiyah, Geogerge dan adiknya.  semua saling memilin dan bertautan membuat kisah ini semakin seru untuk dibaca hingga akhir. Tidak kalah mengejutkan adalah keputusan Sif Fatah dari ta’arufnya dengan  Mbak Arini kala dulu.

Novel ini  banyak mengajarkan nilai-nilai kehidupan. Di antaranya mengajarkan tentang pentingnya menjaga pandangan dan  pergaulan. Adapula ajaran tentang bagaimana memaknai cinta yang sebenarnya, tentang indahnya sedekah, jangan menebar fitnah, jangan menjadi orang yang sombong,  dan banyak lagi.

“Kita tidak dinilai oleh Allah semata-mata berdasarkan prestasi kita untuk dunia. Namun, Ia menilai prestasi yang kita kumpulkan demi mencari ridha dan kebaikan kita di akhirat nanti.” (hal 241).

Srobyong, 1 Juni 2019

*Alumnus Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara


Judul               : Birunya Langit Cinta

Penulis             : Azzura Dayana

Penerbit           : Indiva Media Kreasi

Cetakan           : Pertama, Maret 2019

Tebal               : 368 halaman

ISBN               : 978-602-5701-01-6

 

 

Cinta tidak akan terlambat, bila sudah waktunya. Kita hidup untuk cinta sekarang dan yang akan datang, bukan untuk cinta masa lalu. Cinta yang tak pernah abadi, kecuali Allah telah mengikatkan cinta itu dengan kesucian yang sah dari-Nya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *