PERNIKAHAN MEMBUKA JATI DIRI PASANGAN

“Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik. Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia (surga). (an-Nisa: 26)

 

Jangan pernah mencintai seseorang yang tidak mencintai Allah. Jika Allah saja ia tinggalkan, apalagi hanya seorang dirimu?

(Imam Syafii)

 

Betapa indahnya pernikahan.

Bersanding dengan seseorang yang dicintai, ataupun jika belum mengenal, kelak ia akan kita cintai sepenuh hati. Seluruh hati dan tubuh dipersembahkan hanya baginya seorang. Hari demi hari, pekan berlalu pekan, bulan berganti bulan; pasangan menjadi teman berbagi dan tumpuan cinta kasih. Tahun-tahun pertama demikian manis dicecap. Air mata tumpah di pundaknya, tawa merekah bersamanya. Walau di saku dan dompet hanya tersisa receh, ada saja kebahagiaan menanti. Makan sepiring berdua jauh lebih nikmat daripada menikmati T-bone steak di resto mewah. Tinggal di kontrakan sederhana tak jadi soal, selama di malam-malam yang berlalu kita dapat tidur bersisian dengan pasangan.

Honeymoon.  Apakah tahun-tahun akan selalu terasa madu, bulan purnama terus bersinar di langit malam? pernikahan hanya berisi manis dan terang benderang?

Tidak ternyata.

Pernikahan membuka seluruh jati diri pasangan, dan jati diri kita pribadi. Dalam kejujuran hari-hari tanpa topeng, terlihatlah dia tak segagah Raja di pelaminan. Dalam keseharian, ia tak seanggun Ratu di pesta pernikahan. Kecewa, marah, jengkel, gusar, lelah, sedih, segala macam rasa negatif muncul bergantian. Tumpang tindih, silih berganti hari demi hari. Sebagian melampiaskan ke permukaan dengan bersikap agresif, sebagian menyimpan bertumpuk-tumpuk dalam pikiran untuk diledakkan suatu saat.

Lalu mulailah takdir dipertanyakan. Apakah benar, perempuan baik untuk lelaki baik? Apakah benar, pertemuan karena cinta kepada Allah ini akan bahagia selamanya? Mengapa demikian banyak kerikil tajam terserak dalam perjalanan? Apakah harus bertahan di tahun-tahun awal, ataukah justru berpisah ketika masih muda?

Psikolohi Pengantin mencoba menguraikan secara singkat berbagai kesulitan yang muncul di tahun-tahun awal pernikahan. Sesungguhnya, buku ini pun dapat memperkaya khazanah keilmuan mereka yang telah menikah di atas sepuluh tahun. Masalah yang muncul di lapangan pernikahan diambil dari penelitian-penelitian psikologi dan ilmu sosial lainnya. Solusi yang ditawarkan menggunakan pendekatan agama dan keilmuan. Setiap insan, memiliki individual differences, tak akan pernah ada kata  penyelesaian yang sama untuk satu jenis kasus yang dialami orang berbeda. Selain menambah ilmu, kedekatan kepada Allah SWT menjadi jalan keluar mutlak bagi setiap permasalahan. Fragmen-fragmen kecil yang diambil dari kisah nyata keseharian, diharapkan dapat memberi gambaran jelas bahwa kejadian tak terduga dalam pernikahan kita pun terjadi pada pernikahan yang lain. Bila, pasangan lain berhasil mempertahankan mahligai cintanya, mengapa kita tidak?

Kehadiran buku ini semoga memperkaya pemahaman pasangan  cinta, utamanya pasangan muda.  Mari saling mendoakan, semoga keluarga kita tetap dalam lindungan-Nya, barakah-Nya dan limpahan kebahagiaan tiada putus. Bersama cahaya Allah SWT dan ilmu yang terus dipelajari, semoga tidaklah terjadi pernikahan seperti  ini.

Lelaki menikah, berharap pasangannya tak pernah berubah.

Perempuan menikah, berharap pasangannya tak pernah berubah.

Sayangnya, kedua belah pihak pasti kecewa ~ Albert Einstein

 


INFO BUKU


Judul: Psikologi Pengantin

Penulis: Sinta Yudisia

Tebal: 200 halaman

Harga: Rp 40.000,-

 

 

Begitu banyak masalah seputar pernikahan.

Keuangan, karier, hubungan seksual, relasi dengan orang tua-mertua, anak-anak, juga program masa depan.

Buku ini mengupas masalah pernikahan berdasar penelitian psikologi dan sosial, serta jalan keluarnya dari segi agama dan dari sisi ilmiah. Permasalahan yang selama ini tabu dibicarakan seputar kehidupan seksual seperti honeymoon, visual sexual stimuli, online-offline infidelity, atau pasangan sexy; dibahas di buku ini. Apakah sesungguhnya permasalahan suami istri di 5 tahun pernikahan serta pada tahun-tahun selanjutnya? Benarkah money management adalah penyebab tertinggi pertengkaran? Apa yang harus dilakukan bila berselisih paham dengan pasangan? Dan oh, betapa menyedihkan bahwa hormon kortisol yang berfungsi sebagai euforia cinta hanya bertahan paling lama dua belas bulan

Ada temuan-temuan baru yang mengejutkan, bahwa pasangan suami istri –baik baru menikah ataupun lama- mengabaikan hal-hal penting yang sesungguhnya sangat krusial sekaligus sensitif untuk dibicarakan!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *